top of page

PULANG KAMPUNG - a Novel Part 11

BAB 10 - Kemiskinan yang Memuakkan


Abdul menjejalkan sisa rokoknya ke dalam asbak. Gelas berisi wedang jahe yang masih setengah penuh ia tinggalkan begitu saja di atas bale-bale. Abdul beranjak sambil bersungut-sungut, tangannya mengepal karena menahan amarah. Ia menyambar kunci motor yang tergeletak di kursi sembari bergegas meninggalkan rumah. Emosinya saat ini bergemuruh di dada. Ingin sekali rasanya ia membanting barang-barang di sekitarnya. Namun akal sehatnya mencegahnya untuk tidak bertindak seenaknya. Menyadari bahwa rumah dan barang-barang yang mereka gunakan bukan miliknya, ia susah payah menahan diri. Satu-satunya yang tidak selamat dari gejolak amarahnya adalah pintu depan yang ia banting dengan sengaja saat ia hendak pergi keluar meninggalkan rumah.


Abdul memacu motornya keluar gang dengan setengah mengebut. Di jam saat ini gangnya sudah mulai sepi, karena para warga telah sibuk memulai aktivitasnya masing-masing sejak pagi buta. Hampir saja ia menabrak angkot yang berhenti mendadak di sekitar mulut gang akibat ia mengebut. Terdengar bunyi berdecit dari motornya, tanda ia mengerem mendadak.


"Angkot sialan!" maki Abdul.


"Apa lu bilang barusan?!" hardik si supir angkot yang ternyata mendengar makian Abdul.


Abdul bergeming. Ia hanya terus memacu motor bututnya hingga jauh meninggalkan si supir angkot yang memaki-maki sambil mengacungkan jari tengahnya ke arah Abdul. Abdul terus berkendara berkeliling tanpa arah tujuan. Masih ada waktu sekitar setengah jam sebelum ia pergi bekerja ke kebun Pak Suwito. Saat ini ia ingin menenangkan pikirannya terlebih dahulu akibat pertengkarannya dengan Yani barusan.


Selama 15 tahun usia pernikahannya dengan Yani, Abdul belum pernah merasa semarah itu pada istrinya. Selama ini ia sangat menghormati dan menyayangi istrinya, sebagaimana ia sangat menghormati dan menyayangi ibunya. Namun mendapati kenyataan bahwa Yani dengan sengaja menyembunyikan sesuatu darinya selama bertahun-tahun telah menggores hati Abdul. Abdul paham mengapa Yani melakukan hal itu, tapi tetap saja ia merasa dikhianati.


Semenjak pertama kali Abdul bertemu dengan Yani di pasar dulu, ia dapat melihat bahwa Yani adalah perempuan yang tangguh. Tidak pernah sedikit pun ia meragukan keteguhan hati Yani, karena istrinya itu telah ditempa dengan berbagai ujian sejak usianya masih kecil. Pun begitu mereka pada akhirnya menikah dan memutuskan untuk pergi merantau, sekalipun Yani tidak pernah memperlihatkan keraguannya pada Abdul. Meski hidup dalam kondisi serba terbatas, wanita itu selalu memberinya dukungan penuh, membuat Abdul percaya bahwa ia bisa meraih mimpi-mimpinya.


Namun kini perasaannya tidak lagi sama. Di balik keteguhan hatinya tersebut, ternyata Yani menyimpan kekecewaan yang begitu besar kepada dirinya selama bertahun-tahun, tanpa pernah Abdul tahu. Mungkin seharusnya Abdul dapat lebih mengerti dan memahami kondisi istrinya saat ini, namun di waktu yang bersamaan Abdul juga sedang merasa kecewa pada istrinya tersebut. Abdul membiarkan angin segar menerpa wajahnya, seolah berharap bahwa dengan cara tersebut angin membawa pergi semua masalahnya terbang jauh.


