PULANG KAMPUNG - a Novel Part 8
- Primawati Kusumaningrum
- Apr 21, 2024
- 11 min read
Updated: May 5, 2024
BAB 7 - Nasib Kaum Pinggiran
"Kesabaran dan kerja keras membuahkan hasil, jangan pernah ragu atau kehilangan kepercayaan pada mereka."
Abdul lupa pernah membaca di mana kata-kata tersebut. Mungkin di salah satu buku pelajaran SMP sebelum ia putus sekolah dulu. Atau mungkin kata-kata tersebut adalah sebuah slogan iklan yang pernah ia baca sambil lalu ketika berjalan menuju pasar saat menemani ibunya berbelanja kebutuhan pokok. Yang jelas, kata-kata tersebut begitu kuat terpatri dalam ingatannya.
Abdul tidak keberatan jika harus terus bekerja keras dalam hidupnya. Ia telah mahir melakukannya sejak usianya masih belia. Abdul juga tidak tabu dengan kata-kata sabar, karena ayahnya seringkali menyisipkan kata tersebut saat sedang menasehatinya.
"Jadi orang itu harus sabar, biar disayang Allah."
"Sing sabar nya Jang, hirup urang mah da kieu."
"Sabar saja, semua ada waktunya."
Sabar, sabar, dan sabar. Agaknya kata "sabar" telah menjadi semacam mantra mandraguna saat manusia mengalami suatu masalah. Dan entah kenapa, Abdul merasa kata sabar menjadi lebih sering digunakan sebagai bentuk kepasrahan keluarga miskin atas nasib yang tidak pernah berpihak pada mereka. Jangan tanyakan seberapa seringnya ia disuruh bersabar oleh kedua orang tuanya atas berbagai ujian yang menempa hidupnya. Dulu rasanya terdengar biasa saja di telinga Abdul. Namun setelah sepuluh tahun perjuangan Abdul di Jakarta tampak semakin sia-sia, ia telah begitu muak pada kata sabar. Semakin ia sering mendengar kata sabar, semakin ia ingin mengutuk dunia. Kurang sabar apa lagi ia selama ini? Segala macam pekerjaan telah dijalaninya sekaligus demi menyambung hidup dan kesejahteraan keluarga kecilnya, namun rasanya tak pernah cukup.
Kali pertama ia bertemu dengan Pak Suwito, ia memang merasa beruntung dan punya harapan. Namun ternyata perasaan tersebut hanya muncul sekejap saja. Upah dari Pak Suwito masih kurang untuk menanggung segala biaya hidup di kota besar tersebut. Beberapa kali ia terpaksa menunggak dan berhutang untuk membayar sewa kamar, karena upah yang ia hasilkan selalu berebut dengan kebutuhan pokok sehari-hari. Ada kalanya cukup. Ada kalanya kurang. Namun anehnya, tidak pernah sekalipun berlebih. Selalu saja ada pengeluaran tak terduga yang membuat upahnya tersebut hanya terasa seperti angin lalu, alias numpang lewat. Usman yang tiba-tiba sakit sehingga butuh dibawa berobat, bayar sewa tempat tinggal setiap bulan, belum lagi kirim bekal untuk keluarga Abdul dan Yani di kampung.
Menyadari upah dari Pak Suwito jauh dari kata cukup, Abdul menambah pekerjaan lain. Ia membantu salah satu tetangga yang lain untuk berjualan di pasar. Pekerjaan yang ia lakukan adalah mengantarkan belanjaan pelanggan sampai ke rumah, alias home delivery service. Abdul sungguh tak paham dengan cara kerja orang kota. Bagaimana mungkin mereka yang membutuhkan barang belanjaan tidak mau menginjakkan kakinya di pasar dan malah menyuruh si pedagang mengantarkannya ke rumah? Meski seringkali bersungut-sungut, Abdul tak punya pilihan selain mengerjakan apa yang diminta. Dengan meminjam motor milik tetangganya, ia mengantarkan belanjaan tersebut dari rumah ke rumah. Kadang ada pelanggan yang berbaik hati memberinya uang tip, sebagai tanda terima kasih atas jasa pengantaran. Namun sebagian besar pelanggan rupanya memang tidak tahu diri. Entah karena tidak paham tentang tata cara bertranskasi di bidang jasa, atau memang miskin empati terhadap kaum marginal seperti dirinya.
