top of page

Sebuah Kesadaran tentang Inner Child

Updated: Dec 23, 2021

Inner child. Sesuatu yang tidak kusadari keberadaanya hingga aku menjadi orang tua. Setiap hari berinteraksi dengan putriku, aku semakin menyadari bahwa ternyata jauh di lubuk hatiku aku memiliki bekas luka pengasuhan atau inner child. Banyak orang wara-wiri di dunia media sosial membahas inner child, tidak pernah sekalipun aku berpikir bahwa aku ada diantara salah satu orang-orang yang memiliki bekas luka tersebut.


Selama ini aku selalu merasa diriku baik-baik saja. Aku merasa bahwa orang tuaku dulu sempurna mendidikku. Mereka dulu sudah memberikan yang terbaik dalam hidupku hingga aku tumbuh dewasa. Namun ternyata, beberapa hari ke belakang kemarahanku terhadap putriku rasanya tidak masuk akal. Tanpa aku sadari, kemarahanku membentuk sebuah pola. Setiap kali emosiku meledak, selalu ada perasaan impulsif yang muncul dan mendorong dengan kuat untuk melampiaskannya dengan kekerasan pada putriku seperti memukul, menghardik, mencubit, menjewer, bahkan mengancam dan melabelinya dengan kata-kata nakal atau bandel.


Beberapa minggu terakhir ini memang aku merasa kewalahan dengannya. Putriku sedang memasuki usia 3 tahun, yang artinya dia sedang berada di fase three-nager. Anak toddler yang seringkali bertingkah layaknya seperti seorang remaja dengan watak yang susah dinasehati, selalu menjawab setiap kali aku mengomel, melakukan dengan sengaja hal yang kularang, dan hal yang paling sering membuatku jengkel adalah saat aku berbicara dengannya dengan baik-baik tapi tidak juga diindahkannya, hingga akhirnya emosiku meledak.


Saat itulah biasanya aku akan mendaratkan 1-2 pukulan atau cubitan di kaki atau lengannya, hanya agar dia mau mendengar kata-kataku dan menurutinya. Memang tidak sampai meninggalkan memar maupun bekas luka, namun cukup menimbulkan rasa sakit bagi anak seusianya. Setelahnya aku selalu merasa tersiksa dengan perasaan bersalah. Anak sekecil itu mana bisa melawan? Kenapa aku tidak bisa mengendalikan emosiku dengan baik? Kenapa aku tidak bisa menahan jemariku untuk bertindak? Kenapa dorongan untuk melampiaskan semua emosi itu begitu kuat? Bahkan di beberapa kesempatan rasanya aku tidak puas jika tidak membuatnya sampai menangis. Karena dengan begitu, aku akan merasa menang sebagai orang tua. Rasanya sia-sia saja aku membaca begitu banyak teori parenting tapi di saat yang bersamaan, aku sama sekali tidak bisa mengaplikasikannya dalam kehidupanku.


Aku tahu benar cara seperti ini tidak baik dan tidak dapat dibenarkan, apapun alasannya. Aku sadar betul bahwa aku telah bersikap abusive. Aku menggunakan power-ku sebagai orang tua hanya untuk mempertegas sikapku kepadanya, bahwa aku manusia yang lebih besar dan lebih kuat yang tidak bisa dia lawan seenaknya. Alih-alih menurut, aku takut dia hanya akan tumbuh membawa trauma dan semakin keras kepala. Dan aku tidak mau hal itu terjadi padanya. Aku tidak mau dia memiliki watak yang keras sepertiku.


Jika kuingat-ingat lagi, dulu mamaku sering mengomeliku ketika aku membuatnya marah. Tidak hanya mengomel saja (yang biasanya masih akan diungkit hingga beberapa hari ke depan), tapi ketika emosinya memuncak beliau juga akan melayangkan cubitan dan pukulan hingga meninggalkan memar di kulitku. Pernah sekali waktu aku juga dilempar dengan sikat hingga mengenai kemaluanku saking beliau emosi terhadapku. Ketika mama tidak bisa menanganiku, papa akan menghardikku dengan keras. Dan alih-alih menurut, aku memang justru semakin keras kepala.


