top of page

PULANG KAMPUNG - a Novel Part 12

BAB 11 - Perenungan Abdul


Abdul memarkirkan motornya di sebuah warkop di pinggir jalan. Rupanya emosinya masih agak tersulut begitu melihat Yani. Sulit sekali rasanya menanamkan dalam diri, bahwa Yani sebenarnya tidak bermaksud membohonginya. Namun egonya mencegah Abdul untuk melakukan hal tersebut.

Rupanya Abdul tidak sendirian di warkop tersebut. Ada beberapa orang yang juga sedang memesan kopi di dekatnya. Dan beberapa diantaranya adalah tukang ojek seperti dirinya.


"Bang, kopi satu ya!" ujar pelanggan di sebelahnya.


"Yang kaya biasa, Bang?" tanya si penjual.


"Iya, yang kaya biasa. Ngopi juga, Mas?" tanya si pelanggan berbasa basi kepada Abdul.


"Ngopi, Bang. Lagi penat di rumah."


"Oalah... Kenapa memangnya, Mas?"


"Biasa Bang... Berantem sama istri," jawab Abdul tersenyum pahit.


Si pelanggan di sebelahnya terkekeh.


"Wajar berantem mah Mas, namanya juga suami istri. Istri saya juga tadi ngambek, gara-gara saya lupa beliin cilok kesukaan dia."


"Banyak drama ya, Bang, hehehe," ujar si penjual menyambung percakapan.


"Iya. Tapi justru itu bumbu-bumbunya, bikin makin cinta!"


Si pelanggan tergelak atas leluconnya sendiri. Abdul semakin tersenyum masam.


"Tapi beneran deh Mas, kita itu perlu sesekali berantem sama pasangan kita. Biar kita tahu, sebenarnya selama ini komunikasi kita udah nyambung apa belum. Jangan-jangan selama ini kita yang asik jalan sendiri, sementara pasangan kita sebenarnya keberatan, tapi diem-diem aja ga ngomong karena merasa ga enak," sambung di pelanggan panjang lebar.


"Gaya lu Bang, udah kaya konsultan-konsultan pernikahan aja," uajr si penjual menimpali.


"Ya engga lah... Ini mah rumus dasar rumah tangga. Rumah tangga kalau isinya ga ngobrol terus gimana mau saling ngerti? Bener ga, Mas?" si pelanggan tersebut menyenggol lengan Abdul.


Abdul hanya mengangguk kecil untuk menanggapi. Senyumnya semakin kecut. Kenapa ia merasa tersindir? Abdul kembali mengingat-ingat bagaimana rumah tangganya dengan Yani selama ini berjalan. Yani bilang, katanya ia lelah terus menerus memberi makan ego baginya. Apakah selama ini tanpa sadar ia telah bersikap egois? Rasanya selama ini apa yang ia lakukan selalu demi keluarganya, bukan demi dirinya semata.


Dahulu, memang ia yang lebih menginginkan untuk merantau ke kota, bahkan sejak ia belum menikah dengan Yani. Ia ingin melihat dunia luar selain kampungnya sendiri. Ia ingin keluar dari tempurungnya selama ini. Dan Yani juga dengan sadar menyetujui rencananya itu. Ia ingat, betapa besar harapannya dulu saat ia memutuskan untuk pindah ke kota. Abdul masih bisa mengingat dengan jelas kejadian masa SMP dulu, saat ia harus merawat ibunya yang sedang sakit. Salah satu harapannya adalah ketersediaan fasilitas kesehatan yang memadai, terjangkau, dan mudah diakses. Ia juga ingin Usman, Agus, dan Yayuk kelak bisa bersekolah setinggi-tingginya agar tidak menjadi bodoh seperti dirinya. Ia ingin meningkatkan taraf hidupnya, agar apa yang tidak bisa ia dapatkan di kampungnya dahulu, bisa dinikmati oleh anak-anaknya kelak.


Ia seringkali membayangkan bagaimana kekayaan bisa memberinya banyak pilihan untuk menjalani hidup. Bagaimana mudahnya menjalani hidup saat seluruh kesempatan untuk memilih terbuka lebar. Akses informasi yang mudah, sarana dan prasarana publik yang jauh lebih lengkap dan modern, serta kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa dijalaninya hanya jika ia pindah ke kota. Dan Abdul membawa serta semua harapan itu saat mengajak Yani untuk bersama-sama menjalani kehidupan rumah tangga di tempat yang sama sekali baru. Pada awalnya hal tersebut berjalan lancar, namun entah kenapa semua jadi kacau sejak Abdul memutuskan untuk pindah ke Jakarta.


