top of page

PEMUJA RAHASIA - cerita pendek

Nama mahasiswa berprestasi itu Angga. Salah satu ketua senat yang sukses mencuri perhatian banyak mahasiswi, termasuk aku. Dia menghabiskan masa SD sampai SMA di London, tak heran bahasa inggrisnya sangat fasih. Logat british yang melekat saat ia berbicara bahasa asing itu kian menambah daya tariknya. Rambutnya ikal, sorot matanya berbinar menampakkan kecerdasannya. Plus, dia asisten laboratorium di beberapa mata kuliah. Sedikit galak dan tegas, tapi membuatku semakin penasaran.


Pertama kali melihatnya, jantungku tiba-tiba berdetak dengan kencang begitu saja. Aura kepintarannya terpancar dengan jelas, membuat kutu buku sepertiku mau tak mau menangkap sinyal tersebut.


“Biasa aja kali ngeliatnya,” celetuk Fitri, teman sekelasku. Saat itu kami sedang makan siang di kantin jurusan farmasi. Salah satu kantin pilihan sejuta umat di saat sisa uang jajan bulanan tinggal serupa deretan Pattimura.


Aku tersedak, tak menyadari bahwa ternyata Fitri memperhatikanku sejak tadi.


“Hehe, tau aja sih. Jadi malu. Ngomong-ngomong, itu siapa sih?”


“Itu namanya Kak Angga. Mahasiswa jurusan farmasi angkatan 2008. Ganteng, berprestasi, plus ketua senat. Paket lengkap deh,” ujar Fitri menjelaskan sambil mulutnya sibuk mengunyah batagor.


“Loh, satu jurusan donk sama kita. Beda setahun doank. Kok aku baru tahu sih?”


“Ya wajar kamu baru tahu Ri. Kamu kan mahasiswa transferan dari luar kampus ini. Aslinya Kak Angga memang populer sejak lama. Banyak yang kagum dan naksir sama dia,” Fitri menjelaskan sambil terkekeh.


Ah, iya. Aku lupa kalau aku hanya mahasiswa transferan di kampus gajah ini. Maklum, di kampus tempatku kuliah sarjana dulu, belum ada jurusan profesi yang bisa mengantarkanku meraih gelar apoteker. Maka setelah selesai kuliah sarjana farmasi, aku melanjutkan studi apoteker ke kampus gajah di kota kembang ini.


“Kenapa? Kamu naksir ya sama Kak Angga?” goda Fitri membuyarkan lamunanku.


“Yaaa, sedikit, hahaha. Suka aja liatnya. Kayanya orangnya cool gitu ya. Bikin penasaran,” kataku sambil mengerling nakal.


“Heh, jangan mimpi. Kak Angga mana mau sama mahasiswi burik macam kita. Cupu pula. Bagaikan pungguk merindukan bulan,” tawa Fitri meledak.


“Aseem kamu Fit,” kataku bersungut-sungut. 


***


Aneh, sejak saat itu rasanya aku jadi sering melihat laki-laki itu di mana-mana. Di laboratorium, di kantor administrasi, di perpustakaan, di ruang dosen, termasuk berpapasan di lorong kampus. Tentu saja tidak ada sapaan ataupun senyum sopan, karena toh kami tidak saling kenal. Meski Ingin sekali rasanya memberanikan diri untuk menyapa. Tapi setelah itu apa? Masa tiba-tiba memperkenalkan diri tanpa ada urusan. Gengsi donk.


Maka dalam setiap pertemuan tak terduga, aku hanya bisa mencuri pandang ke arahnya, sambil sesekali meredakan debar di jantungku yang tak karuan. Sial, kenapa pakai deg-degan segala sih? Kan dia cuma lewat doank. Dan ah, wangi parfumnya… Seketika aroma tubuhnya menyergap indra penciumanku saat ia berjalan melewatiku. Otakku dengan cepat menangkap aroma itu dan merekamnya sebagai memori. Hmm, udah ganteng, pintar, ketua senat, wangi dan rapi pula. Siapa yang ga naksir, batinku dalam hati.


Hari-hari selanjutnya berlalu dengan aku sibuk menata debar di dadaku setiap kali berpapasan dengannya. Aku hanya bisa menunduk menatap lantai untuk menyembunyikan mukaku yang bersemu merah akibat salah tingkah. Fitri hanya cekikikan melihat tingkah konyolku.


