Persimpangan
- Primawati Kusumaningrum
- Sep 18, 2024
- 2 min read
Kurang lebih 3 bulan berlalu setelah aku memutuskan untuk bergabung sebagai volunteer di dua komunitas yang berbeda. Bagaimana rasanya kembali memiliki kesibukan setelah fisik dan mental terbiasa menghadapi ritme hidup yang berjalan lambat? Tentu saja agak kacau balau, hehehe. Ternyata tidak mudah untuk kembali beradaptasi dengan berbagai jenis kesibukan yang tiba-tiba menyita waktu. Seketika muncul perasaan bersalah karena ada waktu-waktu di mana biasanya aku fokus untuk bermain bersama anak, malah kugunakan untuk meeting untuk kegiatan komunitas. Belum lagi urusan anak dan domestik yang sepenuhnya menjadi tanggung jawabku.
Jangan tanyakan bagaimana progress di Career Class. Sudah 2 bulan ini aku off menghadiri kelas tepat waktu. Lebih sering mendengarkan hasil recording karena rasanya sudah keburu lelah untuk mendengarkan materi-materi kelas. Tapi keputusan sudah terlanjur diambil. The show must go on.
Tidak mungkin aku mundur begitu saja dari kepengurusan sebagai volunteer, karena berkomunitas pun perlu komitmen. Namun satu diantaranya ada yang mebuatku kecewa. Ternyata, komunitas yang aku harapkan akan menjadi jembatan untuk tujuan yang lebih besar ke depannya, malah membuatku merasa mandeg. Bukannya enjoy berprogess, aku malah merasa fokusku terpecah-pecah. Beban tanggung jawab juga bertambah-tambah karena tugas-tugas komunitas yang bisa dibilang tidak sedikit.
Ada perasaan bersalah menyelinap karena aku jadi sedikit lalai pada urusan anak. Bersamaan dengan itu, juga muncul perasaan iri ketika melihat anak-anak seusia Naura sudah menorehkan banyak prestasi dan meraih medali dari bermacam-macam kompetisi. Aku jadi merasa tertinggal, karena merasa tidak memiliki kapasitas untuk membersamai anak sepenuhnya. Jika saja aku bisa fokus membersamai anak seperti ibu-ibu lainnya, mungkinkah Naura tidak akan tertinggal? Rasanya aku kembali di persimpangan jalan, kembali ke suatu titik di mana aku harus kembali menyusun prioritas dan menentukan value diri dan keluarga agar tidak mudah terombang-ambing oleh pencapaian orang lain.
Mana yang perlu menjadi fokus utamaku, mana yang perlu aku perjuangkan, mana yang perlu aku lanjutkan, dan mana yang perlu aku tinggalkan di belakang. Aku perlu mengatur energi dengan efisien agar semua berjalan dengan seimbang. Pada akhirnya, aku perlu menyadari, bahwa tidak semua bisa dirangkul dalam satu waktu. Aku perlu menyadari kapasitas dan kemampuanku dalam mengelola energi dan waktu, juga mengelola emosi, agar apa yang aku upayakan tidak hanya berbuah lelah, tetapi juga berbuah manis, meski perjalanannya panjang, terjal, dan penuh liku.
Comments