Sebut Saja Minder
- Primawati Kusumaningrum
- Dec 25, 2021
- 2 min read
Kemarin aku mendengar kabar bahagia dari salah satu sahabat dekatku. Setelah usahanya yang kesekian kali, akhirnya ia berhasil lolos tes CPNS. Aku turut berbagia untuknya. Namun ada satu perasaan aneh menggayutiku. Akhirnya, di antara semua sahabatku, hanya aku satu-satunya istri yang menjalani kehidupan sebagai ibu rumah tangga. Aku tidak menyambi berjualan, tidak juga menjalani pekerjaan part time atau freelance seperti halnya ibu-ibu lain yang menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah. Aku juga tidak tergabung dalam komunitas apapun. Aku hanya mengikuti kegiatan tertenrtu saja yang memang sedang menarik minatku, namun untuk menjalani sesuatu yang membutuhkan komitmen panjang rasanya aku belum mampu dengan kondisi saat ini.
Aku hanya menghabiskan sebagian besar waktuku untuk mengurus pekerjaan rumah, mengurus keluargaku, dan tentunya berusaha meluangkan waktu untuk diri sendiri setiap harinya. Untuk berada di posisi seperti ini, rasanya antara nyaman dan tidak nyaman. Nyaman karena memang hanya hal ini yang bisa aku lakukan saat ini, tanpa adanya bantuan asisten rumah tangga, keluarga terdekat, bahkan support system dari suami karena kami lebih sering LDR. Berada dalam satu atap pun suami lebih banyak memfokuskan sebagian besar waktunya untuk menjalankan amanahnya sebagai seorang karyawan. Dan itu juga adalah bagian dari konsekuensi yang harus kuterima dari pilihanku. Tidak nyaman karena sebenarnya akupun ingin berdaya lebih, tidak hanya menghabiskan waktuku di rumah dengan rutinitas yang itu-itu saja.
Dan semakin tidak nyaman ketika akhirnya aku mendapati diriku semakin merasa berjarak dengan sahabat-sahabatku sendiri. Aku merasa hidup di dimensi yang berbeda dengan mereka. Tidak ada hal menarik yang bisa kuceritakan kepada mereka selain sesekali curhat tentang kondisi anak, dan hal-hal serupa. Mereka juga tampaknya semakin sibuk dengan kehidupannya masing-masing, sehingga interaksi kami pun hanya sebatas saling sapa yang kadang disambut dengan hambar.
Tapi aku sadar. Aku memilih kehidupan menjadi ibu rumah tangga bukan untuk terus merasa minder dan insecure. Aku memilih kehidupan ini karena semata aku ingin memfokuskan perhatianku untuk keluarga, terutama untuk putriku. Dan aku tidak pernah menyesali keputusan ini, meski tidak selalu mudah untuk dijalani. Hanya saja, terkadang aku iri dengan mereka yang sudah berhasil menwujudkan kehidupan yang mereka impikan. Semantara saat ini, aku masih bertahan dengan kondisi yang memang belum settle. Permintaanku saat ini tidak muluk-muluk. Aku hanya ingin circle pertemanan yang sudah sempit ini tidak semakin menyusut.

Comments