PULANG KAMPUNG - a Novel Part 14
- Primawati Kusumaningrum
- May 5, 2024
- 4 min read
BAB 13 - Percakapan Abdul dan Si Sulung
"Usman..."
Mendengar namanya dipanggil, Usman segera mendatangi sumber suara. Tampak oleh kedua matanya bapak dan ibunya sama-sama menahan isak tangis. Ia bertanya-tanya ada masalah gerangan, sehingga membuat kedu aorang tuanya menangis bersamaan seperti itu? Masalah apakah yang tengah dihadapi oleh kedua orang tuanya? Usman berharap itu bukan masalah yang serius. Tanpa berani bertanya lebih jauh, Usman segera duduk di sebelah bapak dan ibunya. Saking jarangnya mereka mengobrol bersama, melihat mereka duduk bersama seperti ini membuat mereka tampak canggung satu sama lain sebagai sebuah keluarga.
"Usman, bapak dan ibu mau bicara sesuatu sama kamu. Kamu sudah besar, dan bapak rasa sudah saatnya kamu paham dengan kondisi yang dihadapi oleh keluarga kita."
Usman masih tekun mendengarkan. Wajahnya tertunduk menatap kakinya sendiri, masih sibuk bertanya-tanya dalam hati.
"Kamu mungkin bisa menerka, kondisi keluarga kita seperti apa. Mungkin kamu sendiri bisa melihat, jika dibandingkan dengan teman-teman sekolahmu, kondisi kita tampak berbeda dengan mereka.
"Tapi meskipun begitu, bapak dan ibu sangat bersyukur, karena kamu menjadi kebanggaan bapak dan ibu. Tanpa kami berdua banyak menuntut, kamu memiliki kesadaran penuh untuk memahami kondisi-kondisi yang terjadi di sekitarmu. Kamu melihat sendiri betapa berat perjuangan bapak dan ibu selama ini, dan kamu tidak sekalipun pernah mengeluh.
"Untuk itu, bapak khususnya, minta maaf sama kamu, Usman. Kami berdua minta maaf, karena kondisi bapak dan ibu yang seperti ini, kamu dan adik-adikmu jadi terkena imbasnya. Dan bapak berterima kasih karena selama ini, Usman sudah menjadi anak yang baik bagi bapak dan ibu. Bagaimanapun perihnya kondisi kita saat ini, kamu tetap menjadi kebanggaan bapak dan ibu."
Mendengar bapaknya berbicara demikian, Usman sungguh tidak tahu harus berkata apa. Toh Usman selama ini sudah paham bagaimana kondisi mereka, rasanya tak perlu lagi bapak dan ibunya menjelaskan kondisi tersebut. Meski belum dewasa sepenuhnya, tapi Usman rasanya cukup mengerti tanpa harus dijelaskan lebih jauh.
"Ibu juga minta maaf, mungkin kamu melihat ibu dan bapak akhir-akhir ini selalu berdebat dan bertengkar. Seharusnya sebagai anak, kamu tidak perlu melihat itu semua. Tapi kamu tidak perlu khawatir, ibu dan bapak sekarang sudah baik-baik saja," sambung Yani.
"Usman boleh bicara, Pak, Bu?"
Abdul dan Yani mengangguk.
"Usman sebenarnya sudah cukup paham bagaimana kondisi keluarga kita. Tanpa bapak dan ibu menjelaskan pun Usman bisa melihat dan merasakan itu semua. Tapi ada satu hal yang perlu bapak dan ibu tahu. Usman juga ingin meminta maaf sama bapak dan ibu.
"Maafkan Usman belum bisa menjadi anak yang mandiri dan bisa meringankan bapak dan ibu. Sebenarnya Usman merasa egois karena Usman hanya memikirkan diri sendiri. Di tengah kondisi kita yang seperti ini, Usman malah mengkhawatirkan diri sendiri. Usman khawatir, apa yang Usman cita-citakan tidak dapat terwujud. Selama ini Usman merasa kalau apa yang Usman raih di sekolah adalah bentuk keegoisan Usman. Usman terlalu mengkhawatirkan masa depan Usman sendiri, sampai-sampai Usman seringkali lalai untuk membantu bapak dan ibu. Seharusnya Usman bisa lebih sering membantu untuk meringankan beban bapak dan ibu."
