top of page

PULANG KAMPUNG - a Novel Part 16

BAB 15 - Menuju Kampung Halaman


Abdul dan Yani kini telah menaiki bus jurusan Tasikmalaya, bus yang akan menemani perjalanan mereka selama berjam-jam ke depan. Sesuai dengan yang telah mereka rencanakan, Abdul dan Yani hanya pergi berdua tanpa membawa serta anak-anak mereka. Kali ini mereka melakukan perjalanan pulang kampung dengan penuh suka cita, meski hanya membawa dua dus kue bolu sederhana untuk oleh-oleh bagi keluarga mereka. Yani tetaplah Yani. Meskipun sebelumnya telah diputuskan bahwa mereka hanya hanya akan membawa diri, namun ia tetap tidak enak hati untuk melakukannya. Untunglah Abdul kini lebih pengertian, sehingga perbedaan pendapat itu tidak sampai membawa mereka pada perdebatan yang tidak perlu.


Bus terus melaju kencang sepanjang perjalanan. Setelah itu mereka harus turun dan berganti dengan bus lain yang akan membawa mereka terus ke arah selatan kota Parahyangan. Meskipun ini liburan sekolah, ternyata tidak banyak penumpang yang berjejalan dalam bus. Abdul dan Yani bersyukur, mereka dapat menikmati perjalanan tanpa harus bejibaku dengan penumpang lain seperti saat menjelang Lebaran. Sopir bus memutar lagu-lagu kenangan tahun 80-an, lagu yang bisa mereka nikmati sembari mengenang masa muda.


Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa mereka akan bisa melewati berbagai hal di tempat yang sama sekali asing. Menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk berjuang demi mencapai masa depan yang lebih baik. Kini mereka berdua kembali ke kampung halaman dengan hati yang penuh, seolah semua ingatan tentang kampung halaman mereka diputar secara perlahan untuk kembali memenuhi memori mereka yang telah lama dibuat lelah dengan kehidupan.


Abdul dan Yani menikmati perjalanan mereka. Perjalanan yang akhirnya membawa mereka untuk pulang kembali setelah bertahun-tahun lamanya. Pemandangan gedung-gedung pencakar langit perlahan berlalu, digantikan dengan pemandangan hutan-hutan dan sawah-sawah hijau. Sesuatu yang tidak pernah mereka lihat selama 10 tahun terakhir sejak tinggal di kota besar. Mereka membiarkan angin membelai rambut mereka dari kaca jendela bus yang dibiarkan terbuka saat memasuki jalur pegunungan.


Yani memejamkan mata, menikmati belaian angin di wajahnya. Sementara Abdul telah sejak dua jam yang lalu tertidur pulas dengan kepala bersandar di pundak Yani. Yani tidak ingin menyia-nyiakan pemandangan indah ini selama perjalanan pulang, karena entah kapan lagi mereka bisa pulang kampung kembali. Sejauh mata memandang, yang ia lihat hanya hamparan indah sawah-sawah, kebun-kebun, dan hutan-hutan bak permadani hijau. Udara yang ia hirup juga terasa segar, tidak berbau seperti udara yang selalu ia hirup sehari-hari selama tinggal di kota.


Yani mendapati bahwa jalan-jalan yang dulu begitu akrab di matanya kini telah banyak berubah, membawa Yani pada kenangan-kenangan masa lalunya. Kenangan saat ia menghabiskan masa remaja bersama bibi dan neneknya, kenangan saat ia membantu bibi dan neneknya berjualan singkong di pasar, hingga akhirnya ia bertemu Abdul. Kenangan tentang semua awal mula kehidupannya di kampung hingga membawanya ke titik sekarang. Di sebelahnya, Abdul mulai terbangun dan membuka mata.


"Sudah bangun, Mas? Kayanya tidurnya nyenyak banget."


"Ini tidur Mas paling nyenyak dan nikmat kayanya Yan, meskipun di perjalanan."


Yani tersenyum mendengar suaminya berkata demikian. Rasanya ia bisa memahami apa yang tengah dirasakan suaminya, karena ia juga merasakannya. Saat ini, pikiran dan perasaaannya begitu tenang karena sejenak beban-beban yang ia pikul selama ini seolah hilang entah kemana. Perjalanan pulang setelah 10 tahun absen seperti perjalanan rekreasional bagi mereka. Jauh dari hiruk pikuk ibu kota, jauh dari pikiran-pikiran yang membebani tentang betapa melelahkannya hidup yang harus mereka jalani setiap hari.


"Sepertinya dua jam lagi kita sampai Mas. Ga terasa ya, padahal dulu ketika kita pulang pas Lebaran itu rasanya lama sekali di jalan. Sekarang malah terasa cepat," ujar Yani seolah ia ingin menikmati perjalanan ini lebih lama.


"Kenapa ga dari dulu saja ya, kita seperti ini? Sesekali pulang berdua, tanpa harus bawa anak-anak. Tidak harus menunggu momen Lebaran juga karena ongkosnya pasti jadi naik berkali-kali lipat."


"Ya mana kita kepikiran, Yan. Kita terlalu fokus dengan uang yang harus kita keluarkan. Terlalu sibuk menghitung-hitung. Padahal ya mau dihitung berapa kali pun memang uang kita cuma sedikit."


