top of page

The Danish Way: Alasan Mengapa Kita Ingin Hidup di Denmark

SEKILAS TENTANG DENMARK


Danish merupakan sebutan bagi orang-orang Denmark. Denmark sendiri adalah negara Nordik yang paling kecil dan paling selatan yang berada di sebelah barat daya dari Swedia dan selatan dari Norwegia. Negara ini terletak di Skandinavia, Eropa Utara sehingga termasuk Uni Eropa.


Denmark, yang menganut konsep ekonomi kapitalis pasar campuran sekaligus kesejahteraan sosial, adalah negara yang memiliki pendapatan tertinggi di dunia. Berdasarkan majalah Forbes, Denmark adalah negara yang memiliki iklim bisnis terbaik. Dari tahun 2006 sampai 2008, survei mengatakan bahwa Denmark adalah "tempat yang paling menyenangkan di dunia", dipandang dari standar kesehatan, kesejahteraan, dan pendidikan. Laporan terbaru World Happiness Report kembali menetapkan Denmark dalam tiga besar negara paling bahagia di antara 155 negara yang disurvei, bertahan dalam 7 tahun berturut-turut. Denmark sendiri selama ini dikenal memiliki pemerintahan yang stabil, angka korupsi yang rendah, dan akses terhadap pendidikan dan kesehatan yang berkualitas. Meski negara ini memiliki pajak yang tergolong tinggi di dunia, tapi mayoritas warga Denmark merasa tak keberatan membayarnya. Mereka yakin pajak akan menciptakan masyarakat yang lebih baik.


THE DANISH WAY OF PARENTING & PLAY THE DANISH WAY



The Danish Way of Parenting dan Play The Danish Way adalah dua buku parenting yang ditulis oleh seorang pasikolog anak, Iben Dissing Sandahl MPF. Dengan menggunakan pendekatan psikologis dan berdasarkan pengalaman pribadi penulis sebagai terapis, pengajar, dan warga Denmark, Iben berhasil mengajak pembaca untuk lebih mengenal kebudayaan dan gaya hidup yang melekat pada orang Denmark, sehingga negara tersebut hampir selalu dinobatkan sebagai salah satu negara dengan penduduk paling bahagia di dunia. Dalam buku Play The Danish Way, Iben fokus membahas hal-hal yang berkaitan dengan sistem pendidikan di Denmark, dan bagaimana "bermain" menjadi satu peranan penting, sehingga menjadikan anak-anak Denmark tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, empatik, dan bahagia dari generasi ke generasi.


Happy kids grow up to be happy adults who raise happy kids, and so on.

Mengenal Konsep PARENT: Play, Authenticity, Reframing, Empathy, No ultimatum, Togetherness dan Hygge sebagai Gaya Hidup Orang Denmark


Sebelum membahas lebih jauh tentang bermain ala orang Denmark, dalam bukunya yang pertama The Danish Way of Parenting, Iben menjelaskan tentang kehidupan orang Denmark secara umum. Terdapat benang merah yang jelas, bahwa negara dan warganya saling bekerja sama sebagai satu kesatuan yang pada akhirnya saling mendukung dan tercipta harmonisasi dalam lingkungan tempat mereka tumbuh. Nilai dan kebudayaan apa saja yang mereka wariskan dari generasi ke generasi sehingga bisa membentuk pribadi-pribadi yang tangguh, empatik, dan bahagia. Bagaimana sistem pemerintahan Denmark turut serta dalam membentuk kehidupan yang bahagia bagi warganya, dan adanya kerjasama yang baik diantara orang tua, guru, dan murid, sehingga berhasil menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif bagi tumbuh kembang anak.


Untuk menjelaskan gaya parenting dan gaya hidup orang Denmark secara umum, Iben mengenalkan konsep PARENT, yang berarti play, authenticity, reframing, empathy, noultimatum, dan togetherness & hygge.


