top of page

PULANG KAMPUNG - a Novel Part 17

BAB 16 - Pelukan Hangat Keluarga


"Assalamu'alaikum Ambu..."


Abdul mengucapkan salam dengan lantang tatkala mereka akhirnya tiba di depan pintu rumah orang tuanya di kampung. Hatinya berdebar kencang, rindu ingin segera bertemu dengan ibu yang sangat ia sayangi. Yani berdiri di sebelahnya, menggamit lengan Abdul, turut merasakan debar kerinduan yang telah tertahan selama kurun waktu 10 tahun.


"Wa'alaikumsalam..."


Tergopoh-gopoh seorang wanita paruh baya membukakan pintu. Tak sabar karena ingin segera menemui wajah dari suara yang ia kenali sejak lama.


"Abdul! MasyaAllah... Akhirna mulang oge ieu budak!


Abdul segera menghambur ke pelukan ibunya. Semua perasaan haru, sedih, dan senang karena bisa bertemu kembali bercampur menjadi satu. Selama beberapa menit, anak dan ibu yang telah lama tak bertemu itu saling berangkulan, melepas rindu masing-masing diselingi isak tangis. Yani mematung di tempatnya, turut menikmati momen melepas rindu yang terjadi di depan matanya. Ah, ia jadi tidak sabar untuk segera menemui bibi dan neneknya.


"Bu... Maafin Abdul baru bisa pulang sekarang ya. Ambu sehat-sehat kan? Abah mana?"


"Ambu sehat Alhamdulillah... Hayu atuh, masuk dulu. Itu Abah udah nungguin di dalam, katanya deg-degan dari tadi mau ketemu kamu, takut pingsan.


"Yani! Astaghfirullah, Ambu hampir saja lupa, saking Ambu fokus terus sama Si Abdul. Gimana kabarnya, Neng?"


Ambu menarik lengan Yani hingga tenggelam ke pelukannya. Yani mencium tangan ambu, mendaratkan kecupan di kedua pipinya secara bergantian. Ibu mertuanya itu memang selalu bersikap hangat kepadanya. Salah satu yang membuat Yani sangat bersyukur karena dikaruniai ibu mertua yang menyayangi dirinya seperti anak sendiri.


"Yani Alhamdulillah baik, Bu. Maafkan Yani juga ya Bu, jarang mengabari Ambu dan Abah."


"Tidak apa-apa, Ambu paham. Pasti kalian sibuk sekali di sana. Nanti kita cerita-cerita di dalam ya. Sekarang kita temui Abah dulu."


Ambu mengajak Abdul dan Yani masuk ke dalam rumahnya. Ternyata selama 10 tahun ini, rumah itu tidak banyak berubah. Tata letaknya masih sama, semua perabotan dan barang-barang yang ada di sana pun sebagian besar masih sama. Hanya ada satu dua perubahan kecil yang terjadi di dalamnya. Yaitu, adanya tambahan kompor kecil di atas meja makan, dan menghilangnya tali gantungan cucian yang biasanya melintang di dalam rumah, juga warna cat yang akhirnya diperbarui. Rupanya tali gantungan yang digunakan untuk menjemur cucian itu dipindahkan oleh abahnya ke belakang di dekat sumur.


Di dalam rumah, abahnya telah menunggu. Ia tengah duduk di sebuah kursi malas, kursi kesayangan abahnya sejak dulu. Abdul menguatkan hatinya demi melihat abah. Sebelum abahnya sempat berdiri, Abdul telah lebih dahulu bersimpuh di kedua kaki abahnya.


"Assalamu'alaikum Abah... Ini Abdul pulang. Abdul minta maaf ya baru pulang sekarang..."


Abdul lalu memeluk abahnya dengan kaku. Hubungan Abdul dan abahnya memang tidak sehangat dan sedekat dengan ibunya. Namun ia tetaplah abah yang membuat Abdul bangga sekaligus merasa sayang sebagai seorang anak.


"Cageur maneh, Jang?"


"Alhamdulillah sehat Bah, seperti yang Abah lihat. Abdul baik-baik saja."


Abah menatap Abdul lekat-lekat. Mengamati setiap lekuk tubuh, warna kulit, dan tatapan matanya. Abah pasti dapat melihat dan merasakan betapa tubuh kurus anaknya tersebut telah bekerja begitu keras setiap hari.


