top of page

PULANG KAMPUNG - a Novel Part 18

EPILOG - Bertahan


Tiga tahun kemudian di kediaman Bu Sasmita...


"Usman, Agus, Yayuk, ayo sarapan dulu!" teriak Yani memanggil ketiga anaknya.


"Sekalian Ibu titip gethuk ini untuk disimpan di kantin sekolahan kamu ya..." ujar Yani kepada Agus.


"Siap Bu...!" jawab Agus sambil mengacungkan jempolnya.


"Yayuk, bantu Aa Agus bawain makanannya ya... Ini tinggal dijinjing aja di keranjang."


"Iya, Bu!" jawab Yayuk dengan penuh semangat.


"Bu, Usman nanti ijin pulang telat ya. Usman ada jadwal ngelesin anaknya Bu Dian di komplek sebelah. Ga sampai malam kok, paling sebelum maghrib sudah selesai."


"Boleh. Bawa baju ganti sekalian ya, biar seragamnya ga lecek."


"Iya, Bu."


"Yan, Mas berangkat dlu ya. Pak Suwito sudah menunggu Mas di depan nih. Hari ini ada orang yang pesan tanaman hias banyak sekali. Pak Suwito minta Mas untuk berangkat bareng karena bawaannya banyak."


"Iya Mas, hati-hati di jalan ya. Semoga laris manis terus tanaman hiasnya."


"Aamiin..."


"Dik Yani, dagangan Ibu sudah selesai semua dibungkusin? Ibu mau berangkat ke pasar sekarang, bareng sekalian sama anak-anak jalan sampai ke depan gang."


"Sudah, Bu. Sudah siap dibawa semua."


"Terima kasih ya, Dik. Ibu jadi banyak terbantu."


"Sama-sama, Bu. Saya juga jadi terbantu karena bisa sekalian nitip jualan saya ke Ibu."


"Kami berangkat ya Bu... Assalamu'alaikum," pamit ketiga anaknya secara serempak.


"Wa'alaikumsalam... Hati-hati ya, kalian. Yang semangat belajar di sekolah!" pesan Yani kepada ketiga anaknya, yang dibalas dengan lambaian tangan mereka.


Tiga tahun telah berlalu sejak kepulangan Abdul dan Yani ke kampung halaman mereka. Kini Abdul memasuki tahun ke-2 di SMK jurusan TEI (Teknik Elektronika Industri). Dengan bantuan pemda setempat dan atas rekomendasi sekolahnya yang dulu, Usman mengajukan beasiswa internal ke SMK tempat sekolahnya saat ini. Beruntung, proses penerimaan beasiswanya tidak menemui kendala yang berarti karena prestasi-prestasi Usman selama ini. Ia juga memberi jasa les privat bagi anak-anak komplek di sekitar tempat tinggalnya dengan bayaran per minggu.


Abdul masih setia bekerja dengan Pak Suwito. Atas saran anak sulungnya, Pak Suwito dan Abdul mencoba meningkatkan penjualan tanaman hias mereka dengan menggunakan sosial media dan google review. Perlahan tapi pasti, tanaman hias Pak Suwito semakin populer dan dikenal banyak orang. Apalagi sejak dulu Pak Suwito telah memiliki beberapa pelanggan tetap. Dengan semakin meningkatnya penjualan mereka, maka pendapatan Abdul sebagai tukang tanaman hias pun ikut naik. Adapun pekerjaan sebagai kurir barang belanjaan dan tukang ojek masih ia lakukan.


Sementara Yani mencoba peruntungannya dengan berjualan kudapan dari singkong. Ia kembali mengasah keterampilannya dalam mengolah singkong menjadi berbagai macam jenis makanan yang dapat dinikmati semua orang. Keripik, gethuk, colenak, singkong keju, dan lain-lain. Kadang-kadang ia mendapat sejumlah pesanan untuk kegiatan arisan, pertemuan wali murid sekolah, atau bahkan pengajian di sekitar tempat tinggalnya. Tak ketinggalan ia juga menitipkan sebagian dagangannya kepada Bu Sasmita untuk dijual di pasar. Pun pekerjaan sebagai asisten rumah tangga masih ia lakukan, namun jumlah jamnya berkurang. Dan ia menjadi lebih pilih-pilih untuk menentukan calon majikan yang lebih manusiawi dalam memberinya upah.


Kebutuhan mereka masih terus bertambah dari tahun ke tahun, apalagi saat ini Agus dan Yayuk sudah masuk SD. Namun beban mereka sedikit lebih ringan karena Usman sudah mulai cekatan untuk membekali dirinya sendiri. Mereka juga tidak perlu lagi mengirim uang bulanan kepada keluarga mereka di kampung secara rutin, karena bibi dan kedua mertuanya bersikeras menolak. Namun bukan Abdul dan Yani namanya jika mereka tidak keras kepala. Mereka tetap mengirimi uang bulanan kepada keuarganya setiap 2 atau 3 bulan sekali. Dan anehnya, sesuatu yang dulu mereka anggap sebagai beban dan ekstra pengeluaran, kini mereka lakukan dengan senang hati. Mereka bersyukur, walaupun hidup mereka saat ini belum berkecukupan, mereka masih diberi rezeki lebih untuk berbagi dengan keluarganya di kampung.


Tahun ini, mereka menjadwalkan untuk kembali pulang kampung bersama ketiga anaknya. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, kali ini mereka sudah menyisihkan uang dari jauh-jauh hari. Sesuatu yang memang harus diusahakan untuk merawat hubungan mereka dengan keluarga tercinta.


Sejauh ini hidup memang belum membawa mereka kemana-mana. Mereka masih mengontrak di rumah Bu Sasmita, bahkan sesekali masih menunggak karena mau tak mau, Bu Sasmita harus menaikkan biaya sewa demi menutup pengeluaran yang terus bertambah akibat kenaikan harga-harga dan inflasi setiap tahunnya. Mereka juga masih melakukan 2-3 pekerjaan sekaligus demi menambal berbagai kebutuhan, terutama untuk pendidikan ketiga anaknya. Mereka masih mengeluh sesekali karena kerasnya kehidupan ibu kota.


Namun kali ini mereka menjalaninya dengan kesadaran penuh, bahwa hidup memang harus terus berjalan. Meski apa yang sedang mereka usahakan masih tampak jauh, tapi mereka tidak mau menyerah. Entah kapan tujuan-tujuan mereka akan terwujud. Tapi Abdul dan Yani yakin, kali ini mereka membuat keputusan dengan benar.


***


TAMAT

Recent Posts

See All
Perempuan di Sudut Kereta

Kulihat seorang perempuan. Ia duduk termenung di sudut kursi, di sebuah kereta menuju Selatan. Matanya nanar, sesekali terlihat nyalang,...

 
 
 
Lima Menit Saja

Katanya sih, untuk membuat sebuah kebiasaan baru dalam hidup, kita cuma perlu meluangkan waktu selama lima menit saja setiap hari. Aku...

 
 
 
PEMUJA RAHASIA - cerita pendek

Nama mahasiswa berprestasi itu Angga. Salah satu ketua senat yang sukses mencuri perhatian banyak mahasiswi, termasuk aku. Dia...

 
 
 

Comments


  • Facebook
  • Twitte
  • Pinteres
  • Instagram

Thanks for submitting!

© 2023 by Design for Life.
Proudly created with Wix.com

bottom of page