Play, bermain. Bagi orang Denmark, bermain dengan bebas merupakan kebutuhan fundamental bagi anak-anak yang harus difasilitasi sepenuhnya. Bermain mengajari mereka ketangguhan, dan ketangguhan sudah terbukti menjadi faktor penting dalam memprediksi kesuksesan pada orang dewasa. Kemampuan untuk "bounce back", megelola emosi, dan menghadapi stress adalah kunci untuk hidup sehat pada orang dewasa. Selama beberapa tahun, anak-anak Denmark tidak diperbolehkan untuk memulai sekolah sebelum mereka berusia 7 tahun. Guru dan komite yang mengatur agenda untuk sekolah anak-anak tidak ingin mereka terlibat dalam pendidikan karena mereka merasa bahwa kebutuhan anak-anak yang utama adalah bermain. Mengapa demikian?


Menurut Iben, bermain dapat menstimulasi lokus internal anak, yaitu sejauh mana seseorang merasa mempunyai kendali atas hidupnya sendiri dan kejadian yang mempengaruhinya. Dengan lokus internal yang kuat, anak-anak akan merasa yakin atas kemampuan dan keterampilan mereka, dan mereka akan merasa lebih bertanggung jawab dalam kehidupannya. Jika anak-anak merasa terlalu ditekan, mereka akan kehilangan kesenangan pada apa yang mereka lalukan, dan akan menimbulkan dampak negatif yang lebih besar seperti ketakutan dan kecemasan. Peneliti menyimpulkan bahwa bermain bisa dilakukan untuk memperbaiki keterampilan uantuk mengatasi keadaan, terutama kemampuan untuk beradaptasi, melakukan pendekatakan dalam pemecahan masalah dan tujuan dengan cara yang lebih fleksibel.


Authenticity, kejujuran atau keaslian. Kejujuran disini adalah dalam konteks mengenali emosi diri dan jujur terhadapnya. Terdapat perbedaan besar antara film-film di Denmark dengan di negara lain. Film-film Denmark sangat sering menampilkan akhir yang suram, sedih, atau tragis. Kisah-kisah yang diangkat dari buku Hans Christian Andersen, misalnya. Dalam dongeng aslinya, kisah Putri Duyung Kecil tidak berhasil mendapatkan pangeran, tetapi malah berubah menjadi buih di lautan karena kesedihannya. Orang Denmark percaya bahwa tragedi dan kejadian menyedihkan adalah hal-hal yang seharusnya kita bicarakan. Bagi mereka, kenyataan dimulai dengan sebuah pemahaman dari emosi kita sendiri. Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa pendidikan usia dini di Denmark ditekankan pada pendidikan karakter dan kematangan emosional anak. Mengenali dan menerima semua emosi sejak dini, bahkan yang paling sulit sekalipun, membuat anak menjadi lebih mudah untuk mengatur strategi bagi semua masalahnya.


Selain jujur pada emosi diri, anak-anak Denmark juga didorong untuk memiliki pola pikir bertumbuh atau growth mindset. Bagaimana caranya? Dengan memberi pujian pada proses dan usaha yang telah mereka lakukan. Contoh pujian untuk proses, "Mama bangga dengan sikapmu, karena kamu mau berbagi mainan dengan adikmu. Mama sangat senang melihatmu bisa berbagi."


Reframing, memaknai ulang. Makna kata reframing disini adalah memaknai ulang sebuah kejadian dari kacamata yang lebih positif. Iben menyebutnya sebagai sikap optimisme realistis, di mana kita tetap akrab dengan realitas, namun tetap fokus pada sudut pandang yang lebih positif. Misalnya, kita lebih memilih kalimat "saya biasa memasak dengan menggunakan resep" dibandingkan dengan "saya tidak pandai memasak." Dengan melakukan reframing, labelling pada anak bisa dihindari.


Empathy. Empati adalah kemampuan untuk mengenali dan memahami perasaan orang lain. Penelitian terbaru yang cukup memprihatinkan, menunjukkan bahwa empati telah turun sekitar 50% pada anak-anak muda di Amerika Serikat sejak 1980-an dan 1990-an. Sementara itu, tingkat narsistik meningkat dua kali lipat. Orang tua mempunyai tanggung jawab besar untuk mencontohkan empatik pada anak-anak mereka. Anak-anak akan terus fokus kepada orang tua mereka dan menirunya. Ole karena itu, apa yang mereka alami di rumah akan penting untuk pengembangan empati mereka. Membantu mengembangkan empati pada anak-anak secara dini bisa membantu mereka menciptakan hubungan yang lebih baik dan lebih peduli pada masa depan. Bagaimana cara orang Denmark belajar menjadi sangat empatik?