Walaupun tertatih-tatih, Abdul akhirnya bisa sedikit menabung setelah menjalani dua pekerjaan sekaligus. Namun rupanya ia belum bisa bernapas lega. Dalam jarak beberapa tahun, Abdul dan Yani telah memiliki tambahan dua anggota keluarga, Agus dan Yayuk. Tentu saja kehadiran anak kedua dan ketiga ini lahir di luar rencana mereka, apalagi jarak kelahiran mereka berdua agak berdekatan. Agaknya tekanan hidup Abdul sebagai kepala keluarga akan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya anggota keluarga mereka. Entah bagaimana Abdul bisa begitu ceroboh memuntahkan cairan sperma ke dalam rahim subur Yani. Yang jelas dua kali ketidaksengajaan tersebut telah mengakibatkan kehadiran dua malaikat baru di hidup mereka. Kedua malaikat kecil yang semestinya disambut dengan hangat dan penuh kesyukuran, bukan dengan perasaan gamang dan terbebani.
Dengan bertambahnya anggota keluarga yang harus diberi nafkah, bertambah besar pula beban tanggungjawab yang harus ia pikul. Sedikit tabungan yang telah terkumpul selama beberapa tahun, terpaksa ia gunakan untuk membeli sepeda motor bekas seharga tiga juta rupiah. Jangan tanyakan surat-surat berharga dan kelayakannya. Yang penting, ia punya modal untuk menambah pundi-pundi rupiah bagi keluarganya. Sepeda motor butut itu ia gunakan untuk mengantar penumpang dari sore hingga malam hari, menjelajahi jalanan Jakarta hingga ke daerah-daerah pinggiran di sekitarnya, menampilkan kontrasnya kehidupan yang dihuni antara kaum borjuis dengan kaum marginal di kota tersebut.
Seperti biasanya, sore itu Abdul kembali membelah udara Jakarta dengan motor bututnya. Udara yang lembab dan panas menyergap kulitnya yang telah legam sejak dulu. Tentu saja bukan udara segar yang ia hirup, melainkan udara yang penuh dengan bau asap kendaraan dan pabrik. Selama 10 tahun menjadi penghuni kota tersebut, hidungnya telah terbiasa dengan segala macam aroma yang campur aduk. Hampir saja ia menyenggol seorang pejalan kaki di trotoar, karena ia berkendara sambil setengah melamun. Jangan tanyakan mengapa motornya bisa naik ke trotoar, ini Jakarta dengan segala keangkuhannya. Selain trotoar, kadang-kadang motornya juga menerobos jalur bus trans-Jakarta karena pelanggannya begitu terburu-buru ingin segera sampai ke tujuan. Memang kota yang ruwet, pikir Abdul.
Hari itu ia tidak menarik penumpang, melainkan hanya berputar-putar mengitari kawasan bundaran HI, mengagumi simbol kemegahan kota besar tersebut. Dulu saat pertama kali melihatnya, ia merasa takjub. Kini, ia merasa asing. Kehidupan yang keras telah merubah karakternya yang dulu lembut dan naif menjadi lebih tegas. Cara pandanganya yang dulu selalu optimis bisa meraih apa saja asalkan bersabar dan bekerja keras, telah tergantikan dengan perasaan skeptis dan pesimis. Rupanya kenyataan hidup selama kurun waktu 10 tahun telah menamparnya begitu keras, hingga ia tidak lagi berani bermimpi tinggi. Asalkan perut dan keluarganya tidak kelaparan di hari itu, ia sudah cukup besyukur.
Suara ibunya yang memohon untuk pulang kampung terngiang-ngiang terus di telinganya. Bagaimana mungkin ia akan pulang dalam keadaan seperti ini? Tidak ada hal yang bisa ia banggakan selain sumbangsih kejantanannya dalam memberikan cucu bagi kedua orang tuanya. Selebihnya, ia masih tertatih. Bekerja sebagai tukang tanaman hias, bantu-bantu di pasar, dan menjadi tukang ojek masih belum cukup memberinya kehidupan yang layak. Harga kebutuhan pokok semakin mahal, kebutuhan untuk ketiga anaknya pun semakin besar, dan terlebih lagi, sikap Yani dari hari ke hari semakin dingin kepadanya. Entah kapan terakhir kali ia mendapatkan senyuman dan pelukan hangat dari istrinya tersebut. Kesulitan ekonomi telah membuat senyum hangatnya pudar. Dibandingkan tersenyum, istrinya kini lebih sering merengut dan selalu bernada ketus.
