Menjadi Diriku, Kau Tidak Akan Mampu
- Primawati Kusumaningrum
- Jun 8, 2022
- 3 min read
Bulan Juni yang kelabu. Hampir setiap hari awan mendung dan hujan di sore hari. Ada kalanya hujan semalam suntuk hingga pagi menjelang. Membuat diri semakin mantap bermalas-malasan.
Hari ini awan kelabu juga menyelimuti hatiku. Entah apa sebabnya. Barangkali hanya sebagian dari gejala PMS, alasan klasik. Aku merasa kesal bahkan sejak semalam waktu menjelang tidur. Dan perasaanku tak kunjung lebih baik saat bangun tidur. Jenis perasaan yang sulit didefinisikan, yang jelas bukan perasaan yang nyaman apalagi menyenangkan. Kadang aku benci menjadi wanita. Dari semenjak baligh hingga menopause, hidup mereka dipengaruhi oleh hormon. Saat haid, melahirkan, dan menyusui perasaan wanita menjadi berkali-kali lipat lebih sensitif. Dan sayangnya, hal ini jualah yang jarang dipahami oleh para kaum adam.
Setiap kali aku merasa sensitif seperti ini, aku selalu teringat tokoh Rachel Green di serial Friends saat ia sedang mengandung anak Ross.
"No uterus, no opinion." Singkat, padat, jelas, membungkam lawan bicara.
Andaikan hidup kita sesimple sitkom, saat sensitif seperti ini pun tak perlu ada drama, apalagi sampai tumpah air mata hanya karena gara-gara kalimat kurang mengenakkan yang kita dapat tanpa sengaja. Cukup bilang, "no uterus, no opinion." Dan kaum adam pun dengan sadar akan segera menutup mulut mereka dengan sukarela. SAVAGE!
Dan apa yang membuatku kesal hari ini hingga harus menuliskannya seperti ini? Tak lain dan tak bukan karena egoku tersentil. Jangan kira hanya laki-laki saja yang egonya perlu diberi makan, perempuan pun sama. Semua manusia pasti punya ego. Tapi kebanyakan dari perempuan mampu meredam egonya dengan lebih baik, sedangkan aku tidak.
Andaikan mereka dapat mengerti betapa besarnya konsekuensi yang harus aku bayar untuk sampai di posisiku sekarang (pada kahirnya aku bisa menjalani pilihan hidupku dengan nyaman). Andaikan mereka paham betapa sulit dan beratnya melepaskan mimpi-mimpi yang telah mengidupiku setelah bertahun-tahun lamanya, namun karena realita yang tak sejalan akhirnya aku pun memilih untuk mengikhlaskannya dan menjalani saja kehidupanku saat ini dengan bahagia (karena kodisi belum mengijinkanku untuk mewujudkannya). Andaikan mereka paham bahwa aku memiliki keinginan yang begitu besar, namun aku tak punya siapa-siapa lagi selain diri sendiri yang paling mengerti.
Aku bertanggungjawab dengan pilihan hidupku, makanya aku ingin menjalani peran sebagai ibu rumah tangga dengan lebih bahagia. Bukan malah merasa terbebani dan pada akhirnya hanya bisa menyalahkan keadaan.
Aku bertanggungjawab terhadap konsekuensi dari pilihan hidupku. Berumah tangga tanpa support system tidaklah mudah. Jauh dari orangtua (apalagi ketika secara emosional kita juga tidak dekat dengan orangtua. Mau mengandalkan siapa lagi kan?), tidak dibantu nanny maupun ART karena belum mampu membayar jasa mereka secara layak. Memilih secara sadar untuk mengerjakan semuanya sendiri. Dan karena itu aku tidak mau mimpi-mimpiku terdahulu malah menjadi beban pikiran karena tidak mampu kuwujudkan.
Harusnya cukup sampai disitu dapat dipahami kan?
Aku yang paling mengerti sebesar apa pengorbanan yang harus kulakukan untuk meraih mimpi-mimpi itu. Aku yang paling paham sesulit apa jalan terjal berliku yang harus kulalui untuk sampai ke sana. Karena aku pernah melaluinya dahulu sekali. Dan itu tidak mudah, benar-benar menguras pikiran, tenaga, dan mental. Jika aku memaksa diri untuk melakukannya sekarang, yang rusak mungkin bukan cuma diriku, tapi orang-orang di sekitarku juga. Kalau memang tidak bisa membantu, setidaknya diamlah.
Aku hidup bukan untuk menjadi beban bagi siapapun, maka dari itu aku merelakannya dengan susah payah. Usah kau berkata bahwa ini salahku, yang terlalu cepat menyerah. Bahwa ini salahku, yang memilih untuk tidak bergerak maju. Bahwa ini salahku, yang tidak berusaha dengan keras untuk menggapainya.
"Jangan pikirkan sendiri, berbagilah denganku. Kita hidup bersama untuk saling membebani," begitu katamu. Tapi begitu kubagi pikiran-pikiranku, keinginan-keinginaku, kamu langsung merasa ikut terbebani juga kan? Merasa keberatan juga kan? Dan kamu dengan jelas berkata bahwa kamu tak terbiasa ada orang-orang yang bergantung padamu.
Karena itu, mimpiku biar menjadi urusanku. Kau diam saja lah, jangan usik apalagi mengungkitnya. Karena alih-alih termotivasi, hanya perasaan merana yang kudapat. Merana, kenapa hidupku tidak ada gunanya sama sekali? Kenapa aku harus hidup jika hanya untuk membebani orang lain?
Atau bolehlah jika memang kamu ingin melihatku berusaha dengan keras. Kamu belum pernah kan melihat sisi diriku yang berambisi untuk mewujudkan keinginanku? Tapi janji ya, jika aku berusaha keras untuk menggapainya, kau mau bertukar tempat denganku. Karena aku yakin kau tidak akan bisa. Maka diammu alangkah lebih baik daripada sibuk menilai-nilai diriku. Karena menjadi diriku, kau tidak akan mampu.

Comments