Salah satu pilar dalam cara Denmark untuk mengajarkan empati adalah dengan tidak menghakimi. Orang Denmark mencoba untuk tidak menghakimi anak-anak, teman-teman, teman dari teman mereka, atau keluarga mereka. Tidak hanya untuk orang yang berbicara dengan suara keras, tetapi semua anggota keluarga mempunyai hak untuk didengarkan dengan serius. Penting untuk menjadi toleran terhadap diri sendiri dan orang lain.


Sementara di sistem sekolah Denmark, ada program nasional yang wajib diterapkan sejak prasekolah yang dinamakan step by step. Anak-anak akan diperlihatkan kartu bergambar emosi wajah yang berbeda-beda: kesedihan, ketakutan, kemarahan, frustasi, kebahagiaan, dst. Anak-anak berbicara tentang kartu-kartu tsb dan mengatakan apa yang mereka rasakan, mereka belajar untuk mengungkapkan perasaan dirinya sendiri dan perasaan orang lain. Bagian yang paling penting dari program ini, fasilitator dan anak-anak tidak menghakimi emosi yang mereka lihat. Mereka hanya mengenali dan menghormatinya.


Contoh lain dari pelatihan empati di sekolah Denmark adalah bagaimana mereka mencampur anak-anak yang mempunyai kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda. Anak-anak yang kuat secara akademis diajar bersama dengan mereka yang kurang kuat akademisnya, anak penyendiri dengan anak yang lebih suka berteman, dst. Tujuannya adalah agar siswa bisa melihat kualitas positif dan mencoba untuk membantu satu sama lain dalam mencapai level selanjutnya. Sistem ini memupuk kolaborasi, kerja sama, dan respek.


No ultimatum. Orang Denmark melihat anak-anak pada hakekatnya itu baik. Secara sadar, mereka dapat memisahkan dan membedakan perilaku dari anaknya. Jika seorang anak dikatakan keras kepala misalnya, sedapat mungkin orang tua melihat hal tersebut sebagai bagian dari perilaku anak yang perlu diperbaiki, bukan malah memberi label pada anak dan menghukumnya karena tidak mau menurut. Sangat jarang orang tua di Denmark yang menggunakan bentakan dan kekerasan untuk mendisiplinkan anak. Mereka menghabiskan lebih banyak waktu dan energi untuk menghindari masalah daripada cara menghukum mereka.


Kebanyakan sekolah di Denmark dilengkapi dengan perlengkapan yang berbeda untuk mengurusi isu-isu tertentu yang dimiliki siswa. Contohnya, anak-anak yang mengidap ADHD atau hiperaktivitas bisa duduk di kursi dari bola yang ditiup, yang membantu mereka untuk berkonsentrasi di kelas. Kursi bola ini mempunyai tombol menonjol yang bisa memijat pada salah satu sisinya. Hal ini dapat menstimulasi otot postural sehingga anak-anak bisa duduk tegak dan tetap seimbang, yang secara tidak sadar meningkatkan perhatian.


Sekolah juga dilengkapi dengan fidget sets dan cuddle things untuk anak-anak yang sulit duduk diam dan bisa mengganggu temannya. Alat-alat tersebut akan menyibukkan tangan mereka dan membantunya untuk memberikan perhatian dan fokus. Anak-anak yang terlalu penuh energi atau agresif akan diminta untuk berlari sendirian untuk membantu mereka membakar energi yang berlebihan.


Togetherness dan hygge, kebersamaan dan kenyamanan. Hygge (dibaca huga) yang artinya bersantai bersama adalah salah satu gaya hidup orang Denmark, bagian dari fondasi kebudayaan mereka. Riset menunjukkan bahwa salah satu prediktor teratas dari kesejahteraan dan kualitas kebahagiaan adalah waktu berkualitas dengan teman dan keluarga.


