PULANG KAMPUNG - a Novel Part 13
- Primawati Kusumaningrum
- May 5, 2024
- 5 min read
BAB 12 - Pulang ke "Rumah"
Abdul memarkir motornya dengan terburu-buru. Dengan setengah berlari, ia turun dan menghampiri pintu depan dengan dada berdebar. Ah, debar itu masih ada. Ia masih mencintai Yani. Namun benar kata orang, cinta saja memang tidak cukup. Ia tidak sadar bahwa selama ini kemiskinan telah merenggut rasa cinta itu perlahan-lahan, digantikan dengan perasaan lelah tak berujung akan nasib yang tak jelas arahnya ke mana.
Ia lalu mengetuk pintu dengan perlahan. Terdengar langkah-langkah kaki berjalan mendekat untuk membukakan pintu. Ternyata alih-alih wajah istrinya, yang muncul adalah wajah tirus Usman, anak sulungnya.
"Sudah pulang, Pak?"
"Iya, sudah. Ibumu mana?"
"Ibu ada di belakang..."
Abdul segera bergegas ke belakang, ia mendapati istrinya tengah duduk diam di depan kompor sambil setengah melamun. Pandangan matanya menerawang dengan jejak-jekak air mata di pipinya. Matanya masih terlihat sembap dan merah. Abdul berdehem sebagai tanda kehadirannya. Yani menoleh sesaat. Dari sorot matanya jelas terlihat bahwa wanita itu masih sangat kecewa kepada Abdul. Namun toh, ia tetap menghampiri suaminya tersebut. Menyadari hal tersebut, Abdul semakin merasa bersalah. Seharusnya ia menjadi orang terakhir yang menyakiti istrinya.
"Sudah pulang, Mas?" Yani berbasa-basi. Ini kalimat pertama yang ia utarakan setelah perang dingin seharian ini dengan suaminya.
"Iya, sudah... Yan, Mas rasa kita perlu berbicara malam ini."
Yani menghela napas panjang. Ah, apa lagi kali ini. Rasanya tak habis-habis dan tak selesai-selesai pembicaraan di antara mereka berdua.
"Aku masih lelah, Mas... Setiap kali kita berbicara, yang ada malah kita berdua saling emosi satu sama lain."
"Mas tahu, Yan... Maka dari itu, Mas ingin meluruskan sesuatu. Kita bicara malam ini, ya?"
Abdul menuntun Yani ke bale-bale yang terletak di belakang rumah, tempat mereka biasa menghabiskan waktu bersama-sama. Abdul baru tersadar, ternyata memang sudah lama mereka tidak pernah mengobrol bersama kecuali hanya untuk membahas hal-hal penting terkait urusan perut dan uang. Abdul dan Yani duduk saling berhadapan. Biasanya terdapat secangkir kopi, teh, atau wedang jahe dan rokok yang menemani obrolan keduanya. Namun kali ini tidak ada apa-apa di hadapan mereka selain keheningan malam. Abdul menarik napas dalam-dalam sebelum ia memulai pembicaraan dengan istrinya tersebut. Ia kembali berdehem untuk membersihkan tenggorokannya yang tercekat.
"Yan... Mas sudah memikirkan banyak hal belakangan ini. Tentang wacana pulang kampung, tentang nasib kita saat ini dan ke depan bagaimana, dan juga tentang perdebatan kita tadi pagi."
Seperti biasa, Yani hanya mendengarkan Abdul dengan tekun. Selain ia merasa sangat lelah hari itu, Yani juga masih menahan perasaan sedih dan kecewa terhadap suaminya tersebut.
"Setelah Mas merenung seharian ini, Mas akhirnya menyadari. Ternyata memang Mas banyak salah sama kamu, Yan..."
Yani terhenyak mendengar perkataan suaminya. Ia menatap Abdul dengan mata nanar, meski mulutnya tetap memilih bungkam.
"Mas tidak sadar kalau selama ini Mas berlaku egois dalam pernikahan kita. Mas menyertakan kamu dan anak-anak dalam rencana-rencana yang Mas susun sendiri tanpa mau mendengarkan pendapatmu. Padahal selama ini pendapat-pendapatmu yang selalu menyelamatkan Mas dari berbagai masalah. Selama ini Mas kurang mendengarkan kamu...
"Mas minta maaf sama kamu, Yan. Tidak seharusnya Mas bersikap egois, hingga menyeret kamu dan anak-anak dalam masalah ini. Andai saja Mas lebih mendengarkan kamu dulu, tentu kondisi kita saat ini akan berbeda.
"Dan Mas mau berterima kasih sama kamu, karena selama ini telah sabar menghadapi Mas yang egois. Kamu sudah berkorban banyak hal untuk Mas, untuk keluarga kita. Mas tahu kamu lebih senang hidup di kampug daripada di kota. Mas juga paham keberatan kamu waktu kita pindah dari Bandung ke Jakarta. Dan alih-alih mendengarkan kamu, Mas malah abai dan tetap teguh pada pendirian Mas, padahal keputusan-keputusan yang Mas ambil menang tanpa pertimbangan yang kuat.
