Penghujung Tahun 2022: Slow Living for Life
- Primawati Kusumaningrum
- Dec 13, 2022
- 3 min read
Selamat datang penghujung tahun 2022. Bulan Desember yang dingin namun juga sekaligus memberikan kehangatan. Perlahan tapi pasti, rumah baru kami hampir terisi penuh. Meski masih banyak kurang di sana-sini, namun aku sangat menikmati dan bersemangat dalam proses menempati rumah pertama ini. Bukan hanya perkara mengisi rumah dengan barang-barang cantik nan estetik menyegarkan mata, tapi juga mengisinya dengan memori yang sedang pelan-pelan kami bangun di dalamnya. Perasaan hangat, tenang, aman, dan nyaman. Seperti halnya pelukan ibu yang menentramkan. Seperti halnya sinar mentari yang memberi kehangatan di pagi hari.
Kurasa aku mulai bisa menikmati dan merasakan makna slow living yang sesungguhnya. Melambat bukan berarti kita menjadi malas dan tidak produktif, bukan pula kita jadi tertinggal jauh ke depan dan menjadi terbelakang. Bukan berarti berjalan gontai tanpa rencana masa depan sama sekali. Meski sesekali, menjalani hidup penuh spontanitas dan fleksibilitas memang diperlukan. Tapi menyadari dengan sepenuh hati, bahwa memang sejak awal kita tidak pernah berkompetisi dengan siapa-siapa bagiku pribadi adalah suatu kesadaran yang perlu dipantik terlebih dahulu.
Bagi seseorang yang sejak kecilnya terbiasa "berkompetisi" dengan orang lain dan terbiasa menjadi spotlight, istilah "berkompetisi dengan diri sendiri" sungguh terdengar sangat asing. Maka tak heran, sepanjang adaptasiku menjadi seorang ibu rumah tangga, aku hampir mengalami semua perasaan negatif karena merasa tertinggal dan tidak menjadi apa-apa. Alih-alih fokus terhadap peran baru yang sedang kujalani, aku terlalu banyak fokus terhadap apa yang telah hilang. Benar apa kata pepatah, "rumput tetangga lebih hijau". Sayangnya, sering kali kita terlalu fokus melihat rumput tetangga hingga lupa merawat rumput sendiri.
Tidak kupungkiri, sesekali aku masih overthingking tentang suatu hal (atau bahkan beberapa hal sekaligus). Bedanya, sekarang aku bisa mengontrolnya dengan lebih baik agar aku tidak sampai tenggelam dalam pikiranku sendiri.
Menjalani hidup slow living kuibaratkan seperti saat kita sedang berkendara dan menikmati perjalanan mencapai tujuan. Kita memegang peta tujuan, kita tahu ke arah mana kita pergi. Tapi kita tidak pergi terburu-buru. Alih-alih tersiksa dengan perasaan geregetan karena tergesa ingin cepat sampai, kita memilih menikmati perjalanan. Merasakan angin sepoi-sepoi yang menerpa kulit, tetap bergembira di bawah gerimis maupun terik matahari yang sesekali menyengat, dan berlapang dada ketika harus menerima berbagai kejutan yang terjadi dalam perjalanan tersebut, entah kejutan yang menyenangkan, maupun kejutan yang tidak menyenangkan.
Seperti misalnya ketika kita harus berhenti sejenak karena ban bocor. Mungkin perasaan kita sedikit kesal dan jengkel, atau mungkin marah. Namun mau tidak mau, kita harus mendorong kendaraan kita untuk bisa melanjutkan perjalanan, setidaknya sampai mendapati tukang tambal ban agar kendaraan kita bisa diperbaiki. Tapi sembari mendorong kendaraan, kita masih bisa berhenti sesekali jika lelah. Minum air yang sudah kita persiapkan untuk di perjalanan, atau berhenti di warung pop mie pinggir jalan yang kita lewati untuk rehat sejenak. Dan setelah ban kendaraan kita diperbaiki, kita bisa melanjutkan perjalanan kembali. Sesekali mungkin kita perlu menambah kecepatan, tapi di lain waktu kita bisa kembali memperlambat kecepatan. Sepenuhnya, kita yang memegang kendali atas perjalanan yang kita mulai.
Kita punya hak prerogatif untuk menjalani hidup sesuai pilihan kita, kita sendiri pula yang menimbang konsekuensinya, apakah kita akan sanggup atau tidak. Tuhan pun memberi kebebasan akan jalan mana yang akan kita pilih, sepanjang kita memegang peta kehidupan yang Ia berikan. Sepanjang kita bisa mempertanggungjawabkan dan menjalani konsekuensi atas setiap pilihan hidup kita, aku rasa kita juga wajib dan berhak menikmati setiap fase perjalanannya. Jatuh, bangun, mudah, sulit, bahagia, susah, senang, sedih, kecewa, dan semua jenis perasaan yang berada di antaranya.
Jadi, kuucapkan selamat jalan 2022. Terima kasih sepanjang tahun ini sudah memberi ruang berekspresi bagi diriku, belajar untuk menikmati kesendirian dan berteman dengan sepi tanpi riuh gemuruh dunia yang penuh gemerlap, belajar untuk menerima semua kekurangan diri dan mevalidasi semua jenis perasaan yang baru kali ini kualami, belajar menghargai proses bertumbuh secara perlahan, belajar untuk lebih menghargai diri sendiri, tidak silau oleh pencapaian orang lain, dan menerima secara sadar bahwa hidup ini bukan untuk berkompetisi dengan orang lain, tapi untuk berkompetisi dengan diri sendiri agar kita menjadi lebih baik lagi setiap harinya. Dan kuucapkan selamat datang 2023, selamat menjalani slow living sebagai life style yang baru.
Usah hiraukan resolusi 2022 yang belum selesai, atau tidak tercapai sama sekali. Just live the life and move forward.

Comments