Sebuah keluarga besar di Denmark dapat menghabiskan waktu selama berhari-hari hanya untuk berkumpul dan bersantai bersama. Dalam kegiatan tersebut semua orang akan saling bekerja sama dan saling terlibat satu sama lain, sehingga setiap orang dalam keluarga tersebut akan saling memberikan kotribusi. Anak-anak yang lebih besar didorong untuk bermain dan membantu anak-anak yang lebih kecil. Mereka mencoba untuk terlibat dalam games sehingga semua orang berpatisipasi, dan mereka semua berusahan untuk bermain, bahkan jika sebenarnya mereka tidak ingin. Selama acara ini, mereka mencoba meninggalkan masalah pribadi di belakang dan menjadi positif serta menghindari bentuk-bentuk perselisihan yang mungkin terjadi, karena mereka begitu menghargai waktu bersama. Maka tidak heran, orang Denmark sangat mengutamakan work-life balance karena makan bersama keluarga di akhir waktu setiap hari adalah prioritas bagi mereka.


Melihat keluarga sebagai tim dapat menumbuhkan rasa memiliki yang dalam. Memasak bersama, bersih-bersih bersama, dan menyediakan waktu untuk menikmati kebersamaan adalah cara keluarga Denmark menumbuhkan rasa sejahtera dalam kehidupan sehari-hari. Merasa terhubung dengan orang lain memberikan sebuah arti dan tujuan bagi hidup kita. Itulah sebabnya orang Denmark sangat menghargai hygge. Individualitas juga dihargai, tetapi tanpa interaksi dan dukungan dari yang lain, tidak ada seorang pun yang akan merasa bahagia seutuhnya.


Hygge juga diterapkan dalam komunitas-komunitas sosial di Denmark untuk membantu memberikan dukungan sosial bagi orang-orang yang membutuhkannya. Dukungan sosial sangat berperan dalam membantu mengelola stress. Jika kita tahu bahwa kita mempunyai orang yang bisa diajak bicara atau dimintai pertolongan pada waktu sulit, kita lebih siap untuk menghadapi tantangan hidup tanpa tumbang. Menjadi rapuh dengan bantuan seseorang dapat meringankan beban stress. Banyak orang berusaha untuk tabah dan menyimpan sesuatu sendirian, namun riset menunjukkan bahwa orang yang mencoba untuk kuat dalam tragedi akan menderita dalam jangka waktu yang lebih lama daripada mereka yang membagikan emosi dan rapuh bersama orang lain.


Di Denmark, ketika seorang perempuan melahirkan, bidan lokal akan mencatat detailnya dan mengontaknya selama minggu pertama, apakah dia dan bayinya baik-baik saja. Bahkan bidan juga memberika nama dan kontak dari semua perempuan di lingkungannya yang juga baru saja melahirkan dengan informasi apakah ini bayi pertama, kedua atau ketiga, sehingga para perempuan tersebut bisa mencari teman yang cocok. Kelompok ini adalah pendukung penting selama waktu yang sangat menantang dan menjadi bagian penting dari menjadi ibu baru di Denmark, membantu baik ibu maupun bayi untuk merasa bahagia dan aman (bayangkan berapa banyak kejadian baby blues syndrome dan post partum depresion yang dapat dicegah dengan adanya komunitas seperti ini).


Bagi orang Denmark, hygge adalah tentang memilih untuk menikmati momen yang berharga dari hidup kita, momen bersama anak-anak, keluarga, dan teman-teman, serta menghormatinya sebagai sesuatu yang penting.


Bermain sebagai Fundamental dalam Kehidupan


Selama ini tak jarang kita menilai keberhasilan sebuah pendidikan diukur dari deretan prestasi akademis yang dicapai, pekerjaan profesional yang berhasil diraih saat dewasa, dan juga bagi sebagian besar orang, keberhasilan diukur dari kekayaan materi yang didapat. Hal ini berbeda dengan pandangan orang Denmark. Keberhasilan di sini tidak saja dari segi profesional atau pribadi, tetapi juga berhasil menjadi manusia yang bahagia seutuhnya. Kemampuan untuk bangkit dari keterpurukan, mengelola emosi, dan mengatasi stress adalah karakteristik kunci dalam diri orang dewasa sehat yang mampu berfungsi pada masyarakat. Lalu bagaimana Denmark membentuk manusia-manusia dewasa yang bahagia? Jawabannya adalah dengan bermain.