Ah, seandainya saja ia dan Yani bukan berasal dari keluarga miskin, tentu mereka tidak mengalami semua kejadian pahit ini. Tidak cukupkah mereka ditempa dengan ujian kemiskinan sejak mereka hidup di kampung dulu? Bahkan setelah kini merantau selama 10 tahun pun, bayang-bayang kemiskinan dan keprihatinan itu masih saja mengikuti mereka. Membuat hubungan rumah tangga  yang tadinya harmonis dan hangat menjadi dingin dan penuh amarah hanya gara-gara perkara uang yang jumlahnya tak seberapa. Tapi tentu saja Abdul tak berhak berpendapat seperti itu. Nyatanya, jumlah uang yang tak seberapa itu memang sangat berharga bagi mereka.


Abdul menghentikan motornya di sebuah taman kota yang teduh dan terlihat sepi. Ia berhenti sejenak, mengecek jam di ponselnya, dan kembali memutar balik motornya untuk kemudian segera menemui Pak Suwito di kebun tempat ia bekerja. Sial, bahkan dalam kondisi penat dan butuh menenangkan diri sejenak pun ia tetap harus bekerja demi menyambung pundi-pundi rupiah.


***


Tiga puluh menit berlalu sejak pertengkarannya dengan Abdul, Yani masih tercenung di dalam kamarnya. Tangisnya kini mereda, namun isakannya masih sesekali terdengar, membuat napasnya semakin tersengal-sengal. Ia menepuk-nepuk dadanya, berusaha untuk menenangkan diri sendiri. Selama 15 tahun menikah dengan Abdul, baru kali ini mereka bertengkar hebat. Mungkin ini sebagai akibat dari menahan segala rupa uneg-uneg yang seharusnya ia sampaikan sejak dahulu. Namun tetap saja, reaksi Abdul tadi begitu membuatnya terkejut. Yani tak menyangka Abdul akan semarah itu kepadanya. Entah apakah ini gara-gara perkara tabungan rahasia itu, atau gara-gara rencana pulang kampung yang tak ia setujui.


Salahkah jika selama ini ia menyimpan sedikit tabungan tanpa diketahui oleh suaminya? Toh uang tersebut tidak pernah sekalipun ia gunakan sendiri. Malah ia tujukan demi kepentingan anak-anaknya kelak, karena uang tabungan pendidikan yang Abdul siapkan dahulu masih jauh dari kata cukup. Meskipun uang yang ia kumpulkan tak seberapa, ia yakin tabungannya tersebut akan bisa digunakan sebagai tambahan untuk kepentingan anak-anak mereka.


Sebenarnya Yani tak habis pikir dengan sikap Abdul tersebut. Bukankah seharusnya ia berterima kasih karena telah dibantu? Yani sedikitpun tidak merasa terpkasa ketika harus menyisihkan sebagian dari pendapatannya sebagai asisten rumah tangga, karena mungkin hal itu yang dapat ia lakukan satu-satunya demi meringankan beban suaminya. Namun di balik itu semua, memang kepercayaan Yani terhadap Abdul sedikit pudar. Sejak kejadian yang menyebabkan mereka ada pada kondisi sekarang, Yani masih tak bisa menerima kenyataan, bahwa nasib baik yang pernah mereka terima tak kunjung kembali. Jika saja Abdul lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan, tentu hidup mereka tidak akan seperti sekarang. Rasanya nasib seperti hendak mempermainkan mereka.


Yani paham bahwa suaminya membawa segudang mimpi dan harapan ketika mereka memutuskan untuk merantau ke kota. Sebagai istri, ia ingin mendukung suaminya hingga akhir, namun ia merasa lelah. Kapankah nasib baik itu akan datang? Sementara hal yang membuat mereka semangat bekerja dari hari ke hari adalah mimpi-mimpi tentang kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Namun yang terjadi malah sebaliknya, seolah semesta tak ingin mereka mendapatkan secercah harapan. Yani sungguh ingin memercayai Abdul sepenuh hati, namun dengan kondisi mereka saat ini rasanya sangat sulit. Banyak hal yang harus dipikirkan hari ini ketimbang untuk hari esok, karena percuma saja mereka merancang masa depan jika perut mereka hari ini kelaparan.


