top of page

Refleksi Januari 2022: Me-reset Jiwa, Hati dan Pikiran

Updated: Feb 14, 2022

Satu bulan hampir berlalu di tahun ini. Aku merasakan diriku berangsur membaik, setelah 2 bulan sebelumnya merasakan jiwa dalam diriku bergejolak oleh rasa cemas, khawatir, depresi, demotivasi, amarah, lelah, dan sebagainya. Obat-obat anti anxiety dan anti depresant yang diresepkan oleh dokter psikiatri pun pada akhirnya hanya jadi obat "jaga-jaga" karena tidak tuntas kukonsumsi. Jadi pertama-pertama, aku ingin bersyukur untuk kondisiku yang saat ini terus membaik, terlepas dari pengaruh obat-obatan.


Sebelum bulan ini berakhir, ada beberapa hal yang ingin aku refleksikan di awal tahun 2022 ini. Pertama, aku bersyukur bahwa ternyata keputusanku untuk menghilang sementara dari dunia maya adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah kulakukan. Sudah hampir 3 bulan aku meng-uninstall aplikasi Instagram dari ponselku. Membatasi hanya Twitter dan WhatsApp yang ada di ponselku, yang memang keduanya jarang digunakan secara intens. Keputusan itu ternyata memang tepat bagi seseorang seperti diriku yang emosi dan jiwanya sering labil oleh perasaan insecure dan minder. Apalagi interaksiku di dunia nyata juga tidak sebanding dengan interaksiku di dunia maya. Jadi bisa dibayangkan, betapa besar pengaruh sosial media bagi kesehatan mentalku. Melihat orang-orang berlomba mempertunjukkan percapaian mereka entah itu prestasi, materi, atau bahkan kesuksesan tanpa sadar telah menjadi boomerang bagi diriku. Dibandingkan merasa termotivasi, perasaan insecure, minder, inferior, dan terintimidasi lebih sering muncul. Kok, orang-orang bisa ya sehebat itu? Gimana sih cara mereka bagi waktu? Hal-hal itu seringkali menghantuiku, sehingga tanpa sadar aku jadi kesulitan menentukan standar bahagia bagi diri sendiri. Aku semakin yakin dengan keputusanku untuk berhenti bermain Instagram setelah menonton film dokumenter Social Dilemma, di mana apa yang ditampilkan di sosial media dan bagaimana cara algoritma bekerja dengan nyata dapat mempengaruhi kinerja otak, menimbulkan kecanduan, dan mempengaruhi psikologis pemakainya. Maka tidak heran jika anak usia dini sebaiknya tidak diperkenalkan pada gadget, karena pada manusia dewasa pun ternyata pengaruhnya memang seburuk itu.


Kedua, aku juga bersyukur telah memberanikan diri untuk berobat ke piskiatri. Meski sesi konsultasi waktu itu tidak terlalu menyenangkan, namun pada akhirnya aku benar-benar sadar bahwa kesehatan mental memang sepenting itu. Bahkan mungkin lebih penting dari kesehatan fisik. Masih kuingat dengan jelas sakit punggung yang kuderita saat depresiku kambuh. Padahal aku tidak punya riwayat backpain sebelumnya. Jadi bisa kupastikan bahwa kesehatan mental memang amat sangat berpengaruh terhadap kesehatan fisik. Dan aku bersyukur saat aku berobat ke psikiatri, ada adik iparku yang datang berkunjung ke rumah selama 5 hari. Aku jadi tidak harus menghabiskan masa-masa deperesi itu sendirian. Selama 5 hari itu kami berlibur bersama dan aku bercerita tentang banyak hal kepadanya, termasuk tentang pengobatanku dengan psikiater. Bagaimana perasaan-perasaan negatif menghantui dan mempengaruhi pikiran dan akal sehatku. Bagaimana rasa kelelahan bertubi-tubi menyerangku. Kurasa, memang sejatinya aku hanya perlu teman bicara yang mau mendengarkan, memahami, dan menanggapiku secara utuh. Bukan hanya mengingatkan dan menasehatiku apalagi bersikap judgmental.


