PULANG KAMPUNG - a Novel Part 2
- Primawati Kusumaningrum
- Apr 9, 2024
- 4 min read
Updated: May 4, 2024
BAB 1 - Wacana Pulang Kampung
Kampung halaman. Dua kata yang terdengar begitu akrab juga sekaligus asing bagi Abdul. Bagi sebagian besar orang, tempat yang disebut kampung halaman kerap kali menjadi asal muasal mereka dilahirkan ke dunia ini. Tempat di mana mereka menjalani masa kecil yang menyenangkan dan penuh kenangan hingga akhirnya mereka berpindah ke tempat lain. Entah untuk sekolah, bekerja, atau sekedar mencari peruntungan demi merubah nasib. Bagi mereka, kampung halaman bukan hanya sekedar tempat kelahiran semata, tetapi juga menjadi tempat pulang yang suasananya selalu dirindukan kala kelelahan dan kepenatan dalam hidup menyapa.
Sementara bagi yang lain, kampung halaman tak ubahnya hanya sekedar tempat singgah di awal mula kehidupan mereka, tak kurang dan tak lebih. Mereka yang memandang kampung halaman hanya sebagai salah satu tempat persinggahan, tidak mesti menjadikannya sebagai tempat pulang. Banyak di antaranya yang memutuskan untuk tidak pernah kembali lagi setelah pergi meninggalkan kampungnya, dan memilih membangun hidup yang baru, di tempat yang baru.
Bagi Abdul, kampung halaman memiliki kedua makna tersebut. Di satu sisi, ia memiliki banyak kenangan indah di dalamnya. Namun di sisi lain, ada banyak alasan baginya untuk akhirnya pergi meninggalkan kampung halamannya tersebut. Kehidupan kampung yang monoton dengan ritme yang sama setiap hari telah membuat Abdul tenggelam dalam rasa bosan yang memuakkan. Di kampung tempat ia tinggal, kehidupan berjalan begitu lambat, bertentangan dengan darah muda Abdul yang kala itu sedang semangat-semangatnya ingin mencapai asa.
Apakah asa yang begitu ia harapkan itu? Abdul sendiri belum tahu, karena selama ini ia tidak pernah keluar dari cangkangnya. Yang ia pahami, dirinya begitu menginginkan dan merindukan kehidupan yang jauh berbeda dari yang ia jalani sekarang. Ide dan imajinasi tentang menariknya kehidupan di luar kampung telah membuat keinginannya untuk pergi merantau bertambah besar.
Keinginan yang besar dan menggebu-gebu itu kemudian membawa Abdul dan Yani, wanita yang kemudian ia jadikan istri untuk pergi meninggalkan kampung halaman mereka. Ia lebih memilih memboyong istrinya untuk tinggal di kota meski kehidupan mereka saat ini tidak lebih baik dari saat mereka hidup di kampung dahulu. Setidaknya, Abdul merasa selangkah lebih dekat untuk meraih tujuan-tujuan hidupnya, meskipun entah kapan semua tujuan itu bisa terwujud. Meski harus diakui, keputusannya saat itu untuk meninggalkan kampungnya tersebut termasuk keputusan yang sembrono.
Kini, istilah kampung halaman terasa semakin asing di telinganya. Bukan hanya karena telah 10 tahun ia tidak pernah pulang, tetapi juga karena kehidupan kampung yang terasa menyesakkan dan membosankan telah membuatnya muak sedemikian rupa, sehingga ia memilih untuk tinggal di kota bersama keluarga kecilnya, meski kehidupan yang harus ia jalani dua kali lipat lebih keras. Dengan gontai, Abdul berjalan menuju dapur untuk menghampiri Yani yang tengah menemani Yayuk dan Agus bermain.
"Siapa yang telepon tadi, Mas?" Yani bertanya lebih dahulu, mengantisipasi kemungkinan yang ia khawatirkan terjadi.
"Ambu. Tadi nanya kabar dan minta kita untuk pulang tahun ini. Jujur saja Mas merasa sangat khawatir. Apalagi tadi Ambu cerita kalau Abah sakit."
"Abah sakit apa katanya, Mas?"
"Ambu ga ngomong spesifik. Cuma bilang kalau Abah sakit-sakitan karena sudah tua."
Yani tidak menanggapi. Kekhawatirannya benar terjadi. Jika memang benar ayah mertuanya tersebut sakit, itu artinya mereka memang harus memaksakan diri untuk pulang. Masalahnya, kondisi keuangan mereka sedang tidak baik-baik saja. Baru mendengar kata pulang saja, kepala Yani sudah sibuk berhitung dengan jumlah uang yang harus mereka keluarkan untuk perjalanan mudik.
