top of page

Pendidikan Anak, Tanggungjawab Siapa?

Hari ini aku melakukan hal yang agak memalukan. Setelah beberapa bulan ini berhasil mengontrol emosi yang gampang meledak-ledak, kali ini sumbu pendekku kembali tersulut. Dengan sengaja aku meninggalkan putriku sendirian karena aku tidak tahan ia terus merengek untuk pergi bermain saat kami sudah sepakat untuk pergi bersama. Putriku seketika berubah pikiran saat mendengar temannya memanggil keluar untuk bermain. Tentu saja aku jadi jengkel. Dan alih-alih terus membujuknya dengan lemah lembut, aku bersikap ekstrem dengan pergi meninggalkannya karena dia lebih memilih untuk pergi ke rumah temannya. Sebagai akibatnya, terjadi kehebohan di lingkungan RT karena ternyata putriku tidak jadi pergi bermain di rumah temannya, sementara aku sudah terlanjur pergi. Sebagai gantinya, putriku tantrum di pinggir jalan sehingga mengundang tetangga sekitar untuk berdatangan. Dan sebagai konsekuensinya, grup RT ramai membicarakan putriku yang sengaja kutinggal dan aku ditelpon oleh ibu RT. Benar-benar hari yang chaos.


Beberapa hari terakhir ini aku memang sedikit merasa kesal dan lelah. Sebenarnya bukan hanya kepada putriku saja aku merasa kesal. Sebagian rasa kesalku disebabkan oleh ulah anak tetangga. Sebuah niat yang awalnya baik ternyata tidak lantas bisa dieksekusi dengan baik juga.


Sebut saja nama anak itu adalah X, salah satu teman putriku yang tinggal tak jauh dari rumahku. Awalnya, putriku memiliki 4 orang teman. Usia keempatnya tidak jauh berbeda, maka dari itu mereka bisa akrab dengan baik. Aku pun berhubungan cukup baik dengan ibu dari anak-anak tersebut. Terus terang, dengan kehadiran anak-anak ini, kekhawatiranku tentang masalah sosialisasi yang mungkin timbul pada putriku tuntas sudah. Ternyata tak seperti bayangnku, ia bisa bersosialisasi dengan sangat baik dengan anak-anak lain sebayanya. Sayangnya, geng bermain ini tidak bertahan lama karena 2 orang dari anak-anak tersebut harus pindah domisili (2 orang ini kakak beradik, jadi mereka sepaket). Jadi tinggallah hanya seorang anak X yang masih suka bermain dengan putriku.


Awalnya aku baik-baik saja, malah merasa senang karena akhirnya putriku memiliki teman bermain yang usianya sebaya. Niatku sekalian ingin mensupport ibunya yang baru saja memiliki bayi lagi. Sebagai sesama perempuan dan seorang ibu, tentu aku tahu betapa merepotkannya mengurus bayi dan toddler sekaligus apalagi tanpa bantuan helper sama sekali. Jadi aku ingin sedikit membantunya, dengan membiarkan anaknya untuk bermain bersama putriku di rumah.


Namun kemudian muncul kondisi yang agak di luar kendali. Anak X ini, ternyata sangat suka makan camilan. Well, kalau hanya sesekali sih tentu tidak apa, namanya anak-anak yang sedang dalam pertumbuhan dan mengeluarkan banyak energi, tentu mereka butuh banyak asupan makanan. Tanpa diminta pun aku menyediakan camilan saat mereka sedang bermain bersama, sekalian mengajarkan berbagi pada putriku. Namun perasaan tidak nyaman muncul saat ia mulai berani meminta segala jenis makanan di rumahku. Awalnya aku membiarkan dan membaginya ketika ia dengan polosnya menunjuk-nunjuk makanan di rumahku, meski dengan agak terpaksa. Namun seiring waktu, ternyata itu bukan sesuatu yang sepenuhnya baik untuk terus-menerus dibiarkan.


Dalam setengah hari ia bermain di rumahku, anak X bisa menghabiskan 2 kotak susu, 1 buah apel, dan 1 buah yakult (saking kesalnya tanpa sadar aku jadi menghitung-hitung apa yang telah kuberikan :(). Sementara putriku sendiri bukan tipe anak yang suka makan banyak camilan. Dia baru akan minta makan jika benar-benar merasa lapar. Susu 1 kotak kemasan 200 ml pun bisa untuk 2 hari. Jadi aku memang tidak pernah menyetok camilan dalam jumlah banyak, karena memang keluarga kami irit makan (well, kecuali saat suami sedang berada di rumah). Camilan yang jumlahnya tidak seberapa itu untuk persedian selama 2 minggu jika hanya ada aku dan putriku di rumah. Jadi bisa dibayangkan, kalau anak X ini setiap hari bermain di rumahku (pagi dan sore pula T_T), aku benar-benar keteteran mengurus kebiasaan makannya. Satu hal lagi yang membuatku tidak nyaman dari anak X ini, yaitu dia suka meminta dengan seenaknya. Membuka-buka kulkas dengan seenaknya. Aku sempat bertanya-tanya, apakah anak ini tidak diajari oleh orang tuanya tentang bagaimana cara bersikap saat di rumah orang? Tapi aku cepat-cepat mengenyahkan pikiran tersebut karena rasanya terlalu dini untuk men-judge.


Hal kurang baik lainnya adalah aku jadi khawatir kalau putriku jadi meniru perilaku tersebut. Beberapa kali aku mendapati putriku meniru cara bicara anak X yang menurutku dan suami agak annoying (kalau kamu pernah bertemu dengan anak kecil yang kamu anggap annoying kamu pasti akan tahu seperti apa rasanya), juga kembali berteriak saat meminta sesuatu. Saat kutanyakan mengapa dia berteriak seperti itu, ternyata dia mengatakan bahwa dia sering melihat X berkata sepert itu kepada ibunya. Dengan perasaan agak gemas, aku pun pelan-pelan kembali memberi tahu putriku tentang hal-hal yang sebaiknya tidak ditiru dari teman-temannya. Serta bagaimana ia harus bersikap ketika hendak bermain di rumah temannya.


