PULANG KAMPUNG - a Novel Part 1
- Primawati Kusumaningrum
- Apr 9, 2024
- 2 min read
Updated: May 4, 2024
"Kamu sehat-sehat di sana Dul?" sayup-sayup terdengar suara seorang wanita dari ujung telepon.
"Alhamdulillah... Ambu damang?" Abdul bertanya balik dengan logat Sunda yang halus dan sopan. Setiap kali ia berbicara dengan anggota keluarganya di kampung, bibirnya secara otomatis akan berbicara dalam bahasa ibu.
"Sehat Ambu mah Alhamdulillah... Yani gimana kabarnya?"
"Yani baik juga Alhamdulillah... Tuh, sedang main sama anak-anak."
"Barudak lancar sakolana, Dul? Usman, Agus, hiji deui teh saha nya? Geus poho, Ambu."
"Yayuk, Ambu. Alhamdulillah sehat sadayana. Usman sebentar lagi masuk SMK, Agus masuk SD, Yayuk mah masih TK."
"Nya syukur atuh ai sarehat mah. Abdul, kapan atuh mau pulang? Ambu sama Abah teh udah kangen, rindu..." ibunya berkata lirih di ujung telepon.
Abdul hanya diam mendengarkan.
"Kamu teh udah 10 tahun ga pulang. Emangna teu sono ka Ambu, ka Abah? Abah itu, saking kangennya sampai sakit-sakitan."
"Abah teu damang naon, Ambu?" Abdul terhenyak mendengar kabar ayahnya sakit.
"Biasalah... Panyakit kolot. Bukan sakit parah... Sakit rindu sigana mah ieu teh, budakna teu mulang-mulang," ibunya kembali menegaskan.
Abdul masih terdiam. Hatinya sedikit cemas memikirkan kesehatan ayahnya. Benarkah ayahnya bukan sakit parah? Abdul khawatir ibunya berbohong demi menenangkan hatinya. Ibunya memang benar, sudah terlalu lama ia tidak pulang. Alasannya, ia belum punya sesuatu yang bisa dibanggakan untuk dibawa pulang selain ketiga cucunya.
"Euh, kumaha ieu budak teh, diajak ngobrol kalahka ngalamun," ibunya membuyarkan lamunan Abdul.
"Punten, Ambu. Abdul sepertinya belum bisa janji untuk pulang."
"Tahun ini juga? Kenapa atuh kamu teh? Aya naon? Beneran kamu sama Yani di sana baik-baik saja? Ambu sama Abah mah ga berharap apa-apa. Yang penting kami bisa lihat kamu, lihat Yani, lihat cucu-cucu Abah sama Ambu. Teu kudu repot mawa nanaon."
Pertanyaan yang dilontarkan ibunya terasa seperti menghujam jantung. Meski sudah bertahun-tahun tidak pulang, ternyata firasat ibunya masih tetap tajam. Seolah punya radar tertentu, ibunya selalu bisa menangkap sinyal kegelisahan anak semata wayangnya tersebut meski hanya lewat suara. Abdul tidak tahu harus merespon apa. Ia menarik napas panjang sebelum kemudian menjawab ibunya.
"Hmmm... Uhun, Ambu. Nanti Abdul diskusikan dulu sama Yani ya."
"Nya sok atuh. Ambu serius ini ya, Udah kangen berat. Jangan sampai nanti kalian menyesal ga bisa lihat Ambu sama Abah lagi, gara-gara keburu dijemput Malaikat Izrail," ujar ibunya dengan nada sedikit mengancam.
"Iya, Ambu."
"Diantos nya, kabarna. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam..."
Abdul menutup telepon dengan perasaan gamang. Telah 10 tahun berlalu, semenjak ia meninggalkan kebiasaannya untuk pulang menuju kampung halaman setidaknya 2 tahun sekali. Kala itu, Yayuk dan Agus belum lahir. Kala itu, beban ekonomi belum terlalu menghimpit seperti sekarang. Kala itu, langkahnya masih terasa ringan dan mimpinya terasa dekat. Sekarang yang bisa Abdul lakukan adalah mengumpulkan niat dan keberanian sebelum memutuskan untuk pulang. Ia paham, rencana dan perjalanan pulang kali ini, tidak akan semudah dahulu.
***
Comments