top of page

PULANG KAMPUNG - a Novel Part 5

Updated: May 5, 2024

BAB 4 - Kemalangan Bertubi-tubi


Mimpi Abdul adalah bisa memberikan kehidupan yang terbaik bagi keluarga kecilnya. Mimpi Abdul adalah menyediakan akses termudah bagi keluarganya saat mereka sakit dan menyekolahkan anaknya di sekolah yang terbaik bagi anak-anaknya. Mimpi Abdul adalah membuat orang tuanya di kampung merasa bangga. Mimpi Abdul adalah menjadi suami yang dapat diandalkan bagi Yani, dan menjadi ayah yang dapat memberikan perlindungan bagi anak-anaknya. Mimpi-mimpi itu ia bawa beserta dengan segudang harapan saat mereka pindah ke Jakarta.


Saat itu, ia yakin rencananya untuk memiliki kehidupan yang jauh lebih baik akan berjalan dengan lancar, sebagaimana kehidupannya di Bandung dahulu. Jika Bandung saja bisa ia taklukkan, maka menaklukkan Jakarta bukan perkara yang mustahil. Namun ternyata kota Jakarta jauh lebih keras dari dugaannya. Sepuluh tahun ia merasakan kerasnya kehidupan ibu kota, sepuluh tahun pula tanpa kepulangan mereka ke kampung halaman. Tak peduli seberapa keras ia berusaha mengejar nasib baik, Abdul selalu tertinggal, lagi dan lagi. Seolah semua nasib baik yang ia upayakan enggan menghampirinya. Upaya Abdul untuk menaklukan kota Jakarta selalu berakhir sia-sia. Baginya, kota ini terlalu angkuh. Mimpinya kian terasa jauh untuk dijangkau. Ingatan tentang bagaimana pertama kali ia memulai kehidupan di kota ini masih sangat membekas. Sebuah awal mula kejadian yang membawa kehidupan keluarga kecilnya pada keprihatinan yang tak putus.


***


Abdul dan Yani tiba di kota Jakarta dengan perasaan asing. Pengalaman yang mereka rasakan saat tiba di kota besar itu jauh berbeda dengan apa yang mereka rasakan saat tiba di Bandung dahulu. Meski sama-sama kota besar, nyatanya kondisi Bandung dan Jakarta memang jauh berbeda. Meski Abdul dan Yani tidak datang dengan keadaan tangan kosong, nyatanya Jakarta memberi kesan intimidasi yang begitu kuat bagi mereka. Begitu sampai di terminal saja mereka sudah disuguhi pemandangan yang menguji mental. Nyatanya, kehidupan selama 5 tahun di Bandung belum cukup memberi mereka rasa percaya diri untuk mengarungi kehidupan di kota sebesar Jakarta. Abdul dan Yani terus berjalan melewati serombongan supir taxi liar yang menawari mereka tumpangan. Mereka terus berjalan ke arah masjid terdekat untuk mengkondisikan diri.


"Bapak, kita sudah sampai belum?" tanya si kecil Usman kepada ayahnya.


"Kita sudah sampai Jakarta. Tapi Bapak belum tahu kita harus naik apa untuk melanjutkan perjalanan."


"Memangnya kita mau pergi ke mana?"


"Kita mau pergi ke tempatnya teman Bapak. Makanya sekarang kita cari masjid dulu ya, biar kita bisa istirahat, sambil Bapak tanya-tanya rute bis dan angkot untuk menuju ke tempat teman Bapak tadi."


"Tapi Usman haus Pak, mau minum."


"Usman, nanti kita minum sambil istirahat di masjid ya. Sekarang kita jalan dulu, kasihan Bapak sudah capek dan kepanasan karena keberatan bawa barang-barang. Usman bisa bersabar dulu ya sekarang?" tanya Yani dengan lembut.


Wajah kecil itu memberikan anggukan mantap. Yani mengelus rambut Usman, sementara Abdul terus berjalan menuntun mereka menuju masjid. Setelah agak beberapa lama beristirahat dan meluruskan badan, Abdul pun bertanya pada tukang bubur sekitar masjid tentang rute perjalanan yang akan ia tuju. Ternyata, hanya membutuhkan waktu sekitar 50 menit dari tempat istirahatnya saat ini. Abdul dan Yani pun segera bergegas, menuntun Usman untuk mengikuti keduanya, meski dengan langkah kecil dan gontai sebagai akibat dari teriknya matahari dan pengapnya udara Jakarta.