Aku pikir masa-masa itu hanya bagian dari fase yang harus kulalui sebelum aku tumbuh dewasa. Aku pikir itu adalah hal yang wajar-wajar saja dilakukan oleh orang tua ketika anaknya keras kepala dan susah menurut. Aku pikir tidak ada yang salah dengan itu, makanya aku tidak pernah ambil pusing. Tidak pernah sekalipun aku berpikir bahwa tindakan tersebut ternyata akan membekas hingga saat ini dan mempengaruhi pola asuh terhadap putriku. Mungkin karena kenangan indah bersama mereka jauh lebih banyak dan lebih membekas dibanding kenangan tidak menyenangkan tersebut, sehingga selama ini aku tidak pernah mempermasalahkannya apalagi menganggapnya sebagai suatu kenangan yang buruk.


Tapi melihat sikapku beberapa hari ke belakang, rasanya semua menjadi lebih jelas. Bahwa tanpa kusadari, aku memakai cara yang sama untuk mendisiplinkan putriku saat ini. Cara-cara yang sebetulnya sudah sangat tabu untuk dilakukan di era parenting saat ini. Tindakan-tindakan yang dilakukan orang tuaku dulu, bagaimana cara mereka mendidikku, tanpa disadari telah membekas hingga ke alam bawah sadarku, mempengaruhi caraku bersikap kepada putriku.


Aku tidak sedang menyalahkan orang tuaku. Bagaimana pun mereka sudah memberikan yang terbaik yang mereka bisa saat itu. Aku ingat dulu mamaku sering bercerita kalau cara nenekku mendidik beliau berkali-kali jauh lebih keras dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh mama terhadapku. Ketika beliau nakal, nenek akan mengurungnya di tempat yang gelap lalu memukulnya dengan sapu lidi. Aku tidak bisa membayangkan jika diriku hidup di masa itu. Sepertinya aku sudah kabur dari rumah. Mungkin itu juga yang pada akhirnya mempengaruhi mama untuk bertindak dengan kekerasan sebagai cara untuk mendisiplinkanku. Karena beliau pernah punya pengalaman yang sama di masa kecilnya dulu.


Aku sungguh tidak ingin mengulang pengalaman itu pada putriku. Meskipun pada akhirnya memang orang tuaku berhasil mendidikku dengan cara seperti itu, namun siapa yang tahu kalau cara itu juga akan berhasil pada putriku? Bagaimana jika nanti dia malah tumbuh dengan membawa trauma dan tidak nyaman denganku, ibunya sendiri? Menganggapku sebagai orang tua yang toksik? Aku sungguh tidak mau hal itu terjadi. Aku ingin menjadi ibu yang lemah lembut, menjadi contoh yang baik baginya, menjadi seseorang yang selalu bisa ia andalkan, dan menjadi sahabat terbaiknya, tempat yang paling nyaman baginya untuk berbagi segala hal. Aku harap aku bisa memutus rantai luka pengasuhan ini dan menjadi orang tua yang lebih baik untuk putriku. Entah dengan cara terapi melalui bantuan profesional atau self healing, aku harus memutus mata rantai ini.



Recent Posts

See All
Life's Update Before 2024 Ended

So, how's life recently? Setelah beberapa bulan di pertengahan tahun ini aku mencoba berlari kencang, ternyata di 3 bulan terakhir menuju...

 
 
 
Persimpangan

Kurang lebih 3 bulan berlalu setelah aku memutuskan untuk bergabung sebagai volunteer di dua komunitas yang berbeda. Bagaimana rasanya...

 
 
 
Juni Berkembang

Bisa dibilang, bulan Juni ini menjadi starting point bagiku untuk mulai berbunga. Mimpi-mimpi yang sebelumnya tampak jauh untuk dijangkau...

 
 
 

Comments


  • Facebook
  • Twitte
  • Pinteres
  • Instagram

Thanks for submitting!

© 2023 by Design for Life.
Proudly created with Wix.com

bottom of page