top of page

PULANG KAMPUNG - a Novel Part 15

BAB 14 - Rencana Baru


Keesokan paginya, Abdul dan Yani menyambut hari dengan lebih bersemangat. Semalam setelah berbicara bertiga dengan anak sulung mereka, Abdul dan Yani melanjutkan pembicaraan tentang rencana pulang kampung di tempat tidur. Meski masih dibayangi oleh kondisi keuangan mereka yang mengkhawatirkan, kini Abdul dan Yani dapat membahas masalah yang mereka hadapi dengan perasaan yang jauh lebih tenang.


"Yan... Mas sudah pikirkan dengan matang. Sepertinya, kamu dan anak-anak ga perlu ikut pulang dulu tahun ini. Biar Mas sendiri saja dulu, sekalian nengokin semua keluarga kita di kampung."


"Mas yakin? Nanti kalau abah, ambu, bibi, dan nenekku nanya macam-macam gimana?"


"Ya tinggal Mas jawab apa adanya saja. Selama ini Mas begitu khawatir terhadap reaksi mereka. Jangan-jangan itu cuma ketakutan Mas saja. Barangkali malah mereka tidak bereaksi apa-apa."


Yani terdiam. Namun kali ini ia ingin mencoba lebih terbuka pada suaminya, seperti halnya suaminya yang sedang mulai terbuka tentang segala sesuatu pada dirinya saat ini.


"Mas, ada satu hal yang sebenarnya belum aku katakan sama Mas."


"Oh ya? Apa itu?"


"Sebenarnya, ketika Ambu minta kita untuk pulang itu, jauh di lubuk hati aku merasa senang, Mas. Sudah lama sekali kita tidak pulang, dan aku merindukan kampung halaman kita. Apalagi nenekku juga sudah sangat sepuh. Bibi kapan hari telepon, menceritakan tentang kondisi kesehatan nenek yang sudah jauh berkurang akibat dimakan usia. Aku merasa berdosa sekali jika tidak bisa pulang hanya untuk sekedar menjenguk. Padahal selama ini nenek dan bibi sudah merawat dan membesarkanku dengan baik. Aku takut semakin menunda, kita akan terlambat. Di usia mereka yang sudah sepuh ini, kita tidak tahu kapan Tuhan akan menjemput mereka.


"Ditambah lagi, sebenarnya aku capek sekali Mas. Aku lelah dengan kehidupan kita di kota. Sebagian kecil diriku menginginkan agar kita kembali menjalani kehidupan di kampung saja. Tapi setelah obrolan kita semalam, aku bisa paham kenapa Mas memiliki tekad kuat untuk merubah nasib kita. Cuma aku rindu Mas, aku benar-benar kangen dengan keluarga dan suasana di kampung...


"Jadi itu sebabnya aku merasa frustasi dan malah menumpahkan semua kekesalanku sama Mas. Aku merasa sangat lelah dan ingin pulang, tapi di saat bersamaan aku juga sadar kondisi keuangan kita belum memungkinkan saat ini. Dan mungkin rasanya masih terlalu dini juga untuk kita menyerah... Seperti yang selalu Mas Yakini, jalan kita masih sangat panjang. Aku tidak mau kita menyerah pada nasib, Mas."


Abdul mendengarkan dengan seksama semua perkataan Yani kali ini. Bagi Abdul, ini kali pertama mereka setelah dalam 15 tahun pernikahan Yani bisa seterbuka ini. Atau mungkin memang selama ini sebenarnya Yani selalu seterbuka ini, namun ia yang kurang mendengarkan. Apapun itu, kali ini Abdul merasa bisa lebih memahami bagaimana perasaan Yani selama ini. Apa saja yang membuatnya khawatir, apa saja hal yang membuatnya cemas, apa saja yang membuatnya yakin dan sabar menjalani suka duka bersamanya.


"Yan... Terima kasih ya, kamu mau cerita sama Mas. Ternyata memang selama ini Mas kurang mendengarkan kamu. Kamu tahu Yan? Selama ini Mas selalu menganggap kamu itu wanita yang tangguh. Wanita yang mandiri. Maka dari itu Mas beranggapan kalau kamu juga selama ini kuat-kuat saja menjalani kehidupan kita selama ini. Ternyata Mas keliru. Ada banyak beban pikiran dan perasaan yang selama ini kamu sembunyikan. Sekali lagi maafin Mas ya..." ujar Abdul sambil mengelus lembut kepala Yani.


"Kamu tahu, Yan? Sebenarnya Mas juga sedang ada di titik hampir ingin menyerah. Mas merasa bersalah pada kamu, pada anak-anak. Mas merasa gagal membahagiakan kalian. Tadinya Mas juga berpikir demikian. Mas sempat mempertimbangkan untuk kembali ke kampung selamanya, karena Mas merasa masa depan kita di sini buntu.


"Tapi Mas melihat secercah harapan pada diri Usman. Kita tidak hanya dikaruniai anak sulung yang baik dan dewasa, Yan. Dia juga pintar dan berprestasi. Jika kita kembali ke kampung sekarang, sama saja kita merebut kesempatan bagi Usman untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Maka dari itu, selelah apapun kita saat ini pada dunia, kita tidak boleh menyerah, Yan. Mas yakin Usman bisa punya banyak kesempatan dan pilihan yang lebih baik di masa depan. Bukan untuk kita, tapi untuk dirinya sendiri. Begitu pula dengan Agus dan Yayuk ke depannya. Kita berusaha mati-matian saat ini, bukan semata-mata demi Mas dan kamu saja, tapi demi anak-anak."


