PULANG KAMPUNG - a Novel Part 3
- Primawati Kusumaningrum
- Apr 11, 2024
- 8 min read
Updated: May 4, 2024
BAB 2 - Cangkang Kemiskinan
"Abdul mau merantau Bu," kata Abdul suatu hari. Saat itu, usianya baru beranjak 19 tahun.
"Rek indit ka mana atuh, Dul?" Abahnya menimpali.
"Bosen hidup gini-gini aja Bah, capek."
"Harusnya kamu bersyukur Dul, kita masih bisa makan setiap hari saja sudah cukup."
"Cukup buat siapa, Bah? Hirup teh kan lain perkara dahar wungkul," Abdul menjawab dengan agak ketus. Ia begitu muak pada kehidupannya yang monoton saat itu.
"Abdul!" Ambunya menegur Abdul.
"Maafin Abdul, Bah," Abdul buru2 menambahkan. Hanya kepada ibunya saja ia tidak akan berani menjawab dengan suara tinggi, apalagi sampai bernada ketus.
"Abdul bosan hidup kita gini-gini aja, Bah. Abah sama Ambu mau sampai kapan jadi buruh tani terus? Lahan-lahan sawah makin sedikit, kita juga ga punya tanah sendiri, selalu saja yang digarap tanah milik orang lain."
"Ya gapapa kan? Yang penting uang yang kita hasilkan itu halal," Abahnya menjawab dengan sabar.
Ah, pikiran abah terlalu sederhana. Tidakkah abah pernah memiliki tujuan yang lebih besar dari sekarang? Abdul tak habis pikir, bagaimana mungkin kedua orang tuanya tidak pernah merasa bosan dengan kehidupan yang dijalaninya?
"Ya ga bisa gitu atuh, Bah. Jaman udah berubah jauh, masa hidup kita ga ikut berubah. Kalau suatu saat semua lahan sawah di sini habis, Abah sama Ambu mau hidup bagaimana?"
"Kamu tu ga usah mikir kejauhan, Dul. Sampai hari ini hidup kita baik-baik saja. Abah masih bisa mencukupi kebutuhan perut kamu sama Ambu. Abah tidak menemukan alasan mengapa hidup kita harus ikut berubah sesuai jaman. Kita hidup hanya bertiga, Abah dan Ambu juga tidak punya saudara, apalagi yang harus dikhawatirkan selama kita bisa memenuhi isi perut kita?"
"Ah, Abah emang ga ngerti. Ya itu kan sekarang, Bah. Gimana dengan 5 tahun lagi, 10 tahun lagi? Abah yakin kita masih bisa hidup cukup dengan hanya menjadi buruh tani? Lagian versi cukup menurut Abah beda dengan versi Abdul," tukasnya tidak sabar.
"Menurut kamu, hidup kita seharusnya seperti apa memangnya?" Ambunya turut menyambung obrolan kedua laki-laki tersebut, berusaha menengahi sebelum salah satunya kembali menyahut dengan garang.
Abdul terdiam. Sesungguhnya ia pun bingung harus menjawab apa. Bayangan tentang masa depan selalu buram baginya. Ia tidak pernah benar-benar memikirkan apa yang ia mau, tidak pernah pula membayangkan kehidupan seperti apa yang ia inginkan kelak. Hanya ini satu-satunya kehidupan yang pernah ia jalani. Hanya ini satu-satunya kehidupan yang ia tahu saat ini.
Namun satu hal yang ia ketahui dengan pasti, ia tidak ingin hidup seperti ini selamanya. Terkungkung dalam cangkang kemiskinan dengan dibalut kata-kata bersyukur dan 'hidup harus prihatin.' Dan ia malu jika harus terus hidup dengan belas kasihan dari orang-orang di sekitarnya. Tak terhitung berapa kali tetangga-tetangga sekitar mereka memberi bantuan, entah dalam bentuk beras, uang, atau lauk pauk. Setiap tahun, keluarganya selalu masuk dalam daftar penerima zakat. Bagi kedua orang tuanya, hal tersebut adalah berkah, rezeki yang harus selalu disyukuri apapun bentuknya. Lain bagi Abdul, ia sungguh merasa muak menjadi orang dengan tangan di bawah terus menerus.
"Abdul belum tau, Ambu. Tapi Abdul ingin keluar dari kampung ini. Abdul ingin melihat dunia luar seperti apa. Dan jika beruntung, Abdul ingin memiliki pilihan yang berbeda untuk menjalani hidup," Abdul akhirnya menjawab pertanyaan Ambunya dengan lirih yang tertahan.