"Syukur lah kalau begitu. Abah senang mendengarnya. Abah kira kamu sudah tidak ingat rumah, sudah tidak akan pulang ke kampung ini lagi selamanya."


Abdul hanya tersenyum getir mendengar perkataan abahnya. Perlahan Yani juga beringsut dari tempat duduknya. Ia ikut menyalami abah yang tak beranjak dari kursinya.


"Abah... Yani juga minta maaf ya. Abah pasti khawatir karena 10 tahun ini kami tidak pulang."


"Ya tentu saja Abah khawatir, Yani. Apalagi kalian tidak rutin mengabari. Tapi sejujurnya, daripada khawatir Abah dan Ambu lebih merasa sedih, karena kami kira kalian tidak mau pulang ke sini lagi."


"Abdul dan Yani minta maaf sekali lagi, Bah..." sambung Abdul membela istrinya.


"Iya, sudah Abah maafkan. Sekarang yang penting Abah bisa melihat dengan mata kepala sendiri kalau kalian dalam keadaan sehat semua. Cucu-cucu Abah bagaimana kabarnya? Usman pasti sudah besar ya? Sama Agus dan Yayuk, Abah dan Ambu belum pernah ketemu..."


"Iya Abah, Usman sudah 14 tahun sekarang. Tahun depan rencananya masuk SMK. Agus mau masuk SD, usianya 7 tahun. Dan Yayuk juga sebentar lagi masuk TK, usianya 5 tahun."


"Kebetulan Usman sedang libur sekolah, Abah. Jadi dia bisa dititipi untuk menjaga adik-adiknya. Makanya kami memakai kesempatan ini untuk pulang..." jelas Yani.


Abah manggut-manggut mendengar penjelasan Abdul dan Yani.


"Yah... Memang rasanya ga afdhol kalau belum ketemu. Semoga saja Abah dan Ambu diberi umur panjang agar bisa lihat cucu-cucu Abah semuanya."


"Kabar kalian sendiri, gimana Abdul, Yani? Ambu khawatir sekali sama kalian... Takutnya kalian kenapa-kenapa, tapi tidak mau bilang sama kami," tanya ambunya menyambung percakapan.


"Seperti yang Ambu lihat, kami baik-baik saja Ambu. Cuma memang kondisi keuangan kami sedang agak pas-pasan. Makanya anak-anak ga ikut, supaya ongkosnya tidak terlalu banyak," ujar Abdul berterus terang.


"Jangan-jangan, memang itu ya alasan yang menahan kalian tidak pulang-pulang selama ini?" selidik ambunya.


Abdul dan Yani menjawab dengan senyum getir.


"Kalian tidak berpikir untuk pulang aja lagi ke sini? Tinggal di sini, bersama Abah dan Ambu? Abah dan Ambu tidak keberatan kok. Walaupun kelihatannya Abah dan Ambu hidup sederhana, tapi kami punya cukup tabungan untuk membuatkan kalian rumah."


Abdul dan Yani saling berpandangan. Membuatkan rumah? Sebesar apakah tabungan mereka hingga bisa membuatkan rumah untuk mereka?


Seolah bisa membaca pikiran anak dan menantunya, Ambu melanjutkan perkataannya.


"Ambu dan Abah hidup sederhana bertahun-tahun, karena memang buat kami, yang penting ada makanan yang cukup untuk sehari-hari. Tapi tentu jumlahnya tidak banyak, karena biaya hidup di sini jauh lebih murah daripada di kota. Harga tanah juga masih relatif murah. Seperti yang kalian lihat, kampung ini tidak banyak berubah. Mungkin hanya tinggal yang tua-tua saja yang tinggal di sini. Para pemudanya, termasuk kalian sendiri, sudah pada merantau entah ke mana."


Sebuah tawaran yang menggiurkan bagi Abdul dan Yani. Namun, jika mereka menerima tawaran itu, artinya Usman dan anak-anaknya harus ikut pindah bersama mereka. Dan pilihan itu tidak ada dalam rencana mereka sebelumnya.


"Sudah, tidak usah dijawab sekarang. Kita makan dulu ya, kalian pasti lelah sekali selama di perjalanan tadi."


