PULANG KAMPUNG - a Novel Part 6
- Primawati Kusumaningrum
- Apr 21, 2024
- 6 min read
Updated: May 5, 2024
BAB 5 - Pintu Keberuntungan
Satu tahun berlalu sejak kejadian tersebut. Teman Abdul tersebut tidak pernah sekalipun menunjukkan batang hidungnya di depan Abdul. Mungkin ia malu, merasa bersalah, atau memang jenis manusia tidak tahu diuntung saja. Abdul pun tidak bisa menghubungi temannya tersebut. Sebuah kabar tidak langsung bahwa hubungan pertemanan mereka sudah berakhir, gara-gara perkara uang dan utang.
Abdul dan Yani kini tinggal di sebuah rumah petak di pinggiran kota Bekasi. Entah bagaimana akhirnya Abdul menemukan kontrakan dengan harga sewa murah. Meski lumayan jauh dari pusat kota Jakarta, setidaknya lingkungan tempat mereka tinggal kini lebih manusiawi dibandingkan dengan sebelumnya. Abdul dan Yani tidak harus melewati gang sempit kumuh yang berbau pesing untuk masuk ke dalam komplek kontrakan tersebut. Mereka juga tidak harus melewati sekumpulan pambuk dan penjudi yang selalu bersuit-suit menggoda Yani setiap kali ia lewat. Hanya ada semerbak bau sampah yang sesekali tercium, terbawa angin entah dari mana. Agaknya, Abdul dan Yani mulai terbiasa dengan udara kota yang berbau. Campuran antara polusi PLTU, asap kendaraan, dan sampah yang teronggok menumpuk di sudut-sudut jalan dan sungai-sungai kecil.
Fokus Abdul untuk saat ini adalah kembali bekerja untuk menghidupi anak dan istrinya tinggal di kota besar ini. Ia pun memberanikan diri untuk bertanya pada tetangga sekitar kontrakannya, ke mana ia harus mencari kerja dan apakah ada hal yang bisa ia kerjakan untuk menafkahi keluarganya dengan kemampuan dan penampilannya yang pas-pasan. Jawaban itu ia raih setelah mengetuk pintu yang ke-10. Beruntung, tetangga yang ia datangi tersebut adalah seorang petani tanaman hias yang telah lama tinggal dan beradaptasi dengan kehidupan keras ibu kota. Lahan kebun yang ia punya memang tidak besar, dan koleksi tanaman hiasnya tidak banyak, namun dari usahanya tersebut ia telah memiliki beberapa pelanggan tetap yang akan dengan senang hati kembali untuk membeli tanaman-tanaman hias yang ada di kebunnya, atau tak jarang hanya sekedar melihat-lihat.
Dilihat dari penampilannya, lelaki paruh baya tersebut sepertinya pensiunan yang hidup cukup sejahtera dibandingan dengan rumah-rumah di sekitarnya. Namun tentu saja masih sangat jauh dari kaya raya. Untuk seseorang yang tinggal di gang sempit, penampilan Pak Suwito sangat bersih dan rapi. Wajah tuanya yang teduh membuat Abdul merasa segan, sekaligus merasa hangat. Peci putih yang bertengger di kepalanya serta sarung katun yang ia pakai menampilkan karakternya yang tenang dan bersahaja. Sepertinya, Pak Suwito telah begitu banyak memakan asam garam kehidupan, sehingga setiap kata yang keluar dari mulutnya sarat dengan kebijaksanaan.
"Terima kasih ya Mas Abdul, sudah datang mengetuk pintu. Kebetulan saya sedang ada niat untuk meningkatkan usaha tanaman hias saya, dan perlu orang yang bisa membantu saya di kebun setiap hari," ujar lelaki paruh baya itu sambil menghirup tehnya yang masih panas.
"Saya yang terima kasih, Pak. Padahal bapak baru kenal saya, tapi bapak bersedia membantu saya."
"Justru saya senang ada yang inisiatif seperti Mas Abdul. Mendengar dari cerita Mas Abdul dan perjuangannya selama di Bandung bekerja dari nol, membuat saya yakin, Mas ini pasti orangnya jujur."