“Katanya suka, naksir... Giliran ketemu malah ciut,” ujar Fitri berkelakar.


“Ga usah rese deh ya,” jawabku sebal. Fitri semakin tergelak melihat kesabaranku yang setipis tissue dibelah tujuh.


Ketidak beranianku untuk mengajaknya berkenalan langsung membuatku menjadi detektif dadakan. Aku mulai terobsesi untuk mengetahui lebih jauh tentang Angga. Aku mulai mencari namanya di setiap laman media sosial yang kupunya. Facebook, Path, Instagram, Twitter, bahkan searching secara random di halaman google dengan menampilkan nama lengkapnya hanya untuk mengetahui keberadaannya di dunia maya. Angga Aryasatya. 


Namun tak banyak informasi mengenai kehidupan pribadinya. Sepertinya dia memang tipe laki-laki yang tidak begitu suka bermain media sosial. Satu-satunya informasi yang kudapat adalah sebaris kalimat pada blog pribadinya yang ternyata sudah lama vakum, “Persetan dengan pluralisme, hanya ada Islam yang satu.”


Aku tertegun. Sebaris kalimat yang menurutku, sungguh militan. Kutebak, sepertinya Angga termasuk Muslim yang konservatif. Mungkin pergaulannya di senat dan organisasi kemahasiswaan turut mempengaruhi cara berpikirnya. Aku tak ambil pusing, malah semakin penasaran. Aku meneruskan pencarianku dan tidak menemukan apa-apa lagi. Oke Angga, ternyata selain ganteng dan pintar, kamu juga misterius.


***


Minggu demi minggu berlalu hingga kami tiba di penghujung semester. Ujian apoteker tengah menanti. Aku, Fitri, dan seluruh teman sekelas kami disibukkan dengan persiapan ujian yang mulai menyita perhatian. Ujian yang benar-benar menguras energi, uang, dan waktu. Tak ada waktu untuk mengurusi cinta-cintaan. Dan sepertinya, misiku untuk mengenal Angga lebih jauh juga menemui jalan buntu. Satu-satunya cara untuk mengetahui tentangnya dengan lebih baik adalah dengan berkenalan langsung. Namun sepertinya hal itu agak mustahil untuk dilakukan saat ini. Tidak, di saat semua orang sedang fokus memikirkan kelulusan apoteker yang ujiannya sulit setengah mati ini. Bahkan Fitri yang biasanya santai menghadapi ujian pun, kali ini terlihat amat stress.


“Gila, aku baru baca jurnal ujian kakak tingkat kita. Dia dapat soal bikin obat yang referensinya sangat sedikit. Bisa mati kalau aku dapat yang seperti ini,” keluh Fitri dengan mukanya yang kusut.


Sepertinya sudah beberapa hari ini dia begadang mempelajari jurnal-jurnal tersebut.

Kondisiku tidak lebih baik dari Fitri. Penyakit maag-ku kambuh akibat beberapa kali terlambat makan. Di saat seperti ini, tidur terlalu lama dan istirahat makan pun rasanya jadi suatu kesalahan fatal karena sudah menghamburkan waktu yang berharga untuk melewatkan belajar. Obat maag menjadi sahabat seperjuangan di masa-masa kritis seperti ini.


Ada perbedaan atas ujian yang yang aku hadapi dengan ujian yang dihadapi Fitri. Sebagai mahasiswa jurusan farmasi industri, Fitri harus melakukan uji coba atas formula obat yang telah ia tuliskan di jurnal. Sementara mahasiswa farmasi jurusan klinik dan komunitas tidak perlu. Setelah ujian tertulis, ujian praktek yang kulakukan adalah menjalani simulasi konseling kepada pasien, sesuai dengan kasus penyakit yang tertulis di jurnal. Tampak lebih ringan, namun sebenarnya rasio kelulusan kami sama saja, 50:50. Dengan kata lain, 50% usaha, 50% keberuntungan yang didapat dengan merayu Tuhan lewat rapalan do’a-do’a.


Minggu demi minggu kami habiskan untuk belajar dan latihan membuat jurnal. Tumpukan buku farmasi tersebar di sudut-sudut kamar kos. Kami memberi penanda satu sama lain, saling menandai halaman tertentu yang kelak akan kami jadikan referensi saat menulis jurnal di ruang ujian. Sambil menyusun ulang jurnal-jurnal latihan yang telah kami buat, aku melirik bayangan kami di kaca. Rambut kusut masai, lingkar mata tampak gelap, tanda kami banyak menghabiskan waktu di malam hari untuk belajar sambil menahan kantuk. Kulit muka kusam tidak terawat. Tampilan kami sungguh tampak mengenaskan.


