top of page

PULANG KAMPUNG - a Novel Part 7

Updated: May 5, 2024

BAB 6 - Kegusaran Yani


Harus Yani akui, upaya Abdul untuk mencari dan menemukan tempat tinggal yang jauh lebih baik membuahkan hasil. Meski sama-sama di gang sempit, lingkungan tersebut tampak lebih asri dan tenang. Beberapa rumah diantaranya dihuni oleh para lansia yang kesehariannya berdagang jajanan pasar, pergi ke pengajian, atau bahkan saling berkumpul bersama entah untuk urusan apa. Sebagian besar lainnya tampak dihuni oleh pasangan-pasangan sebaya mereka yang usianya masih produktif, entah mereka tinggal bersama dengan orang tua mereka, ataupun mengontrak. Sejauh pengematan Yani, hanya 1 atau 2 pasangan yang telah menempati rumah sendiri di gang tersebut. 


Namun ada juga beberapa pengangguran yang hobi sehari-hari mereka hanya bergosip dan tidur sepanjang hari. Mereka hanya produktif ketika malam tiba, saling berkumpul di pos dengan dalih menjaga keamanan lingkungan padahal hanya sibuk bermain gaple, dan menarik uang parkir secara tiba-tiba dari minimarket-minmarket sekitar. Yang jelas, keberadaan mereka tidak terlalu berguna, namun juga tidak sampai mengganggu warga sekitar, kecuali ribut-ribut ringan memalak 1-2 batang rokok dan uang recehan untuk membeli kopi sachetan dari orang yang tidak sengaja melewati mereka. Hanya satu dua rumah yang tampak menonjol dan terlihat sedikit lebih mapan dari kebanyakan rumah di sekitarnya, namun tetap bersahaja. Termasuk di antaranya adalah rumah Bu Sasmita dan Pak Suwito, orang yang memberi mereka tempat tinggal dengan sewa murah dan memberi suaminya pekerjaan.


Bu Sasmita adalah seorang janda tua yang ditinggal meninggal oleh almarhum suaminya akibat penyakit menahun. Masih menjadi pertanyaan besar bagi Yani, mengapa setelah suaminya meninggal, ia masih bertahan dan menetap di kota ini tanpa pernah pulang kampung sekali pun. Meski sudah sepuh, Bu Sasmita masih tampak bugar. Mungkin karena ia terbiasa berjalan kaki berkeliling pasar selepas subuh, sebelum mulai berjualan aneka jajanan. Hal ini Yani ketahui setelah sekitar satu minggu tinggal di kamar yang disewakan oleh Bu Sasmita. Ternyata induk semangnya ini punya gaya hidup yang cukup sehat.


Tempat yang ditinggali oleh Abdul dan Yani saat ini adalah sebuah kamar kosong yang sepertinya tidak pernah ditempati sekalipun, namun dirawat dengan baik oleh pemiliknya. Yani tidak menemukan jejak-jejak bau apak maupun debu di kamarnya. Meski dahulu hanya tinggal berdua dengan suaminya, rupanya Bu Sasmita sudah menyiapkan satu kamar khusus yang ia tujukan untuk anaknya kelak. Namun takdir tak dapat diubah, rupanya Tuhan tidak menghendaki kedua pasangan tersebut untuk memiliki keturunan, bahkan sampai salah satunya wafat. Tentu saja bagi Bu Sasmita yang hidup sebatang kara, kehadiran Yani dan keluarga kecilnya memberi semangat baru. Rumahnya yang selalu sepi kini mulai ramai. Apalagi ada Usman, anak berusia 5 tahun yang sedang lucu-lucunya.


Yani sungguh merasa beruntung. Setelah satu tahun ke belakang keluarga mereka dilanda kemalangan bertubi-tubi, kini ia menemukan tempat tinggal yang baik, meski dengan status menumpang. Induk semangnya ini sangat baik, sudahlah menyewakan kamar dengan harga murah, diperbolehkan menunggak pula. Bukan tanpa alasan Yani dan Abdul harus menunggak pembayaran tersebut. Setelah kejadian sial yang diakibatkan teman Abdul tempo hari, kehidupan mereka di kota tersebut sempat luntang-lantung. Setengah uang yang tersisa di tabungan mereka habis dipakai untuk berpindah-pindah tempat demi menemukan lingkungan tempat tinggal yang lebih baik untuk menghindari teror para debt collector itu. Ternyata sesulit itu mencari lingkungan yang kondusif dengan biaya hidup murah di sekitaran Jakarta, ibarat mencari jarum di tumpukan jerami. Dan demi mengenyahkan rasa sungkannya pada kebaikan Bu Sasmita, Yani membantu Bu Sasmita menyiapkan dagangannya setiap hari. Setidaknya kehadirannya bisa memberi manfaat bagi wanita sepuh berhati malaikat itu, sembari perlahan mereka menata kembali hidup dari nol lagi.


