top of page

PULANG KAMPUNG - a Novel Part 4

Updated: May 5, 2024

BAB 3 - Terbuai


Perjalanan Abdul untuk pergi merantau dan menetap di Bandung berjalan sesuai rencana. Abdul dan Yani tinggal berdua di sebuah rumah petak sederhana. Dengan cepat, Abdul mampu beradaptasi dengan ritme kerja di sana. Kemampuannya pun meningkat dengan pesat. Selama 2 tahun bekerja sebagai buruh pengrajin sepatu, penghasilan Abdul sudah cukup lumayan. Dengan uang yang ditabungnya sedikit demi sedikit, ia memberi modal pada Yani untuk mulai berjualan. Usaha Yani pun laris manis. Di sana, ia tak perlu merasa terpaksa untuk memberi potongan harga pada para pembeli, karena tidak ada yang menawar dagangannya dengan harga rendah. Hanya dalam waktu satu tahun, Abdul dan Yani telah mampu menyisihkan sebagian dari penghasilannya untuk dikirimkan kepada keluarga di kampung.


Di tahun yang sama pula, Abdul dan Yani dikaruniai seorang putra. Mereka memberi nama putra sulungnya, Usman. Dalam perjalanan hidup mereka yang berangsur membaik, Usman kecil tumbuh menjadi anak yang ceria. Ia jarang sekali rewel. Kegiatan favoritnya bersama sang ibu adalah saat tangan-tangan mungilnya ikut meremas-remas adonan singkong yang hendak diolah menjadi kudapan lezat. Sementara kesenangannya bersama sang ayah adalah saat ia diajak berkeliling ke pasar malam setelah ayahnya selesai bekerja. Abdul dan Yani tidak selalu membelikan Usman mainan, namun melihat balon berwarna warni selalu membuat mata mungilnya bersinar kegirangan. Jadilah setiap kali pulang dari pasar malam, Usman selalu membawa serta sebuah balon. Seperti pada suatu malam ketika mereka pulang berjalan-jalan, Usman mengacung-acungkan balonnya dengan wajah riang.


"Asyiiikkk, Usman punya balon!"


"Wahhh... Sepertinya anak bapak senang sekali ya tiap habis dibelikan balon," ujar Abdul menimpali anaknya.


"Iya dong. Usman senang karena jadi punya banyak balon."


"Memangnya kenapa sih, Usman senang main balon?" tanya ibunya menyambung percakapan ayah dan anak itu.


"Soalnya bagus, balonnya berwarna-warni. Terus, Usman jadi bisa cerita ke teman-teman main Usman, kalau punya banyak balon yang warnanya bermacam-macam," ujar anak kecil itu dengan lugas. 


Abdul dan Yani tertawa mendengar kepolosan Usman. Meski usianya belum genap 4 tahun, Usman telah lancar berbicara dan fasih bercerita. Kadang-kadang Yani bertanya-tanya, bagaimana bisa ia melahirkan anak yang tumbuh kembangnya begitu cepat melampaui anak-anak seusianya, padahal ia dan Abdul merasa tidak memiliki kapasitas untuk mewariskan otak yang encer. Rencana tinggal di Bandung pun diperpanjang, dari yang semula hanya 2 tahun, menjadi 5 tahun. Selama itu, mereka rutin pulang ke kampung halaman setiap 2 tahun sekali. Tentu saja, selain Abdul dan Yani, kehadiran Usman menjadi yang dinanti-nanti oleh keluarga mereka. Hidup rasanya berjalan demikian lancar bagi Abdul dan Yani.


Namun setelah 5 tahun merantau di kota kembang tersebut, Abdul tergoda untuk meraih tujuan yang jauh lebih besar. Ia ingin pindah ke Jakarta, mengajak serta Yani dan Usman yang saat itu sudah genap berusia 4 tahun.


"Yan, ga terasa ya kita di sini sudah 5 tahun."


"Iya Mas. Dulu rasanya ga kebayang kita bisa melihat dunia lain selain kampung sendiri."


"Kalau menurutmu, kondisi kita yang sekarang ini sudah cukup atau belum, Yan?"


"Aku sih merasa cukup, Mas. Paling tinggal kita nabung untuk persiapan Usman masuk sekolah nanti. Tiga tahun lagi dia akan masuk SD."


"Kalau itu kamu tidak perlu khawatir, Yan. Mas sudah siapkan tabungan khusus untuk pendidikan anak."


Yani tersenyum mendengar penjelasan Abdul. Suaminya memang selalu sigap dari dulu, apalagi jika terkait kepentingan untuk anak dan istrinya.


"Yan, sebenarnya Mas punya rencana lain."


"Rencana apa, Mas?"


"Kamu masih ingat kan, tujuan utama kita merantau dulu adalah kota Jakarta. Bandung hanya tempat untuk kita belajar beradaptasi dengan kehidupan kota."


"Iya, Mas..." rasanya Yani tahu arah pembicaraan ini akan ke mana.


"Nah, kehidupan kita saat ini kan sudah jauh lebih baik, Yan. Bagaimana kalau kita mulai persiapan untuk pindah ke Jakarta?"


"Mas yakin? Apa kita tidak terlalu terburu-buru, Mas? Hidup kita saat ini sudah mulai nyaman... Apa cukup bijaksana jika kita meninggalkan kenyamanan ini untuk sesuatu yang belum pasti?"