"Dan sebagai istri, kamu tetap mengikuti Mas ke mana pun Mas pergi, tetap mendukung keputusan-keputusan Mas selama ini meskipun hanya modal nekat dan intuisi yang seringkali salah. Mas hargai itu, Yan.
"Mas paham kamu tidak bisa mengungkapkan sesuatu dengan lugas, makanya kamu lebih banyak diam. Harusnya Mas lebih banyak memberi kesempatan sama kamu untuk berbicara dan mengutarakan pendapat, bukan malah sebaliknya. Maafkan Mas ya, Yan."
Tidak ada yang dapat Yani katakan kepada suaminya tersebut, selain hanya menunjukkan linangan air mata yang terus mengucur deras melewati kedua pipinya. Dengan bibir bergetar dan suara yang tercekat, Yani mulai berbicara.
"Aku juga minta maaf Mas... Mengenai tabungan rahasia itu, aku sungguh-sungguh tidak bermaksud untuk menyembunyikannya dari Mas. Tabungan itu sengaja aku buka saat Agus dan Yayuk belum hadir, karena aku pikir saat itu kehidupan kita sudah mulai akan membaik. Jadi aku ingin menyisihkan sebagian dari pendapatanku untuk menabung lagi perlahan-lahan seperti dahulu... Maafkan aku sudah melukai Mas sehingga Mas merasa dikhianati gara-gara keberadaan tabungan itu...
"Aku rasa... Kondisi kita saat ini telah menjadikan kita serakah akan uang, Mas. Seringkali aku berpikir, haruskah kita terus hidup seperti ini? Terlalu memaksakan semuanya padahal memang kita mampunya hanya segini. Kadang aku bingung, sesungguhnya apa yang sedang kita kejar di sini. Mau sampai kapan kita harus memaksa diri untuk terus berusaha dan bertahan dalam ketidakpastian ini. Tapi aku bisa mengerti mengapa Mas melakukan ini semua. Mas ingin kehidupan yang lebih baik, terutama untuk anak-anak kita.
"Jujur aku memang menyesalkan kepindahan kita ke Jakarta yang terlalu terburu-buru. Jika bisa kembali ke masa lalu, aku ingin tinggal di Bandung lebih lama, Mas. Karena aku merasa hidup di sana tidak terlalu berat seperti hidup di sini. Tapi aku juga sadar, seharusnya aku tidak menyalahkan Mas atas kejadian di masa lalu. Mas benar, semua itu musibah. Baik Mas ataupun aku sendiri tidak ada yang tahu, semua akan berakhir seperti ini.
"Tapi di satu sisi aku juga bersyukur. Jika saja kita tidak ditempa dengan ujian seperti ini, mungkin kita tidak akan dipertemukan dengan orang-orang baik seperti Pak Suwito dan Bu Sasmita. Usman juga mungkin tidak akan menemukan potensinya jika kita tetap tinggal di tempat yang lama.
"Aku juga minta maaf ya, Mas. Sudah menyalahkan Mas atas semua keadaan ini. Aku seharusnya tidak melakukan itu."
Yani menghela napas panjang. Ada kelegaan luar biasa dalam dadanya. Segala macam pertanyaan dan uneg-uneg yang selama ini menghimpit dadanya kini terasa lebih ringan. Ternyata memang perlu keberanian besar untuk bisa mengungkapkan sesuatu, apalagi hal tersebut sudah terpendam bertahun-tahun lamanya. Yani senang, kali ini ia tidak memilih untuk diam.
"Mas bisa paham kenapa kamu melakukan itu, Yan. Daripada menyadari kesalahan masing-masing dan berbenah, kita berdua malah mencari kambing hitam satu sama lain. Itu bukan kesalahanmu sepenuhnya. Maafkan Mas sudah membuat kepercayaan yang kamu miliki terhadap Mas jadi goyah."
Abdul menggenggam lembut tangan Yani.
"Kita sama-sama jalan lagi ke depan ya Yan... Mas janji mulai saat ini akan lebih mendengarkan pendapat dan melibatkanmu dalam setiap rencana-rencana bersama..."
"Lalu, bagaimana dengan rencana pulang kampung kita, Mas?" Yani bertanya dengan sedikit ragu.
"Mas sudah punya rencana baru. Nanti kita bicarakan sama-sama ya. Mas ingin berbicara terlebih dahulu dengan Usman. Sebelum kita mulai dengan rencana-rencana baru, Mas ingin memperbaiki hubungan kita terlebih dahulu, memperbaiki hubungan Mas dengan anak-anak. Mas tidak ingin lagi berjalan sendirian... Ke depannya Mas ingin lebih melibatkan kamu dan anak-anak. Dan itu semua, harus dimulai dengan kita sering-sering mengobrol."
Yani tersenyum mendengar ucapan Abdul. Dalam hati, ia juga berjanji untuk belajar mempercayai suaminya sekali lagi.
***
Comments