Hal yang membuatku geregetan dan dilema adalah ketika hal ini terus berulang dan aku bingung mengatasi sikap anak X ini. Di satu sisi, hal yang tidak baik ini akan jadi kebiasaan buruk jika dibiarkan terus menerus. Menasehati anak orang dengan tegas pun aku belum tahu caranya, karena khawatir akan melukai hati anak tersebut. Sementara menyebutkan makanan dan minuman di rumahku habis saat semua makanan itu tersedia sama saja dengan mengajari anakku untuk berbohong.


Untunglah, orang tua anak X tersebut menyadari ulah anaknya tersebut. Sang Ibu bertanya apakah susu yang dia bawa setiap kali pulang dari rumahku adalah pemberianku atau justru anaknya yang minta. Tentu saja aku menjawab dengan diplomatis agar ibunya tidak merasa tersinggung, bahwa kadang-kadang memang anaknya yang suka meminta, dan karena tidak tega untuk menolak, aku pun selalu memberikannya. Sang Ibu pun meminta maaf atas sikap tidak baik putrinya tersebut, karena ternyata selama ini anaknya selalu berbohong setiap kali ditanya oleh ibunya (yang mana, aku juga jadi sadar bahwa anak ini juga ternyata berbohong kepadaku dengan mengatakan bahwa ia tidak memiliki susu di rumah). Dia menyebutkan bahwa semua susu yang ia dapatkan setiap kali pulang bermain adalah pemberian dariku. Aku pun mendapati cerita dari ibunya bahwa memang anaknya ini agak susah untuk dinasehati. Sang Ibu pun kadang-kadang merasa kewalahan dengan ulahnya karena jika dinasehati, anak ini jarang sekali menurut.


Rasanya aku juga jadi bersimpati terhadap Sang Ibu. Pasti sangat melelahkan menghadapi toddler yang rebel, karena kadang-kadang anakku pun seperti itu. Yang jelas, saat ini aku sudah mengantongi ijin dari ibunya untuk turut menasehati anak X tersebut agar perilaku tidak baiknya setidaknya sedikit berkurang (hitung-hitung latihan jadi guru PAUD :)).


Pengalaman ini setidaknya membuktikan pepatah lama tentang sebuah pendidikan. It takes villages to raise a child. "Dibutuhkan satu desa untuk membesarkan seorang anak", menjelaskan betapa beratnya tanggungjawab untuk mendidik anak. Sejatinya, akan selalu ada tantangan dan ujian saat mendidik anak. Sementara proses mendidik anak merupakan proses yang sangat panjang, mungkin bisa jadi terjadi sepanjang hidup kita. Bahkan anak yang sudah menikah dan berkeluarga pun sesekali akan butuh nasehat orang tuanya. Maka memberi nasehat dan turut serta memberikan pendidikan moral dan karakter (terutama), bukan hanya tugas orang tua saja, tetapi juga menjadi tugas semua orang. Kita bisa saling memberi support satu sama lain jika orang tua menghadapi kesulitan. Jika ada satu kebiasaan buruk saja yang dibiarkan, maka kebiasaan ini dapat ditiru oleh anak-anak lain (apalagi di masa-masa usia dimana ia banyak mencontoh perilaku orang di sekitarnya). Aku rasa itu sebabnya dikatakan bahwa faktor eksternal (lingkungan sekolah, guru, teman bermain, teman les, dsb) menyumbang hampir sebagian besar dampak bagi kehidupan anak kelak. Maka dari itu, pondasi pendidikan yang diberikan oleh orang tua di rumah harus benar-benar kuat agar kelak anak dapat memfilter sendiri berbagai paparan yang kelak akan dialaminya.


Andai mendidik anak semudah membalikkan telapak tangan. Tak akan ada ibu yang mengalami baby blues syndrome atau post partum depresion. Tak akan ada istilah orangtua toxic. Tak akan ada anak-anak yang trauma dan mentalnya rusak karena pendidikan yang salah kaprah. Tak akan ada kejadian bully. Maka dari itu, diperlukan pendidikan yang holistik minimal dimulai dari rumah oleh orang tua, oleh guru di sekolah, dan oleh masyarakat di lingkungan tempat tinggal.

Pendidikan yang baik adalah pondasi untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik di masa depan. Bukan hanya tentang materi, tapi tentang pribadi-pribadi yang tumbuh bahagia, harmonis dengan sesama manusia, hewan, dan lingkungannya kelak, dan bisa membuat dunia menjadi sedikit lebih baik.





Recent Posts

See All
Life's Update Before 2024 Ended

So, how's life recently? Setelah beberapa bulan di pertengahan tahun ini aku mencoba berlari kencang, ternyata di 3 bulan terakhir menuju...

 
 
 
Persimpangan

Kurang lebih 3 bulan berlalu setelah aku memutuskan untuk bergabung sebagai volunteer di dua komunitas yang berbeda. Bagaimana rasanya...

 
 
 
Juni Berkembang

Bisa dibilang, bulan Juni ini menjadi starting point bagiku untuk mulai berbunga. Mimpi-mimpi yang sebelumnya tampak jauh untuk dijangkau...

 
 
 

Comments


  • Facebook
  • Twitte
  • Pinteres
  • Instagram

Thanks for submitting!

© 2023 by Design for Life.
Proudly created with Wix.com

bottom of page