"Justru itu, Yan. Orang sukses itu, justru rata-rata meninggalkan rasa nyaman mereka dan terus mencari tantangan yang lebih besar."


"Tapi buat apa, Mas?"


"Mas pengin supaya kita di masa depan udah ga perlu mikir panjang lagi kalau mau ngapa-ngapain, Yan. Bisa mudik tiap tahun, ga perlu menunggu sampai 2 tahun sekali. Mas juga pengin kita mencari lingkungan yang lebih baik untuk Usman."


"Memang yang sekarang kurang baik, Mas?"


"Yang sekarang ya sudah baik. Tapi akan lebih baik kalau kita bisa menyekolahkan Usman di tempat yang lebih bagus, Yan."


Yani mendengarkan dengan seksama penjelasan Abdul. Masuk akal, tapi terasa ada sesuatu yang mengusik hatinya kali ini, entah apa.


"Bagaimana cara kita ke Jakarta, Mas?"


"Gampang, Yan. Jarak Bandung-Jakarta kan dekat. Kita tinggal naik bis saja."


"Maksudku, Mas punya rencana apa setelah kita ke Jakarta nanti. Kemarin kan kita berani ke Bandung karena ada teman Mas yang ngajak. Kalau yang ini bagaimana?"


"Ooohh... Itu..." Abdul tampak berpikir sejenak.


"Hmmm... Gini, Yan. Ada teman Mas yang lain yang ngajak bisnis di Jakarta."


"Bisnis? Bisnis apa?"


"Bisnisnya jualan juga sih... Jadi, dia punya kedai mini gitu. Di kedainya itu dia jualan bermacam-macam minuman. Kaya yang sering kamu beli itu loh, kalau pas pulang jemput Usman dari TK."

Yani masih bergeming mendengarkan suaminya.


"Usahanya sudah berjalan berapa lama memang?"


"Belum lama sih... Baru satu tahun. Tapi dia bilang prospeknya bagus, Yan. Dan rencananya Mas mau ikut taruh modal di situ."


"Taruh modal gimana, Mas?" Yani mulai mengerutkan keningnya.


"Iya, jadi karena bisnisnya ini sedang berkembang pesat, teman Mas ini perlu tambahan modal untuk mengembangkan bisnisnya. Nanti keuntungannya akan dibagi dua dengan Mas, karena Mas ikut taruh modal di situ."


"Mas yakin? Bisnis memangnya bisa stabil secepat itu ya? Jujur aku khawatir Mas. Kalau ternyata di luar prediksi dan rencana bagaimana? Terus memangnya kamu ada uang dingin buat kasih modal?"


"Nah, itu dia Yan. Mas butuh persetujuan kamu dulu. Mas ijin gunakan uang simpanan kita untuk modal ya. Sayang sekali kalau kita melewatkan kesempatan bagus ini, Yan."


"Entahlah Mas, sepertinya kali ini aku tidak yakin... Kita suah payah mengumpulkan uang itu selama 5 tahun hidup di Bandung, masa mau lagsung diambil begitu saja  untuk membiayai bisnis teman?"


"Tidak akan Mas ambil seluruhnya, Yan. Paling setengahnya saja. Tabungan pendidikan Usman tidak akan Mas ganggu."


"Setengahnya itu besar Mas... Nanti tabungan kita tinggal sedikit kalau yang diambil sebesar itu. Lagian memangnya Mas sudah pikirkan, kita mau tinggal di mana ketika kita pindah ke Jakarta nanti?"


"Kalau masalah itu tenang, Yan. Kata teman Mas, di kontrakannya ada kamar yang masih kosong. Kontrakan petak seperti yang kita tempati sekarang. Jadi kita bisa sekalian sewa kontrakan di sana."


Yani tidak menjawab. Ia tidak yakin harus mengatakan apa. Jika suaminya sudah bertekad keras, apa pun yang dikatakannya pasti akan membal. Paling hanya masuk kuping kiri, keluar kuping kanan. Sementara untuk menyanggah pun Yani tidak begitu paham seluk beluk usaha atau bisnis yang sedang dibicarakan ini. Yang jelas, firasatnya tidak begitu baik.


"Mas janji, hidup kita akan jauh lebih baik lagi daripada saat ini, Yan."


Abdul meraih tangan Yani dan memeluknya, persis seperti saat mereka memutuskan untuk pindah ke Bandung dulu. Bedanya, kali ini Yani tidak menggangguk.


***

Recent Posts

See All
Perempuan di Sudut Kereta

Kulihat seorang perempuan. Ia duduk termenung di sudut kursi, di sebuah kereta menuju Selatan. Matanya nanar, sesekali terlihat nyalang,...

 
 
 
Lima Menit Saja

Katanya sih, untuk membuat sebuah kebiasaan baru dalam hidup, kita cuma perlu meluangkan waktu selama lima menit saja setiap hari. Aku...

 
 
 
PEMUJA RAHASIA - cerita pendek

Nama mahasiswa berprestasi itu Angga. Salah satu ketua senat yang sukses mencuri perhatian banyak mahasiswi, termasuk aku. Dia...

 
 
 

Comments


  • Facebook
  • Twitte
  • Pinteres
  • Instagram

Thanks for submitting!

© 2023 by Design for Life.
Proudly created with Wix.com

bottom of page