Jika selama ini kita mengenal kata bermain sebagai sebuah metode dalam pendidikan anak usia dini dengan segala rancangannya (sebut lah bermain dengan metode Montessori, REA, Charlotte Mason, dll), menurut orang Denmark makna kata bermain adalah ketika anak-anak dibiarkan dengan permainan mereka sendiri, bersama teman atau main sendiri, untuk memainkan apa pun yang menurutnya menarik selama yang mereka inginkan. Pembahasan ini tentu saja menjadi sebuah validasi bagi para orang tua yang secara personal lebih sering menerapkan free play dalam kehidupan sehari-hari dibandingan dengan structured play. Dalam buku Play The Danish Way, Iben menjelaskan bahwa pada saat bermain anak-anak bebas mengeksplorasi potensi mereka sepenuhnya dan mengembangkan bakat individual, tanpa dikekang batasan ala orang dewasa.


Menurut Dr. Mike Shooter, psikiater dan ketua Play Wales, "bermain bebas memberi ruang bagi anak-anak yang sedang bertumbuh kemampuan kognitifnya untuk memecahkan masalah, kemampuan emosional untuk menghadapi kesusahan, kemampuan sosial untuk tolong menolong, dan kemampuan fisik untuk menanggung segalanya." Bermain mengajari anak-anak tentang norma sosial dan benar-salah dalam interaksi dengan orang lain. Dalam proses ini, penting agar kita sebagai orang tua mempersilakan anak-anak belajar berinteraksi sosial sesuai dengan kecepatan mereka sendiri.


Menariknya, kegiatan bermain ini tidak hanya diterapkan dalam pengasuhan sehari-hari antara orang tua dan anak saja, tetapi juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sistem pendidikan dan kehidupan orang Denmark. Dalam sistem pendidikan Denmark, guru dan orang tua mempunyai peranan yang sama besar dalam proses pembentukan karakter. Ada kerja sama yang holistik antara guru, orang tua, dan murid untuk menciptakan atmosfer yang menyenangkan dalam suasana kebersamaan dan kekeluargaan yang kuat. Tentunya hal tersebut tidak lepas dari peran dan kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah Denmark sendiri.


Sebagaimana teori tumbuh kembang dari para psikolog anak yang menekankan betapa pentingnya bermain terutama pada anak usia dini, sistem pendidikan mereka pun sejalan dengan teori tersebut dan mengintegrasikannya dalam sistem sekolah. Anak-anak TK di Denmark umumnya bersekolah di sekolah hutan. Di sekolah tersebut mereka belajar berbaur dengan alam tanpa rasa takut ataupun jijik karena terkena lumpur, mereka belajar tentang life skill yang akan mereka butuhkan kelak, dan mereka bisa dengan bebas menjelajah dan mengeksplorasi alam sekitar. Dengan mengajari anak-anak berkegiatan sendiri, menjelaskan apa saja yang bisa jadi berbahaya, dan menjelaskan apa sebabnya mereka harus berhati-hati, berarti kita tengah meletakkan fondasi kepercayaan diri anak dan turut membangun masyarakat yang dilandasi rasa percaya.


Lalu bagaimana dengan sistem pendidikan yang ada di sekolah-sekolah di Denmark? Apa saja yang menjadikannya berbeda dengan sekolah-sekolah di negara lain?


Di Denmark, guru dilatih untuk menjalankan prinsip dasar yang disebut "diferensiasi". Pada dasarnya, diferensiasi berarti guru belajar melihat tiap anak sebagai individu yang masing-masing memiliki kebutuhan berlainan. Guru bekerja sama dengan tiap murid untuk membuat rencana berorientasi tujuan dan memantau kemajuan murid-murid dua kali per tahun. Tujuan tersebut bisa berupa tujuan akademis, personal, atau sosial. Intinya, dengan menerapkan diferensiasi, guru mampu memahami kebutuhan pribadi tiap murid dengan lebih baik. Pendekatan ini sangat memberikan pencerahan bagi para orang tua Denmark karena cara kita memandang anak-anak berpengaruh besar terhadap cara kita memperlakukan mereka.