Ambu bergegas menyiapkan makanan untuk mereka semua. Yani dengan sigap membantu ibu mertuanya tersebut. Tak lupa ia menyuguhkan oleh-oleh yang dibawanya untuk dimakan bersama-sama.


"Repot-repot segala, Neng."


"Ga repot kok, Ambu. Yani senang sekali bisa membawakan sedikit oleh-oleh untuk Abah dan Ambu, walaupun ga seberapa."


Ambu tersenyum. Menantunya ini memang selalu bersikap baik dari dulu.


"Ambu bayangkan, kehidupan di kota pasti berat ya, Neng. Tubuh kamu sampai kurus begitu. Ambu mah ga kebayang kalau harus hidup di kota. Semuanya harus serba cepat, serba grasa-grusu. Sementara Abah dan Ambu mah lebih senang menjalani hidup secukupnya, walaupun ya jadinya gini-gini aja dari dulu."


"Terus terang memang berat Ambu, tapi mau tidak mau harus tetap dijalani. Apalagi Mas Abdul punya kemauan yang sangat keras. Jadi Yani juga mau tidak mau harus bisa mengimbangi Mas Abdul."


"Anak itu memang sejak dulu selalu pengin merantau. Katanya bosan hidup di kampung. Ambu mah kadang tidak paham dengan pemikiran Abdul. Orang tua mencari ketenangan dalam hidup, anak muda malah sukanya mencari tantangan. 


"Tapi Ambu salut sama kamu, Neng. Mau menemani Abdul yang begitu keras kepala sampai-sampai rela berjauhan dengan keluarga. Terima kasih ya, sudah menjadi istri yang setia buat anak Ambu."


Yani tersenyum senang mendengar perkataan ambu. Ibu mertuanya itu selalu tahu cara menyenangkan hati anak menantunya. Setelah selesai menyiapkan makanan, ambu dan Yani menyajikannya di tikar yang digelar di tengah ruangan. Makan dengan makanan yang disajikan oleh tangan ambu dengan duduk bersila menjadi kenikmatan tersendiri bagi Abdul dan Yani yang sudah lama tidak pulang. Menu yang disajikan sederhana saja. Hanya ikan asin, tahu dan tempe goreng, serta lalapan daun singkong yang disajikan dengan sambal korek. Rasanya belum pernah mereka makan senikmat itu.


"Kalian rencana di sini berapa hari, Abdul?" tanya abahnya di sela-sela makannya.


"InsyaAllah satu mingguan aja, Abah. Abdul dan Yani tidak bisa berlama-lama karena kasihan ninggalin anak-anak kelamaan. Di sini juga nanti dibagi-bagi waktunya. Setelah dari sini, Abdul dan Yani akan ke rumah bibi dan nenek Yani."


"Ya harus itu, bibi dan neneknya juga pasti sangat rindu dengan Nak Yani," ujar ambunya dengan bijaksana.


"Anak-anak di sana dijagain sama siapa lagi, Dul? Ga mungkin kan cuma sama Usman saja?"


"Ada induk semang Abdul yang namanya Bu Sasmita. Beliu sudah seperti eyangnya anak-anak di sana. Jadi Abdul dan Yani bisa tenang meninggalkan mereka agak lama."


"Duh, enak dong ya jadi Bu Sasmita. Bisa ketemu dan bermain bersama cucu-cucu Ambu setiap hari," celetuk ambunya dengan nada cemburu.


Abdul dan Yani hanya terdiam. Terselip rasa bersalah karena kelepasan menceritakan tentang panggilan eyang tersebut. Sisa percakapan mereka selanjutnya diisi dengan cerita-cerita dan pengalaman-pengalaman yang mereka alami selama hidup di kota. Abdul bercerita tentang pekerjaannya sehari-hari, tentang tetangga-tetangganya yang baik hati, juga tentang kehadiran Pak Suwito dan Bu Sasmita yang menyelamatkan mereka dari kesusahan hidup di kota. Tak lupa, ia juga bercerita tentang si sulung yang berprestasi dan selalu menjadi juara di kelas.


"Kok bisa ya, anakmu pintar begitu?" celetuk abahnya.


