top of page

Peter Pan, When the True Villain Turns to Hero

Siapa yang tidak kenal dengan sosok Peter Pan, seorang anak laki-laki yang tidak pernah tumbuh dewasa dan tinggal di sebuah negeri bernama Neverland. Sebagai seseorang yang menghabiskan masa kecilnya dengan berbagai cerita Disney, tentu Peter Pan pun tidak asing lagi, bahkan diantara film-film Disney yang lain, cerita Peter Pan adalah salah satu yang paling membuatku terkesan selain Mulan. Untuk yang pernah menonton filmnya di tahun 2003, Peter Pan memiliki bittersweet ending, dimana di akhir cerita dia harus berpisah dengan Wendy dan the Lost Boys karena mereka memilih pulang dan menjalani kehidupan menjadi dewasa. Sementara Peter Pan, dengan peri bernama Tinker Bell yang setia di sisinya memilih untuk tetap tinggal di Neverland.


Ceritanya yang begitu berkesan bahkan sampai aku beranjak dewasa pada akhirnya membawaku juga untuk membaca cerita klasiknya yang ditulis oleh penulis aslinya, J.M. Barrie. Tentu aku tahu, bahwa sudah menjadi rahasia umum bahwa cerita-cerita garapan Disney sudah pasti berbeda dengan versi klasiknya, karena banyaknya bagian yang disensor. Biasanya bagian yang disensor atau digubah adalah bagian-bagian yang memang terasa disturbing atau tidak layak tayang untuk target market DIsney yang adalah anak-anak.


Meskipun begitu, membacanya langsung ternyata memberi pengalaman yang sangat berbeda, apalagi aku membaca kembali ceritanya saat aku sudah menjadi seorang ibu seperti sekarang. Tentu banyak sekali perspektif baru yang muncul, karena perspektifku saat menonton filmnya (sekitar usia 13-14 tahun) adalah dari sudut pandangku sebagai remaja belia, sementara perspektifku saat ini adalah sebagai seorang ibu. Pada saat aku menonton filmnya, aku mendapati bahwa cerita Peter Pan sukses meinggalkan kesan indah dan magical. Bagaimana tidak, tinggal di sebuah negeri dongeng bernama Neverland dan menjalani berbagai petulangan seru tentu menumbuhkan imajinasi masa kanak-kanakku. Begitu pula saat sudah dewasa (sampai saat ini, aku masih sering menonton ulang filmnya), ketika berbagai ujian hidup muncul, kehadiran sosok Peter Pan seolah menjadi sweet escape karena kita dipaksa melihat kembali ke dalam sosok kanak-kanak kita yang menyenangkan dan bermain-main dengannya, untuk sejenak melupakan semua masalah yang sedang kita hadapi.


Sebut saja, adegan di mana Peter Pan dan the Lost Boys makan dengan nikmat cukup hanya dengan imajinasi mereka saja, bahkan tanpa makanan real. Atau adegan saat Wendy, John, dan Michael bisa terbang hanya dengan pikiran menyenangkan dan sedikit bubuk peri, secara tidak langsung juga ikut mempengaruhi pikiranku sebagai anak-anak, bahwa kita bisa melakukan hal apapun meski tampak mustahil. Bagiku, sosok Peter Pan begitu kuat menumbuhkan imajinasi dan kepercayaan dalam masa kanak-kanakku bahwa semua mungkin dilakukan selama kita meyakininya. Kita selalu bisa memelihara dan menghidupkan jiwa kanak-kanak kita yang menyenangkan dan tanpa beban meskipun usia kita telah beranjak dewasa.


Namun tentu saja, aku tidak pernah menyangka bahwa cerita pada versi klasiknya ternyata juga tidak kalah gelap dengan cerita-cerita asli gubahan Disney lainnya. Dalam kisah Peter Pan in Kensington Gardens, diceritakan bahwa Peter Pan mulai meninggalkan kedua orang tuanya di saat ia berusia satu minggu. Ia memulai petualangannya di Kensington Gardens di London, saat ia diajak berjalan-jalan oleh orang tuanya. Jangan tanya bagaimana caranya, tentu karena Peter Pan ini adalah tokoh fantasy semata (bukan sepenuhnya manusia), di usianya yang masih bayi baru lahir tersebut ia mampu keluar dari kereta dorongnya dan bepergian sendiri saat ibu dan pengasuhnya sedang lengah. Dari situlah ia mulai mengalami berbagai petualangan yang tidak dialami oleh anak seusianya. Meskipun tidak diceritakan dengan detail bagaimana akhirnya ia bisa berada di Neverland, namun kisah Peter Pan in Kensington Gardens ini manjadi awal mula bagi kisah Peter Pan and Wendy, yang kemudian banyak diceritakan kembali dalam berbagai versi, termasuk oleh Disney.