Jam sekolah di Denmark juga selesai lebih cepat jika dibandingkan dengan negara-negara lain, kemudian berlanjut ke SFO (skolefritidsordning atau sebuah tempat untuk mengisi waktu luang seusai sekolah). Di tempat inilah anak-anak bisa bebas bermain, praktis tanpa terstruktur. Mereka bebas melakukan apapun, apakah hanya untuk sekedar bermain, melakukan hobi, maupun berinteraksi sosial dengan teman-temannya. Hal ini menunjukkan betapa bermain dipandang sangat penting bagi semua anak sampai dengan usia SMA.


Sekolah-sekolah di Denmark juga menjalankan program yang disebut "waktu kelas", yang diawali pada hari pertama bersekolah. Satu jam diluangkan untuk mengurus dinamika dan kebutuhan kelas secara keseluruhan dengan melibatkan semua murid. Jika ada persoalan meresahkan yang perlu dibahas, guru turun tangan untuk menjadi penengah dialog dan berusaha mendamaikan konflik yang mungkin timbul. Jika tidak ada konflik, murid-murid semata-mata menikmati kebersamaan. Di banyak kelas, murid-murid bergiliran membawa kudapan untuk dibagi dan dinikmati pada jam tersebut. Kegiatan itu adalah kunci sekolah-sekolah Denmark dalam merengkuh anak seutuhnya.


Terdapat pula kegiatan "patroli bermain", yaitu sistem sosial yang diselenggarakan oleh sejumlah SMA di Denmark. Petugas patroli bermain membantu anak-anak yang lebih muda ikut serta dalam permainan di lapangan. Petugas patroli bermain diberi sejumlah ide dan instruksi tentang cara merengkuh anak-anak yang cenderung pemalu supaya ikut bermain. Tujuan patroli bermain adalah mendorong anak-anak agar lebih sering bergerak di sekolah, dengan cara bermain pada waktu istirahat. Program ini juga sangat bermanfaat dalam mencegah perundungan dan memupuk lingkungan yang bahagia serta kondusif untuk bermain.


Satu lagi contoh kegiatan bermain yang dimanfaatkan untuk mempersatukan anak-anak dan mengajari mereka keterampilan sosial adalah bermain berkelompok, yang diatur oleh orang tua atas anjuran sekolah. Sebulan sekali, sejumlah orang tua berkoordinasi untuk mengundang sebanyak lima atau enam teman sekelas anak mereka ke rumah masing-masing untuk "makan dan bermain" sepulang sekolah sampai sekitar pukul tujuh atau delapan malam. Tugas sebagai tuan rumah digilir per bulan, namun pada intinya semua anak sempat menjadi tuan rumah setidaknya satu kali pada satu tahun ajaran. Dengan menjadi tuan rumah kelompok bermain, anak-anak merasa memberikan sumbangsih kepada komunitas dan mendapatkan peluang untuk semakin maju di zona perkembangannya. Selain itu, bermain berkelompok berpotensi mencegah perundungan karena lebih sulit mengganggu orang lain ketika kita kenal keluarganya. Oleh karena itu, komunitas yang kompak di seputar lingkungan dan institusi pendidikan merupakan aset berharga.


Majelis wali amanat dan manajemen sekolah menyarankan agar orang tua bekerja sama mencegah perundungan di dalam dan di luar sekolah. Keikutsertaan orang tua dalam program sosial yang diprakarsai sekolah berdampak besar untuk menciptakan lingkungan yang bebas perundungan bagi anak-anak. Oleh sebab itu, banyak sekolah di Denmark yang menyerukan agar upaya menyeimbangkan kehidupan dengan pekerjaan (work-life balance) diperluas, agar para orang tua juga mempunyai waktu luang untuk berpatisipasi dalam acara sekolah dan memaksimalkan peran mereka dalam mempererat hubungan dengan para murid.


Sistem Pendidikan dan Budaya Hygge di Denmark, Mungkinkah diterapkan di Indonesia?


