top of page

Review Buku Guru Aini: Antara Resensi Buku dan Kritik terhadap Penulis

Sebelum masuk ke pembahasan novel Guru Aini karya Andrea Hirata, aku ingin melakukan sedikit kilas balik terhadap karya-karya penulis yang populer.


Nama Andrea Hirata tentu tak asing lagi di telinga kita. Mendengar namanya seketika kita akan teringat tetralogi Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov. Saking lekat dan populernya buku tersebut, kisah Laskar Pelangi pun diangkat ke layar lebar dan menuai banyak pujian. Karena novel-novel tersebut dikategorikan sebagai autobiografi, tentu pesan-pesan yang hendak disampaikan pun jadi terasa lebih dekat dengan pembaca. Aku masih ingat, perasaan ketika pertama kali membaca Laskar Pelangi. Hati rasanya ikut membuncah dan menggebu-gebu karena timbulnya semangat untuk meraih mimpi, sama seperti tokoh-tokoh yang ada dalam novel tersebut. Sebut saja Ikal, Lintang, Arai. Aku bahkan masih bisa mengingat beberapa nama tokohnya tanpa harus membuka bukunya kembali.


Namun tidak seperti penulis lainnya yang aku tahu, setelah tetralogi Laskar Pelangi aku kehilangan minat untuk membaca karya-karya Andrea Hirata selanjutnya. Alasan pertama, karena dalam suatu artikel saat novel pertamanya meraih predikat Internasional Best Seller, terdapat tendensi kesombongan dalam ucapan Andrea Hirata, “Hampir seratus tahun kita menanti adanya karya anak bangsa mendunia, tapi Alhamdullilah hari ini semua terbukti setelah buku saya menjadi best seller dunia.” Aku rasa seharusnya sebagai seorang penulis baru, dia tidak berkata demikian. Perkataannya tersebut menjadi boomerang karena ada seorang kritikus sastra yang mengkritik bahwa sikapnya tersebut telah mengolok-olok sejarah sastra di Indonesia. Memang tidak mudah menyimpulkan kesombongan seseorang hanya dinilai dari satu baris kalimat yang diucapkan semata, tapi jujur aku sendiri setuju dengan apa yang disampaikan oleh kritikus tersebut. Apalagi reaksi penulis terhadap kritikus tersebut juga kurang baik, mengingat adanya ancaman meja hijau dari Andrea Hirata kepada kritikus tersebut. Mungkin Andrea Hirata saat itu sedang di atas angin sehingga lupa bahwa ada banyak sastrawan Indonesia yang sudah mendahuluinya masuk di kancah internasional dan masuk dalam nominasi penerima Nobel Sastra serta meraih banyak penghargaan dari luar. Sebut saja Pramoedya Ananta Toer, Buya Hamka, N.H. Dini, dll.


Kedua, aku sempat membaca novel keduanya setelah karya pertamanya, yaitu dwilogi Padang Bulan. Aku tidak ingat buku itu berkisah tentang apa. Namun sejauh yang aku ingat, perasaan yang timbul saat membacanya tak ubahnya seperti membaca novel biasa. Tentu karena ini karya Andrea Hirata, aku berharap ada magnet kuat dan perasaan magis yang timbul saat membacanya, sama seperti saat membaca Laskar Pelangi. Namun bagiku buku tersebut seperti kehilangan ruhnya, kehilangan gregetnya. Aku mengerti memang ada beberapa tokoh penulis atau tokoh film yang tidak bisa melepaskan diri dari karakter yang diciptakan atau dilakoninya, sehingga beberapa dari mereka mencantumkan nama pena lain saat menulis buku baru, seperti misalnya J.K Rowling yang mengubah nama penanya menjadi Robert Galbraith saat menulis buku baru setelah serial Harry Potter usai. Namun aku berharap hal tersebut tidak terjadi pada Andrea Hirata. Ekpektasiku karya-karyanya akan tetap memiliki daya tarik tersendiri meskipun Laskar Pelangi telah selesai, sama seperti halnya buku-buku Dewi Lestari yang tetap memukau meski serial Supernova telah usai (tentu saja aku membandingkannya dengan penulis favoritku). Sejak saat itu, aku absen membaca buku-buku lain karya Andrea Hirata.