Dan setelah semua pengorbanan itu, Yani tidak habis pikir mengapa suaminya tega menyebutnya berbohong. Kenyataannya, Yani tidak bermaksud berbohong, hanya saja ia enggan terbuka karena takut jika Abdul mengetahui keberadaan uang tersebut, ia akan menggunakannya untuk hal lain. Dan hal itu terbukti hari ini. Respon Abdul sungguh di luar dugaannya. Agaknya kehidupan Jakarta yang keras dan kemiskinan adalah kombinasi yang pas untuk mengubah karakter seseorang yang tadinya lembut menjadi keras. Dan tak dapat dipungkiri, sebagian diri Abdul pun sekarang sudah berubah. Emosinya menjadi lebih gampang tersulut akibat didera kelelahan setiap hari.


Yani bisa memahami sikap Abdul selama ini. Bagaimana ia bekerja keras untuk mereka agar perut mereka senantiasa terisi. Bagaimana Abdul mengharapkan masa depan yang cerah bagi mereka semua di masa depan kelak, terutama bagi anak-anaknya. Ia tahu persis bagaimana Abdul berusaha dengan keras untuk menghidupi mimpi-mimpinya selama ini. Tapi Yani masih tak dapat memahami mengapa suaminya tersebut begitu ngotot. Apakah, kalau kelak mimpi-mimpi itu tidak terwujud mereka akan sengsara? Toh, saat ini pun mereka sudah melarat, tak perlu lah bekerja sengotot itu hanya demi memuaskan ego semata. Yani lelah terus memaksa diri untuk berusaha. Dan yang lebih menyakitkan, Yani merasa patah hati karena Abdul memilih pergi meninggalkannya seperti ini. Jauh dari apa yang ia janjikan saat meyakinkannya dahulu untuk ikut merantau ke kota demi merubah nasib.


Yani melirik jam dinding di kamarnya. Sudah jam 8 lewat 15 menit. Ia harus bergegas. Pekerjaan telah menanti. Yani bisa saja ijin untuk datang sedikit terlambat, namun ia malas jika harus menjelaskan alasan ia telat. Yani pun segera membasuh muka ke kamar mandi. Ia menghapus jejak-jejak air mata yang tersisa di pipinya. Matanya masih terlihat sedikit sembap, namun tak masalah. Pekerjaannya tak mengharuskan untuk sering-sering melakukan kontak mata, jadi majikannya tidak akan terlalu memperhatikan. Ia mematut diri di cermin, menata penampilan sekaligus berusaha menata hatinya. Kemiskinan ini sungguh sangat memuakkan, batin Yani.


***


Hari ini Usman sampai di rumahnya pada sore hari menjelang maghrib. Kegiatan OSIS telah membuatnya sibuk di sekolah hampir seharian. Selain aktif sebagai murid berprestasi, ia juga aktif di OSIS dan beberapa ekstra kurikuler sekaligus. Kali ini ia langsung ulang ke rumah, tidak menyempatkan mampir ke pasar seperti biasanya karena Bu Sasmita dan kedua adiknya pasti sudah pulang dari pasar. Ia yakin ibunya juga pasti sudah sampai rumah lebih dahulu. Begitu turun dari angkot, Usman berjalan dengan langkah gontai. Entah kenapa hari ini perasaannya tidak enak, ia enggan cepat-cepat sampai rumah.


Sesampainya di rumah, Usman mengetuk pintu dengan lemah, namun tidak ada jawaban. Ia langsung masuk dan disambut dengan keheningan. Suasana rumah itu begitu sepi. Rupanya bapak dan ibunya belum kelihatan batang hidungnya. Hanya ada Bu Sasmita yang tengah duduk-duduk santai sambil menikmati teh hangat di teras belakang rumah.


"Usman... Sudah pulang?" sapa Bu Sasmita.


"Eh, iya Bu..." Usman mencium tangan Bu Sasmita.


"Kok sepi ya? Ibu sama Bapak belum di rumah?"


"Belum pada pulang Usman... Mungkin bapak dan ibumu hari ini pulang agak larut. Menurut pengamatan Ibu, sepertinya mereka sedang ada masalah..."


Usman terdiam. Memang beberapa hari terakhir ini Usman selalu melihat kedua orang tuanya terlibat dalam perdebatan kecil, namun ia tak tahu masalah apa yang sebenarnya sedang mereka hadapi dan sebesar apa masalah tersebut.