Ya, Jakarta lah yang penyebab kekacauan di hidup Abdul. Jika saja dulu ia lebh bijaksana untuk menentukan pilihan, tentu keluarganya tidak akan kesulitas seperti sekarang. Jika saja waktu itu dia tidak cepat terbuai akan janji-janji tentang kesusksesan, tentu ia bisa berpikir lebih jernih sebelum terlalu cepat mengambil keputusan. Andai saja waktu itu ia tidak tergesa-gesadan bisa mengambil keputusan dengan penuh pertimbangan, tentu semuanya tidak akan menjadi seperti sekarang. Seandainya bisa, Abdul ingin sekali memutar waktu dan kembali ke masa lalu. Ia akan mencegah Abdul muda untuk mengambil keputusan secara sembrono sebisa mungkin.


Abdul  tercenung dalam perenungannya sendiri. Benar, semua berubah saat ia dengan yakin memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Badul mengingat-ingat kembali kejadian 10 tahun lalu. Saat Abdul menerima kabar tentang ajakan untuk memulai bisnis di Jakarta. Saat ia menelan ide mentah-mentah untuk menggunakan setengah tabungannya sebagai modal. Lalu saat ia mengutarakan ide tersebut kepada Yani, dan mengajak istri dan anaknya tersebut untuk pindah kota. Dan sejauh yang Abdul ingat, Yani memang tidak secara gamblang mengutarakan kesepakatannya kala itu. Hanya keraguan yang ia dengar saat ia melontarkan ide itu kepada sang istri. Jika dipikir-pikir sekarang, Yani memang lebih banyak diam ketika ia cenderung tidak menyetujui sesuatu, seperti waktu ia mengutarakan ide untuk pindah ke Jakarta.


Waktu itu ia begitu yakin dan percaya diri dengan rencananya. Rasa percaya diri yang didasari oleh bayangan-bayangan indah tentang keberhasilan mereka hidup di Jakarta. Bayangan-bayangan indah yang tanpa sadar telah membuat Abdul mengambil keputusan sembrono tanpa pertimbangan dan perhitungan yang rasional, tanpa mempertimbangkan resiko yang akan ia hadapi ketika ia salah mengambil keputusan. Keputusan yang pada akhirnya membuat hubungannya dengan Yani renggang dan nasibnya di Jakarta tidak jelas sampai sekarang. Lebih jauh lagi, ia menyadari bahwa selama ini ia memang kurang melibatkan Yani dalam semua keputusan yang diambilnya, padahal semua keputusan tersebut bukan hanya berdampak pada kehidupannya sendiri, tetapi juga pada istri dan anak-anaknya.


Dengan kesadaran penuh, tiba-tiba saja Abdul diliputi rasa bersalah pada Yani. Ia tadi meninggalkan wanita itu dalam keadaan menangis dan sendirian. Apalagi ia juga menuduh istrinya tersebut telah berbohong, tanpa bertanya terlebih dahulu, mengapa iastrinya itu lebih memilih untuk tidak terbuka perihal tabungan tersebut. Saat ini istrinya pasti merasa sangat sedih akibat ucapan dan perlakukannya hari ini. Bagaimana jika Yani memilih pergi, padahal selama ini ia takkan maju sampai sejauh ini jika bukan karena istrinya. Bagaimana jika Yani memilih menyerah terhadap dirinya karena ia tidak tahan lagi dengan ego Abdul? Padahal selama ini Yani telah berkorban begitu banyak untuk dirinya, untuk keluarganya.


Abdul segera membayar secangkir kopi yang masih setengah utuh itu. Ia pun menyambar kunci motornya yang terletak di atas meja.


"Eh, buru-buru amat, Mas. Mau pulang? Masih sore loh ini padahal," ujar si pelanggan di sebelahnya.


"Iya Bang, saya harus segera pulang ke rumah untuk menyelamatkan pernikahan saya," jawab Abdul sambil lalu.


Si pelanggan dan penjaga warkop hanya melongo mendengar ucapan Abdul.


"Tuh kan, bener apa kata gua! Lu udah kaya konsultan pernikahan, Bang!" Celetuk si penjaga warkop. Sang pelanggan tersenyum lebar mendengar pujian penjaga warkop yang kesekian kalinya.


"Semoga beruntung ya, Mas!"


Si pelanggan setengah berteriak kepada Abdul. Abdul mengangguk dengan mantap. Dalam keremangan malam, ia memacu motornya untuk bergegas pulang.


***

Recent Posts

See All
Perempuan di Sudut Kereta

Kulihat seorang perempuan. Ia duduk termenung di sudut kursi, di sebuah kereta menuju Selatan. Matanya nanar, sesekali terlihat nyalang,...

 
 
 
Lima Menit Saja

Katanya sih, untuk membuat sebuah kebiasaan baru dalam hidup, kita cuma perlu meluangkan waktu selama lima menit saja setiap hari. Aku...

 
 
 
PEMUJA RAHASIA - cerita pendek

Nama mahasiswa berprestasi itu Angga. Salah satu ketua senat yang sukses mencuri perhatian banyak mahasiswi, termasuk aku. Dia...

 
 
 

Comments


  • Facebook
  • Twitte
  • Pinteres
  • Instagram

Thanks for submitting!

© 2023 by Design for Life.
Proudly created with Wix.com

bottom of page