Memang untuk saat ini, bagaimana baiknya kualitas pendidikan di Denmark sepertinya masih menjadi utopia bagi kita. Bagaimana terintegrasinya antara kebijakan pemerintah, aturan sekolah, dan gaya parenting yang sudah membudaya membentuk suatu atmosfer yang memang ideal untuk pendidikan anak-anak. Sangat disayangkan kita masih jauh dari kata ideal tersebut. Adanya ketidakselarasan antara pendapat psikolog anak dengan kebijakan pemerintah dan aturan sekolah yang menetapkan standar bagi siswa dengan nilai-nilai tertentu menjadi tantangan tersendiri dalam sistem pendidikan kita. Psikolog anak ingin agar kita berfokus pada pendidikan karakter dan kematangan emosional untuk pendidikan anak usia dini, namun pada saat yang bersamaan sekolah mengeluarkan syarat bahwa anak sudah harus bisa membaca, menulis, dan berhitung sebagai standar kesiapannya untuk masuk sekolah. Belum lagi kurikulum nasional yang selalu berganti setiap menteri pendidikan baru menjabat, membuat sekolah dan para guru juga harus selalu bersiap dan beradaptasi terhadap perubahan tersebut.


Mungkin masih terlau jauh untuk membayangan Indonesia mempunyai sistem pendidikan yang baik layaknya Denmark (atau negara maju lainnya), namun bukannya tidak mungkin. Kita bisa memulainya dari keluarga kita sendiri, dengan menciptakan atmosfer yang menyenangkan dan menyediakan kebutuhan ruang yang cukup bagi anak-anak untuk mengksplorasi ide-ide mereka dalam bermain. Kita juga bisa mulai dengan menitikberatkan pendidikan keluarga pada pengembangan karakter, kemandirian, dan kematangan emosional ketimbang urusan akademis yang sebenarnya bukan hal esensial bagi kehidupan mereka kelak dalam menghadapi realita dan ujian hidup. Akademis (dan skill) memang penting (apalagi di negara berkembang seperti kita yang dihadapkan pada persaingan global), namun diatas hal tersebut, pendidikan karakter dan kematangan emosional seharusnya menjadi hal yang utama sebagai pondasi dasar dalam pendidikan anak.


Selain dari sistem pendidikan, ada baiknya budaya hygge ala orang Denmark juga kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dewasa ini kesibukan karena pekerjaan dan berbagai tekanan sosial (terutama di perkotaan) membuat kita semakin individualistis tanpa kita kita sadari. Seringkali karena sudah merasa begitu lelah, kita lebih memilih untuk beristirahat dan menyendiri disamping menghabiskan waktu dan menikmati momen bersama keluarga. Kesibukan di tempat kerja melenakan kita (belum lagi telepon dari kantor yang terus berdering di waktu istirahat dan di akhir pekan), sehingga mengesampingkan kebutuhan kita untuk berinteraksi sosial. Padahal, sejatinya manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa bantuan dan pertolongan orang lain.


Tidak perlu waktu berhari-hari untuk bisa menghabiskan waktu bersama-sama jika memang kita belum terbiasa, namun ada baiknya hal ini kita lakukan dengan keluarga kecil kita dalam kehidupan sehari-hari. Sesederhana menikmati makan malam bersama tanpa gangguan gadget, saling bercanda, bercerita, dan mendengarkan satu sama lain, atau memainkan board game dimana semua anggota keluarga bisa ikut berpatisipasi dan merasakan keseruan bersama. Sesibuk dan sepenat apapun ayah dan ibu, waktu untuk menikmati momen bersama keluarga seharusnya tetap menjadi prioritas utama, agar kita bisa membentuk keluarga yang utuh dan memandangnya sebagai satu tim yang akan selalu hadir dan saling terikat satu sama lain dalam kondisi apapun.


Source Pendukung

https://id.wikipedia.org/wiki/Denmark


Recent Posts

See All

Comments


  • Facebook
  • Twitte
  • Pinteres
  • Instagram

Thanks for submitting!

© 2023 by Design for Life.
Proudly created with Wix.com

bottom of page