“Haduh, kondisi begini mana mau Kak Angga melirik,” gumamku.


“Heh, masih aja mikirin Kak Angga. Ujian sudah di depan mata, bukan saatnya mikirin kecengan,” teriak Fitri menyadarkanku.


“Iya, iya tahu kok. Cuma tiba-tiba kepikiran aja. Kak Angga kan pintar ya, dia dulu segalau ini ga ya pas mau ujian?”


“Pasti galau lah… Di ujian apoteker, ga peduli kamu mahasiswa berprestasi atau mahasiswa abadi sekali pun, semua punya resiko yang sama untuk ga lulus. Tuh lihat, Kak Meli. Kurang pintar apa coba. Nilai UTS dan UAS nya hampir semua A, tapi mandek di ujian apoteker. Sampai harus mengulang tiga kali ujian baru dia bisa lulus.”


Aku menelan ludah mendengar penjelasan Fitri. Ujian apoteker ini memang bukan main menguras mental. Tentu saja aku tidak mau jika harus mengulang ujian jahannam ini sampai tiga kali. Satu kali ujian saja rasanya kewarasanku sudah dipertaruhkan. Saat ini bukan saatnya memikirkan urusan hati, bukan saatnya memikirkan Angga. Aku harus lulus.


***


Setelah beberapa minggu, ujian apoteker yang melelahkan dan penuh ketegangan ini pun berakhir. Aku dan Fitri dinyatakan lulus! Sebuah puncak perjuangan demi meraih gelar apoteker ini telah kami kalahkan. Ada rasa sesak dan haru yang menyeruak di dada, teringat malam-malam penuh perjuangan untuk melawan kantuk dan mengabaikan semua rasa lelah karena harus terus mendorong diri untuk terus belajar. Semua rasa frustasi demi melewati ujian ini akhirnya terbayar tuntas dengan upaya dan do’a yang kami sematkan di setiap kesempatan. Ada beberapa teman kami yang lulus dengan syarat, biasanya diiringi dengan perbaikan jurnal di beberapa bab. Ada pula yang tidak lulus. Mereka yang tidak lulus harus mengulang kembali perjuangan untuk mengikuti ujian di semester berikutnya.


Aku dan Fitri merayakan keberhasilan kecil kami dengan memesan bakso dan es jeruk di kantin langganan anak farmasi. Iya, keberhasilan kecil saja. Karena perjuangan yang menanti kami sesungguhnya adalah setelah lulus dari kampus ini. Di luar sana, kami harus bersaing dengan ribuan lulusan dari kampus lainnya demi bisa mendaftar di perusahaan BUMN, menjadi PNS, bekerja di rumah sakit, klinik, dan apotek, atau yang paling bergengsi adalah bekerja sebagai budak korporat di perusahaan asing.


“Fit, akhirnya kita berhasil ya. Jujur ini ujian paling dramatis yang pernah kualami selama kuliah,” ucapku pada Fitri sambil menunggu pesanan kami.


“Yaaa sebenarnya cara ujian seperti ini sudah lama diprotes sih. Selain membuat frustasi mahasiswa, juga rasanya tidak adil ketika kelulusan kita hanya ditentukan dari ujian ini. Bahkan ada beberapa kakak tingkat kita yang sudah terlanjur diterima beasiswa S2 S3 di luar negeri, beasiswanya harus hangus atau terpaksa menunda beasiswanya tersebut hanya karena ujian apotekernya ga lulus.”


“Serius Fit? Kok sedih ya… Apa tidak ada tindakan untuk mengubah format ujian ini?”


“Sejauh ini sih, belum ada. Sayangnya beberapa dosen masih berpikir bahwa ujian dengan cara ini merupakan tradisi yang perlu dilestarikan demi menjaga kualitas lulusan kampus gajah,” jawab Fitri pahit.


“Alasan yang agak konyol ya,” timpalku.


“Begitulah… Senioritas di sini lumayan tinggi,” bisik Fitri.


Percakapan kami harus terhenti karena pesanan bakso dan es jeruk kami sudah datang. Asap mengepul dari kuah bakso yang masih panas, menguarkan aroma kaldu yang gurih. Tumpukan es batu saling beradu dalam gelas, berisi jeruk peras bercampur gula, menghasilkan suara denting yang melegakan dahaga. 