***


Satu hari setelah kedatangan Abdul dan Yani ke Jakarta, keduanya sepakat menerima tawaran teman Abdul untuk tinggal di salah satu kamar kontrakan yang kosong. Kondisi kontrakan mereka tidak jauh berbeda dengan kontrakan mereka saat di Bandung dulu. Satu-satunya hal yang membedakan adalah, kontrakan tersebut berada persis di belakang perumahan elit para pembesar ibu kota. Sebuah pemandangan kontras antara si kaya dan si miskin yang hanya dibatasi oleh dinding pembatas setinggi kurang lebih 3 meter. Abdul bisa melihat sebagian besar lantai 2 perumahan tersebut hanya dari jendela kontrakannya. Untuk masuk ke kontrakan tersebut, mereka juga harus melewati gang sempit kumuh yang sebagian besar dihuni oleh para pengangguran, penjudi, dan pemabuk. Gang sempit yang lebih mirip seperti jalan tikus saking hanya tersedia ruang untuk satu sepeda motor melintas. Ah, padahal dulu di Bandung lingkungan tempat mereka tinggal jauh lebih baik dari ini, meskipun atap tempat mereka bernaung sama-sama sempit, Yani membatin.


Tanpa membuang waktu, Abdul pun segera mengerjakan misinya, yaitu menjadi pemodal untuk usaha temannya tersebut. Meski bukan pemodal utama, uang yang Abdul berikan sebagai modal cukup besar. Cukup untuk bertahan hidup sampai 4 bulan tanpa ia harus bekerja terlalu keras di kota yang baru ia datangi ini. Namun atas dasar semangat dan ambisi yang menggebu-gebu, Abdul pun tanpa pikir panjang menggunakan uang simpanannya tersebut untuk modal usaha yang akan ia jalankan bersama temannya.


Sayang, rencana sempurna tersebut hanya ada dalam pikiran Abdul. Kenyatannya, membuka bisnis atau usaha di kota Jakarta tidak semudah itu. Satu bulan setelah mulai menjalankan bisnis, kedai minuman Abdul seringkali didatangi oleh para preman setempat. Tanpa tedeng aling-aling, mereka meminta pungli sebagai jaminan agar kedai tersebut dapat tetap buka di tempat tersebut. Tentu saja Abdul beserta temannya menolak. Buah dari penolakan tersebut adalah mendaratnya dua buah tonjokan di bagian ulu hati dan area mulut. Ketika suatu malam Abdul pulang dengan robekan besar di sudut bibir, Yani terkesiap. Ia tampak terkejut dan panik, namun dengan sigap segera mengambil handuk kecil dan segenggam es batu. Yani pun mengompres luka Abdul dengan es batu tersebut tanpa banyak bicara. Agaknya ia bisa menebak penyebab suaminya pulang dalam kondisi babak belur, meski Yani tak bertanya secara detil.


"Aduh... Pelan-pelan Yan," ujar Abdul meringis.


"Iya, maaf Mas. Aku akan lebih pelan. Kok bisa sih ada kejadian seperti ini? Aku tak habis pikir..."


"Mas juga kaget. Ga nyangka bakal ada kejadian gini cuma gara-gara ga mau bayar pungli. Padahal dapat untung saja belum."


"Terus teman Mas itu gimana? Dia dipukuli juga?"


"Ya sama, tapi dia lebih gesit. Mas kalah lincah. Waktu preman-preman itu mau ngeroyok, dia berhasil kabur. Jadilah Mas yang disasar jadi samsak."


"Lah, gimana sih? Kok dia malah kabur ninggalin Mas? Teman macam apa yang meninggalkan temannya sendiri, padahal Mas yang nolong usaha dia?" ujar Yani berang.


"Saking paniknya mungkin, Yan. Dalam situasi terdesak, naluri kita kan berpikir untuk menyelamatkan diri sendiri terlebih dahulu sebelum membantu orang lain."


"Ya tapi tetap saja, Mas. Itu namanya teman tidak tahu diri. Lihat saja, dia tahu Mas terluka seperti ini, tapi menjenguk pun tidak. Padahal kontrakannya cuma selisih satu kamar dengan kita."


"Sssttt! Sudah Yan, tidak enak kalau kedengeran sama orangnya. Yang penting, Mas tidak terluka parah. Dan ada kamu yang merawat Mas di sini."


Yani mendengus kesal. Bisa-bisanya dengan kondisi babak belur seperti itu, suaminya tersebut malah menggoda. Yani sebal, tetapi tidak protes lebih lanjut. Ia tahu suaminya tidak suka berdebat dan memperpanjang masalah, kendati masalah itu disebabkan oleh orang lain.


