top of page

PULANG KAMPUNG - a Novel Part 10

Updated: May 5, 2024

BAB 9 - Tabungan Rahasia


Keesokan paginya, diam-diam Abdul mulai menghitung-hitung seluruh simpanan uang yang mereka punya. Selama ini Yani dengan rapi mencatat pemasukan dan pengeluaran mereka per bulan di buku catatan kecil. Sebenarnya kalau dihitung-hitung secara keseluruhan, pendapatan mereka tidak terlalu kecil, tapi memang tidak pernah cukup. Dari pekerjaan yang dilakukan oleh Abdul sebagai tukang tanaman hias, kurir barang belanjaan, dan tukang ojek, tetap saja tidak cukup untuk membiayai keluarga kecilnya. Ditambah dengan Yani bekerja sebagai asistem rumah tangga pulang – pergi, uang yang mereka kumpulkan bisa menguap dengan cepat. Selama 10 tahun terakhir hidup di Jakarta dengan pendapatan pas-pasan, tabungan tunai yang mereka punya bahkan tidak sampai menyentuh nominal jutaan. Jikapun ada, Abdul tidak yakin Yani akan mengijinkan uang simpanan tersebut untuk digunakan.


Abdul memeriksa laci-laci nakas di samping tempat tidur. Ah, ini dia. Buku tabungan bersama atas namanya sendiri dan Yani. Persis seperti dugaan Abdul, tidak ada angka fantastis yang tertera di rekening koran tersebut. Saat ia hendak mengembalikan buku catatan keuangan dan buku tabungan tersebut, tanpa sengaja Abdul melihat ada buku tabungan lain yang letaknya agak tersembunyi. Buku tabungan tersebut disimpan di bagian paling bawah dari berbagai macam tumpukan buku dan catatan keuangan. Abdul mengambil buku tabungan tersebut. Tertera atas nama Yani. Abdul mengintip keluar, memastikan Yani tidak berada di sekitar kamar. Saat itu Yani tengah berbincang dengan Bu Sasmita untuk mempersiapkan dan menjajakan jajanan di pasar tempat beliau berjualan.


Abdul menutup pintu kamar, memastikan Yani tidak mengetahui tindakanya. Ia kembali memeriksa buku tabungan tersebut. Hmmm... Abdul tidak tahu kalau selama ini Yani memiliki buku tabungan pribadi atas namanya sendiri. Perlahan ia membuka buku tabungan tersebut dan merasa sedikit terkejut. Tertera nominal sebesar 3.200.000 rupiah, dan dibuka sekitar 7 tahun yang lalu, saat Yani sedang hamil Agus. Tampaknya setelah itu tidak ada pergerakan yang signifikan dalam rekening koran tersebut, kecuali hanya setoran dalam jumlah kecil setiap bulannya, antara 20.000 hingga 50.000 rupiah. Nominal yang sangat kecil jika dipotong dengan biaya admin bank setiap bulannya dan nilai rupiah yang kian merosot akibat tergerus inflasi setiap tahun. Agaknya semenjak kelahiran anak keduanya, Yani semakin sulit menyisihkan sebagian dari pendapatannya karena kebutuhan terus bertambah.


Perasaan Abdul campur aduk. Di satu sisi ia senang mendapati jumlah uang yang lumayan, sehingga ada kemungkinan bagi mereka untuk bisa pulang kampung tahun ini. Namun di sisi lain ia juga merasa dikhianati oleh istrinya. Bagaimana mungkin selama ini istrinya menyimpan tabungan secara diam-diam dan tidak pernah menceritakannya sekalipun, bahkan setelah seluruh pendapatannya ia berikan kepada Yani? Untuk apa Yani menyembunyikannya? Padahal selama ini ia selalu terbuka tentang segala hal kepada istrinya tersebut. Abdul tidak habis pikir. Seburuk itukah dirinya di mata istrinya, sehingga Yani menyembunyikan hal sepenting ini darinya?


Sambil meredakan emosinya, Abdul kembali menyimpan buku tabungan tersebut ke tempatnya. Ia menyusun kembali tumpukan buku seperti sedia kala, agar Yani tidak menyadari bahwa Abdul telah menemukan harta karun tersembunyi yang ia miliki. Meskipun perasaan dan egonya merasa tersakiti sebagai seorang suami, Abdul berusaha berpikir dengan kepala dingin. Ia tidak boleh tersulut emosi begitu saja, pikirnya. Setelah merasa emosinya sedikit reda, ia membuka pintu kamar dan melangkah keluar menuju dapur. Di sana, Yani masih terlihat sibuk dengan Bu Sasmita.