Tanpa banyak bicara, aku dan Fitri segera melahap bakso tersebut. Hmmm nikmatnya. Rasanya ini makanan terenak yang kami makan setelah berminggu-minggu hanya makan sekenanya, demi menjaga asam lambung tetap bekerja sesuai fungsinya untuk mencerna makanan. Aku menambahkan sambal dan saus sampai kuahnya berwarna merah. Sedap sekali. Semangkok bakso tandas, giliran es jeruk yang meluncur masuk ke kerongkongan kami. Segar tiada dua. Kalau dipikir-pikir, cara kami makan saat ini mungkin sedikit terlihat barbar, tidak ada anggun-anggunnya sama sekali. Persis seperti orang yang baru pertama kali makan bakso dan minum es jeruk seumur hidupnya.


Saat sedang asyik menyeruput tetes-tetes terakhir di gelas kami, tiba-tiba datang seorang lelaki jangkung ke meja kami. Aku terkesiap menahan nafas, sembari mengelap jejak-jejak makanan dan minuman yang menempel di bibir dengan tergesa. Fitri bengong melihat kelakuanku. Rupanya dia belum menyadari kehadiran laki-laki itu.


“Hai Fit…” mendengar namanya dipanggil, Fitri pun menoleh. Oh, rupanya laki-laki yang menghampiri meja kami adalah Kak Angga.


“Eh, Kak Angga. Apa kabar Kak? Tumben kemari…” sapa Fitri sambil tersenyum simpul melirik ke arahku. Fitri sialan.


“Baik, baik. Kamu sendiri gimana Fit? Angkatan kalian sudah pengumuman kelulusan ya?”


“Sudah kak, siang ini. Nih, lagi merayakan kelulusan,” jawab Fitri sambil menunjuk mangkok bakso dan gelas es jeruk yang tandas tak bersisa.


“Wah, good job Fit. Selamat ya… Saya ikut senang. Kebayang gimana frustasinya pas persiapan kemarin.”


“Pusing banget kak, jujur. Udah mau nangis aja rasanya tiap masuk ruang ujian.”


“Tapi terlewati juga kan?”


Finally yes, Alhamdulillah… Kak Angga lagi luang ya ini? Biasanya sibuk terus.”


“Ah, masa sih? Kayanya saya ada terus di sekitar sini. Kalian aja yang terlalu fokus sama ujian, sampai ga sadar sama sekitar,” Angga berbicara sambil menyisir rambut ikalnya dengan jari.


Melihat pemandangan itu, aku semakin menunduk salah tingkah, sementara Fitri susah payah menahan tawa demi melihatku tiba-tiba berubah menjadi gadis pemalu.


“Eh, hampir lupa. Kak Angga, kenalin, ini temanku Ariana,” tiba-tiba Fitri berinisiatif mengenalkanku pada Angga. Aku tergagap seraya mengulurkan tangan.


“Eh, hmmm… Ari…” ucapku lirih.


“Angga…”


Salaman singkat yang membuat tanganku tergelitik karena rasanya seperti tersengat listrik.


“Oh… Jadi ini yang namanya Ariana. Kayanya saya sering lihat kamu deh. Kamu teman sekelas Fitri?”


“Iya Kak, saya sekelas dengan Fitri, cuma beda jurusan saja. Fitri di farmasi industri, saya di farmasi klinik,” jelasku panjang lebar dalam satu tarikan nafas. Fitri terkikik di seberangku. Aku melotot tajam.


“Kok, kakak tahu nama saya?” tanyaku mengonfirmasi. Kali ini dengan lebih kalem.


“Soalnya teman saya sering ceritain kamu. Tuh, orangnya di seberang sana. Namanya Dika. Kamu kenal?”


“Dika Pranata Arditya?” tanyaku antusias.


“Iya betul, Dika yang itu.”

“Oh, Kak Dika kakak tingkat saya waktu kuliah sarjana dulu. Kak Angga sama Kak Dika teman dekat ya?”


“Lumayan dekat. Kami sering proyek penelitian bareng. Dika cerita terus loh tentang kamu. Ariana pintar, Ariana suka baca, Ariana fansnya banyak…” Angga menjawab dengan lugas, membuatku tersipu malu. Tahu begitu, aku kan bisa minta dikenalkan ke Kak Angga lewat Ka Dika, ujarku dalam hati.


