top of page

Namaku Alam, Sebuah Novel tentang Sejarah Tersembunyi 1965

RESENSI SINGKAT


Alam, seorang anak tapol (tahanan politik) yang mati dieksekusi di tahun 1965, menginginkan agar ia dan keluarganya bisa hidup dengan tenang tanpa dihantui oleh stigma dan ketakutan akan masa lalu, meskipun usahanya untuk menyembunyikan jati dirinya sebagai anak tapol tersebut selalu berakhir sia-sia.


Sesuai dengan judulnya, tokoh utama dalam novel ini bernama Segara Alam. Ibunya adalah seorang keturunan keluarga terhormat Jawa yang semua keluarganya berprofesi sebagai dokter atau tentara. Kondisi tersebut tidak membuat keadaan keluarga Alam menjadi lebih baik. Sejak ayahnya diberi label sebagai seorang tapol dan mati dieksekusi pada tahun 1965, Alam dan keluarganya kerap kali direndahkan oleh keluarga besar mereka sendiri.

 

Dengan statusnya sebagai seorang anak tapol, Alam dan keluarganya menghadapi banyak hal sulit dalam hidup mereka. Ada masa di mana mereka harus hidup dalam sunyi, demi menghindari interogasi dari orang-orang tidak dikenal yang mencari ayah dan kawan-kawannya. Ada masa di mana mereka pernah ditahan berhari-hari dan ibunya harus menghadapi penyiksaan berulang-ulang di ruang interogasi. Alam dan keluarganya hidup dalam stigma dan trauma tentang kejadian di tahun 1965.

 

Support system terbesar bagi Alam adalah ibu dan kedua kakak perempuannya. Di bawah didikan mereka, Alam tumbuh menjadi pemuda yang pintar, cerkas, mandiri, mencintai sastra dan literasi, serta seringkali bersikap kritis namun sekaligus moody dan broody. Namun dengan semua kelebihannya tersebut, Alam juga tak jarang mengalami perundungan bahkan oleh sepupunya sendiri. Akibat hal itu pula, Alam selalu tersandung masalah, karena alih-alih menghindar, ia selalu memilih untuk melawan dan membalas perundungan yang menimpa dirinya.

 

Hingga pada suatu hari, Alam terpaksa dipindahkan ke sekolah lain karena di sekolah asalnya, Alam hampir selalu terlibat perkelahian. Kepindahan yang awalnya merupakan keterpaksaan bagi Alam lambat laun berubah menjadi suaka baginya. Alam dipindahkan ke sebuah SMA yang sistem pendidikannya cukup progresif di masa itu (masa orde baru). Di sekolah tersebut Alam bertemu dengan Ibu Umayani, seorang guru sejarah yang unik dan pembawaannya dalam mengajar sejarah sangat jauh dari kata membosankan. Guru tersebut mampu mendobrak sistem pendidikan dengan membawa topik-topik sensitif ke dalam kelas, seperti halnya sejarah kelam tentang peristiwa tahun 1965.

 

Di sekolah tersebut pula Alam memulai petualangannya dengan bergabung dalam club “para pencatat sejarah”, di mana dia dan teman-temannya mengumpulkan berbagai referensi terkait sejarah Indonesia yang sengaja ditutupi oleh pemerintah dan tidak tercatat dalam buku-buku pelajaran. Dalam petualangannya tersebut, hal-hal yang selalu menjadi misteri terkait ayahnya dan peristiwa eksekusi tersebut pun lambat laun terkuak dan muncul ke permukaan. Hal-hal yang dulu selalu berujung pada pertanyaan tanpa ujung pun akhirnya menemukan jawabannya satu per satu, lapis demi lapis.

 

Alam yang tumbuh menghadapi masa remaja pun mengalami masa-masa percintaan khas anak sekolah. Konflik timbul kembali ketika identitasnya sebagai anak tapol kembali mengganggunya bak hantu gentayangan dari masa lalu. Alam yang mengira akhirnya identitas dirinya sebagai anak tapol tidak mempengaruhi kehidupannya saat ini dan akhirnya bisa sedikit hidup tenang sambil pelan-pelan menata masa depan, harus kembali tersadar bahwa stigma itu akan melekat padanya seumur hidup. Dan ia pun kembali dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit di kehidupannya di kemudian hari.


PESAN YANG DISAMPAIKAN DARI NAMAKU ALAM


Secara keseluruhan, novel ini mengajak pembaca untuk bersikap kritis dan mencari tahu lebih dalam tentang sejarang Indonesia di masa lalu. Betapa banyak sejarah bangsa yang kabar dan kebenarannya masih simpang siur. Tugas kita adalah mencari tahu dari sumber-sumber yang kredibel terkait peristiwa-peristiwa di masa lalu, agar bisa memahami apa yang terjadi di masa sekarang. Ibu Leila selaku penulis buku ini seolah ingin memberi tahu kita, bahwa mempelajari sejarah tidak cukup hanya dari buku-buku pelajaran dan kurikulum yang disediakan oleh pemerintah, karena isinya telah banyak dimodifikasi untuk kepentingan politik dan penguasa.