Ketiga, aku memberi jeda panjang bagi diri sendiri. Aku berhenti berekspektasi pada diri sendiri. Aku tidak lagi menuntut banyak hal dalam hidup yang kujalani bahwa aku harus ini dan harus itu jika ingin begini dan begitu. Aku tidak lagi berharap muluk-muluk bahwa aku baru bisa bahagia jika keinginan dan mimpiku yang A,B,C itu terwujud. Aku menanamkan kuat dalam diriku bahwa aku bisa bahagia sekarang dan saat ini, meski masih banyak mimpi dan keinginan yang terwujud. Aku berhenti memaksa diriku untuk banyak hal. Berhenti memaksa diri untuk terus bersikap kuat saat lemah. Berhenti memaksa diri untuk terus bersikap teratur saat kondisi sekitar lebih memerlukan sikap lentur. Berhenti memikirkan hal-hal yang tidak perlu tapi mengganggu. Berhenti memaksa diri untuk bangun pagi dan terus beraktifitas produktif saat tubuh memerlukan waktu istirahat lebih lama. Aku hanya berusaha fokus untuk bahagia menjalani kehidupan saat ini dengan diriku yang utuh, sembari terus belajar untuk memperbaiki apa yang kurang. Aku belajar untuk menyederhanakan kehidupan yang kujalani, bahwa tidak semuanya harus berjalan sesuai ekspektasi, karena memang pada realitanya lebih banyak hal yang berjalan di luar ekspektasi dan rencana kita. Dan aku rasa sebagai seorang manusia yang akal dan upayanya terbatas, kita memang harus bisa menerima hal-hal tersebut meskipun rasanya sulit. Hanya untuk menyadari bahwa ada tangan Yang Kuasa yang lebih besar dan lebih berkehendak atas hidup kita.


Keempat, belajar kembali membuka diri dan bersosialisasi dengan tetangga sekitar. Salah satu hal yang kusukasi dari hidup nomaden adalah adanya kesempatan untuk menciptakan citra diri yang baru di hadapan orang-orang sekitar. Jika sebelumnya aku sangat kesulitan unuk bersosialisasi karena merasa tidak punya teman seprofesi bahkan di antara circle terdekatku sendiri (IRT for life), di lingkungan baru ini justru aku merasa punya banyak teman. Bahkan tetangga di depan rumahku sama-sama pernah bergabung dengan komunitas homeschooling dari Rumah Inspirasi. Kami jadi punya kesamaan topik untuk mengobrol sambil mengasuh anak. Bu RT dan warga-warga senior juga sangat ramah dan merangkul terhadap penghuni baru. Aku yang selama ini kikuk jika berhadapan dengan orang baru (padahal aslinya easy going dan friendly), akhirnya sedikit demi sedikit kembali memberanikan diri untuk membuka diri dan bergaul. Meski tidak rutin dan tidak aktif terliubat dalam acara-acara komplek, namun aku berusaha menyempatkan diri untuk tidak absen menghadiri pengajian minggu pagi setiap 2 minggu sekali.


Kelima, dalam satu bulan ini akhirnya aku berhasil menuntaskan dua buku bacaan yang sebelumnya sempat tertunda hingga beberapa bulan dari tahun lalu. Memang bukan sesuatu yang luar biasa, tapi aku cukup senang bisa memulai kembali hobi membaca yang sudah jarang kulakukan. Sederhana, tapi bagiku perlu upaya ekstra untuk menghidupkan kembali hobi lama ini. Aku berharap kebiasaan membaca ini bisa kulakukan dengan konsisten meski tanpa embel-embel cahllenge dan sejenisnya.



Recent Posts

See All
Life's Update Before 2024 Ended

So, how's life recently? Setelah beberapa bulan di pertengahan tahun ini aku mencoba berlari kencang, ternyata di 3 bulan terakhir menuju...

 
 
 
Persimpangan

Kurang lebih 3 bulan berlalu setelah aku memutuskan untuk bergabung sebagai volunteer di dua komunitas yang berbeda. Bagaimana rasanya...

 
 
 
Juni Berkembang

Bisa dibilang, bulan Juni ini menjadi starting point bagiku untuk mulai berbunga. Mimpi-mimpi yang sebelumnya tampak jauh untuk dijangkau...

 
 
 

Comments


  • Facebook
  • Twitte
  • Pinteres
  • Instagram

Thanks for submitting!

© 2023 by Design for Life.
Proudly created with Wix.com

bottom of page