"Ibu cuma menebak-nebak sih.... Soalnya sikap ibu dan bapakmu agak beda belakangan ini. Tapi sudahlah... Orang dewasa selalu punya masalah, wajar kalau sesekali berdebat atau bertengkar. Ibu yakin orang tuamu akan baik-baik saja."


Usman menanggapi obrolan Bu Sasmita dengan anggukan kecil. Bahkan tanpa bapak dan ibunya bercerita pun, Bu Sasmita mampu melihat dan menebak jika keduanya memang sedang tidak akur.


"Adik-adik ke mana, Bu?"


"Mereka kecapean akibat main-main di pasar seharian tadi. Jadi begitu pulang langsung mandi, makan, lalu tidur. Tadi sebelum berangkat kerja, ibumu sempat mampir ke pasar, ketemu Ibu. Katanya hari ini pulang agak telat karena majikannya lembur, jadi ia harus tinggal lebih lama untuk menjaga anak-anaknya sembari menunggu majikannya pulang. Jadilah Ibu juga mengajak bermain Agus dan Yayuk lebih lama biar mereka tidak bosan di rumah."

Lagi-lagi Usman hanya mengangguk. Karena tidak tahu lagi apa yang harus dibicarakan, akhirnya Usman pamit kepada Bu Sasmita.


"Maaf Bu, saya ke kamar mandi dulu ya, mau bersih-bersih."


"Iya... Kamu juga istirahat Usman. Paling sebentar lagi ibumu pulang. Jangan terlalu memikirkan masalah yang sedang dihadapi bapak dan ibumu ya. Mereka sudah dewasa, pasti bisa mencari dan menemukan jalan keluar sendiri."


Usman tidak lagi menanggapi nasehat wanita sepuh itu. Ia  cukup terhibur dengan nasehat Bu Sasmita tersebut, meski masih terasa mengganjal. Usman pun segera berlalu dari hadapan Bu Sasmita. Bagaimana pun Bu Sasmita telah bersikap seperti keluarga selama ini, Usman tetap merasa sungkan. Ia segera mandi, berganti baju, dan makan malam. Diceknya buku-buku pelajaran sekolah. Ah, ada PR sejarah yang harus segera dikerjakannya untuk dikumpulkan esok pagi. Tak terasa sudah satu jam berlalu sejak ia berkutat dengan PR-nya. Dan hampir pukul 7 malam ibunya belum juga sampai. Baru tiga puluh menit kemudian, sosok yang ia tunggu-tunggu itu muncul.


Usman dan ibunya tidak berbicara banyak. Sama seperti dirinya, tanpa perlu banyak kata, kehadiran mereka satu sama lain sudah cukup memberikan ketenangan. Namun malam itu Usman merasakan ada sesautu yang berbeda. Ibunya terlihat sangat lelah, ia tampak tidak bersemangat seperti biasanya. Sorot matanya terlihat sendu dan sembab. Apakah ibunya habis menangis? Usman tidak berani bertanya. Ia hanya mencuri pandang sesekali ke arah ibunya, memastikan ia baik-baik saja.


Pada pukul 9.30 malam, bapaknya pulang. Usman yang semula hendak menyapa segera mengurungkan niat. Ibunya yang biasa menyambut kepulangan bapaknya dengan sapaan dan senyuman pun kali ini bersikap sangat dingin. Atmosfer rumah itu terasa menyesakkan dengan kehadiran mereka berdua. Sebagai anak remaja yang beranjak dewasa, Usman sudah cukup peka untuk menangkap sinyal bahwa ada yang tidak beres antara bapak dan ibunya. Keduanya tampak bersikap acuh.


Ia bisa melihat mata ibunya yang tampak mulai berkaca-kaca. Sepertinya memang ada masalah besar diantara kedua orang tuanya. Mereka tampak saling menghindar satu sama lain saat berpapasan. Ternyata bapaknya hanya mampir pulang sebentar. Setelah mandi dan berisitiahat sejenak, ia bergegas pergi lagi. Bukan sesuatu yang biasa dilakukan oleh bapaknya setelah seharian pulang bekerja. Usman memilih diam dalam keheningan yang tegang itu. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Baik menenangkan ibunya maupun menahan bapaknya pergi sepertinya bukan ide yang baik, karena ia tidak tahu permasalahan apa yang memicu pertengkaran mereka.