"Bu Sasmita sudah lama tinggal di sini?" tanya Yani suatu hari saat sedang membantu menyiapkan dagangan Bu Sasmita. Tangannya terampil membungkusi klepon seharga 5000-an itu ke dalam plastik, sementara Usman bermain mobil-mobilan di sampingnya.


"Lumayan lama, Dik. Saya sudah agak lupa kapan mulai merantau dan akhirnya memilih menetap di sini. Yang jelas, sudah lebih dari 25 tahun mungkin."


"Kenapa Ibu tidak pulang saja ke kampung halaman?"


Bu Sasmita menghentikan aktivitasnya sementara demi menjawab pertanyaan Yani. Ia tampak bepikir, sebelum sesaat kemudian berusaha menjawabnya dengan hati-hati.


"Hmmm... Bagaimana ya? Saya sendiri bingung harus menjelaskan dari mana. Karena ceritanya panjang sekali. Dulu waktu muda, saya tidak akur dengan keluarga saya. Kedua orang tua saya bercerai. Ibu saya entah dengan alasan apa, ingin pergi meninggalkan bapak begitu saja. Saya ingat, beliau pamit pergi kepada bapak karena masih ada mimpi yang ingin ia kejar. Aneh, ya. Meninggalkan anak dan suami dengan alasan ingin mengejar mimpi. Bapak tentu saja berusaha mencegah dan membatalkan perceraian tersebut, namun beliau bersikeras tetap pergi hingga akhirnya bapak menyerah.


"Lalu selang 2 tahun, bapak memutuskan untuk menikah lagi. Tujuannya sih, biar saya tetap memiliki sosok ibu. Namun, ternyata kehadiran ibu baru juga tidak membuat kondisi keluarga saya menjadi lebih baik. Ibu tiri saya sering berlaku jahat tanpa bapak ketahui. Saya sering dimarahi gara-gara hal sepele. Tapi lain jika ada bapak. Perlakuannya bisa tiba-tiba berubah menjadi maniiiiis sekali. Saya yang mengetahui sifat asli beliau tentu saja menjadi geram. Sikap baik yang beliau tunjukkan saat ada bapak, saya balas dengan ketus dan tak jarang sambil marah-marah. Bapak yang hanya melihat kejadian itu dari satu sisi saja, menganggap bahwa saya yang selama ini tidak menaruh respek pada beliau. Jadi lama kelamaan bapak merasa geram dan marah kepada saya.


"Puncaknya, saat saya menjelang lulus SMA, terjadi pertengkaran hebat antara saya dan ayah. Semua pertengkaran itu terjadi hanya gara-gara saya tidak mengindahkan panggilan ibu tiri saat beliau memanggil saya. Padahal saat itu saya sedang ada di kamar, mendengarkan siaran radio kesukaan saya dengan volume keras, jadi ya jelas saja panggilan beliau tidak terdengar.

"Ayah yang melihat sikap saya tersebut langsung saja menghardik tanpa ampun, tanpa terlebih dahulu bertanya. Katanya saya anak yang tidak tahu diuntung, punya sifat yang sama menyebalkan dengan ibu saya. Sementara ibu tiri saya hanya terdiam, menyaksikan saya dimarahi habis-habisan oleh ayah dari kejauhan. Yang saya ingat, sejak hari itu saya berjanji pada diri sendiri untuk segera keluar dari rumah tersebut.


"Janji tersebut saya tepati setelah enam bulan kemudian lulus SMA. Saya memberanikan diri untuk merantau sendirian ke kota besar ini dengan bekal minim. Dari cleaning service sampai SPG rokok pernah saya jalani demi menyambung hidup. Ucapan ayah yang sangat membekas di hati saya sebelum saya pergi adalah, 'Memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Ga ibu, ga anak, dua-duanya punya hobi yang sama. Tukang kabur!'


"Pada saat itu saya merasa, bahwa ayah selama ini menyalahkan saya atas kepergian ibu. Bahwa gara-gara kehadiran saya lah, akhirnya ibu pergi. Dan sejak saat itu, saya tidak pernah lagi pulang. Saya memutus kontak dengan semua orang yang terkait dengan kehidupan saya di masa lalu, termasuk ayah. Terakhir yang saya dengar, ayah sudah lama meninggal akibat stroke. Ada perasaan sedih, tentu saja. Bagaimana pun, ia ayah saya. Tapi jika mengingat kejadian-kejadian yang sudah lama berlalu, rasanya hati saya masih sakit. Biarlah, toh ada ibu tiri saya yang merawat saya selama hidupnya. Bahkan pusaranya di manapun saya tidak pernah mencari tahu."