Kisah perjuangan Alam dan keluarganya untuk keluar dari stigma yang melekat pada diri mereka juga membawa pesan khusus. Bahwa stigma negatif yang ada pada diri seseorang dapat memberikan dampak besar dalam kehidupannya, bukan hanya pada dirinya sendiri, namun lebih jauh lagi, berdampak pada keluarga dan orang-orang terdekatnya. Betapa tidak mudahnya untuk mengambil pilihan-pilihan hidup dan berbagai keputusan bagi mereka yang terkena stigma negatif. Namun demikian, tidak peduli dari keluarga seperti apa kita berasal, hidup harus terus berjalan. Stigma atau judgment mungkin akan selamanya melekat, namun selama kita mengetahui jati diri kita yang sebenarnya, kita akan mengetahui ke mana harus melangkah dan meneruskan hidup.


Bagaimana keluarga Alam hidup dalam keterbatasan, juga tidak serta merta membuat ibu mereka membatasi diri dan anak-anaknya. Ibu Alam dijelaskan sebagai sosok yang tegas, namun mengayomi. Kuat, namun lemah lembut. Karakter-karakter seorang ibu yang tampak kontradiktif satu sama lain namun justru menjadi pelengkap atas ketidakhadiran sosok ayah dalam keluarga mereka. Alam dan kedua kakak perempuannya tumbuh cerdas dan mandiri dengan keunikannya masing-masing. Bagaimana kerasnya upaya seorang ibu agar anak-anaknya tetap mendapatkan hak terbaik mereka dalam hal pendidikan, terlihat jelas dari karakter-karakter Alam dan kedua kakak perempuannya. Berbagai jenis buku bacaan yang menghiasi rumah mereka, les Bahasa Inggris yang diwajibkan atas mereka, pilihan ibunya untuk menyalurkan “hobi berkelahi” Alam pada tekwondo, semuanya menjadikan ibu Alam adalah sosok yang kuat, istimewa, dan memegang peranan penting dalam keseluruhan cerita ini.


Bagian buku yang ingin kujadikan referensi diantaranya adalah kisah tentang hubungan keluarga dan pertemanan yang solid antar tokoh. Meskipun dalam kesehariannya Alam tidak memiliki banyak teman dan keluarganya selalu dipandang sebelah mata oleh keluarga besar mereka, kualitas hubungan Alam dengan ibu, kedua kakak perempuan, dan beberapa orang sahabatnya terasa begitu solid. Ibunya, meskipun tanpa dukungan keluarga besar, juga memiliki seorang sahabat dari almarhum suaminya yang dengan tulus banyak membantu mereka untuk bangkit dari keterpurukan. Aku yakin, agaknya kita semua setuju, bahwa kualitas hubungan seperti itulah yang kita perlukan dan inginkan ada dalam hidup kita.


Hal yang kedua adalah gaya bercerita yang ringan namun tidak terkesan menye-menye. Sejatinya kisah Alam merupakan kisah seorang anak yang tumbuh menjadi seorang remaja di SMA. Namun untuk seorang remaja, percakapan-percakapan dan pemikiran-pemikiran Alam maupun tokoh-tokoh pendukung lainnya, seperti teman-teman Alam di sekolah, tetap dibuat "berisi". Sekali lagi, Ibu Leila seperti hendak mengajak kita, bahwa seorang anak remaja pun bisa berpikir kritis dan progresif, tergantung dari bacaan apa yang ia konsumsi sehari-hari, pengalaman-pengalaman hidup apa saja yang telah mereka lalui, dan seberapa besar dukuangan kuat keluarga untuk mereka agar bisa terus berkembang.


Terakhir, aku suka sekali dengan karakter tokoh-tokoh remaja yang kuat dengan pemikiran mereka cerdas, kritis, dan progresif. Sebagai pembaca, betapa aku rindu dengan diskusi-diskusi hangat dan segar anak muda seperti yang ditampilkan pada buku. Bagaimana sosok-sosok anak muda terdahulu seperti Sutan Syahrir dan Hatta mampu merubah kondisi bangsa melalui pemikiran dan diskusi-diskusi cerdas seperti ini. Meski jaman telah jauh berubah, Ibu Leila seperti hendak mengajak anak-anak muda saat ini untuk kembali pada hal-hal yang fundamental agar bisa berpikir dengan lebih kritis serta mampu menuangkan isi kepala melalui diskusi-diskusi sehat.


Secara keseluruhan, novel Namaku Alam bisa dinikmati oleh pembaca segala usia dan sangat direkomendasikan bagi mereka yang tertarik belajar sejarah dengan cara yang ringan dan menyenangkan.

Comments


  • Facebook
  • Twitte
  • Pinteres
  • Instagram

Thanks for submitting!

© 2023 by Design for Life.
Proudly created with Wix.com

bottom of page