"Pak Suwito bisa mempercayai saya, Pak. Saya datang ke kota dengan bekal hampir nol, tidak punya keahlian apalagi modal. Tapi saya bisa pastikan bapak bisa mengandalkan saya kalau soal bekerja."
"InsyaAllah Mas Abdul, InsyaAllah... Mas dan istri sekarang tinggal di mana kalau boleh saya tahu?"
"Saya tinggal di ujung gang sini, Pak. Dari pertigaan kecil itu belok kanan sedikit, nanti kelihatan ada rumah dengan cat berwarna biru."
"Sepertinya saya tahu. Itu rumah Bu Sasmita ya?"
"Betul, Pak."
"Oh, saya baru tahu kalau rumah beliau disewakan."
"Saya cukup beruntung, Pak. Setelah beberapa kejadian tidak mengenakkan beberapa bulan terakhir ini, ternyata Tuhan masih memberi saya sedikit keberuntungan. Kebetulan waktu saya mencari kontrakan di daerah sini, saya berpapasan dengan Bu Sasmita. Awalnya saya tanya-tanya jalan, lalu bertanya kira-kira di sekitar sini ada rumah yang disewakan atau tidak. Eh, malah saya ditawari untuk menempati kamar kosong di rumahnya, dengan harga sewa yang murah pula."
"Bu Sasmita memang orangnya baik. Sudah lama ia tinggal sendiri di rumah tersebut. Suaminya meninggal akibat penyakit menahun yang dideritanya. Karena tidak punya anak, jadi beliau benar-benar sendirian setelah ditinggal suaminya," jelas Pak Suwito.
"Kenapa Bu Sasmita tidak pulang saja ke kampung halamannya ya? Daripada hidup di sini sendiri."
"Ya... Ada banyak pertimbangan mungkin. Yang saya dengar, beliau dari dulu tidak terlalu akur dengan orang tua dan keluarga besarnya. Cerita detilnya saya kurang paham. Yang jelas, setiap orang pasti punya pertimbangan besar untuk memilih kehidupannya. Mungkin juga beliau sudah terlalu kerasan tinggal di sini, sehingga enggan untuk pulang. Tak tahulah. Tapi mungkin kehadiran Mas Abdul dan keluarga di sana bisa membuat Bu Sasmita tidak merasa kesepian lagi di usianya yang sudah sepuh ini."
Abdul medengarkan penjelasan Pak Suwito sambil menghirup tehnya dalam-dalam. Ia merenung, memang benar setiap orang punya alasan yang berbeda-beda untuk pergi merantau dari kampung halamannya. Dan setiap orang yang pergi juga pasti memiliki alasan untuk pulang kembali atau memutuskan untuk menetap. Apapun alasan yang mendasari keputusan Bu Sasmita, rasanya Abdul bisa sedikit paham. Ia sendiri tidak tahu kapan lagi bisa pulang ke kempungnya dengan kondisinya saat ini. Saat tabungan yang ia miliki hanya bisa digunakan untuk bertahan hidup kurang dari satu bulan lagi.
"Hmmm... Kalau Bapak sendiri bagaimana? Bapak tidak pulang kampung?" Abdul bertanya dengan segan, berusaha mengenal Pak Suwito lebih dalam lagi.
"Saya?" tanya Pak Suwito sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Kalau saya sih asli penduduk kampung sini, Mas Abdul," ujarnya seraya terkekeh.
"Sudah berpuluh-puluh tahun saya hidup di kampung sini. Awalnya ini rumah bapak ibu saya. Saya hidup di sini bersama kedua kakak saya. Setelah bapak dan ibu tidak ada, kedua kakak saya pindah secara permanen dari sini. Yang satu tinggal tidak jauh dari sini, berprofesi jadi dokter spesialis di salah satu rumah sakit di pusat kota Jakarta. Yang satunya lagi ikut suaminya pergi merantau ke Australia. Tahu ga, di sana dia kerja apa? Jadi tukang bersih-bersih rumah orang, Mas!"