Bu Sasmita mengakhiri ceritanya dengan nada getir. Yani jadi merasa bersalah telah menanyakan hal yang begitu sensitif kepadanya.


"Maafkan saya ya Bu, sudah lancang bertanya. Ibu jadi sedih gara-gara pertanyaan saya."


"Ah, tidak apa-apa, Dik. Toh kejadian itu sudah sangat lama. Mungkin, memang saya tidak ditakdirkan untuk memiliki keluarga yang hangat. Namun toh akhirnya saya dipertemukan juga dengan mendiang suami saya. Itulah yang akhirnya membuat saya mengambil keputusan mantap untuk menetap di sini. Meskipun selama hampir 30 tahun usia pernikahan, kami hidup sederhana dan hanya tinggal berdua, namun saya sangat bahagia. Akhirnya saya memiliki keluarga yang menerima saya apa adanya, di tempat yang sama sekali baru, jauh dari kampung halaman saya," ujar Bu Sasmita sambil tersenyum.


Yani hanya bisa tertegun mendengarkan kisah Bu Sasmita. Di dunia yang ia ketahui selama ini, kisah-kisah seperti yang dialami oleh Bu Sasmita tak ubahnya seperti cerita di sinetron-sinetron. Jika saja ia tidak bertanya, selamanya Yani akan menyangka bahwa Bu Sasmita adalah orang yang menyia-nyiakan keluarganya di kampung karena terbuai oleh kenikmatan hidup di kota. Ia baru menyadari, bahwa setiap orang pasti memiliki kisah hidup masing-masing. Kisah hidupnya sendiri, saat ini masih ia rajut sedemikian rupa, entah akan berakhir seperti apa. Yang jelas, saat ini ia sangat bersyukur karena dipertemukan dengan orang sebaik Bu Sasmita di tengah ujian yang menempa keluarga kecilnya.


***


Seharian itu Yani menghabiskan waktunya di rumah. Meskipun barang bawaan mereka tidak banyak, namun Yani senang jika barang-barangnya tertata rapi. Aktivitasnya merapikan barang-barang terhenti tatkala Usman menyambut kepulangan ayahnya dengan penuh semangat.


"Ayaaahhh!!! Hore, ayah sudah pulaaang!" teriak si kecil Usman berapi-api.

Abdul mengangkat tubuh kecil itu ke udara.


"Anak ayah, senang banget ya ayah pulang?"


"Iya dong! Soalnya Usman bosan kalau tidak ada ayah. Ibu dari tadi sibuk terus," katanya merajuk.


Abdul memberi kecupan hangat di kepalanya, sementara Yani menyiapkan segelas air minum untuk suaminya tersebut.


"Bagaimana hari ini, Mas? Ada kabar baik?" Yani bertanya sembari menemani Abdul duduk berselonjor di atas bale-bale.


"Alhamdulillah, Yan. Akhirnya Mas dapat pekerjaan. Tadi Mas ketemu sama orang baik, namanya Pak Suwito. Beliau masih tetangga kita di gang ini, hanya beda blok saja."


"Oh ya? Alhamdulillah... Aku ikut senang, Mas. Kok bisa ketemu beliau?"


"Ya, tadi Mas mengetuk satu per satu rumah yang Mas lewati di gang ini. Datang sambil memperkenalkan diri sebagai tetangga baru, lalu menerangkan maksud dan tujuan untuk mencari kerja, udah kaya sales door to door. Ada yang menyambut dengan hangat, ada yang tidak sama sekali. Ya, namanya juga mencoba peruntungan. Ndilalahnya, Mas disambut hangat oleh Pak Suwito itu. Lalu ngobrol-ngobrol dengan beliau, dan beliau setuju untuk memberi Mas pekerjaan di kebunnya. Beliau profesinya petani tanaman hias. Lumayan lah, Mas disuruh bantu-bantu di sana, bisa mulai dapat penghasilan lagi walaupun cuma sedikit."


"Sama aja dong ya. Di kampung dulu Mas jadi buruh tani, sekarang di kota juga jadi buruh tani, Bedanya ini tanaman hias, bukan padi," kata Yani dengan lugas.


Abdul tercenung mendengar perkataan Yani. Kadang-kadang istrinya ini memang terlalu jujur. Ia memilih untuk tidak menanggapi perkataan istrinya tersebut.


"Yasudah, kalau begitu Mas mau mandi dulu ya. Setidaknya mulai hari ini ada secercah harapan bagi kita untuk memulai lagi semuanya."


Yani mengangguk setuju. Sore itu ia habiskan untuk menyelesaikan semua pekerjaan rumah yang masih menumpuk. Membantu Bu Sasmita untuk memasak dan menyiapkan makan malam, mencuci piring-piring kotor, menidurkan Usman, dan akhirnya meluruskan badan di atas kasur kapuk di kamar yang ia sewa bersama anak dan suaminya. 