***
Kampung tempat tinggal Abdul berjarak tempuh kurang lebih 7-8 jam dari kota tempat tinggalnya saat ini. Jarak yang sebenarnya tidak terlalu jauh jika ditempuh dengan perjalanan darat. Namun memang membutuhkan waktu yang lumayan lama, dan tidak bisa dicapai hanya dengan sekali jalan. Untuk sampai di kampungnya, ia setidaknya butuh 2 sampai 3 kali pindah kendaraan.
Abdul tidak lulus sekolah. Pendidikan tertingginya adalah sampai SMP kelas 2. Alasan ia akhirnya putus sekolah adalah kombinasi dari kebodohan, kemalasan, kemiskinan, dan keterbatasan karena harus merawat ibunya yang sakit saat ayahnya sedang bekerja. Sementara kedua orang tua Abdul hanya bekerja sebagai buruh tani yang penghasilannya tidak tetap. Abdul sendiri di sekolah bukan termasuk murid yang istimewa. Ia tidak bodoh, tetapi juga tidak pintar. Saat SMP, ibunya sempat sakit-sakitan sehingga mau tidak mau, ia jadi sering membolos karena harus merawat ibunya di rumah. Sementara sang ayah tetap bekerja dengan penghasilan yang kian pas-pasan.
Demi rasa sayang dan baktinya pada sang ibu, ia rela meninggalkan segala tetek bengek tentang sekolahnya. Ia tak sampai hati jika harus meninggalkan ibunya yang sedang sakit terbaring seorang diri saat ditinggal olehnya untuk pergi sekolah. Dan ia juga tak mau jika ayahnya sampai berhenti bekerja hanya karena harus mengurus ibunya. Bagaimana pun, ayahnya adalah tulang punggung utama keluarga ini. Bagaimana mereka bisa makan, jika ayahnya memilih untuk libur? Maka bagi Abdul saat itu, meninggalakn kewajiban belajar bukanlah suatu dosa. Toh, belajar di sekolah juga bukan kegiatan favoritnya. Ia lebih jauh lebih senang jika disuruh bekerja mencari uang ketimbang disuruh belajar. Agaknya, hidup dalam kemiskinan telah membuat Abdul begitu termotivasi dengan uang.
Ketika kesehatan ibunya berangsur-angsur membaik, saat itu ia sudah membolos sekolah selama 2 bulan. Minatnya terhadap sekolah dan tetek bengek pelajaran telah hilang, hingga ia akhirnya memilih untuk putus sekolah dan membantu ayah ibunya bekerja menjadi buruh tani. Untuk apa sekolah, toh ia tidak pintar, pikirnya saat itu. Percuma saja sekolah jika pada akhirnya ia akan mengikuti jejak orang tuanya. Sebuah keputusan tanpa pertimbangan panjang yang kelak akan ia sesali seumur hidup. Orang tuanya sendiri tidak terlalu paham tentang pentingnya pendidikan. Ayah dan ibunya hanya lulusan SD yang bahkan tidak tamat sekolah. Yang penting bagi mereka, ada makanan yang cukup untuk mengisi perut mereka setiap hari. Istilah 'bersyukur' bagi keluarga Abdul tak lebih dari sekedar bungkus untuk tabah menjalani hidup dalam keprihatinan.
Saat Abdul menginjak usia 18 tahun, sebagian besar teman-teman yang ia kenal telah pergi jauh meninggalkan kampung. Beberapa diantaranya pergi untuk melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Namun sebagian besar sisanya memilih pergi merantau dengan alasan ingin mengadu nasib. Alasan yang pada akhirnya juga mendorong Abdul untuk pergi meninggalkan kampung ini di usianya yang ke-21 tahun, saat ia telah menikah dengan Yani.
***
Kehidupan Yani tidak jauh lebih baik dari Abdul. Bedanya, ia telah menjadi yatim piatu sejak kecil. Ibunya meninggal tak lama setelah melahirkan Yani. Lima tahun berselang, ayahnya menyusul karena penyakit ginjal yang dideritanya, meninggalkan Yani yang saat itu masih berusia 5 tahun bersama dengan dengan bibi dan neneknya.