Secara garis besar, cerita versi Disney dalam filmnya tidak jauh berbeda dengan cerita aslinya dalam buku. Pertemuan antara Peter dan Wendy terjadi pada suatu malam saat Peter secara diam-diam mendatangi kamar Wendy untuk menyimak dongeng-dongeng yang selalu diceritakan oleh Wendy pada kedua adiknya, John dan Michael. Sebagai seorang anak perempuan yang tergolong mature pada anak seusianya, Wendy memiliki sifat keibuan, dimana ia selalu menjaga adik-adiknya. Setiap malam ia selalu menceritakan kisah-kisah dari negeri dongeng seperti cinderella, mermaid, bajak laut, dan peri kepada kedua adiknya. Karena hal itulah Peter Pan tertarik dengan Wendy. Karena ia tinggal di Neverland dimana semua yang ada dalam dongeng Wendy adalah nyata, maka ia ingin mengajak Wendy untuk berpetualang bersama dengannya. Dan sebagaimana yang terjadi pada anak remaja yang mulai merasakan dorongan seksual, seiring berjalannya waktu Wendy di Neverland, ia mulai merasakan perasaan lain kepada Peter. Apalagi cara Peter memperlakukan Wendy juga sangat manis, membuat remaja perempuan polos halu tingkat dewa. Namun seperti yang kita tahu, perasaan Wendy tidak berbalas karena bagaimanapun, Peter hanyalah seorang anak laki-laki yang polos dan tidak ingin tumbuh dewasa, maka ia pun menolak perasaan Wendy.


Pada cerita klasiknya, kita akan mendapati sosok lain Peter Pan. Selain polos dan kekanakan, Peter juga dikenal tidak memiliki rasa takut, bahkan cenderung heartless dan ignorant. Yang kita tahu, anak-anak yang disebut the Lost Boys adalah anak-anak yang hilang dan terpisah dari orangtuanya saat berada di Kensington Gardens. Jika dalam satu minggu tidak ada yang mengambil kembali anak-anak tersebut, maka mereka akan dikirimkan ke Neverland sebagai the Lost Boys. Kenyataannya, justru Peter Pan sendiri lah yang mengambil (menculik) anak-anak tersebut saat pengasuh mereka sedang lengah. Tidak disebutkan alasan spesifik kenapa Peter mengambil anak-anak tersebut, namun aku menduga bahwa itu berhubungan dengan rasa kesepian yang dirasakan oleh Peter Pan, sehingga ia membutuhkan sosok yang menjadi teman-temannya.


Tidak hanya sampai disitu. Peter Pan juga membiarkan anak-anak tersebut kelaparan. Dalam filmnya, kita melihat bahwa Peter dan the Lost Boys bersenang-senang dengan cara berimajinasi, bahkan pada saat makan. Bagi mereka, membayangkan makanan sama halnya dengan mereka makan makanan secara nyata. Kenyataannya, hanya Peter yang merasakan kesenangan tersebut. Bagi Peter, hal yang betulan nyata dan imajinasi sama-sama real. Namun tidak bagi anak-anak lain. Mereka memiliki kesadaran penuh, kapan mereka berimajinasi, kapan hal nyata terjadi. Namun tentu saja, mereka tetap mengikuti Peter sang pemimpin. Kenyataan pahit lainnya dari Peter Pan adalah ia secara kejam membunuh anak-anak the Lost Boys yang beranjak dewasa, karena dianggap melanggar aturan. Karena seperti yang kita tahu, Peter adalah satu-satunya anak ajaib yang memang tidak bisa tumbuh dewasa (aku rasa keajaibannya untuk tidak bertumbuh karena memang ia sendiri yang memilih untuk tidak menjadi dewasa), sementara anak yang lain tetap bertumbuh meski dalam waktu yang lama (kita tidak tahu bagaimana perhitungan waktu di Neverland). How could 12 years old boy do such cruel thing?


Hal menyedihkan lainnya adalah kenyataan bahwa sebenarnya sosok Peter Pan yang pemberani tersebut jauh di dalam hatinya selalu merindukan sosok ibu. Peter selalu denial dengan perasaanya tersebut karena ia tidak suka dianggap lemah. Menurutnya sosok ibu tidak patut dicintai karena pada akhirnya, akan selalu ada anak lain yang nantinya akan menggantikan anak yang hilang. Setidaknya itulah yang dialami oleh Peter Pan. Saat ia hendak kembali pada ibunya setelah puas berpetualang, ia mendapati ibunya tengah berbahagia sambil menggendong bayi kecil. How sad it is. Jadi tidak heran, mengapa ia begitu terikat pada Wendy karena ia menemukan jiwa keibuan dalam dirinya. Ketertarikannya pada Wendy selayaknya anak kepada ibunya, bukan ketertarikan seksual antara anak laki-laki dan perempuan seperti yang aku iamjinasikan berdasarkan filmnya.