Tiga bulan berselang, kedai usaha Abdul tak kunjung ramai. Hanya ada 5-10 pembeli setiap harinya. Padahal kedai tersebut berada di jalan yang cukup ramai dan dilalui oleh orang-orang yang berlalu lalang. Abdul dan temannya tidak menyadari, bahwa sepinya pembeli di kedai mereka adalah dampak dari penolakan saat dimintai uang pungli. Persis di bulan ke-4, usaha mereka mengalami gulung tikar, bersama dengan modal yang tak pernah kembali.


***


Sudah jatuh tertimpa tangga. Mungkin itulah ungkapan yang tepat atas seluruh rangkaian kejadian di hidup Abdul sejak kepindahan mereka ke Jakarta. Setelah bisnis yang dijanjikan akan berjalan sukses dan lancar itu gulung tikar, Abdul pun harus menelan pil pahit lainnya. Karena uang tabungannya hanya tinggal separuh, kini ia harus merelakan sisa uangnya tersebut dipakai untuk kebutuhan sehari-hari. Membayar sewa kontrakan, tagihan listrik, dan juga membayar kebutuhan dapur setiap bulannya. Tatkala uang tersebut sudah kian menipis, bukan untung yang didapat, Abdul malah mendapat kejutan tidak menyenangkan lainnya.


Teman Abdul yang sebelumnya mengajak bisnis ternyata tengah terjerat utang pinjaman online. Dan ia sudah menunggak selama satu tahun. Malangnya, teman yang ia percaya tersebut malah mendaftarkan nomor HP dan KTP Abdul sebagai jaminan. Jadilah di tahun pertama sebagai pendatang di Jakarta, ia berpindah-pindah tempat beberapa kali hingga para debt collector itu berhenti mengejar Abdul. Pertama kalinya Abdul belajar bahwa kepercayaannya ternyata hanya dihargai dengan murah.


"TOK, TOK, TOK, TOK, TOK!"


Terdengar suara ketukan keras di pintu kontrakan mereka. Ini kali kedua para debt collector itu mendatangi kontrakan Abdul dan Yani. Abdul tentu saja, sedang tidak berada di rumah karena ia tengah pergi berkeliling mencari kamar sewa untuk tempat tinggal mereka selanjutnya, sekaligus berusaha mencari teman yang ia tolong untuk dimintai pertanggungjawaban. Rupanya, temannya tersebut memang licik seperti rubah. Ia segera kabur setelah bisnis mereka mengalami gulung tikar dan tidak bisa mengembalikan modal. Hanya ada Yani dan si kecil Usman di kamar mungil tersebut.


"Ibu, ada orang di luar. Kenapa kita tidak membuka pintu?" tanya Usman dengan polos.


"Sssttt. Usman jangan berisik ya. Itu yang mengetuk pintu orang-orang jahat," jawab Yani sambil berbisik.


"Orang jahat? Orang jahat itu apa, Bu?"


"SSTTTT!" Yani terpaksa membekap mulut kecil Usman dengan gemas.


"Nanti Ibu jelaskan setelah orang-orang itu pergi. Sekarang Usman diam dulu ya!"


"KAMI TAHU ANDA ADA DI DALAM! BUKA PINTUNYA!"


Yani semakin merapatkan pelukannya pada Usman. Ia mengumpat-umpat dalam hati, kenapa ada orang yang sampai hati membuat keluarga kecil mereka hidup ketakutan seperti ini. Terlebih, ini semua bukan salah mereka. Yani dan Usman bergeming di tempat mereka, berusaha tidak menimbulkan suara sekecil apapun.


"ANDA BOLEH LOLOS HARI INI, TAPI KAMI AKAN TERUS DATANG KE SINI SAMPAI KALIAN MELUNASI UTANG-UTANG KALIAN!"


BRAAKKK!!! Mereka berlalu sembari menggebrak pintu dengan keras. Gertakan kecil yang hampir saja meluruhkan pertahanan Yani. Jika saja bukan demi melindungi si kecil Usman, barangkali Yani sudah menghambur keluar sambil mencak-mencak. Yani memang bukan tipikal wanita penakut. Bisa saja dia nekat keluar dan mengancam balik sembari mengacungkan pisau dapur ke hadapan mereka. Namun demi Usman, dia tidak mau melakukan itu. Tidak saat Usman sedang kritis menilai segala sesuatu dengan kacamata polosnya. Terlebih lagi, ia takut keadaan akan berbalik dan malah membahayakan Usman.


Tentu saja Yani marah besar. Bukan kepada Abdul, tetapi kepada teman yang telah menyalahgunakan kepercayaan dan memanfaatkan kebaikan dan kepolosan Abdul. Ah, seandainya saja orang tersebut tidak kabur, tentu Yani akan mendatanginya dengan penuh amarah. Ingin sekali rasanya ia menghunuskan belati pada orang yang telah menyakiti suaminya. Abdul tentu saja, dengan kesabarannya ia berusaha menenangkan Yani.