Haruskah ia memaksa dirinya untuk pulang? Abdul ragu, jika ia pulang kali ini, itu bukan hanya kepulangannya yang pertama setelah pindah ke Jakarta, tetapi akan menjadi kepulangan yang terakhir kali dan untuk selamanya, karena Abdul telah merasa sangat lelah terhadap keangkuhan kota ini. Pertama kalinya dalam hidup, ia ingin menyerah.
***
Emosi Yani meletup tatkala Abdul baru menunjukkan lagi batang hidungnya pada pukul 9 malam setelah pembicaraan mengenai rencana pulang terputus tadi siang. Namun Yani tidak segera memuntahkan kekesalannya tersebut. Dari raut wajahnya terlihat jelas bahwa Abdul juga sedang lelah. Gurat-gurat kelelahan tampak jelas di matanya. Sorot matanya tampak layu dan tidak bersemangat, kulitnya semakin legam akibat sengatan matahari, dan garis-garis keriputnya tampak semakin jelas terlihat di beberapa bagian, bahkan di bawah lampu temaram sekalipun. Suaminya jadi tampak beberapa tahun lebih tua dari usia sebenarnya.
Yani segera mengambilkan air minum dan duduk di sebelah suaminya.
"Baru pulang narik pelanggan, Mas?" tanya Yani berbasa basi.
"Iya, dapat beberapa pelanggan tadi, lumayan lah untuk hari ini," jawab Abdul sekenanya. Ia tidak ingin menceritakan perihal kegundahannya hari ini.
"Oh... Mengantar ke mana saja tadi?"
"Cuma muter-muter sekitaran HI, terus dapat pelanggan yang mau ke arah Bekasi. Yasudah, sekalian saja Mas pulang."
"Tapi kok tumben cepat, jam segini sudah pulang? Biasanya Mas baru pulang di atas jam 10 malam."
"Mas lagi capek, Yan. Malam ini pengin istirahat lebih cepat. Anak-anak sudah tidur?"
"Sudah, tadi Agus sama Yayuk kecapean bermain-main di pasar sama Bu Sasmita. Usman tidur cepat karena besok ada ulangan di sekolahnya. Mau aku siapkan air hangat untuk mandi?"
"Boleh Yan, kalau kamu tidak repot."
Yani segera beranjak mengambil ceret dan menjerang air panas. Sementara Abdul duduk berselonjor untuk meluruskan kakinya yang terasa pegal-pegal. Tidak ada percakapan di antara mereka berdua sementara Abdul menunggu air mendidih. Padahal, ini kesempatan yang baik untuk mulai berbicara. Namun keduanya enggan memulai. Alih-alih menghabiskan waktu bersama suaminya, Yani lebih memilih untuk menenggelamkan dirinya dalam kesibukan menjerang air panas dan membereskan mainan-mainan yang berserakan di lantai akibat ulah kedua anaknya yang masih kecil. Abdul bergeming di tempatnya, sembari duduk berselonjor seraya memainkan batang rokok di tangannya. Bahkan untuk merokok pun ia tidak berselera. Empat puluh menit kemudian, terdengar suara nyaring dari ceret, pertanda air sudah mendidih. Abdul segera mengambil handuk dan melingkarkannya di leher, bersiap-siap untuk mandi.
"Mas mau makan dulu? Aku siapkan sekarang juga," akhirnya Yani berusaha memecah keheningan di antara mereka berdua.
"Ga usah, kasihan kamu capek. Mas mau bersih-bersih badan dan terus tidur saja. Kamu juga jangan terlalu malam ya tidurnya. Pekerjaan rumah yang tertunda biar dikerjakan besok saja."
Seperti biasa, Yani lebih banyak diam saat berbicara dengan suaminya. Ia pun kali ini memilih mengalah demi menghormati suaminya yang terlihat kelelahan, kendati semua uneg-uneg yang ingin ia tumpahkan perkara rencana pulang kampung harus tercekat di tenggorokan dan membuat dadanya sesak.