Dalam hal ini, Yani sepakat dengan Abdul. Usman memiliki secercah harapan karena pendidikannya jauh lebih baik daripada mereka berdua. Meskipun bukan sekolah di sekolah elit, namun Usman membuktikan bahwa di sekolah negeri pun ia bisa berprestasi dan mampu bersaing dengan anak-anak dari sekolah lain.


"Dan mengenai pulang kampung... Tadinya Mas berencana untuk berangkat sendirian saja, Yan. Kamu dan anak-anak tidak usah ikut, agar tidak terlalu berat di ongkos. Namun setelah mendengar pengakuanmu barusan, Mas rasa kita bisa pergi berdua, Yan. Usman sudah cukup dewasa untuk dititipi tanggung jawab mengurus adik-adiknya sementara kita pulang kampung. Nanti kita bisa pergi di waktu anak-anak libur sekolah, agar tidak mengganggu waktu belajar Usman. Bagaimana menurutmu?"


"Aku rasa kalau hanya kita berdua yang pergi masih memungkinkan, Mas. Dan mungkin, seperti kata Mas. Kita tidak perlu membawa oleh-oleh yang hanya akan memberatkan kita. Aku rasa keluarga kita tidak akan keberatan. Juga masih ada waktu sekitar 2 bulan lagi sebelum anak-anak libur sekolah. Kita bisa sisihkan uang yang kita punya khusus untuk agenda pulang kampung ini."


Abdul mengangguk setuju. Ternyata benar kata si pelanggan anonim yang ia temui di warung kopi tempo hari. Ia hanya perlu mengobrol lebih dalam dengan istrinya, dengan anak-anaknya. Mungkin Abdul memang kepala keluarga dan sebagai nakhoda dalam rumah tangga ini, tapi ia tidak harus memikirkan semuanya sendirian. Ada istrinya yang selama ini selalu setia di sampingnya. Dan bahkan bisa memberinya solusi yang lebih masuk akal di saat kepalanya terlalu penat untuk berpikir. Lalu ada anak sulungnya Usman, yang kini sudah bisa diajak berdiskusi dan bisa diandalkan karena kedewasaannya. Dan tentu saja, anak itu jelas jauh lebih pintar darinya. Kini, Abdul tahu cara berbagi dengan keluarga kecilnya.


Besok, ia dan Yani akan menyampaikan rencana ini pada Usman. Ia yakin Usman tidak akan keberatan dan mungkin malah merasa senang karena bisa dilibatkan untuk membantu bapak dan ibunya. Lagipula, ada Bu Sasmita yang bisa ia andalkan setiap saat. Kali ini, Abdul akan belajar untuk mengenyahkan semua rasa sungkannya dan belajar meminta tolonng saat ia memerlukannya. Abdul percaya, seperti halnya pelangi yang muncul setelah hujan, demikian pula selalu ada harapan baru setelah ujian besar.


Abdul mengecup kening istrinya dengan lembut. Betapa ia menyayangi istrinya tersebut. Yani pun kini bisa terlelap dengan damai dalam pelukan suaminya. Mereka telah kembali menemukan rumahnya masing-masing.


***


Usman sudah menyetujui tentang rencana pulang kampung orang tuanya. Abdul dan Yani telah memberi tahunya subuh tadi, bahwa hanya mereka berdua yang akan pulang. Kendati Usman bersedih karena tidak bisa menemui kakek neneknya, ia tetap merasa senang karena kini orang tuanya tidak segan untuk meminta bantuan kepadanya. Malah, Agus dan Yayuk bersorak gembira karena kakak kesayangan mereka akan menemani mereka bermain sepuasnya selama liburan sekolah. Juga ada Bu Sasmita yang mereka panggil dengan sebutan "eyang" yang akan dengan senang hati mengajak mereka bermain di pasar, bersama dengan pedagang-pedagang kenalan Bu Sasmita yang sudah mengenal keluarga itu dengan baik.


"Asiiik, nanti Agus sama Yayuk bakal main-main terus sama Aa."


"Emangnya kamu senang kalau main sama Aa?"


"Senang dong. Soalnya kalau lagi ga libur, Aa cuma bisa main-main sebentar sama Agus dan Yayuk. Kalau libur kan waktu mainnya jadi panjang," celetuk Agus dengan polos. Usman tersenyum mendengar celotehan Agus.


"Kalau Yayuk, gimana? Senang juga ga, ditemani main sama Aa?"


"Senang juga, tapi Yayuk nanti mau main boneka-bonekaan ya, bosen main perang-perangan terus sama Agus."


"Aa Agus, Yayuk," ujar ibunya mengingatkan.


"Iya, Aa Agus, hehehe."


Abdul dan Yani tersenyum lebar melihat celoteh riang ketiga anaknya. Rasanya baru hari kemarin mereka melalui badai yang besar dalam rumah tangga mereka. Pagi ini mereka sudah bisa tersenyum kembali dengan riang. Abdul dan Yani yakin, hidup mereka ke depan akan baik-baik saja selama keluarga mereka solid seperti saat ini.


***

Recent Posts

See All
Perempuan di Sudut Kereta

Kulihat seorang perempuan. Ia duduk termenung di sudut kursi, di sebuah kereta menuju Selatan. Matanya nanar, sesekali terlihat nyalang,...

 
 
 
Lima Menit Saja

Katanya sih, untuk membuat sebuah kebiasaan baru dalam hidup, kita cuma perlu meluangkan waktu selama lima menit saja setiap hari. Aku...

 
 
 
PEMUJA RAHASIA - cerita pendek

Nama mahasiswa berprestasi itu Angga. Salah satu ketua senat yang sukses mencuri perhatian banyak mahasiswi, termasuk aku. Dia...

 
 
 

Comments


  • Facebook
  • Twitte
  • Pinteres
  • Instagram

Thanks for submitting!

© 2023 by Design for Life.
Proudly created with Wix.com

bottom of page