PULANG KAMPUNG - a Novel Part 9
- Primawati Kusumaningrum
- Apr 24, 2024
- 5 min read
Updated: May 5, 2024
BAB 8 - Kegalauan Si Sulung
Usman terjaga dari tidurnya. Lamat-lamat ia mendengar suara motor butut bapaknya. Ah, ia harap tidak ada lagi pertengkaran yang terjadi antara bapak dan ibunya. Beberapa kali Usman memergoki keduanya tengah berdebat kecil. Memang tidak sampai terjadi teriakan atau bentakan, karena bapak dan ibunya selalu menjaga volume suara saat bertengkar sekalipun. Tapi Usman paham jika keduanya sedang tidak akur. Dari hari ke hari, bapak dan ibunya semakin jarang duduk-duduk bersama untuk sekedar mengobrol bareng. Yang membuat rumah ini tetap ramai adalah celoteh kedua adiknya yang masih kecil.
Sebagai anak pertama, Usman menjadi saksi perjuangan orang tuanya yang gigih bekerja. Saat di Bandung dulu, mungkin Usman masih kecil, namun ia ingat sering diajak bermain ke pasar malam saat bapaknya pulang bekerja. Ia ingat saat tangan mungilnya ikut menguleni adonan singkong ketika ibunya membuat kudapan untuk dijual. Ia juga ingat, beberapa kali dibelikan mainan saat merengek karena bola dan balon berwarna-warni itu begitu menarik di mata kecilnya. Dan selama itu pula Usman tidak pernah dimarahi dan tidak pernah melihat kedua orang tuanya terlibat dalam pertengkaran.
Namun keadaan jadi berbeda saat mereka pindah dari Bandung. Usman kecil cukup tabah, karena ia tidak rewel saat harus ikut bapak dan ibunya beberapa kali pindah tempat. Saat itu ia belum paham alasan yang menyertai kepindahan tersebut, namun ia ingat beberapa kali mereka tinggal di tempat yang berbeda-beda. Dan sejak saat itulah ia mulai melihat bapak dan ibunya seringkali berdebat walaupun dengan nada rendah. Usman kecil belum paham, namun ia bisa merasakan kedekatan emosi kedua orang tuanya tak sehangat dahulu.
Kini Usman sudah beranjak 14 tahun. Ia dapat memahami hal-hal yang menjadi penyebab orang tuanya bertengkar, meskipun baik bapak maupun ibunya tidak pernah bercerita. Ia paham bapak dan ibunya selalu berada dalam kondisi kelelahan, karenanya ia selalu berinisiatif untuk mengasuh kedua adiknya tanpa diminta. Mungkin karena hal itu pula, Usman tumbuh menjadi anak yang pendiam dan tidak pernah banyak mengeluh. Kendati demikian, Usman termasuk anak yang pintar. Meskipun hanya bisa bersekolah di sekolah negeri terdekat, Usman cukup berprestasi di sekolahnya. Beberapa kali ia mendapatkan penghargaan karena berhasil menjuarai berbagai perlombaan sains. Di sekolah ia juga pintar bergaul dan pandai meraih hati guru-gurunya, sehingga ia menjadi murid kesayangan di sekolahnya.
Usman ingat pesan bapaknya suatu hari, saat mereka sedang duduk mengobrol di bale-bale teras belakang. Saat itu Usman tengah bercerita kalau dirinya baru saja ditunjuk menjadi ketua OSIS di sekolah.
"Bapak bangga sekali sama kamu, Usman," katanya sambil mulai menyulut rokok.
Usman diam, tidak tahu harus merespon bagaimana. Dalam beberapa hal, ia memang lebih mirip dengan ibunya.
"Kamu tahu apa yang paling bapak sesali dalam hidup? Bapak putus sekolah dulu, waktu seusia kamu. Kalau tidak salah, saat itu bapak masih kelas 2 SMP," ujar bapaknya melanjutkan cerita.
"Kenapa memangnya bapak putus sekolah?"
"Yah... Ada banyak faktor. Yang pertama, keluarga bapak bukan keluarga berkecukupan. Dulu kakek dan nenek bekerja sebagai buruh tani. Biaya sekolah bapak seringkali menunggak. Dan karena itu bapak jadi malas sekolah karena malu. Lalu, suatu ketika nenekmu sakit keras. Bapak membolos selama 2 bulan untuk merawat nenekmu, karena kakekmu harus terus pergi bekerja. Tambah malas lah bapak ke sekolah. Akhirnya bapak memilih keluar saja, mendingan bantu-bantu kakek dan nenekmu bekerja di sawah."
"Dulu juga bapak bukan murid yang pintar di sekolah. Berangkat malas-malasan, di sekolah juga sama, malah sering membolos dan tertidur di kelas. Ditambah keluarga bapak bukan orang yang paham pentingnya pendidikan. Jadi yasudah, ketika akhirnya putus sekolah pun rasanya biasa-biasa saja. Menyesalnya baru sekarang-sekarang ini," kata bapaknya sambil terkekeh. Sesekali asap rokok mengepul dari mulutnya.