Yani memandang punggung suaminya saat Abdul beranjak ke kamar mandi. Bahu yang dulu tegap dan gagah kini terlihat sedikit merosot. Yani paham, suaminya memikul beban tanggung jawab yang begitu besar untuk menafkahi seluruh anggota keluarganya. Ia sendiri, ketiga anaknya, kedua mertuanya, dan juga bibi dan neneknya sendiri. Selama ini ia sangat jarang mendengar Abdul mengeluh, karena itu ia berusaha sabar menjalani semuanya.
Masalahnya, bukan hanya suaminya saja yang merasa lelah dengan kondisi mereka saat ini. Yani juga merasakan hal yang sama. Sejak ujian pertama menerpa kehidupan keluarga mereka, bukan hanya ia tak lagi bisa memberi kepercayaan secara penuh terhadap orang lain, namun secara perlahan ia juga kehilangan kepercayaan kepada suaminya. Bagaimana tidak? Setiap kali Yani menanyakan hal-hal yang mengusiknya, Abdul hanya bergeming. Alih-alih menjelaskan kondisi mereka yang nyata-nyata memang menyedihkan, suaminya selalu mengalihkan pembicaraan ke topik lain. Kalimat yang menjadi andalan Abdul saat Yani mencercanya dengan pertanyaan dan menumpahkan segala kegelisahan terkait kehidupan mereka adalah, "tenang saja, sabar, hidup kita pasti baik-baik saja."
Kalau dulu, mungkin Yani akan menerima perkataan tersebut dengan hati lapang, karena memang selama ini suaminya selalu bisa diandalkan. Namun saat ini ketika Abdul berkata demikian, bukan ketenangan yang ia justru dapatkan, namun perasaan jeri. Yani cemas melihat hidup mereka selama sepuluh tahun terakhir tak kunjung menjadi lebih baik. Rasanya setiap kali mereka mulai melihat secercah harapan, tak lama kemudian harapan itu tercerabut kembali dengan cepat. Termasuk saat Agus dan Yayuk hadir di hidupnya. Yani sungguh tidak tahu harus bersikap bagaimana. Kehadiran seorang anak semestinya membawa kebahagiaan bagi sebuah keluarga. Namun tidak bagi Yani. Saat Agus hadir di rahimnya, ia mengalami kegamangan yang luar biasa. Rasa-rasanya mereka sedang tidak dalam kondisi siap untuk menambah anak. Belum selesai dengan kegamangannya, dua tahun kemudian setelah kelahiran Agus, Yayuk hadir mengisi rahimnya. Kehadiran anak yang seharusnya disambut dengan hangat dan baik itu, justru membuat Yani semakin galau dan cemas. Pernah ia diam-diam ingin melenyapkan bayi tersebut dengan membiarkannya tenggelam perlahan ke dasar bak saat memandikannya. Untunglah Usman yang usianya sudah beranjak remaja cukup peka. Saat suara tangis adik bayinya semakin keras sementara ibunya tampak acuh, ia segera mengambil bayi tersebut.
Yani dibuat tak berdaya dengan kehadian dua anak yang tidak diharapkannya tersebut. Ia baru bisa menerima dengan penuh tatkala melihat Usman, anak pertamanya dengan telaten mengurus adik-adiknya setiap sepulang sekolah. Bagaimana pun, Usman masih seorang anak. Ia tidak punya kewajiban untuk mengurus adik-adiknya, karena sejatinya mengurus anak adalah kewajiban orang tuanya. Tiba-tiba saja pada suatu kali, segala emosi yang berkecamuk di hatinya tumpah ruah kepada anak sulungnya tersebut. Ia memeluk Usman erat-erat dengan berlinang air mata, membisikkan kata maaf berkali-kali karena telah meyeretnya ke dalam kondisi yang memprihatinkan, sekaligus berterima kasih karena selama ini telah menjadi anak yang begitu baik. Tidak ada yang bisa Usman lakukan selain menepuk-nepuk punggung ibunya dalam diam. Usman mungkin belum paham mengapa ibunya tiba-tiba bersikap seperti ini. Namun ia bisa mengerti bagaimana kelelahan ibunya selama ini.