"Ya bisa, kan Abdul bapaknya," jawab Abdul sekenanya. Yani dan ambu tertawa renyah mendengar jawaban Abdul, sementara abahnya hanya geleng-geleng kepala. Ah, memang hubungan ayah dan anak itu selalu kaku dan canggung. Kendati demikian, mereka tahu persis kalau mereka saling menyayangi satu sama lain.


"Kata Ambu, Abah sakit. Sakit apa, Bah?" selidik Abdul.


"Ah, biasa lah, sakit manula. Badan pegal linu, kadang-kadang juga susah tidur di malam hari. Kata dokter mah, Abah teh stress, sisanya kecapean," kali ini ambunya yang menjawab.


"Abah stress kenapa?"


"Ya karena mikirin kalian lah, sok api-api teu apal budak teh," celetuk abahnya gemas. Kali ini giliran Abdul yang tertawa, meski sesungguhnya abahnya berkata dengan nada serius.


Abah dan ambu pun bergiliran menceritakan kegiatan mereka selama sepuluh tahun terakhir. Bagaimana akhirnya mereka bisa mengumpulkan uang sedikit demi sedikit hingga memiliki tabungan yang jumlahnya lumayan. Ternyata, selain menajdi buruh tani, mereka juga menjual sebagian hasil pertanian mereka secara langsung tanpa pihak ketiga. Beruntungnya kampung tempat Abdul tinggal tidak banyak berubah. Meski sebagian besar dihuni pleh para tetua, namun lahan sawah tidak banyak berkurang. Masyarakat di kampungnya cukup bijaksana untuk tidak termakan janji manis saat beberapa pihak pengusaha swasta mendatangi kampung mereka untuk membeli lahan demi menciptakan bangunan-bangunan dan rumah-rumah modern. Di balik segala kesederhanaan hidup mereka, ternyata mereka memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan untuk tidak merusak alam yang hanya tinggal tersisa sedikit. Untuk beberapa masyarakat kampung, hidup dalam kesederhanaan adalah sebuah pilihan, bukan paksaan, seperti yag dilakukan oleh abah dan ambunya selama ini. Hal itulah yang luput dari pengamatan Abdul selama ini.


Dan karena semakin berkurangnya anak-anak muda di kampungnya, maka abah dan ambu jadi memiliki lebih banyak lahan sawah untuk digarap secara bergantian. Selain mendapat upah dari pemilik lahan, abah dan ambu juga mendapatkan bagian dari hasil panen mereka selama ini. Bukan hanya padi saja, tetapi juga termasuk sayur-mayur dan hasil kebun lainnya. Sebagian mereka jual ke pasar secara langsung, sebagian lagi dikembangbiakkan secara mandiri sehingga abah dan ambu memiliki sedikit kebun untuk mencukupi kebutuhan pangan sehari-hari, dan sebagian lagi mereka konsumsi sendiri dalam jumlah yang cukup. Uang dari hasil penjualan itulah yang ditabung oleh abah dan ambunya selama ini, hingga tanpa terasa mereka memiliki tabungan yang lebih dari cukup untuk menghidupi mereka di kampung ini.


Sisa sore itu berlangsung dengan hangat. Abdul akhirnya dapat memahami sudut pandang tentang cara menjalani hidup dari orang tuanya selama ini. Sesuatu yang hanya bisa Abdul pahami setelah sampai di usianya saat ini.


***


Keesokan harinya, Abdul dan Yani bergiliran mengunjungi rumah bibi dan neneknya. Antara rumah Abdul dan Yani memang hanya berjarak beberapa ratus meter saja. Bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 30 menit atau naik angkutan desa selama kurang lebih 10 menit. Abdul dan Yani lebih memilih dengan berjalan kaki, melewati ladang-ladang sawah hijau yang menyegarkan mata. Tak lupa ia membawa oleh-oleh yang ia beli untuk diberikan kepada bibi dan neneknya.