Demi mendengar perkataan anaknya tersebut, Yani semakin terisak. Ia membenamkan mukanya yang telah dipenuhi oleh air mata di balik tangkupan kedua tangannya. Sementara air muka Abdul tampak merah menahan tangis. Ah, memang bapak selalu berusaha tampak kuat di depan anak dan istri mereka meskipun air mata sudah tampak menggenang di pelupuk mata.
"Usman... Jangan berpikir seperti itu. Kamu tidak egois sama sekali. Memang sudah tugas bapak dan ibu untuk memastikan kamu untuk bisa meraih cita-cita kamu. Jangan merasa bersalah hanya karena kamu mengkhawatirkan masa depanmu. Bapak tidak berharap kamu membantu bapak dan ibu dengan cara ikut bekerja mencari uang. Bapak dan ibu juga tidak ingin kamu jadi merasa terbebani.
"Bapak memang tidak bisa menjamin kehidupan kita akan lebih baik. Bapak tidak bisa pula menjamin kamu bisa meraih cita-cita di masa depan. Tapi bapak tidak ingin kamu terlalu mengkhawatirkan apa yang belum menjadi tanggungjawab kamu. Kamu boleh membantu bapak dan ibu, tapi bukan dengan jalan ikut mencari uang. Dengan kamu membantu mengasuh adik-adikmu setiap sepulang sekolah, membantu membersihkan rumah saat ibumu kelelahan, itu sudah cukup bagi kami.
"Jadi, Usman tidak perlu merasa bersalah pada bapak dan ibu. Bapak dan ibu sudah sangat bahagia dengan keberadaan kamu dan adik-adikmu. Tugas utamamu saat ini adalah belajar dengan baik, agar kelak hidupmu jauh lebih baik dari bapak dan ibu, jauh lebih baik dari apa yang kita alami saat ini.
"Perjalananmu masih sangat panjang, Usman. Akan ada banyak kesempatan yang terbuka di luar sana kalau kamu terus bersungguh-sungguh. Bapak sangat menghargai apa yang kamu lakukan selama ini. Kamu tekun belajar, aktif dan berprestasi di sekolah, hingga bisa menjuarai berbagai lomba. Nilai raportmu juga tidak pernah buruk. Orang tua mana yang tidak akan bangga jika memiliki anak seperti kamu. Itu adalah bentuk tanggung jawab terbaik yang bisa kamu lakukan sebagai seorang anak, karena dengan begitu uang yang bapak dan ibu keluarkan untuk menyekolahkanmu tidak ada yang sia-sia.
"Jangan berpikir seperti itu lagi ya. Lebih baik do'akan bapak dan ibu agar diberi umur panjang dan selalu diberi kemudahan rezeki untuk keluarga kita."
Usman mengangguk paham. Uneg-uneg yang mengganjal di pikirannya selama ini sedikit terangkat dan perasaannya terasa lebih ringan. Ia mendengarkan nasehat bapak dan ibunya baik-baik, tanpa melewatkan satu kata pun. Usman bisa memahami, kondisi mereka saat ini memang tidak baik-baik saja. Keluarganya tengah diuji dengan kemiskinan yang entah kapan akan berakhir. Ia juga menyadari bahwa dampak kemiskinan ini teryata bisa membawa resiko besar bagi keutuhan keluarga mereka.
Tapi ia sungguh terharu bagaimana orang tuanya berusaha sedemikian rupa agar ia tidak perlu khawatir dengan keadaan saat ini. Diam-diam Usman berjanji dalam hati, ia akan membantu meringankan beban bapak dan ibunya dengan cara apapun. Bagaimana pun ia anak sulung, tidak mungkin ia tidak turut mencemaskan apa yang dialami oleh keluarganya. Tapi ia juga sungguh-sungguh berjanji untuk menunaikan amanat bapak dan ibunya, bahwa ia tidak akan melalaikan tugas utamanya sebagai seorang pelajar, seberat apapun kondisinya.
Pembicaraan mereka malam itu berakhir dengan membawa sedikit ketenangan pada keluarga kecil itu. Akhirnya keluarga kecil itu menyadari bahwa harta terbesar mereka adalah kehadiran satu sama lain sebagai keluarga yang utuh untuk saling berbagi, bukan dengan menanggung beban derita sendiri-sendiri. Meski arah yang mereka tuju masih memberikan gambaran abu-abu, setidaknya mereka kini sadar, bahwa mereka memiliki satu sama lain untuk saling menguatkan. Sejak malam itu mereka berjanji untuk lebih sering menghabiskan waktu bersama, untuk lebih sering mengobrol dan bercerita agar bisa saling memahami satu sama lain.
***
Comments