Selain mengurus ketiga anaknya, Yani juga turut membantu kondisi finansial keluarga mereka dengan bekerja sebagai asisten rumah tangga di beberapa tempat sekaligus. Biasanya selepas membantu Bu Sasmita menyiapkan dagangannya, Yani akan bergegas pergi ke rumah-rumah yang menggunakan jasanya. Jam 7-9 di rumah pertama, dan jam 11-14 di rumah kedua. Jika masih tersisa banyak waktu, ia akan menambah jam kerja di tempat lain hingga jam 5 sore. Dan di hari Sabtu atau Minggu, ia akan bekerja penuh dari jam 7 pagi hingga jam 5 sore. Sementara Agus dan Yayuk akan diasuh oleh Usman, bergantian dengan Bu Sasmita.
Agaknya Bu Sasmita tidak merasa terbebani sama sekali dengan kehadiran anak-anak Yani. Malah yang paling menyambut dengan hangat saat Agus dan Yayuk lahir adalah Bu Sasmita. Yani pun kini sudah menaruh kepercayaan penuh terhadap Bu Sasmita. Sepuluh tahun tinggal bersama di bawah atap yang sama telah membuat Yani benar-benar yakin, bahwa Bu Sasmita dapat dipercaya melebihi siapapun. Tidak terhitung berapa kali Bu Sasmita membantu mereka dengan kemurahan hatinya. Saat Yani dengan terpaksa harus menunggak biaya sewa, ia tidak berusaha menagihnya. Malah sebaliknya, karena ia memahami kondisi ekonomi Yani dan Abdul, Bu Sasmita tidak pernah menekan mereka untuk melakukan pembayaran. Bagi Bu Sasmita, kehadiran Yani, Abdul, dan anak-anaknya bak keluarga yang ia idam-idamkan sejak dahulu. Maka sebagai balasan dari Yani atas segala kebaikan Bu Sasmita, mempercayakan anak-anaknya untuk diasuh oleh Bu Sasmita adalah satu-satunya cara yang bisa ia lakukan demi membahagiakan wanita tersebut. Bu Sasmita adalah satu keberuntungan besar yang ia terima selama menjalani kehidupan di kota yang begitu asing ini, membuatnya merasa memiliki seorang ibu.
Sampai kapan ia akan tinggal di kota ini, tampaknya hanya Abdul yang tahu. Sebenarnya ide pulang bukanlah ide yang buruk. Yani pun telah sejak lama merasa lelah dan muak dengan kesibukan dan kebisingan kota ini. Ia rindu dengan suasana tenang dan sunyi di kampungnya. Ia merindukan pemandangan hijau di sekitar rumahnya. Dan ia merindukan nenek dan bibinya yang telah ia anggap sebagai orang tua kandung. Terakhir kali ia berkabar dengan bibinya, neneknya sudah sangat renta dan mulai didera penyakit manula. Pendengaran yang mulai berkurang, mata yang bertambah rabun, dan ingatan yang mulai hilang timbul. Kendati demikian, tubuhnya masih cukup bugar. Sesekali ia masih berjualan singkong yang dipanennya sendiri di pasar dengan dibantu bibinya, namun sekarang lebih sering dijual pada pengepul. Setidaknya, nenek dan bibinya berada dalam kondisi sehat. Kabar itu sudah membuat Yani cukup lega.
Ingin sekali Yani menyuruh Abdul menyerah saja terhadap mimpi-mimpinya, tetapi lelaki itu begitu teguh pendirian. Katanya, jika mereka berhasil meningkatkan taraf hidup mereka di kota besar, kehidupan mereka akan jauh lebih baik. Benarkah demikian? Yang Yani rasakan, hidup mereka tidak banyak berubah. Bahkan seringkali mereka harus mundur beberapa langkah ke belakang demi mencukupkan kebutuhan yang terus bertambah setiap tahun. Entah mengapa, setiap kali mereka merasa akan berhasil menuju ke titik berikutnya, ada saja biaya yang terus bertambah. Yani heran betapa cepat laju kenaikan harga-harga meningkat secara signifikan, sementara upahnya yang tak seberapa itu tidak kunjung naik.
