Terima Kasih, Suamiku
- Primawati Kusumaningrum
- Dec 29, 2021
- 3 min read
Pagi ini aku terbangun dengan perasaan ringan. Meskipun hari ini aku bangun siang akibat semalam begadang hingga jam 2 dini hari, namun tidak menghilangkan perasaan riang di hatiku. Pertama, aku berhasil memindahkan semua postingan instagramku tentang cerita anak-anak ke blog ini. Dan pada akhirnya aku bisa menghapus akun tersebut karena memang akun itu sudah tidak lagi produktif. Mengapa aku memilih menghapusnya? Karena ada semacam pressure dan harapan tersendiri, bahwa sesuatu yang dipajang di media soisal sebaiknya bisa viral dan dikenal oleh banyak orang. Sementara tujuan awalku memang bukan untuk itu. Jadi, menghapusnya adalah opsi terbaik untuk menjaga ekspektasiku sendiri.
Kedua, setelah dua hari sebelumnya hariku terasa kacau akibat insiden potong rambut, akhirnya di malam berikutnya suamiku meluangkan waktunya untuk mengobrol denganku.
Aku menumpahkan semua kekesalan dan perasaan sesak yang membayangiku. Kukakatakan juga padanya dengan penuh maaf, bahwa setiap kali aku dikelilingi perasaan negatif, ada bagian dari diriku yang turut menyalahkan dan membencinya. Dia bilang tidak apa, karena mungkin jika dia yang ada di posisiku, dia juga akan memiliki perasaan yang sama. Aku mengobrol banyak dengannya malam itu. Semua kesalku tumpah, diiringi dengan isak tangis dan air mata yang terus mendesak keluar. Biasanya aku memang akan merasa lega jika emosi yang terpendam sudah keluar lewat obrolan dan tangisan. Meski kadang aku sebal sekali padanya, tapi pada saat-saat seperti itu, ia tetap menjadi satu-satunya teman terbaikku. Satu-satunya partner yang bisa kupercaya dan menjadi tempat paling nyaman untuk menumpahkan segala sesak. Ia adalah orang yang selalu sabar ketika harus menghadapi kompleksitas diriku berulang kali, bukan hanya malam itu saja. Ia mendengarkan dengan penuh perhatian tanpa menyela, dan membiarkan aku terhanyut dalam tangisku untuk sejenak. Ia hanya bertanya sesekali untuk memvalidasi emosiku, membiarkanku mencerna sendiri kata-kataku agar aku bisa kembali berpikir jernih.
Pada titik itu, aku merasa seketika kewarasanku kembali. Seketika pusat gravitasiku kembali, dan aku kembali menapaki kesadaranku. Semua pikiran dan perasaan negatif yang menguasaiku digantikan dengan sudut pandang baru yang lebih jernih. Bagai mengganti kacamata yang lensanya sudah buram dengan lensa baru yang masih bersih. Mungkin, bukan teman-temanku yang menjauh dan meninggalkanku, melainkan aku yang menarik diri dan menjaga jarak dari mereka. Bukan tidak ada yang mau membantuku, tapi aku sendiri yang selalu mendorong jauh ketika bantuan itu ditawarkan. Bukan tidak ada yang mau mendengarkanku, namun aku sendiri yang selalu memilih untuk diam terlebih dahulu, sampai akhirnya semua emosi itu tanpa kusadari semakin terpendam dan menumpuk hingga akhirnya meledak sendiri.
Aku tahu semua yang kurasakan tersebut hanya ada dalam pikiranku sendiri. Namun ada kalanya pikiranku berbicara lebih lantang daripada suara hatiku. Jauh lebih mudah bagiku untuk menyalahkan keadaan dan orang-orang di sekitarku saat aku dikelilingi semua perasaan negatif tersebut secara bersamaan. Dan itu yang kadangkala tidak bisa kukontrol. Kadang aku berpikir, sampai kapan suamiku akan bertahan dengan kodisiku yang seperti ini? Aku tahu dia sangat menyayangi dan mencintaiku, tapi jujur saja aku takut suatu saat ia memilih pergi karena lelah menghadapiku yang terus-terusan seperti ini. Jadi sepertinya psikolog masih opsi terbaik saat ini. Meski aku juga merasa takut ketika memikirkannya. Bagaimana jika ternyata aku memiliki personality disorder? Oh ya, sebelumnya aku sudah pernah didiagnosis MADD (mixed anxiety and depression disorder) oleh psikiatri, hingga dianjurkan mengkonsumsi obat penenang. Di satu sisi aku bersykur, bahwa jika memang ternyata aku tidak baik-baik saja, setidaknya aku memiliki kesadaran penuh untuk mengobati dan memperbaikinya. Namun di satu sisi pikiran itu juga sama menakutkannya dengan tidak megetahui apapun. Sebagian besar diriku masih menyangkal jika memang aku sakit dan perlu diobati.
Bagaimanapun, aku ingin berterima kasih kepada suamiku untuk segala kesabarannya menghadapiku selama ini. Untuk selalu hadir bersamaku dan menerimaku apa adanya. Semoga ia tidak lekas lelah dan tetap berada di sampingku meski di hari-hari terburukku sekalipun.

Comments