"Terus kenapa bapak menyekolahkan aku? Padahal bisa saja bapak memintaku buat bantu-bantu bekerja."
Abdul menghela napas mendengar pertanyaan Usman.
"Kamu masih ingat tidak saat kita di Bandung?"
Usman mengangguk.
"Nah, saat bapak pindah pertama kalinya ke Bandung, bapak takjub melihat orang-orang kota. Cara mereka berpakaian, bertutur kata, bersikap, itu jauh berbeda dengan bapak dan ibu. Bapak senang mendengarkan mereka mengobrol, mereka seperti mengetahui banyak hal yang bapak dan ibu belum pernah dengar sebelumnya. Selama di Bandung, bapak juga banyak berbicara dengan rekan-rekan kerja bapak, dengan pedagang-pedagang sekitar... Ternyata tidak semua dari mereka bekerja untuk mencari uang seperti bapak. Sedikit diantaranya bekerja demi memenuhi waktu luang setelah pensiun. Di situ bapak berpikir, ternyata menyenangkan ya, kalau kita punya pilihan yang lebih banyak untuk menjalani hidup..."
Kali ini bapaknya berhenti sejenak, matanya menerawang mengingat masa lalu. Usman terus mendengarkan dengan patuh.
"Bapak ingin, di masa depan kita punya banyak pilihan untuk menjalani hidup. Terutama untuk kamu dan adik-adikmu. Bapak ingin agar kamu dan adik-adikmu bisa melihat dunia yang lebih luas. Tidak hanya di sini-sini saja. Dan cara agar kamu bisa punya banyak pilihan di masa depan adalah dengan sekolah. Bapak tahu, dengan riwayat hidup bapak yang putus sekolah, rasanya ga pantas Bapak ngomong begini sama kamu. Tapi apa mau dikata, Bapak baru paham pentingnya pendidikan saat kamu sudah lahir. Mungkin buat Bapak sudah sangat terlambat untuk memahaminya di usia yang sekarang, tapi buat kamu belum. Makanya Bapak ngotot sekolahin kamu dan adik-adikmu, meskipun kondisi kita sangat pas-pasan."
Bapak menutup ceritanya sembari mematikan rokok. Ia lalu menatap mata anak sulungnya sambil berkata, "Bapak ga minta banyak hal dari kamu, karena saat ini pun kamu sudah menjadi kebanggaan bapak dan ibu. Bapak hanya minta kamu fokus dan sekolah yang rajin, seberat apapun kondisi kita. Kelak, kamu akan punya banyak pilihan. Dan semoga kamu juga tidak keberatan untuk membantu adik-adikmu kelak, agar mereka juga memiliki banyak pilihan di masa depan."
***
Usman menatap langit-langit. Matanya menerawang jauh, membayangkan masa depan yang masih tampak samar. Saat ini ia tidur di kasur busa di ruang tengah, sementara kedua adiknya tidur di kamar bersama bapak dan ibunya. Ia berusaha memejamkan mata, namun tak dapat terlelap. Pikirannya malam itu terlalu penuh.
Tiba-tiba saja ia teringat pesan bapak. Pesan yang padat dan sesungguhnya terasa berat bagi remaja seusianya. Mudah saja baginya untuk menjadi murid berprestasi di sekolahnya, karena ia murid yang pintar. Usman bisa memahami cita-cita besar bapaknya, tapi bagaimana ia kelak akan membantu adik-adiknya agar punya banyak pilihan? Ia sendiri tidak yakin, apakah ia akan bisa sampai pada tujuannya sendiri.
Meski tidak menyebutkannya secara gamblang, Usman paham. Kelak, adik-adiknya pun akan menjadi tanggung jawabnya. Ia harus bisa meringankan beban yang ditanggung oleh bapak dan ibunya selama ini. Bagaimana pun bapaknya berharap agar nanti ia punya banyak pilihan untuk menjalani hidup, Usman ragu seberapa banyak ia bisa menghadirkan pilihan-pilihan tersebut nantinya. Namun yang jelas, ia harus berusaha keras untuk mencapai hal tersebut, bahkan beberapa kali lipat lebih keras dibandingkan dengan teman-teman sebayanya saat ini, yang nasibnya jauh lebih beruntung.
Kantuknya kini hilang sudah. Usman duduk tegap, lalu pergi mambasuh muka. Ia mengambil tas punggungnya yang terletak di sudut meja tamu. Tak lama kemudian, ia sudah berkutat mengerjakan soal-soal di buku pelajarannya. Mungkin terdengar agak aneh, namun bagi Usman, belajar telah menjadi sarana penghiburan saat kepalanya terasa penat. Dan ia tahu, satu-satunya hal yang dapat ia lakukan untuk membuka jalan kepada pilihan-pilihan baik di masa depan adalah dengan belajar sebaik mungkin.
***
Comments