Pak Suwito terkekeh dengan ceritanya sendiri.
"Hidup ini lucu kalau dipikir-pikir Mas. Lah, cuma jadi tukang bersih-bersih saja ngapain jauh-jauh sampai nyebrang ke negeri orang? Kan di sini juga bisa. Tapi dijawabnya, jadi tukang bersih-bersih di sana bisa hidup sugih. Saya sih awalnya ga percaya ya. Tapi setiap bulan saya dikirimin uang sama kakak saya dengan jumlah yang lumayan. Bahkan kadang jumlahnya jauh lebih besar daripada uang kiriman dari kakak saya yang dokter. Ternyata benar, kalau negara serius mengurusi rakyatnya, kerja jadi tukang bersih-bersih pun bisa hidup cukup sejahtera."
Pak Suwito mengakhiri ceritanya seraya mengusap-usap janggut tipis putih yang tumbuh memenuhi dagunya.
"Bapak tidak mencoba merantau seperti kedua saudara Bapak? Atau sekedar pindah tempat mungkin?" tanya Abdul berhati-hati.
"Kebetulan, saya ini anaknya betah di rumah, Mas Abdul. Saya tidak pintar seperti kakak saya yang jadi dokter. Saya juga tidak memiliki keberanian besar untuk hidup jauh dari orang tua saya. Sejak kecil, mendiang bapak dan ibu selalu memanjakan saya, sampai-sampai membuat kedua kakak saya cemburu. Katanya mereka pilih kasih, hahaha.
"Tapi saya tidak menyesal. Saat bapak dan ibu saya mulai sepuh dan didera sakit-sakitan, saya yang bungsu dan senang tinggal di rumah ini ternyata malah punya kesempatan untuk mengurus dan merawat mereka. Kedua kakak saya tentu saja turut membantu, namun tidak bisa maksimal seperti saya karena mereka telah berkeluarga. Keluarga mereka menjadi prioritas utama di samping mengurus bapak dan ibu. Saya sih, menerima dengan ikhlas.
Dampak paling besarnya saya jadi tidak punya waktu untuk mencari jodoh, bahkan hingga hari ini. Ya, kalau sekarang ada sih waktunya. Tapi, siapa yang mau hidup bersama dengan kakek tua seperti saya, hahaha. Walaupun kadang-kadang saya merasa sedih dan kesepian, tapi saya tetap bersyukur dengan hidup saya sekarang. Tidak banyak anak yang mau dan mampu merawat orang tuanya yang sudah sepuh.
"Sampai saat ini saya merasa hikmah terbesar dari kejadian tersebut adalah, saya menjadi anak yang paling dekat dengan bapak dan ibu hingga akhir hayat mereka. Dan saya bersyukur diberi kesempatan untuk memaksimalkan bakti saya dengan merawat keduanya di hari tua mereka. Makanya, sampai sekarang saya memilih tetap menempati rumah ini, karena terlalu banyak kenangan indah saya bersama mereka."
Pak Suwito menutup ceritanya sambil menyesap teh yang mulai dingin di cangkirnya. Sementara Abdul yang duduk di hadapannya berusaha mencerna semua cerita Pak Suwito dengan mata menerawang. Ia teringat kondisi kedua orang tuanya di kampung. Bagaimana ya, jika orang tuanya terus menua dan sakit-sakitan? Sementara ia dan Yani masih tidak tahu kapan akan pulang. Ah, semoga saja mereka dalam kondisi sehat. Dan semoga saja Abdul bisa segera membayar kecerobohannya ini untuk menjemput nasib yang lebih baik di ibu kota.
"Mas Abdul jangan terlalu khawatir ya. Jakarta memang kota yang keras, tetapi InsyaAllah tidak kekurangan orang baik. Mungkin saya dan Bu Sasmita sedikit dari banyak saksi hidup yang tersisa yang melihat dinamika kota ini setelah puluhan tahun. Jakarta tidak seburuk itu," ujar Pak Suwito seolah bisa membaca kekhawatiran Abdul.
***
Comments