Meracau di Hari Kemarau
- Primawati Kusumaningrum
- Sep 13, 2023
- 4 min read
Halo September, lama tak menulis rasanya kaku juga. Tau-tau sudah tiba di penghujung tahun 2023 (aku anggap bulan 'ber' adalah penguhujung tahun meski belum memasuki bulan ke-12).
Terakhir aku menulis adalah bulan Februari, itu artinya sudah tujuh bulan aku vakum menulis. Sesungguhnya tidak ada hal istimewa yang terjadi. Jika tahun kemarin aku isi dengan rajin menulis blog dan membaca buku, maka tahun ini adalah sebaliknya.
Menulis hanya jika ingin, membaca buku pun hanya jika ingin. Menarik juga ya, kenapa tidak dilanjutkan menjadi kebiasaaan baik yang dilakukan terus menerus saja. Tapi ya itulah manusia (aku). Kalau ga mageran ya bosenan. Konsisten dalam ketidakkonsistenan sepertinya adalah satu-satunya kelebihanku.
Namun tetap saja, dalam waktu tujuh bulan ini pun ada banyak hal yang patut kusyukuri. Salah satunya, aku jadi punya lebih banyak waktu luang semenjak putriku masuk sekolah, dan aku bisa mulai kembali mengikuti berbagai kelas untuk mengatasi rasa bosanku (tentunya dengan lebih mindful dibandingkan sebelumnya). Juga, pada akhirnya kami memiliki sebuah mobil. Meski hanya mobil tua bekas, namun sudah sangat cukup untuk mengakomodir kebutuhan kami saat ini. Dan karena hal ini, aku jadi punya alasan untuk mengikuti kursus menyetir agar bisa lebih mandiri dalam bepergian.
Alasan menulis kali ini pun lebih kepada disasari oleh rasa bersalah karena meninggalkan blog terlalu lama, dan juga karena perasaan marah. Iya, marah gara-gara beberapa hal yang terjadi di lini masa belakangan ini.
Hal yang pertama tentu saja isu polusi udara. Marah, karena tentu saja korban paling banyak dan utama dari isu ini adalah anak-anak. Putriku sendiri sepertinya hampir tiap bulan berlangganan batuk pilek. Jangan tanyakan bagaimana kondisi berat badannya. Bisa bertahan dan tidak turun drastis saja rasanya aku sudah cukup senang. Karena setiap kali batuk pilek, otomatis nafsu makan dan waktu istirahat pun akan terganggu. Ditambah lagi putriku picky eater dan moodian soal makan. Sementara saat ini aktivitas fisiknya semakin bertambah.
Musim kemarau yang diperparah dengan asap dari industri PLTU, dan kebiasaan warga setempat yang lebih suka melakukan aktivitas bakar sampah karena merasa keberatan dengan iuran sampah yang tidak seberapa, menjadi masalah yang berlapis-lapis dalam isu polusi udara saat ini. Ingin sekali rasanya aku berkata di depan para pemangku kebijakan, "Bagaimana mungkin Indonesia Emas 2045 bisa tercapai jika nasib generasi penerus bangsa saat ini saja diberi kualitas udara yang tidak layak hirup? Jangan-jangan baru menginjak usia 20-an saja mereka sudah wafat akibat akumulasi udara buruk yang dihirup terus menerus."
Hal kedua adalah masalah finansial. Aku bukan hendak mengeluhkan pendapatan keluargaku. Namun aku sungguh-sungguh ingin mengutuk sistem yang berlaku saat ini. Siapa sih yang menciptakan sistem kapitalis liberal yang bobrok ini? Rasanya seperti diperbudak di negeri sendiri. Biaya pendidikan semakin sulit dijangkau, harga property yang semakin melangit, harga sembako dan BBM yang fluktuatif, dan masih banyak lagi. Seakan-akan hidup kita hanya dihabiskan untuk menabung dan menabung tanpa bisa menikmati hari ini. Maka tak heran empowering women yang terus digaungkan adalah tentang bagaimana caranya agar ibu rumah tangga yang sehari-hari ada di rumah juga bisa berdaya secara finansial. Bahwa ujung-ujungnya, semua selalu tentang uang. Padahal aku yakin, jumlah ibu rumah tangga fulltime tanpa penghasilan sepertiku jumlahnya tak kalah banyak. Dalam sistem kapitalisme, perasaan cukup seolah menjadi tabu.
Bagaimana hidup tidak tambah lelah. Kita seolah diperdaya untuk terus mengumpulkan pundi-pundi rupiah tanpa peduli lagi dengan akhirat. Tanpa menyadari bahwa ada banyak hal-hal yang jauh lebih prinsipil daripada hal tersebut.
Dan aku tambah terheran-heran manakala orang berbondong-bondong menunjukkan di media sosial dengan bangga, bahwa mereka telah berhasil membooking tanah pemakaman yang harganya setara DP mobil dan rumah itu. Iya sih, mempersiapkan hari akhir juga butuh dana yang seringkali tidak sedikit. Tapi apa yakin itu saja cukup?
Entahlah, dibilang iri pun sebenarnya tidak. Hanya tak habis pikir saja, kenapa makin hari kita makin mengukur segala sesuatunya dengan materi? Katanya tidak semua hal bisa diukur dengan uang, tapi segalanya butuh uang. Aku tidak menolak gagasan itu karena memang benar adanya. Tapi apa perlu semua hal selalu dikaitkan dengan materi?
Terus terang untuk diriku yanng setiap harinya berperang dengan overthingking, mau tidak mau jadi kepikiran. Bagaimana kalau suamiku meninggal mendadak dan aku masih saja tidak punya penghasilan seperti saat ini? Bagaimana aku dan anakku akan hidup nanti? Bagaimana biaya sekolahnya? Dan masih banyak lagi yang membuatku cemas.
Tanpa disadari, kita jadi memikirkan banyak hal-hal di luar kendali kita, yang bahkan mungkin belum tentu akan terjadi. Tidakkah kita yakin akan janji Allah, bahwa Ia telah menjamin rezekinya untuk manusia selama kita masih bisa bernapas di dunia? Jadi kenapa semua harus serba tergesa?
Tenanglah, tenang... Sudah Allah jamin dan Allah cukupkan rezeki kita di dunia.
Tenanglah, tenang... Usah risau. Sekalipun tidak berdaya secara finansial, kita sudah sangat berdaya sebagai seorang istri dan seorang ibu. Kita membagi harta suami yang diamanahkan untuk kebutuhan diri, keluarga, kerabat, dan orang yang membutuhkan sesuai dengan porsinya itu sudah lebih dari cukup. KArena itu bagian dari tugas kit auntuk menjaga harta suami.
Tenanglah, tenang... Semoga Allah ganti keikhlasan kita untuk mengabdi pada suami dan berumah tangga dengan takdir yang baik. Yaitu dikaruniainya diri kita dengan putra putri yang sholeh sholehah dan cerdas, bapak ibu mertua yang bisa kita anggap layaknya bapa ibu sendiri, suami yang setia dan mengasihi kita setulus hati, kesehatan yang paripurna untuk anggota keluarga kita, dan masih banyak lagi kebaikan yang Allah sertakan untuk hidup kita. Meski mungkin saat ini, kita belum menyadarinya.
Comments