"Selamat pagi, Bu. Sudah mau berangkat ke pasar?" sapa Abdul berbasa-basi.


"Oh iya, Nak Abdul. Sedikit lagi selesai. Untung Dik Yani selalu siaga membantu Ibu," ujar Bu Sasmita penuh senyum.


"Ah, cuma bantu sedikit saja Bu. Ibu jauh lebih banyak membantu saya dan Mas Abdul," sahut Yani.


"Mas gimana? Badannya sudah enakan apa masih merasa capek? Itu aku buatkan wedang jahe tadi subuh. Diminum ya, Mas," ujar Yani kepada dirinya.


"Oh... Ya, terima kasih Yan. Nanti Mas minum. Kamu hari ini berangkat kerja jam berapa Yan?" tanya Abdul dengan ekspresi datar. Ternyata emosinya belum begitu reda. Ia menahan kekesalannya selama berbicara dengan Yani.


"Hari ini aku mulai kerja jam 9 pagi. Kenapa, Mas?"


"Gapapa... Ada sesuatu yang pengin Mas obrolin ke kamu. Tentang pembicaraan kita sebelumnya..." Abdul memberi kode tersirat kepada Yani. Ia tidak ingin pembicaraannya tersebut didengar oleh Bu Sasmita. Yani mengangguk, menangkap kode Abdul.


Setengah jam kemudian, Yani telah selesai membantu Bu Sasmita. Ia segera mencuci tangan dan menemui Abdul di teras belakang rumah. Sementara Bu Sasmita berangkat ke pasar dengan membawa serta kedua anaknya, Agus dan Yayuk. Mereka berangkat bersamaan dengan Usman yang hendak pergi ke sekolah dengan berjalan kaki sampai keluar gang, untuk kemudian menyambung naik angkot.


Seperti biasa, Abdul tengah menyesap rokok pertamanya di pagi hari. Namun kali ini dengan ditemani segelas wedang jahe buatan Yani, bukan kopi yang biasa ia minum. Yani duduk di atas bale-bale di hadapan Abdul. Ia menunggu hingga Abdul berbicara terlebih dahulu.


"Yan... Pembicaraan kita tempo hari tentang pulang kampung, menurutmu gimana?"


"Gimana apanya, Mas?"


"Ya, menurutmu sebaiknya kita ikuti saran ambu untuk pulang, atau tetap di sini?"


"Hhhh... Entahlah, Mas. Jujur aku juga sebenarnya kepengin pulang. Tapi mau pulang pakai apa? Kita ga punya uang, Mas," Yani menjawab sembari menghela napas.


"Jangan bohong kamu, Yan. Mas tahu, kamu punya uang simpanan sendiri!" Abdul tak mampu lagi menahan kekesalannya.


"Maksud Mas apa?"


"Mas tadi sedang memeriksa catatan keuangan kita. Lalu Mas lihat ternyata kamu selama ini punya tabungan sendiri. Kok bisa selama ini kamu menyembunyikannya dari Mas?" cecar Abdul.

Yani terdiam. Oh, ternyata itu sebabnya. Dari awal Yani sudah menangkap sinyal kalau suaminya tersebut seperti tengah menahan amarah. Ternyata akhirnya Abdul mengetahui perkara tabungan yang selama ini ia simpan sendiri.


"Iya betul Mas, aku punya tabungan sendiri. Terus kenapa, Mas?"


"Kenapa bagaimana, Yan. Itu artinya kamu bohong sama Mas selama ini. Kenapa kamu tidak memberi tahu Mas, kalau kita punya sedikit tabungan? Kita bisa pulang dengan uang itu, Yan!"


"Mas, aku ga bermaksud bohong. Tapi aku memang sengaja tak ingin memberi tahu Mas karena hal ini. Uang itu aku kumpulkan dengan susah payah untuk simpanan anak-anak kita, Mas..."


"Tapi uang buat anak-anak sudah aku siapkan Yan. Kan kamu tau sendiri, dari awal aku selalu mengutamakan untuk persiapan pendidikan mereka."


"Iya, tapi ga cukup Mas! Kamu pikir apa yang kamu siapkan selama ini sudah cukup? Masih jauh dari kata cukup, Mas. Anak kita sekarang ada 3. Semuanya butuh sekolah!"


"Jadi kamu meremehkan aku, Yan?"


"Mas! Aku ga pernah meremahkan kamu sama sekali. Aku kerja itu ya sama-sama buat kita, buat anak-anak. Mas, ngerti ga sih?" Yani ikut naik pitam. Bisa-bisanya dengan segala pengorbanannya selama ini, ia malah dituduh berbohong.