Saat tiba di tujuan, Yani tak kuasa saat melihat wajah neneknya yang semakin keriput dimakan usia. Meski fisiknya masih cukup sehat untuk orang tua sepantarannya, neneknya tengah mengalami penyakit-penyakit yang dialami oleh para manula pada umumnya. Pendengarannya telah jauh berkurang, sehingga Yani harus berulang kali mengulang kalimat yang sama dengan setengah berteriak agar neneknya bisa mendengar dengan lebih jelas. Daya ingatnya jelas telah menurun. Ia harus meraba-raba ingatannya, memastikan berulang kali dengan dibantu oleh bibinya, bahwa yang datang tersebut adalah cucu kesayangannya yang telah lama tidak pulang.


"Bibi, maafkan Yani sudah terlalu lama tidak pulang ya," ujar Yani sembari memeluk bibinya erat-erat. Air mata mengalir di pipinya, tak kuasa menahan haru.


"Bibi kangen bangeeeet sama kamu, Yani. Rasanya ingin sekali Bibi menyusul kamu ke kota. Tapi bagaimana dengan nenekmu, Bibi tidak bisa meninggalkannya begitu saja sendirian," suara bibinya terdengar parau.


"Maafin Abdul juga ya Bi. Abdul merasa berdosa karena telah membawa Yani pergi jauh meninggalkan Bibi dan Nenek," sambung Abdul.


"Bukan salah kalian... Bibi bisa paham alasan kalian meninggalkan kampung ini. Lagipula sudah menjadi hak kalian sepenuhnya untuk menentukan akan tinggal di mana. Tapi yang Bibi sesalkan itu, kalian terlalu lama tidak pulang. Bibi jadi berburuk sangka sama kalian..."


"Iya, sebenarnya banyak sekali yang mau kami ceritakan kepada Bibi. Tentang kondisi kami di kota, tentang banyak hal yang akhirnya menahan kami untuk pulang sampai selama ini. Bibi jangan marah sama kami, ya..." rajuk Yani.


"Ah Yani, mana bisa Bibi marah sama kamu. Dari dulu juga kan Bibi tidak pernah memarahi kamu. Cuma Bibi sedih saja, kenapa tidak mau bercerita?"


"Yani tidak mau sampai membebani Bibi."


"Membebani apa, toh? Selama ini Bibi menjalani hidup dengan bahagia saja meskipun sederhana. Paling hanya mengurus nenekmu saja, dan itupun tidak merepotkan sama sekali karena Bibi sudah terbiasa dari dulu."


"Iya, maafin sekali Yani sekali lagi ya, Bi. Yani janji ke depannya akan sering-sering bercerita sama Bibi apapun kondisinya."


"Iya, sudah Bibi maafkan. Melihat kamu sehat saja sudah membuat bibi tenang dan bahagia."


Berikutnya, cerita pun bergulir dari mulut Yani dan Abdul secara bergiliran. Sama seperti halnya mereka bercerita kepada abah dan ambu, mereka juga menceritakan hal yang sama kepada bibi dan neneknya. Neneknya hanya mengangguk sesekali, antara berpura-pura mengerti atau demi menghargai cucunya saja, karena ia hanya mampu mendengar setengah-setengah. Sementara bibinya mendengarkan dengan perhatian penuh.


"Ah, kalian itu, Nduk! Sudah tahu hidup susah, kenapa masih memaksakan diri untuk mengirim uang bulanan? Padahal kalau Bibi tahu, Bibi tidak akan mau menerima uang kiriman dari kalian."


"Ya justru itu, Bi. Yani dan Abdul tidak mau jika Bibi sampai menolak jika mengetahui kondisi kamu. Kami kan mengirim dengan kesadaran penuh karena ingin berbagi."


"Iya, Bibi paham. Tapi kalian perlu ingat. Keluarga kalian lebih prioritas. Apa gunanya mengirim uang jika perut kalian sendiri kosong? Bukan Bibi hendak melarang, tapi kalian harus lihat kondisi. Utamakan dahulu keluarga kalian, baru pikirkan untuk berbagi. Sebaik-baik sedekah adalah kepada keluarga sendiri," ujar bibinya memberi nasehat.


"Yani khawatir, bibi dan nenek di sini hidup kekurangan..."


Bibinya tertawa keras.