"Gimana ya? Aku jujur belum siap untuk pulang. Tapi kasihan Ambu sama Abah. Udah 10 tahun kita ga pulang. Mau sampai kapan?" Abdul bertanya, lebih kepada dirinya sendiri.
"Yah... Jujur aku juga bingung, Mas. Aku paham, Ambu sama Abah pasti khawatir dan kangen sama kita. Kirim foto-foto saja tidak akan cukup mengobati kerinduan pada anak dan cucu-cucunya. Tapi kondisi kita saat ini, rasanya belum memungkinkan untuk pulang, Mas..."
Yani menanggapi sambil menghela napas panjang. Ia amat berhati-hati untuk menyampaikan pendapatmya di depan Abdul, karena ia paham betul, suaminya amat mudah tersinggung ketika membahas ranah sensitif ini.
"Emang kita ga punya tabungan apa, Yan? Masa buat ongkos pulang saja kita tidak punya?"
"Ya coba Mas pikir saja. Buat kebutuhan sehari-hari saja kadang-kadang kita masih pinjam tetangga kanan kiri. Bayar kontrakan pun beberapa kali terpaksa menunggak, mana bisa nabung. Kalau bukan karena kebaikan Bu Sasmita, sudah sejak lama kita diusir dari rumah ini Mas," Yani mendengus kesal.
"Lagian pulang itu ga cukup nyiapin ongkos pergi saja Mas. Perlu bekal selama di perjalanan, belum lagi jajan buat anak-anak, belom ongkos untuk pulang lagi ke sini, belum lagi bawa oleh-oleh buat keluarga."
"Ambu tadi bilang kita ga perlu bawa apa-apa kok. Kita cukup bawa badan saja."
"Ya masa kamu tega, Mas? Kita ini sudah 10 tahun ga pulang, masa ga bawa apa-apa sama sekali? Gimana reaksi orang-orang kampung nanti?"
"Halah, orang-orang kampung saja yang kamu pikirin Yan. Selamanya kita ga akan pulang kalau yang kamu pikirkan cuma gengsi."
"Loh, yang selama ini gengsi itu aku atau kamu, Mas? Yang muak sama kehidupan di kampung dulu siapa? Yang pantang pulang sebelum berhasil siapa? Mas sendiri kan yang dari dulu selalu menunda-nunda untuk pulang. 'Nanti aja, hidup kita masih susah. Nanti aja, tunggu anak-anak besar biar ga repot di jalan. Nanti aja, aku malu ketemu orang-orang kampung kalau pulang ga bawa apa-apa.' Tau-tau sampai 10 tahun kita ga pulang. Terus sekarang, Mas menuduh aku yang gengsi," Yani merepet panjang lebar, menumpahkan kekesalannya pada Abdul.
Kali ini Abdul tidak menjawab. Percuma, pikirnya. Istrinya tidak akan bisa mendengarkan meskipun ia menjelaskan dengan perlahan sekalipun. Abdul sebenarnya ingin balas membantah. Toh selama ini ia bekerja keras demi menghidupi keluarganya, meski hanya bekerja serabutan. Subuh sampai tengah hari ia membantu tetangganya berjualan di pasar. Siang sampai sore ia membantu Pak Suwito, tetangganya yang lain untuk mengurus tanaman-tanaman hias yang hendak dijual. Dan sore hari selepas asar hingga tengah malam, ia akan pergi ngojek, menyusuri jalanan Jakarta dengan motor bututnya yang kerap kali ngadat di tengah jalan.
Bagaimanapun, ia paham perasaan Yani. Tidak mudah baginya untuk mengikuti keinginan Abdul agar bertahan di kota ini. Demi membantu perekonomian keluarga, Yani pun ikut bekerja dengan menjadi asisten rumah tangga di perumahan terdekat sekitar tempat tinggalnya saat ini. Itu pun masih saja kurang. Jikapun ada lebihan, itu bukan sesuatu yang rutin terjadi. Dan uang lebihan tersebut biasanya akan digunakan untuk membayar utang yang tersisa atau untuk melunasi sewa kamar yang sudah menunggak selama 2-3 bulan. Entah kenapa, pendapatan mereka tidak pernah cukup, sementara mereka berdua sudah bekerja keras siang dan malam setiap hari.
Abdul menekan egonya dalam-dalam dan memilih beranjak meninggalkan Yani bersama kedua anaknya, sebelum pembicaraan ini semakin memanas. Ia perlu berpikir jernih tentang rencana pulang kampung ini, sebelum membicarakannya kembali dengan Yani.
***
Comments