Jika boleh berandai-andai, Yani lebih suka untuk meneruskan merantau di kota Bandung saja. Kota itu memang semrawut dan tidak semegah Jakarta. Namun ia merasa nyaman tinggal di sana. Selain udara yang terasa lebih sejuk, kota itu juga lebih ramah pendatang. Sementara Jakarta di mata Yani adalah kota yang bising dan selalu sibuk. Kota semegah Jakarta terlalu bingar baginya. Meski saat ini ia tinggal di pinggiran kota Bekasi, tapi apa bedanya? Bagi Yani, Bekasi atau Jakarta tidak ada bedanya. Udara yang dihirup masih sama, kesibukannya masih sama, arogansinya pun masih sama. Bedanya, ketika ia beranjak ke Jakarta, bungkusnya lebih mewah dan menarik. Apalah arti kemegahan bagi kaum marginal sepertinya, toh kemegahan itu hanya bisa dinikmati oleh para kaum elit. Elit yang sesungguhnya, bukan ekonomi sulit seperti dirinya dan Abdul. Apa yang bisa dinikmati dari warga pinggiran selain pemandangan kontras antara si kaya dan si miskin? Yani masih ingat perkataan yang dilontarkan suaminya saat ia menyatakan keinginannya untuk pindah ke Jakarta.
"Kita harus keluar dari zona nyaman dan mencari tantangan yang lebih besar agar kita bisa terus maju dan sukses saat kembali ke kampung."
Pemikiran yang menurut Yani sungguh mengada-ada. Siapa sih yang menciptakan istilah-istilah rumit tersebut? Bukankah dalam hidup kita cenderung memilih sesuatu yang membuat kita nyaman? Seperti halnya saat kita menyeduh minuman hangat ketika cuaca sedang buruk. Atau di saat kita kalut dan butuh ketenangan, kita akan mencari tempat yang tenang dan sunyi untuk menenangkan diri. Atau di saat kita merasa kesepian dan kelelahan seorang diri, tentu kita akan cenderung mencari seseorang yang bisa diajak bicara hanya untuk berkeluh kesah. Lihatlah apa yang akhirnya mereka dapatkan ketika memutuskan keluar dari zona nyaman. Mereka malah terjebak dalam keprihatinan yang abadi.
Yani ingin sekali menyerah. Ia ingin pulang. Tetapi saat ini kondisinya belum memungkinkan. Itulah sebabnya ia bersikap ketus saat Abdul bercerita tentang ibu mertuanya yang menuntut mereka pulang tahun ini. Di balik pedebatannya dengan Abdul, sebenarnya ia tengah menumpahkan rasa frustasinya atas ketidakadilan kondisi ini. Tawaran pulang itu seharusnya disambut sebagai kabar gembira, namun apa yang bisa ia bawa kepada keluarganya? Selama ini ia tak pernah menceritakan perihal keadaan dirinya di tempat rantau, karena tidak ingin membebani pikiran keluarganya di kampung. Yang bibi dan neneknya pahami, Yani hidup berkecukupan karena setiap bulan Yani dan Abdul selalu rutin mengirim uang untuk mereka. Setidaknya jika ia dan Abdul akan pulang tahun ini, ia ingin membawakan sesuatu yang istimewa. Tidak harus mahal, yang penting mereka tidak pulang dengan tangan kosong. Yani tak sampai hati jika mereka membawa badan saja sementara mereka sudah absen selama 10 tahun dari keluarga di kampung.
Yani memandangi wajah suaminya dengan iba dan heran. Heran, mengapa lelaki itu begitu keras kepala. Ia ingin membuat Abdul agar memandang realita. Terlalu jauh bagi mereka untuk mengejar kata kaya, sementara menuju kata cukup pun masih tertatih-tatih. Rumus bersabar dan bekerja keras tidak berlaku bagi kaum marginal seperti mereka. Yani sudah terlalu lelah untuk mengamini mimpi Abdul yang terlalu muluk-muluk. Kandati pun Yani ingin membicarakan perihal rencana pulang kampung ini lebih lanjut, ia tak tega jika harus membangunkan suaminya. Maka tidak ada pilihan lain yang bisa Yani lakukan selain ikut terlelap di samping suami dan anak-anaknya yang tidur berjejalan di atas kasur kapuk lepek itu. Dalam lelapnya, Yani memimpikan suasana kampung halamannya yang hangat, hijau, dan penuh kerinduan.
***
Comments