top of page

Self Acceptance: Aku Mamaafkan dan Menerima Diriku Seutuhnya

Setengah tahun telah berlalu di tahun 2022 ini. Banyak perubahan positif yang kurasakan secara emosional dalam diriku semenjak aku lebih meningkatkan awareness tentang kesehatan mental setelah jatuh depresi. Tahun ini memang ini menjadi tahun "menyepi" untukku. Berlindung dari bisingnya hingar bingar dunia yang riuh oleh orang-orang yang saling berlomba dan unjuk diri menonjolkan pencapaian-pancapaian dan versi terbaik dari diri mereka.


Siapa sangka, di tengah-tengah segala pergumulan batin dan tarik ulur emosi saat aku membatasi interaksi sosial dengan dunia luar, aku justru merasakan kedamaian dan menemukan suaka dari segelintir orang yang selama ini ada di sekelilingku. Akhirnya aku bisa menemukan kenyamanan dalam sunyi, meski tanpa spotlight sama sekali. Dalam kesunyian, aku memiliki ruang yang cukup untuk bisa melihat jauh lebih dalam ke dalam diri. Aku banyak merenung tentang banyak hal dan menuliskan apa yang kurasakan. Merengkuh sisi-sisi rapuh dalam diriku. Mengakui bahwa dalam banyak hal, aku mempunyai keterbatasan. Menerima hal-hal yang terjadi di luar kendaliku dengan ikhlas dan pasrah. Juga tidak memaksakan hal--hal yang memang belum atau tidak ditakdirkan untukku.


Semesta pun rasanya turut mendukung keputusanku. Sepanjang 2022 ini, aku kembali membaca banyak buku. Kembali tenggelam dalam lembar-lembar dari buah pikiran seseorang. Kembali menghidupkan imajinasi yang sempat mati suri. Yang anehnya, tanpa aku rencanakan dengan detail, ternyata aku menemukan buku-buku yang tepat untuk memenuhi kebutuhanku. Merasa dipertemukan dengan buku-buku yang tepat, aku mendapatklan banyak sekali perspektif baru. Aku mendapati pikiran, hati dan jiwaku perlahan-lahan terisi dengan hal-hal yang positif. Dan dengan sendirinya, caraku berpikir, berucap, dan bertindak juga menjadi lebih positif. Dan paling penting, aku bisa menentukan standar bahagiaku sendiri tanpa harus merasa insecure atau terintimidasi dengan pencapaian orang lain (yang mana memang sebenarnya tidak perlu).


Selain itu ada moment menarik yang baru saja terjadi akhir-akhir ini. Ternyata seiring dengan kemauan dan kemampuan untuk menerima diri seutuhnya, berbagai kemungkinan dan pintu yang sebelumnya tertutup dengan sendirinya terbuka. Pukul setengah 9 malam kemarin, tiba-tiba saja aku menerima telepon dari adikku. Percakapan yang tidak biasa, karena tidak biasanya kami melakukan deep talk untuk membahas perasaan masing-masing. Sesuatu yang biasanya agak tabu dibahas karena memang rasanya tidak nyaman. Tapi malam itu untuk kali pertamanya setelah Mama meninggal, kami saling terbuka dan jujur satu sama lain. Fakta bahwa ternyata adikku juga sebenarnya ikut merasakan apa yang aku rasakan selama ini membuatku merasa tidak lagi sendiri. Apa-apa yang aku sangkakan selama ini tidak sepenuhnya benar, juga apa-apa yang aku asumsikan tidak semuanya terjadi.


Di titik ini aku menyadari, bahwa seringkali yang menyakiti diri kita sendiri adalah asumsi-asumsi pribadi. Keadaan memang tidak lagi sama seperti dahulu, namun aku juga tidak membuatnya menjadi lebih baik dengan terus-terusan menarik diri dan menutup hati. Semua hanya akan menjadi jelas ketika kita berkomunikasi dan berhenti berasumsi. Yang pasti, saat ini aku merasa hati dan pikiranku lebih damai. Dan aku juga menikmati perasaan bahagia yang muncul dari hal-hal kecil di sekitarku. Sesederhana melihat senyum dan tawa yang merekah di bibir putriku, aroma masakan yang memenuhi ruangan, mentari yang muncul selepas mendung seharian, kopi hangat di pagi hari, tingkah konyol kucing peliharaanku, dan tulisan-tulisanku di blog ini yang mungkin tidak akan pernah terbaca oleh orang lain. Semua hal itu sungguh sangat kusyukuri dan membuatku bahagia saat ini.


Aku tidak tahu perasaan ini akan bertahan sampai berapa lama, karena sampai saat ini aku masih terus bertumbuh. Dan hidup juga tidak pernah menjajikan sesuatu yang pasti kepada kita. Aku hanya berusaha terbuka untuik semua kemungkinan yang akan terjadi ke depannya, dan fokus untuk kehidupan yang ada di hadapanku saat ini.


You don't have to understand life. You just have to live it (Matt Haig; The Midnight Library).


Recent Posts

See All
Life's Update Before 2024 Ended

So, how's life recently? Setelah beberapa bulan di pertengahan tahun ini aku mencoba berlari kencang, ternyata di 3 bulan terakhir menuju...

 
 
 
Persimpangan

Kurang lebih 3 bulan berlalu setelah aku memutuskan untuk bergabung sebagai volunteer di dua komunitas yang berbeda. Bagaimana rasanya...

 
 
 
Juni Berkembang

Bisa dibilang, bulan Juni ini menjadi starting point bagiku untuk mulai berbunga. Mimpi-mimpi yang sebelumnya tampak jauh untuk dijangkau...

 
 
 

Comments


  • Facebook
  • Twitte
  • Pinteres
  • Instagram

Thanks for submitting!

© 2023 by Design for Life.
Proudly created with Wix.com

bottom of page