"Aku sungguh tidak paham denganmu, Mas. Bisa-bisanya kamu tetap tenang menghadapi situasi seperti ini. Temanmu itu asu, Mas!" ujar Yani penuh ledakan amarah saat mendapati nomor HP dan KTP suaminya dijadikan jaminan pinjol.


"Aku tahu kamu marah, Yan. Tapi marah-marah tidak akan menyelesaikan masalah kita saat ini."


"Harusnya temanmu itu tanggung jawab, Mas! Gara-gara dia setengah tabungan kita habis dipakai untuk membiayai bisnisnya yang ga jelas juntrungannya itu. Eh, sudah bagus dibantu, pas gulung tikar malah dengan berani memanfaatkan kebaikan Mas. Aku bisa paham kalau ia butuh waktu untuk mengembalikan modal. Tapi dengan menjadikan Mas sebagai jaminan utang pinjol, aku benar-benar tidak bisa terima. Mau tidak mau aku jadi berpikir kalau sejak awal, dia memang sudah berniat menipu kita, Mas!"


"Iya, aku paham Yan. Mungkin saat itu dia dalam kondisi terdesak, tidak tahu harus minta bantuan ke siapa. Mau jujur sama aku mungkin dia merasa ga enak, makanya ngambil jalan pintas kaya gitu."


"Mas kok, bisa-bisanya masih membela orang tak tahu diri itu?!" amarah Yani semakin meledak.


"Yan... usaha dia dan Mas gulung tikar itu bukan karena dia menipu Mas. Tapi gara-gara kita menolak iuran pungli dari preman setempat. Ya mau bayar iuran gimana, baru juga mulai usaha, belum ada untung. Eh, ternyata setelah ditolak, dagangan kita malah tambah sepi. Firasat Mas sih, memang sengaja disabotase oleh mereka gara-gara kita menolak bayar pungli."


Yani berusaha mendengarkan penjelasan Abdul dengan tenang kendati hidungnya masih kembang kempis akibat amarah yang tertahan.


"Terus sekarang gimana, Mas? Uang tabungan kita tinggal setengahnya. Kebutuhan kita masih sangat banyak. Para debt collector itu sudah dua kali datang ke kontrakan kita, padahal bukan kita yang punya hutang. Rasanya jadi was-was terus Mas, takut mereka tiba-tiba menerobos masuk dengan paksa."


"Sabar ya, Yan. Mas sedang pikirkan caranya. Kemungkinan kita akan berpindah-pindah tempat, sampai menemukan tempat tinggal yang aman untuk kita. Mas juga akan ganti nomor HP, agar mereka tidak bisa menghubungi dan melacak keberadaan kita."


"Tapi data KTP-mu sudah mereka pegang juga, Mas. Apa ga percuma? Nyari tempat tinggal yang cocok juga kan tidak segampang itu. Apalagi di kota yang baru beberapa bulan kita kenal," ujar Yani sambil menggigit bibir. Amarahnya kini telah tergantikan dengan rasa sedih. Ia menahan tangis.


"KTP Mas kan alamat domisilinya di kampung. Dan kampung kita juga letaknya tidak dekat. Mas yakin mereka tidak akan nekat sampai sejauh itu. Mereka akan terlalu repot jika sampai harus mendatangi kampung kita," Abdul berkata dengan penuh keyakinan.


Yani hanya terdiam, berusaha menyembunyikan kekecewaan dan kesedihannya dalam hati. Ia bukan hanya kesal terhadap kejadian malang yang menimpa suaminya bertubi-tubi, namun juga kecewa karena setelah semua kejadian tersebut, Abdul masih saja terlalu naif.


***

Recent Posts

See All
Perempuan di Sudut Kereta

Kulihat seorang perempuan. Ia duduk termenung di sudut kursi, di sebuah kereta menuju Selatan. Matanya nanar, sesekali terlihat nyalang,...

 
 
 
Lima Menit Saja

Katanya sih, untuk membuat sebuah kebiasaan baru dalam hidup, kita cuma perlu meluangkan waktu selama lima menit saja setiap hari. Aku...

 
 
 
PEMUJA RAHASIA - cerita pendek

Nama mahasiswa berprestasi itu Angga. Salah satu ketua senat yang sukses mencuri perhatian banyak mahasiswi, termasuk aku. Dia...

 
 
 

Comments


  • Facebook
  • Twitte
  • Pinteres
  • Instagram

Thanks for submitting!

© 2023 by Design for Life.
Proudly created with Wix.com

bottom of page