"Aduh, kalian ini. Mungkin cara hidup kita jauh berbeda dengan masyarakat kota, Yan. Kita yang hidup di kampung ni ga ngoyo. Kalau ada lebihan ya Alhamdulillah, kalau pas ya disyukuri, kalau kekurangan juga ya dijalani saja. Lagi pula, sejak 5 tahun lalu Bibi sudah diangkat menjadi guru tetap. Dan walaupun sudah tidak lagi berjualan singkong di pasar, Bibi masih berjualan bermacam-macam kudapan. Bibi bawa ke sekolah setiap hari. Kadang-kadang dijual ke sesama guru, kadang-kadang Bibi titipkan ke ibu-ibu warung di sekitar sekolah. Lumayan lah buat tambah-tambah walaupun ga seberapa."


"Bibi kok tidak pernah cerita? Yani ikut senang mendengarnya, Bi. Akhirnya kesabaran dan jerih payah Bibi sebagai guru honorer selama ini terbayar lunas."


"Ya gimana mau cerita, kamu saja seolah menutup diri dari Bibi. Kalian jangan menanggung semuanya sendirian... Ingat, kalian masih punya keluarga di sini. Keluarga kita memang jauh dari kata makmur, apalagi kaya. Tapi kesederhanaan ini yang justru membuat kami yang hidup di kampung selalu merasa cukup."


Nasehat-nasehat Bibinya sungguh membuat hati Yani dan Abdul merasa tenang. Ternyata apa yang mereka sangkakan selama ini salah. Dan apa yang mereka khawatirkan juga tidak terjadi. Yani dan Abdul bersyukur, keputusan pulang kampung kali ini menjadi keputusan yang tepat bagi mereka.


***


Tak terasa satu minggu telah berlalu sejak Abdul dan Yani menginjakkan kaki di kampung halaman mereka. Kini saatnya Abdul dan Yani kembali meninggalkan kampung dan keluarga mereka, untuk kembali pada anak-anaknya. Abah, ambu, bibi, dan neneknya bersama-sama mengantarkan kepulangan mereka di terminal angkot terdekat.


"Abah dan Ambu titip salam buat Usman, Agus, dan Yayuk ya. Sekalian juga titip ini untuk Pak Suwito dan Bu Sasmita, sedikit oleh-oleh dari kampung," ujar ambu seraya menyerahkan bungkusan berisi aneka gorengan hasil olahan sendiri.


"Abdul, pertimbangkan lagi tawaran Abah dan Ambu tempo hari ya. Abah tidak akan memaksa, semuanya terserah kalian. Tapi kembali ke kampung saat ini juga bukan pilihan yang buruk," sambung abahnya mengingatkan.


"Dan jangan lupa, kalian harus rutin mengabari dan terbuka pada kami, ya. Ceritakan apapun kondisi kalian di sana, jangan main rahasia-rahasiaan!" kali ini bibinya yang memberi ultimatum sembari menyerahkan satu dus indomie berisi singkong mentah. Tak lupa, neneknya turut memberikan pelukan hangat kepada Yani dan Abdul, meski ingatannya masih samar-samar.


Abdul dan Yani sungguh terharu. Kepulangan mereka kali ini membawa banyak hikmah dan berkah. Mereka bahagia, karena orang-orang tersayang mereka berada dalam kondisi baik dan sehat, bahkan jauh lebih baik dari kondisi mereka sendiri. Abdul dan Yani pun berjanji, akan menjadwalkan pulang setidaknya 2-3 tahun sekali bersama dengan ketiga anaknya jika kondisi ekonomi mereka sudah jauh lebih baik.


***

Recent Posts

See All
Perempuan di Sudut Kereta

Kulihat seorang perempuan. Ia duduk termenung di sudut kursi, di sebuah kereta menuju Selatan. Matanya nanar, sesekali terlihat nyalang,...

 
 
 
Lima Menit Saja

Katanya sih, untuk membuat sebuah kebiasaan baru dalam hidup, kita cuma perlu meluangkan waktu selama lima menit saja setiap hari. Aku...

 
 
 
PEMUJA RAHASIA - cerita pendek

Nama mahasiswa berprestasi itu Angga. Salah satu ketua senat yang sukses mencuri perhatian banyak mahasiswi, termasuk aku. Dia...

 
 
 

Comments


  • Facebook
  • Twitte
  • Pinteres
  • Instagram

Thanks for submitting!

© 2023 by Design for Life.
Proudly created with Wix.com

bottom of page