Guru Aini mungkin menjadi awal mula kembali aku menyelami tulisan Andrea Hirata. Buku ini berkisah tentang perjuangan seorang guru muda matematika idealis bernama Guru Desi yang mengabdi di sebuah kampung pelosok negeri bernama Tanjung Hampar. Demi kecintaannya pada matematika, ia rela bersusah-susah ditempatkan di pelosok negeri antah berantah dan menghabiskan masa baktinya sebagai seorang guru meski prestasinya di atas rata-rata. Ia sangat berambisi untuk menemukan seorang genius matematika di antara murid-muridnya di pelosok Tanjung Hampar. Aini, sebaliknya adalah seorang gadis kampung bodoh yang tidak mengerti tentang matematika sedikit pun. Pekerjaannya hanya bermain, selalu duduk di deretan bangku paling belakang jika sekolah, dan tidak menyukai kegiatan membaca ataupun belajar. Konflik antar tokoh tercipta ketika kedua tokoh bertemu. Alih-alih dipertemukan dengan seorang murid genius, Guru Desi malah dihadapkan pada tantangan untuk mengajar seorang murid bodoh bernama Aini. Dengan dibakar semangat membara karena ayahnya sakit, Aini bertekad penuh untuk bisa menaklukkan matematika, pelajaran yang paling ditakutinya demi cita-citanya menjadi dokter agar ia bisa mengobati ayahnya yang sakit. Sebaliknya, bagi Guru Desi ini merupakan tantangan berat. Kredibilitasnya sebagai seorang guru, dan kecintaannya terhadap matematika dipertaruhkan saat mengajar Aini. Segala metode pengajaran ia cobakan pada Aini namun selalu gagal. Aini terlalu sulit untuk dibuat paham. Hingga pada suatu hari, akhirnya ia menemukan bahwa melalui pendekatan kalkulus lah ternyata Aini dapat memahami konsep matematika. Melalui matematika, hubungan guru dan murid antara Guru Desi dan Aini terjalin dengan kuat. Secara garis besar, buku ini berbicara tentang bagaimana matematika yang menjadi momok menakutkan bagi banyak murid, justru di tangan Guru Desi lah seorang murid yang bahkan pada awalnya begitu benci pada matematika akhirnya menjadi pecinta matematika.


Perasaan yang hadir saat membaca bab pertama buku ini sama seperti saat pertama kali membaca Laskar Pelangi. Masih dengan gaya bahasa hiperbola dan dialek Melayu, Andrea Hirata membawa kembali magnet dan perasaan magis itu. Seperti karya-karya sebelumnya, ia masih pintar memparodikan kegetiran-kegetiran yang dialami tokoh dan menerjemahkan persamaan-persamaan bahasa sains (matematika) ke dalam narasi yang cukup menggugah. Satir dan sindiran halus tentang nasib guru honorer yang seperti benang kusut juga diselipkan dalam cerita meski hanya sambil lalu saja.


Namun tetap saja, membaca Guru Aini secara keseluruhan tidak sama seperti saat membaca Laskar Pelangi. Dalam Laskar Pelangi kita bisa merasakan kuatnya intisari cerita, bagaimana antara tokoh utama dan tokoh lain dideskripsikan dengan detail, bagaimana konflik cerita begitu intense. Mungkin karena novel Laskar Pelangi adalah autobiografi, sehingga tidak sulit bagi Andrea Hirata untuk menuangkannya ke dalam cerita. Sementara di dalam novel Guru Aini, entah bagaimana aku masih melihat banyak celah.


Deskripsi tokoh terasa agak kurang di beberapa bagian. Misalnya saat menceritakan Dinah, anggota dari rombongan 9, seorang murid Guru Desi yang juga bodoh namun di kemudian hari ternyata diceritakan sebagai ibu dari Aini. Aku berharap kisah Dinah sendiri lebih diulik karena kelak ia memiliki peran penting dalam masa depan Aini sebagai anaknya. Atau saat menceritakan tentang Guru Desi sendiri. Sejatinya Dinah dan Aini adalah murid Guru Desi. Itu berarti setidaknya Guru Desi sudah mengajar muridnya selama dua generasi. Namun tidak dijelaskan dengan gamblang berapa lama pengabdian Guru Desi mengajar di pelosok. Hanya disebutkan dengan kalimat singkat "... entah berapa tahun berlalu....". Aku rasa poin pengabdian yang dilakukan oleh tokoh akan terasa lebih kuat dan lekat jika saja Andrea Hirata menjelaskan lebih detail, berapa lama sudah ia mengajar di tempat terpencil tersebut. Apakah penulisnya terlalu malas mengurai lebih detail tentang tokohnya atau memang dia ingin membuat cerita ini mengalir saja dan menyerahkan semuanya pada pembaca.