"Ya tapi kenapa harus sembunyi-sembunyi, Yan? Kenapa tidak terus terang sama aku?"


"Karena aku susah untuk percaya sama kamu lagi, Mas."


Akhirnya kata-kata tersebut keluar. Perasaan yang dipendam Yani selama sepuluh tahun terakhir setelah kejadian yang mengantarkan mereka ke titik terendah saat ini, akhirnya termuntahkan, tepat di depan wajah suaminya.


Abdul terdiam, berusaha mencerna kata-kata Yani barusan.


"Kamu... ga percaya sama aku, Yan? Setelah semua yang aku kasih ke kamu dan anak-anak? Yan, semua penghasilanku dari ketiga pekerjaanku, aku kasih ke kamu. Dan kamu masih bisa bilang tidak percaya aku?"


Yani menggigit bibir menahan tangis.


"Aku... aku trauma dengan kejadian itu, Mas. Kamu tidak tahu betapa takutnya aku saat para debt collector itu datang. Betapa aku khawatir saat kamu pulang dalam keadaan babak belur. Aku sudah minta kamu untuk berhati-hati sebelum kita pindah ke Jakarta, Mas. Tapi kamu ingat apa yang kamu katakan? Bahwa ini kesempatan besar, seolah-olah ini kesempatan sekali seumur hidup. Kamu ceroboh dengan keputusan tersebut, Mas. Kamu ceroboh dengan satu-satunya tabungan yang kita miliki. Sekarang kamu lihat keadaan kita? Bahkan untuk bisa kembali ke titik semula saja rasanya susah!" Yani terisak di tengah pembicaraannya.


"Yan, itu musibah! Mana aku tahu kejadiannya akan seperti ini. Kenapa kamu jadi menyalahkan aku?"


"Kamu terlalu serakah, Mas! Kamu dan mimpi muluk-mulukmu itu, sudah menyeret kita semua ke dalam kondisi sekarang!" Yani tidak tahan lagi. Amarahnya kini benar-benar meledak.


"Itu semua Mas lakukan demi kebaikan kita, Yan!"


"Aku paham, Mas. Tapi kamu selalu bertindak tanpa mempertimbangkan resikonya. Seperti sekarang ini. Kamu ngotot untuk kita pulang kampung, padahal tabungan saja kita tidak punya!"


"Kita bisa pakai tabungan kamu untuk sementara waktu, Yan. Itu lebih dari cukup untuk kita pulang kampung."


"Mas, aku sudah bilang, tabungan itu aku persiapkan untuk anak-anak. Uang itu susah payah aku kumpulkan demi kebutuhan mereka. Biaya untuk pulang tidak sesederhana itu, Mas. Kita perlu ongkos pulang pergi untuk 5 orang. Kita perlu persiapan membawa bekal untuk anak-anak selama di perjalanan, perlu membawakan sesuatu untuk orang tua kita."


"Ah, itu lagi - itu lagi yang dibahas. Kan aku sudah bilang, kita cukup bawa badan saja."


"Ga bisa, Mas. Kita sudah 10 tahun tidak pulang. Kembali ke kampung dengan membawa tangan kosong, sama saja menunjukkan kondisi kita yang melarat!"


Abdul terhenyak mendengar pernyataan Yani yang begitu lugas. Perkataan itu benar, namun sungguh mengoyak egonya sebagai laki-laki. Bagaimana mungkin, istrinya yang selama ini ia percaya dengan sepenuh hati bisa mengatakan hal menyakitkan seperti ini?


"Capek aku ngomong sama kamu, Yan!"


"Aku lebih capek sama kamu, Mas. Aku capek harus memberi makan dan melindungi egomu terus menerus!"


Yani beranjak dari sisi Abdul dan masuk ke dalam kamar. Isakannya terdengar dalam dan pedih.


***

Recent Posts

See All
Perempuan di Sudut Kereta

Kulihat seorang perempuan. Ia duduk termenung di sudut kursi, di sebuah kereta menuju Selatan. Matanya nanar, sesekali terlihat nyalang,...

 
 
 
Lima Menit Saja

Katanya sih, untuk membuat sebuah kebiasaan baru dalam hidup, kita cuma perlu meluangkan waktu selama lima menit saja setiap hari. Aku...

 
 
 
PEMUJA RAHASIA - cerita pendek

Nama mahasiswa berprestasi itu Angga. Salah satu ketua senat yang sukses mencuri perhatian banyak mahasiswi, termasuk aku. Dia...

 
 
 

Comments


  • Facebook
  • Twitte
  • Pinteres
  • Instagram

Thanks for submitting!

© 2023 by Design for Life.
Proudly created with Wix.com

bottom of page