Menariknya, tidak hanya Peter yang merindukan sosok ibu. Kapten Hook, musuh bebuyutan Peter Pan juga merasakan hal yang sama. Dia dikungkungi perasaan tidak dicintai dan tidak diinginkan. Maka tidak mengherankan di bagian menjelang akhir cerita, Kapten Hook pun ingin mengajak Wendy bergabung menjadi bajak laut tidak lain adalah untuk mengisi sosok ibu yang ia rindukan dalam hidupnya. Jadi bisa disimpulkan bahwa keseluruhan cerita ini adalah tentang tokoh-tokoh yang kehilangan ibu dan merindukannya. Dan untuk menyembunyikan perasaan rapuhnya ini, Peter Pan dan Kapten Hook digambarkan dengan karakter yang dominan. Namun bagaimanapun dominannya Kapten Hook tetap tidak mengalahkan dominasi Peter Pan dalam kisah ini. Setidaknya, Kapten Hook masih memiliki rasa iba saat ia hendak membunuh Peter Pan ketika ia berhasil menyusup ke rumah persembunyiannya. Kapten Hook juga memiliki rasa takut terhadap buaya yang mengincar nyawanya, karena sebelah tangannya dijadikan umpan oleh Peter. Kesadisan Peter Pan ini tentu tidak akan kita temukan dalam cerita versi Disney, karena mereka berhasil menggubahnya dengan baik. Dalam film, kita hanya akan berpikir tentang dua hal, yaitu Kapten Hook yang jahat dan Peter Pan yang digambarkan sebagai pahlawan cilik yang menumpas kejahatan dengan keberanian dan kecerdikannya.


SEKILAS TENTANG J.M BARRIE


Jujur saja aku agak sedikit patah hati saat membaca cerita klasik Peter Pan. Bagaimana tidak, fakta yang disembuyikan Disney terlalu gelap untuk disebut sebagai cerita anak-anak. Hal ini juga membuatku semakin penasaran, apa alasan J.M Barrie membuat cerita yang begitu menyedihkan untuk seukuran cerita anak-anak. Sebelum merilis kisah Peter and Wendy yang melambungkan namanya, tokoh Peter Pan telah beberapa kali muncul dalam tulisan-tulisan lamanya. Tokoh Peter Pan yang dihidupkan dalam setiap kisah yang ia buat adalah proyeksi atas kepergian kakaknya karena kecelakaan yang merenggut nyawanya saat usianya masih belia. Peter Pan yang ia ciptakan sebagai anak yang tidak pernah tumbuh dewasa adalah bayangan tentang kakaknya yang tidak akan pernah menjalani kehidupan dewasa karena telah meninggal. Hal lain yang berkaitan antara kisah penulis di kehidupannya yang nyata dengan tokoh Peter Pan yang ia ciptakan adalah mereka sama-sama kehilangan sosok ibu. Setelah kepergian kakaknya, Barrie hidup dalam bayang-bayang kakaknya karena ibunya begitu kehilangan anak kesayangannya. Segala cara ia lakukan untuk meraih perhatian ibunya, bahkan hingga berdandan memakai pakaian kakaknya, ia tetap tidak mampu mendapatkan kasih sayang ibunya. Lebih jauh lagi, ternyata nama Peter juga bukan nama fiktif semata. Ia adalah salah satu anak angkat Barrie, yang justru paling tidak memiliki kedekatan emosional dibanding anak-anak angkatnya yang lain.


Lebih kelam lagi, semua anak angkatnya meninggal secara tragis karena bunuh diri. Bahkan terdapat dugaan kuat bahwa J.M. Barrie sebenarnya adalah seorang pedofilia karena ketertarikan dan keterikatannya pada anak-anak angkatnya yang begitu besar. Dengan latar belakang penulisnya tersebut, aku jadi sedikit memaklumi mengapa kisah Peter Pan dibuat sekelam ini. Secara keseluruhan, Peter Pan adalah sebuah tragedi yang dikemas dengan tutur yang menyenangkan untuk menutupi fakta menyedihkan di baliknya. Namun bagaimana pun kelamnya cerita Peter Pan, ia masih menjadi magnet luar biasa dan memiliki kesan kuat sebagai salah satu cerita dari negeri dongeng. Setidaknya sebagai seorang ibu, aku makin sadar bahwa kasih sayang dan perhatian seorang ibu adalah hal yang paling berharga untuk anak-anak. Dark as it is, but it still beautiful, magical and mesmerizing. Meminjam istilah yang disematkan oleh Peter anaknya, Peter Pan is a terrible masterpiece.



Recent Posts

See All

Comments


  • Facebook
  • Twitte
  • Pinteres
  • Instagram

Thanks for submitting!

© 2023 by Design for Life.
Proudly created with Wix.com

bottom of page