Yang kedua adalah inti cerita dengan pelajaran matematika sebagai latar belakangnya. Aku tidak keberatan ketika dia menuliskan bahwa ilmu matematika bisa dikatakan sebagai ibu dari segala ilmu pengetahuan (terutama ilmu sains). Walaupun dalam perkembangannya ada teori lain juga yang mengatakan bahwa justru Geografi lah induk dari segala ilmu. Aku tidak hendak mempermasalahkan hal itu. Namun aku berharap matematika dapat diceritakan lebih dalam, lebih intense, dan lebih kuat sebagai latar belakang cerita.


Meskipun Andrea Hirata sendiri mengungkapkan bahwa ia membutuhkan waktu setidaknya 2 tahun untuk riset dalam menulis buku ini, jujur aku berharap akan ada lebih banyak pengetahuan tentang teori-teori matematika yang dia bawakan dengan gaya bahasanya yang khas, atau mungkin lebih banyak persamaan-persamaan dan rumus-rumus yang dianalogikan dengan filosofi kehidupan tokoh-tokohnya. Kontradiktif, sebagai seseorang yang mencintai matematika sepenuhnya, interaksi Guru Desi dengan matematika tidak banyak digambarkan secara detail. Justru interaksi antara Guru Desi dengan buku-buku psikologi education yang dibacanya lebih banyak diceritakan. Tidak seperti buku Aroma Karsa karya Dewi Lestari, bagaimana si tokoh bisa mencium dan mendeskripsikan macam-macam aroma dengan akurat dan menarasikannya dengan indah (lagi-lagi aku membandingkannya dengan Dewi Lestari, mau bagaimana lagi ya :)), latar belakang matematika pada novel Guru Aini justru terasa lemah.


Hal terakhir yang tidak aku suka dari buku ini adalah, bagaimana hampir 10% dari bagian buku justru dijadikan ajang nostalgia untuk mengenang kesuksesan Laskar Pelangi. Berbagai testimoni pembaca Laskar Pelangi dari seluruh negeri memadati bagian akhir dari buku (hampir 20 halaman terakhir berisi testimoni dan promosi buku Laskar Pelangi). Begitu pula dalam kata pengantar. Menurutku agak sedikit berlebihan ketika terus membahas Laskar Pelangi padahal sudah beberapa generasi berlalu, entah ini dilakukan oleh manajemannya atau justru atas dasar pertimbangan penulisnya sendiri. Dibahas oleh pembacanya sepanjang masa iya, tapi dibahas oleh pihak penulis dan manajemennya sendiri aku rasa tidak perlu, bahkan terkesan cenderung narsistik. Terlebih dalam kata pengantar. Aku rasa harusnya penulis menuangkan latar belakang dan alasan-alasan yang mendasari penulis hingga melahirkan karya Guru Aini, bukannya terus membahas buku Laskar Pelangi yang telah lalu.


Bagaimana pun, dalam novel ini aku merasakan geliat kembalinya Andrea Hirata dengan ceritanya yang menggebu-gebu. Meski masih banyak celah, namun novel ini tetap sarat makna, terutama tentang pengorbanan dalam hal pendidikan. Bagaimana guru berkorban untuk pendidikan murid-muridnya: rela ditempatkan di pelosok negeri yang terpencil, rela dengan status guru honorer selama bertahun-tahun meski getir, rela ditarik kembali untuk mengajar kembali saat waktunya pensiun karena kekurangan tenaga pengajar; dan bagaimana muridnya rela berpayah-payah menempuh pendidikan yang harus dilaluinya demi secercah harapan di masa depan. Meski pelajarannya tidak menyenangkan, meski gurunya galak, meski jarak sekolahnya jauh dari rumah, meski realita getir menunggu di ujung perjalanan (gagal menghadapi ujian, gagal masuk kuliah karena terkendala biaya, dll).


Secara keseluruhan, meskipun banyak celah, namun isi buku ini masih tetap menggugah dan menginspirasi seperti karya penulis sebelumnya (menggugah, namun tidak memukau). Dan aku harap, banyaknya celah yang kutemukan di buku pertama dari trilogi ini bisa diperbaiki di dua buku lainnya (meskipun aku belum berminat untuk membaca dua buku selanjutnya).

Recent Posts

See All

Comments


  • Facebook
  • Twitte
  • Pinteres
  • Instagram

Thanks for submitting!

© 2023 by Design for Life.
Proudly created with Wix.com

bottom of page