September yang ASYWSWJH4BJAK!!!
- Primawati Kusumaningrum
- Sep 4, 2022
- 2 min read
Hari ke-4 bulan September, tidak ada hal spesial yang terjadi. Aku juga tidak tahu hendak menulis apa, karena perasaanku saat ini rasanya agak abstrak. Tidak terlalu bahagia, tapi juga tidak sedih. Tidak juga merasa bersemangat ataupun menggebu-gebu terhadap sesuatu seperti biasanya, tapi juga tidak sampai ingin berhenti melanjutkan hidup. Intinya, perasaanku saat ini biasa-biasa saja. Oh, mungkin agak sedikit muak dan lelah dengan kondisi negara (halah).
Bulan ini aku, suami, dan putriku terkena flu yang lumayan berat. Mungkin karena terlalu kelelahan bolak-balik memastikan kondisi rumah yang sebentar lagi menjadi rumah tinggal kami, akhirnya imun kami semua drop dan sekeluarga pun sakit flu. Tentu saja, momen sakit bareng-bareng ini tidak lantas menjadikan kamu bisa beristirahat seharian dengan tenang. Suami, segera kembali kerja lapangan. Sementara aku dan putriku seperti biasa, menghabiskan waktu berdua saja sembari melakukan perawatan mandiri di rumah sampai setidaknya tubuh kami merasa baikan.
Ngomong-ngomong soal renovasi rumah pertama, rasanya memang sungguh melelahkan. Memang benar apa kata orang, harus sabar. Masalahnya aku dan suami hanya memiliki sedikit waktu untuk merencanakan dan melakukan semuanya bersama-sama, selebihnya project tersebut dilakukan secara auto pilot oleh kontraktor karena kami juga tidak memiliki energi yang cukup besar jika harus mengurus segala sesuatunya sendirian. Hasilnya tentu tidak sempurna dan tidak 100% sesuai dengan bayangan rumah ideal yang kami inginkan, namun untuk saat ini rasanya sudah cukup. Dalam renovasi ini, pertimbangan biaya menjadi prioritas kami. Karena budget kami terbatas, tentu tidak bisa sempurna sekaligus. Rencananya kami melakukan renovasi bertahap sesuai dengan kesediaan budget. Namun kami juga tidak mau menghabiskan seluruh energi hanya untuk urusan rumah (terbukti kami sekeluarga malah sakit karena terlalu kelelahan), sehingga meski dengan budget terbatas kami memberanikan diri untuk menggunakan jasa kontraktor. Jangan ditanya pembengkakan biaya yang terjadi selama perjalanannya. Tentu saja ada, dan tidak sedikit. Namun kami berusaha sebisa mungkin untuk tetap on track sesuai dengan rencana yang telah kami sepakati di awal.
Selanjutnya, aku agak-agak muak setiap membaca berita lokal. Rasanya tiap kali membaca berita perkembangan dalam negeri aku ingin pindah kewarnegaraan. Ternyata dalam keadaan seperti ini pun, asa itu masih ada. Namun sepertinya dibanding mimpi indah tentang hidup di negeri asing sebagai orang yang sama sekali baru, mempelajari budaya, lingkungan dan membaur dengan warga sekitar untuk memperkaya pengalaman hidup, sekarang perasaan ingin tinggal di negeri asing adalah karena ingin melarikan diri. Rasanya muak sekali setiap membaca berita bahwa kondisi negeri ini sungguh mengalami kemunduran, hampir dari segala aspek. Aku dan suami yang tidak terlalu memiliki semangat nasionalisme saja rasanya lelah dan muak. Ingin sekali rasanya mencari penghidupan yang lebih baik, pendidikan yang lebih maju dan merata tentunya, juga keamanan dan keadilan yang bisa dirasakan manfaatnya sampai ke lini masyarakat terbawah.
Yah, sepertinya setelah berhenti dari Instagram aku juga harus berhenti dari Twitter. Dari Instagram aku mengalami insecurities, iri, dengki, dan julid. Dari Twitter aku belajar menjadi seorang pembenci. Aku rasa memang lebih aman untuk tidak menggunakan sosial media saat ini. Mungkin nanti, saat berita-berita positif yang membawa kabar gembira bermunculan (yang entah kapan).
Sekarang hal yang sangat kuinginkan adalah aku ingin bisa membantu perekonomian keluarga, agar beban finansial tidak sepenuhnya ditanggung oleh suamiku. Semoga saja Allah meridhoi dan ada jalan agar aku bisa meringankan beban suami tanpa harus mengabaikan peran utamaku sebagai seorang ibu dan istri.

Comments