Ia akhirnya dapat bernapas agak lega ketika Abdul membawa kabar baik sore itu. Ternyata, ada keberuntungan lain yang menghampiri mereka. Abdul mendapat pekerjaan baru. Tetangga mereka, Pak Suwito mengijinkan Abdul untuk membantunya mengurus tanaman hias. Yani harap, mereka bisa segera mengumpulkan kembali pundi-pundi rupiah setelah tabungan yang mereka kumpulkan dengan susah payah selama 5 tahun di Bandung habis tak bersisa. Kendati demikian, Yani tak mau berharap banyak. Ia belum mengenal kota ini dengan baik. Meski Bu Sasmita dan Pak Suwito hadir sebagai malaikat penolong, Yani masih enggan menaruh kepercayaan seratus persen pada orang yang baru dikenalnya.


Lalu masih ada hal lain lagi yang membuat hati Yani gusar. Akan berapa lama mereka tinggal di kota tersebut? Sejauh mana rencana Abdul untuk mengajaknya dan Usman merantau di kota besar ini? Apa sebenarnya yang ingin dicapai oleh Abdul, sehingga ia nekat memaksakan diri untuk pindah ke kota ini dengan modal dan pengetahuan yang minim? Kapan kira-kira mereka bisa pulang lagi ke kampung halaman mereka hingga tabungan terkumpul kembali? Hanya tersisa tabungan pendidikan Usman untuk mempersiapkannya masuk TK, dan Yani tak sampai hati jika harus menggunakannya, meski dalam kondisi darurat seperti sekarang. Apa yang bisa ia lakukan untuk membantu Abdul demi mencukupi kebutuhan mereka?


Berbagai pertanyaan terus muncul di benak Yani hingga membuatnya merasa sedikit limbung. Ia menempelkan kepalanya ke sandaran ranjang sambil terus memikirkan hal-hal tersebut, sementara Abdul dan Usman telah jauh terlelap di sampingnya. Ia menatap wajah suaminya dalam gelap. Bukan tatapan yang lembut penuh cinta dan rasa percaya seperti yang biasa ia lakukan seperti di Bandung dahulu. Namun tatapan menuntut dengan sedikit rasa kecewa yang tidak ia ungkapkan kepada suaminya. Selama ini ia tak berani mengungkapkan berbagai pertanyaan yang mengusik hatinya tersebut, karena ia tak mau membebani Abdul. Semua pertanyaan-pertanyaan tersebut tertahan dalam benaknya. Bukan hanya itu, ia tidak ingin menjadi istri durhaka yang mau mendampingi suaminya hanya di saat bahagia saja. Ia ingin menjadi istri yang berbakti bagi Abdul. Hanya saja kali ini batinnya dipenuhi keraguan, masih bisa kah mereka mengulang keberhasilan yang telah lalu seperti saat mereka di Bandung dahulu? 


Bukan maksud Yani mengesampingkan upaya suaminya, justru sebaliknya, Yani sungguh-sungguh menghargai semua upaya Abdul. Hanya saja kadang ia tak habis pikir, apa yang sebenarnya sedang dikejar oleh suaminya? Kenapa sepertinya suaminya tak pernah merasa cukup? Ah, entahlah. Ia paham, untuk tahu jawabannya, ia harus menanyakan semua hal tersebut langsung kepada Abdul. Namun saat ini mereka tidak punya waktu untuk mengobrol. Mereka harus fokus bekerja keras demi mengembalikan seluruh tabungan mereka seperti sedia kala. Meski entah kapan kerja keras mereka akan terbayarkan. Yani terus memikirkan hal tersebut hingga akhirnya ia tertidur dengan membawa pikiran yang penuh.


***

Recent Posts

See All
Perempuan di Sudut Kereta

Kulihat seorang perempuan. Ia duduk termenung di sudut kursi, di sebuah kereta menuju Selatan. Matanya nanar, sesekali terlihat nyalang,...

 
 
 
Lima Menit Saja

Katanya sih, untuk membuat sebuah kebiasaan baru dalam hidup, kita cuma perlu meluangkan waktu selama lima menit saja setiap hari. Aku...

 
 
 
PEMUJA RAHASIA - cerita pendek

Nama mahasiswa berprestasi itu Angga. Salah satu ketua senat yang sukses mencuri perhatian banyak mahasiswi, termasuk aku. Dia...

 
 
 

Comments


  • Facebook
  • Twitte
  • Pinteres
  • Instagram

Thanks for submitting!

© 2023 by Design for Life.
Proudly created with Wix.com

bottom of page