Dengan latar belakang tersebut, gadis berdarah campuran Sunda-Jawa itu tumbuh menjadi gadis pekerja keras. Kendati demikian, bibi dan neneknya merawat Yani dengan penuh kasih sayang. Bibinya adalah seorang guru honorer di sebuah sekolah dasar di kampung tersebut. Ia telah lama menikah, namun 5 tahun pernikahannya tak kunjung dikaruniai anak. Tanpa mencari tahu penyebab ketidakmampuannya untuk hamil, suaminya memutuskan untuk menceraikannya. Kesedihan akibat kegagalan rumah tangga dan ketidakmampuannya untuk memberikan keturunan, akhirnya terobati dengan kehadiran Yani di hidup mereka. Dengan kasih sayang yang melimpah ruah, sang bibi menumpahkan seluruh perasaan cintanya sebagai seorang ibu kepada keponakan satu-satunya tersebut.
Meskipun bibi dan neneknya cukup memanjakan Yani, jarang sekali ia bermanja-manja kepada mereka. Sebaliknya, Yani tumbuh menjadi gadis yang mandiri dan dapat diandalkan. Bibi dan neneknya tidak pernah menuntut Yani untuk bekerja membantu mereka, namun atas kesadarannya sendiri, Yani selalu meluangkan waktunya selepas sekolah untuk membantu neneknya berjualan singkong di pasar. Kadang-kadang dagangannya habis terjual. Namun tak jarang singkong-singkong tersebut dengan terpaksa mereka bawa pulang kembali karena tidak laku terjual. Jika sudah begitu, sang bibi dengan tangannya yang terampil akan dengan cekatan mengolah singkong-singkong yang tersisa menjadi kudapan lezat. Tak jarang, Yani membungkus sebagian kudapan tersebut untuk dijual kepada teman-temannya di sekolah.
Kehidupan Yani sebagai seorang gadis kampung berjalan cukup baik. Tidak seperti Abdul, Yani berhasil menamatkan sekolahnya hingga ke jenjang SMA. Namun bibi dan neneknya tidak sanggup untuk membiayai Yani untuk melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Selepas lulus SMA, Yani lebih sering membantu neneknya berjualan di pasar, hingga akhirnya ia bertemu dengan Abdul.
***
Kali pertama melihat dan berbincang dengan Abdul, hati Yani berdesir. Lelaki itu jelas tidak masuk dalam kriteria tampan. Ia juga tidak terlihat terlalu pintar. Namun ada satu karakternya yang menarik perhatian Yani. Abdul tampak sangat menghormati dan menyayangi ibunya. Saat itu, Abdul dan ibunya hendak membeli singkong di kios neneknya.
"Sabaraha, Neng?" tanya Ibu Abdul.
"10.000 sekilo, Bu."
"Ga bisa kurang, Neng? 15.000 2 kilo, ya?" Yani melirik neneknya, meminta persetujuan atas potongan harga yang diminta oleh pembelinya tersebut. Neneknya mengangguk.
"17.000 ya Bu. Udah ga bisa dikurangi lagi," Yani bernegosiasi.
Tanpa menawar lebih lanjut, wanita paruh baya tersebut menyodorkan uang berupa 2 lembar 10 ribuan. Yani memasukkan singkong-singkong tersebut ke dalam kantong kresek dan memberikan bungkusan beserta kembalian 3000 rupiah kepada pelanggan di hadapannya.
"Biar Abdul saja yang bawa ya Bu. Lumayan berat ini," dengan sigap, pemuda di hadapannya mengambilkan belanjaan tersebut.
Saat itulah keduanya saling beradu tatap. Yani melemparkan senyum tipis, dan Abdul mengangguk sopan. Pertemuan yang singkat, namun membekas di hati keduanya. Semenjak pertemuan tak terduga tersebut, Abdul sering mengunjungi Yani di kiosnya. Kadang-kadang sambil sesekali membeli dagangan Yani. Usia mereka yang hanya terpaut 3 tahun membuat keduanya cepat akrab. Masa pendekatan itu berlangsung tak terlalu lama. Hanya berselang satu tahun sejak pertemuan pertama, Abdul dan Yani memutuskan untuk menikah.
***
"Yan, kamu mau ga, ikut Mas merantau ke kota?" tanya Abdul selang beberapa minggu setelah pernikahan mereka.
"Kota? Kota mana, Mas? Bandung? Jakarta?"
"Mas sih maunya ke Jakarta. Tapi untuk adaptasi awal, kayanya kita bisa ke Bandung dulu 1 atau 2 tahun pertama."
"Memangnya kenapa Mas mau pindah ke kota? Mas ga betah ya hidup di sini?"