Bapaknya pergi dengan setengah membanting pintu, meninggalkan bunyi debam yang lumayan keras. Ibunya kini tampak terisak-isak, bersembunyi di dapur sambil menjerang air untuk menyeduh teh. Usman semakin bingung dan salah tingkah menghadapi kedua orang tuanya. Apa yang harus ia lakukan untuk menghadapi situasi seperti ini?


PR-nya sudah selesai sedari tadi, sementara untuk lanjut belajar seperti biasa ia tidak berselera. Ah, bahkan di saat seperti ini pun yang ada di pikirannya hanya belajar. Usman merasa egois. Ia anak pertama yang sebentar lagi beranjak ke usia dewasa. Namun ia tidak paham bagaimana menangani masalah orang dewasa seperti ini. Apa yang harus ia lakukan pada saat seperti ini?

Kemudian entah mendapat dorongan dari mana, Usman memberanikan diri untuk menghampiri ibunya di dapur.


"Bu..."


Yani tampak kaget dengan kehadiran anak sulungnya yang datang tiba-tiba. Ia segera memalingkan muka, menyembunyikan sendu di wajahnya. Ia memaksakan wajahnya agar terlihat sedatar dan setenang mungkin seperti biasanya.


"Ada apa, Usman?"


"Usman... Minta maaf, Bu."


Yani terhenyak. Ia memandang anak sulungnya dengan mata nanar.


"Usman tahu, bapak dan ibu sedang bertengkar. Kalau itu gara-gara Usman, Usman minta maaf.

Usman belum bisa membantu meringankan kesulitan-kesulitan yang dihadapi bapak dan ibu."


Mendengar perkataan anak sulungnya tersebut, air mata Yani tidak terbendung lagi. Ia tak mampu lagi menyembunyikan segala kesedihannya dari anak bujangnya tersebut.


"Usman... Bukan salah kamu. Bapak dan Ibu hanya sedang mengalami perdebatan kecil. Justru harusnya Ibu dan Bapak yang meminta maaf karena kamu jadi harus menyaksikan ini semua."


"Usman bisa bantu apa, Bu? Biar Ibu dan Bapak akur lagi, biar Bapak dan Ibu tidak terlalu capek setiap hari?"


"Tidak ada, Usman," ucap Yani lirih sembari membelai kepala anak sulungnya tersebut. Ia tidak tahu kalau ternyata Usman sepeka ini terhadap kondisi mereka.


"Bapak dan Ibu yang bertanggung jawab terhadap kamu, terhadap adik-adikmu. Bukan kamu yang harus bertanggung jawab terhadap kami. Dengan kamu rajin belajar, jadi murid berprestasi, membantu mengasuh adik-adikmu setiap pulang sekolah, itu sudah sangat membantu Ibu. Saat ini biarkan Bapak dan Ibu mencari jalan keluar dengan cara kami sendiri."


"Usman minta maaf ya, Bu..."


"Sudah, jangan minta maaf terus. Kamu tidak salah apa-apa," Yani memeluk Usman sembari berlinang air mata.


Dalam pelukan ibunya, Usman menitikkan air mata. Ia dapat merasakan beban ibunya begitu besar. Hanya ini satu-satunya hal yang dapat ia lakukan. Meminta maaf karena belum mampu meringankan beban kedua orangtuanya.


***

Recent Posts

See All
Perempuan di Sudut Kereta

Kulihat seorang perempuan. Ia duduk termenung di sudut kursi, di sebuah kereta menuju Selatan. Matanya nanar, sesekali terlihat nyalang,...

 
 
 
Lima Menit Saja

Katanya sih, untuk membuat sebuah kebiasaan baru dalam hidup, kita cuma perlu meluangkan waktu selama lima menit saja setiap hari. Aku...

 
 
 
PEMUJA RAHASIA - cerita pendek

Nama mahasiswa berprestasi itu Angga. Salah satu ketua senat yang sukses mencuri perhatian banyak mahasiswi, termasuk aku. Dia...

 
 
 

Comments


  • Facebook
  • Twitte
  • Pinteres
  • Instagram

Thanks for submitting!

© 2023 by Design for Life.
Proudly created with Wix.com

bottom of page