Yani tertawa mendengar perkataan suaminya. Hey, lihatlah. Tanpa disadari, kini mereka bisa membahas ranah sensitif ini dengan nada bercanda dan diselingi gelak tawa, bukan dengan pertengkaran. Sebuah babak baru dalam hubungan mereka setelah menjalani suka duka bersama selama 15 tahun, yaitu menertawakan nasib mereka yang jalan di tempat.


"Banyak hal yang sudah berubah ya, ternyata. Tapi Mas senang, pemandangan yang kita lewati sekarang masih sama indahnya dengan dahulu. Bedanya sekarang sudah jauh lebih ramai, banyak tempat-tempat makan di kiri dan kanan jalan. Kalau dulu kan paling banter warung kopi sederhana saja."


"Yah... Namanya jaman sudah banyak berubah Mas. Kita sendiri saja banyak berubah, apalagi tempat-tempat masa kecil dan remaja kita dulu. Pasti sudah jauh berbeda. Aku jadi deg-degan dan penasaran, kampung kita sekarang ini seperti apa."


"Sama... Mas juga deg-degan. Nanti reaksi ambu sama abah gimana ya? Reaksi bibi dan nenekmu juga bagaimana?"


"Aku yakin mereka akan senang bisa melihat kita lagi, Mas. Sama seperti halnya kita yang senang dan bersemangat untuk pulang menemui mereka semua."


Ada jeda sejenak sebelum Yani melanjutkan obrolannya. Sesuatu yang belum ia ungkapkan kepada suaminya.


"Mas... Terima kasih ya, sudah mengajak aku merantau ke kota. Aku jadi tahu dunia luar, aku jadi tahu bagaimana harus bergaul dan beradaptasi di lingkungan baru. Aku juga jadi tahu betapa nikmat rasanya pulang ke kampung dengan rasa rindu yang menggebu-gebu karena ada jarak yang memisahkan. Terlepas dari kehidupan kita saat ini, aku tetap bersyukur bisa menjalani semuanya bareng Mas."


Abdul terkejut dengan kejujuran Yani. Selama ini justru ia selalu merasa bersalah karena telah menyeret Yani ke kehidupan yang keras. Betapa Abdul merasa lega, rasa bersalah yang bersarang di hatinya kini perlahan sirna.


"Yan, terima kasih atas kejujurannya. Mas selama ini selalu merasa bersalah sama kamu, karena belum bisa membuat kamu bahagia. Bukannya hidup makmur, malah hidup kita jadi berkali-kali lipat lebih keras. Kenapa kamu baru bilang sekarang? Kalau kamu bilang dari dulu, mungkin Mas tidak akan terlalu terbebani dengan rasa bersalah ini."


"Aku baru menyadari belakangan ini, Mas. Kalau bukan karena merantau, mungkin saat ini kita masih akan hidup sebagai buruh tani dan penjual singkong. Usman juga mungkin tidak akan mendapatkan pendidikan yang baik, karena sekolah di kampung kita tidak sebagus sekolah di kota. Dan kalau kita tidak merantau, kita mungkin tidak akan pernah belajar bagaimana caranya bertahan hidup."


Abdul memandang istrinya dengan lembut. Mendengarkan istrinya bisa bercerita dan setebuka ini sungguh menyenangkan. Ia menggenggam tangan istrinya erat-erat.


"Mas jadi gemas sama kamu," bisik Abdul menggoda.


"Jangan macam-macam Mas, kita tidak sedang bulan madu. Aku juga tidak mau menambah anak lagi," ujar Yani panik. Abdul hanya tergelak melihat istrinya salah tingkah.


Mereka menghabiskan sisa perjalanan dengan terus bercakap-cakap. Ternyata momen pulang kampung kali ini, selain menjadi momen rekreasional bagi mereka, juga menjadi momen untuk mengikat hubungan mereka yang sempat renggang selama 10 tahun ini. Tanpa disadari, selama 10 tahun ini mereka begitu sibuk untuk bertahan hidup daripada menjalani hidup. Saking sibuknya, bahkan untuk menghabiskan waktu bersama saja badan dan pikiran rasanya sudah terlampau lelah. 


Kini Abdul dan Yani tengah mengistirahatkan tubuh dan pikiran mereka dari kelelahan-kelelahan yang setiap hari menyapa. Mereka ingin memanfaatkan sisa waktu perjalanan ini dengan mengobrol berdua. Mengembalikan percik-percik yang sempat menghilang dalam hubungan mereka sebagai pasangan suami istri.


Bus yang mereka tumpangi terus melaju. Sebentar lagi, mereka akan bertemu kembali dengan seluruh keluarga mereka di kampung halaman. Abdul dan Yani saling menggenggam tangan untuk menyambut kerinduan yang telah lama terpendam tersebut.


***

Recent Posts

See All
Perempuan di Sudut Kereta

Kulihat seorang perempuan. Ia duduk termenung di sudut kursi, di sebuah kereta menuju Selatan. Matanya nanar, sesekali terlihat nyalang,...

 
 
 
Lima Menit Saja

Katanya sih, untuk membuat sebuah kebiasaan baru dalam hidup, kita cuma perlu meluangkan waktu selama lima menit saja setiap hari. Aku...

 
 
 
PEMUJA RAHASIA - cerita pendek

Nama mahasiswa berprestasi itu Angga. Salah satu ketua senat yang sukses mencuri perhatian banyak mahasiswi, termasuk aku. Dia...

 
 
 

Comments


  • Facebook
  • Twitte
  • Pinteres
  • Instagram

Thanks for submitting!

© 2023 by Design for Life.
Proudly created with Wix.com

bottom of page