"Mas ingin hidup kita berubah, Yan. Mas muak dengan kehidupan di kampung yang gini-gini aja. Mas dari kecil cuma punya pengalaman jadi buruh tani, ga tau apa-apa tentang kehidupan di luar sana."
"Tapi kalau kita ga berhasil gimana, Mas? Untuk pindah ke kota kan tidak sesederhana itu. Kalau ternyata kehidupan di kota tidak jauh lebih baik daripada di sini gimana?" Yani bertanya dengan penuh keraguan.
"Jangan khawatir. Mas sudah susun rencana. Ada teman sekolah Mas dulu yang sudah merantau lama di kota. Dia bekerja sebagai buruh di pabrik sepatu. Katanya sekarang sedang kekurangan orang karena ada pegawai yang keluar. Mas bisa gantikan."
"Tapi kan, Mas tidak punya ijazah. Bagaimana bisa melamar untuk bekerja di pabrik?"
"Usahanya kan usaha rumahan, Yan. Mereka produksi sepatu sendiri, jahit sendiri pakai tangan. Keren kan?"
"Ya itu mah bukan pabrik atuh, Mas," tukas Yani.
"Mas ralat deh, ini memang usaha rumahan. Tapi bukan usaha rumahan kecil biasa. Produksinya sudah banyak, pegawainya juga ada sekitar 50 orang."
"Ini bukan seperti usaha sol sepatu keliling kan, Mas?"
Abdul tergelak, tidak tahan melihat keluguan dan keraguan di wajah Yani. Dengan lembut, ia menggenggam tangan Yani, berusaha menjelaskan sambil meyakinkan istrinya tersebut dengan sepenuh hati.
"Kamu pernah dengar tentang Cibaduyut ga?"
Yani menggelengkan kepalanya. Pengetahuannya tentang geografi memang terbatas, namun ia lebih takjub mendengar Abdul yang menghabiskan hidupnya selama ini di kampung tampak lebih tahu darinya.
"Cibaduyut itu, salah satu tempat pengrajin sepatu kulit terkenal di Bandung. Ada temanku yang sudah 2 tahun bekerja di sana. Karena ada beberapa pegawai yang keluar, katanya Mas bisa mengisi lowongan di situ. Tidak perlu ijazah. Yang penting ulet dan mau bekerja keras. Nanti diajarin dulu sekitar 1 bulan. Kalau Mas bisa beradaptasi dengan cepat, nanti Mas bisa dapat gaji yang lumayan. Lalu kita bisa kumpulkan modal sedikit demi sedikit dari gaji tersebut, dan kamu bisa pakai modal itu untuk sambil berjualan di sana. Kamu kan pinter bikin kudapan dari singkong, gimana?"
Yani tampak mempertimbangkan rencana tersebut. Terdengar masuk akal dan layak dicoba.
"Gimana Yan, kamu setuju tidak? Jujur saja aku sudah kepengin merantau ke kota dari dulu. Aku ingin nasib kita berubah, Yan. Aku muak dengan kehidupan di kampung yang serba membosankan ini. Sebagian besar teman-teman kita sudah meninggalkan kampung ini. Masa kita mau di sini terus sampai seumur hidup?"
Perkataan suaminya tersebut ada benarnya. Meski kehidupan Yani cukup baik, namun usaha dagang neneknya di pasar tidak cukup menjanjikan. Rendahnya daya beli warga kampung membuatnya seringkali harus ikhlas memberi potongan hingga setengah harga. Tak jarang malah rugi yang didapat.
"Baiklah Mas. Selama kamu punya rencana yang matang, aku setuju. Tapi bagaimana dengan bibi dan nenek, Mas? Aku belum pernah pergi jauh dari mereka," ujar Yani sambil menggigit bibir. Wajahnya menyiratkan rasa khawatir akan bayangan meninggalkan mereka.
"Aku yakin bibi dan nenekmu akan paham, Yan. Kita sudah memiliki kehidupan sendiri sekarang, kita bebas menentukan langkah sendiri. Sebagaimana abah dan ambu, aku yakin bibi dan nenekmu juga akan setuju. Tinggal nanti kita menjelaskan pelan-pelan kepada mereka ya," Abdul meyakinkan Yani sekali lagi sembari merangkulnya dengan hangat.
"Percaya sama aku ya Yan, nasib kita pasti akan jauh lebih baik jika kita merantau ke kota," bisiknya dengan penuh keyakinan.
Yani mengangguk dalam pelukan Abdul.
***
Comments