top of page

Tiga Hal yang Aku Butuhkan: Fokus, Dinamika, dan Support System

Updated: Dec 23, 2021

Akhirnya, hari ini aku berhasil bangun lebih pagi saat langit masih gelap. Sebagai seseorang yang bukan termasuk "morning person", rasanya sulit sekali menjaga kebiasaan baik ini. Kalau saja bukan karena untuk sholat subuh, aku pasti akan lebih memilih untuk bangun siang setiap hari. Padahal ada banyak hal produktif yang bisa kulakukan saat pagi hari di luar tugasku mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Menulis, membaca buku, membuat priority list untuk keluarga seperti misalnya merancang visi misi pendidikan keluarga, membuat proyeksi biaya pendidikan dan sekolah anak, dan lainnya. Atau sekedar menikmati secangkir kopi hangat untuk kunikmati sendiri.


Di luar hal-hal tadi, sebenarnya aku juga memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun entah kenapa keinginan tersebut seperti tidak memiliki bahan bakar. Pikiranku berputar-putar antara, "Kalau kuliah lagi aku ambil jurusan apa?"; "Kalau di tengah jalan semangatku turun drastis, kehilangan fokus, dan tidak bisa berkomitmen bagaimana?"; "Manfaat apa yang kuperoleh jika kuliah lagi? Apakah aku akan kembali bekerja, mengajar, atau sejenisnya?", dan pikiran-pikiran lainnya.


Padahal dahulu aku selalu menggebu-gebu penuh semangat untuk mencapai sesuatu. Aku terheran-heran ketika melihat sesama ibu rumah tangga namun memiliki energi yang seolah tiada habisnya. Berdagang untuk membantu perekonomian keluarga, bersekolah lagi, ikut bermacam-macam komunitas, short course dan kelas-kelas pengembangan diri, dan itu semua masih ditambah lagi dengan kegiatan bersosialisasi seperti arisan ibu-ibu dan sejenisnya. Aku penasaran, apa sebenarnya bahan bakar yang mereka pakai sehingga memiliki energi yang begitu besar untuk melakukan banyak hal dalam satu waktu?


Jauh di lubuk hati, akupun sebenarnya ingin sekali menjadi ibu rumah tangga yang super produktif. Bukannya aku tidak mencoba. Namun biasanya hal-hal tersebut tidak bertahan lama. Pernah aku mengikuti sebuah kelas coaching parenting selama setahun penuh, saat usia putriku baru berusia satu tahun. Kelasnya menarik dan interaktif, dan aku merasa nyaman dengan semua metode dan materi pembelajarannya. Namun di tengah perjalanan semangat itu merosot dengan tajam. Aku berkali-kali skip kelas hingga akhirnya tertinggal materi jauh sekali. Alasannya klasik, karena semakin hari materinya semakin berat, aku merasa tidak memiliki kapasitas untuk memproses itu semua itu dengan cepat dan cermat. Pada akhirnya aku kehilangan fokus untuk menyimak.


Hal yang sama terjadi ketika aku mengikuti suatu kelas atau webinar harian. Aku tidak suka menyambi untuk hal-hal yang memerlukan fokus dan perhatian penuh. Dan bagiku menuntut ilmu apapun bentuknya harus diiringi dengan keseriusan, entah pada saat menyimak maupaun pada saat mencatat. Dengan menghayati prosesnya, aku merasa lebih terbantu saat mencoba mengapliksaikan teori dari apa yang sudah kudapat di kelas. Sementara karena keterbatasanku, aku selalu menyambi. Akhirnya, aku merasa kalau kelas-kelas yang aku ikuti untuk niat pengembangan diri ini pada akhirnya tidak memberikan banyak manfaat karena aku tidak sempat menghayati prosesnya.


Aku juga pernah bergabung dalam suatu komunitas. Awalnya aku senang-senang saja, tapi lama kelamaan aku merasa bosan dan tidak nyaman karena aku merasa tidak lagi nyambung dengan apa yang dibahas di dalam grup komunitas itu. Dan akhirnya akupun memutuskan untuk keluar. Bagaimana dengan berdagang? Aku hanya pernah berjualan produk kesehatan yang tergabung dalam suatu networking company. Masalahnya, aku hanya senang untuk belajar di sana. Untuk memprospek calon pembeli dan melakukan marketing aku benar-benar tidak enjoy menjalaninya.


Bagaimana aku akan bersekolah lagi sementara ikut kelas-kelas pendek saja aku tidak bisa berkomitmen penuh? Mungkin orang lain menilai aku ini terlalu banyak alasan. Tapi aku pribadi menganalisis diriku sebagai seseorang yang memang tidak bisa multitasking. Dibanding membagi energi untuk beberapa hal sekaligus, aku lebih memilih memfokuskan energi untuk satu hal dengan serius. Ketika ikut kelas, aku harus fokus, karena aku tidak nyaman jika harus menyambi banyak hal. Pikiran dan konsentrasiku sudah pasti akan buyar. Membaca buku pun perlu fokus penuh, setidaknya untuk minimal satu jam ke depan tanpa distraski. Selain itu aku juga cepat bosan. Dan karenanya, aku perlu dinamika dalam keseharianku. Ketika terjebak dalam rutinitas yang sama dalam waktu yang panjang, aku merasa diriku terjebak di satu tempat, tidak bisa kemana-mana. Jadi mungkin bersekolah lagi bukan opsi terbaik saat ini, kecuali aku sudah mempunyai support system yang mumpuni.




Recent Posts

See All
Life's Update Before 2024 Ended

So, how's life recently? Setelah beberapa bulan di pertengahan tahun ini aku mencoba berlari kencang, ternyata di 3 bulan terakhir menuju...

 
 
 
Persimpangan

Kurang lebih 3 bulan berlalu setelah aku memutuskan untuk bergabung sebagai volunteer di dua komunitas yang berbeda. Bagaimana rasanya...

 
 
 
Juni Berkembang

Bisa dibilang, bulan Juni ini menjadi starting point bagiku untuk mulai berbunga. Mimpi-mimpi yang sebelumnya tampak jauh untuk dijangkau...

 
 
 

Comments


  • Facebook
  • Twitte
  • Pinteres
  • Instagram

Thanks for submitting!

© 2023 by Design for Life.
Proudly created with Wix.com

bottom of page