“Ah… Itu mah cerita lama kak. Kalo di kampus sini, saya cupu. Nih, gara-gara temenan sama Fitri,” kataku mencoba berseloroh.


“Eh, enak aja. Kamu kalo ga ada aku kasian tahu. Persis anak ayam kehilangan induk.”

Angga ikut tergelak melihat kekonyolan kami.


“Oh iya Fit, hampir lupa. Saya kesini mau ngasih ini buat kamu,” Angga menyerahkan selembar undangan bersampul plastik kepada Fitri. Aku penasaran. Fitri menatap undangan itu dengan mata nanar, lalu melihat ke arahku dengan wajah serba salah.


“Jangan lupa datang ya Fit… Ajak Ari juga boleh, nanti Dika juga datang loh,” katanya santai sambil berlalu.


Setelah Angga berlalu dari hadapan kami, Fitri menyodorkan undangan tersebut. Tertera tulisan timbul pada sampulnya, Undangan Pernikahan Angga Aryasatya dan Meli Pramadyana. Senyum di wajahku seketika memudar. Kupu-kupu yang sekitar 15 menit yang lalu masih menari-nari di perutku, kini hilang sudah, terbang entah ke mana. Berganti dengan rasa perih seketika akibat asam lambung yang naik, terpicu karena mood yang buruk. Bakso dan es jeruk yang tadi kunikmati rasanya ingin ku muntahkan kembali, bersamaan dengan pupusnya harapan yang baru saja berbunga. Secepat itu aku patah hati, bahkan sebelum memulai. Fitri menatapku iba.


“Sabar ya…” ucapnya bersimpati.


“Yah, mau bagaimana lagi. Beginilah resiko jatuh cinta dalam diam. Patah hatinya juga dalam diam,” aku membalas simpati Fitri dengan senyum hampa, berusaha menegarkan diri.


“Yaudah yuk pulang…” ajakku pada Fitri. Aku berdiri dan melangkah dengan gontai, agak tidak bersemangat. Fitri menyusul dan mensejajari langkahku. Ia merangkulkan tangannya padaku, menepuk-nepuk bahuku seraya berkata, “Mahasiswi burik dan cupu seperti kita, memang belum saatnya mendapatkan cinta.”


Kendati pahit, aku setuju dengan ucapannya. Hari itu berlalu dengan absurd. Perayaan kelulusan bersama sahabat, lalu perasaan berbunga-bunga yang berganti menjadi patah hati dalam waktu sekejap. Lebih dramatis lagi, kini sayup-sayup terdengar lagu Pemuja Rahasia dari band favoritku Sheila on 7, mengiringi langkah gontai kami. Aku hanya bisa bersenandung lirih, sembari merasakan manisnya patah hati sore itu.


Ku awali hariku dengan mendoakanmu

Agar kau selalu sehat dan bahagia di sana

Sebelum kau melupakanku lebih jauh

Sebelum kau meninggalkanku lebih jauh

'Ku tak pernah berharap kau 'kan merindukan

Keberadaanku yang menyedihkan ini

'Ku hanya ingin bila kau melihatku

Kapanpun, di manapun hatimu 'kan berkata seperti ini

Wanita (pria) inilah yang jatuh hati padamu

Wanita (pria) inilah yang 'kan selalu memujamu

A-ha, yeah, a-ha, yeah

Begitu para rapper coba menghiburku


***

Recent Posts

See All
Perempuan di Sudut Kereta

Kulihat seorang perempuan. Ia duduk termenung di sudut kursi, di sebuah kereta menuju Selatan. Matanya nanar, sesekali terlihat nyalang,...

 
 
 
Lima Menit Saja

Katanya sih, untuk membuat sebuah kebiasaan baru dalam hidup, kita cuma perlu meluangkan waktu selama lima menit saja setiap hari. Aku...

 
 
 
PULANG KAMPUNG - a Novel Part 18

EPILOG - Bertahan Tiga tahun kemudian di kediaman Bu Sasmita... "Usman, Agus, Yayuk, ayo sarapan dulu!" teriak Yani memanggil ketiga...

 
 
 

Comments


  • Facebook
  • Twitte
  • Pinteres
  • Instagram

Thanks for submitting!

© 2023 by Design for Life.
Proudly created with Wix.com

bottom of page