top of page

Menyambut Hari

Updated: Dec 23, 2021

Pagi ini aku terbangun dengan perasaan lebih baik. Setelah berminggu-minggu sebelumnya aku selalu bangun siang, tidak punya energi dan tidak bersemangat, akhirnya pagi ini aku bisa menyapa pagi hari dengan sedikit senyuman. Hatiku terasa lebih lapang setelah beberapa hari ke belakang terasa sesak oleh jerat tak kasat mata. Tubuhku bergerak dengan lebih riang, dan pikiranku rasanya lebih relax.


Aku tidak tahu, apakah ini efek dari bangun pagi, atau efek dari menumpahkan segala kepenatanku kemarin malam, atau entah efek dari konsumsi jeruk nipis peras pada saat bangun tidur. Yang jelas pikiran dan perasaanku terasa lebih ringan daripada hari-hari kemarin.


Putriku masih trertidur lelap di sampingku, jadi aku bisa dengan leluasa menulis pagi ini. Aku tahu lambat laun kebiasannya bangun siang harus diubah. Selain karena nanti putriku akan bersekolah, dia juga pada waktunya nanti harus menunaikan kewajibannya untuk sholat subuh. Tapi aku sungguh masih belum rela jika kebebasanku di pagi hari direnggut oleh kewajibanku sebagai seorang ibu. Pagi hari adalah satu-satunya waktu di mana aku bisa melakukan segala aktivitas non keistrian dan non keibuan.


Jika melihat kehidupan ibu rumah tangga lain (termasuk mamaku dulu), aku tak habis pikir bagaimana mereka bisa begitu menikmati hari-hari mereka setiap hari dengan hal yang itu-itu saja. Aku jujur saja, bukan termasuk ibu rumah tangga yang rajin. Aku tidak pandai memasak, meskipun ibu mertua, suami, dan putriku selalu memuji masakanku. Ketimbang memasak, aku lebih sering membeli makanan jadi atau masakan siap saji. Jika suami di rumah, tugas memasak itu seringkali diambil alih olehnya. Aku juga tidak setiap hari mencuci baju. Tugas menyetrika pakaian pun sudah aku limpahkan kepada bantuan ART yang datang seminggu sekali. Aku juga merasa tidak telaten mempersiapkan materi bermain untuk putriku seperti ibu-ibu kebanyakan. Aku lebih sering bermain spontan dan bebas dengan putriku.


Sungguh tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan mamaku dulu. Biasanya sejak pagi, mama akan membuatkan kopi hangat untuk papa. Sementara papa membaca koran pagi, mama akan memasak sarapan. Ketika papa berangkat ke kantor, mama akan sibuk beres-beres. Bebenah tempat tidur, menyiram tanaman, dan bersih-bersih rumah. Sekitar jam 9 pagi, mama akan berangkat ke pasar untuk membeli bahan-bahan masakan. Sampai rumah sekitar jam setengah 11, mama akan istirahat sejenak. Baru setelah itu akan lanjut memasak untuk makan siang. Sore hari jika tidak memasak, mama akan berangkat ke pengajian, ikut arisan, atau kembali bercengkrama dengan tanaman-tanaman kesayangannya. Jika kami semua sedang berkumpul di rumah, mama akan membuat kudapan untuk kami. Sepiring pisang goreng, bala-bala, atau mendoan hangat. Ah, mamaku memang sungguh tiada duanya.


Tapi bagaimana pun, aku tidak tahu bagaimana perjuangan beliau sewaktu aku masih kecil. Itu semua adalah hal yang aku lihat ketika aku beranjak remaja. Yang jelas, buatku mama adalah gambaran ibu rumah tangga yang ideal.


Keputusanku dulu menjadi ibu rumah tangga adalah murni keputusanku. Tidak ada paksaan dari siapa pun. Inspirasiku tentu adalah dari mama. Karena aku melihat dan merasakan sendiri bagaimana kuatnya hubungan kami ketika waktu yang mama punya didedikasikan untuk keluarganya. Aku ingin menjadi seperti itu. Meski mungkin aku bukan ibu rumah tangga yang ideal, tapi kuharap aku bisa membentuk bonding yang kuat dengan anak-anakku kelak. Menjadi tempat ternyaman bagi mereka untuk bercerita, bercanda, dan berkeluh kesah.


Buatku menjadi ibu rumah tangga sungguh tidak mudah. Di waktu-waktu tertentu, ada perasaan kesepian dan terkungkung yang dengan halus menyusup di relung hatiku. Jenuh dan bosan dengan rutinitas yang itu-itu saja, merasa tertinggal jauh dengan teman-temanku. Bahkan terkadang aku merasa iri terhadap suamiku sendiri. Mungkin ini juga yang dirasakan mamaku dulu. Keluhan yang sering keluar dari mulut beliau adalah bosan, jenuh, dan minder. Padahal di mataku beliau adalah sosok istri dan ibu sempurna, yang sampai kapan pun aku tidak akan bisa menyamainya.


Menjadi ibu rumah tangga adalah salah satu keputusan terbesarku, dan sampai saat ini aku masih berjuang untuk menikmati pilihanku. Bukan berarti aku menyesal dengan keputusanku. Hanya saja, aku tidak berpikir kalau ternyata akan sesulit ini untuk dijalani. Bukan hanya tentang tugas harian yang tampaknya remeh temeh (padahal tidak), tetapi emosi yang berkelindan setiap kali perasaan lelah dan jenuh muncul. Aku bercokol dengan emosiku hampir setiap hari. Melawannya aku tak sanggup, sementara untuk merangkulnya sendirian aku merasa letih. Tapi mengabaikannya juga hanya akan membentuknya menjadi bom waktu.


Mungkin aku yang masih tidak tahu bagaimana caranya mengelola emosi diri dengan baik. Mungkin juga ini sebagai bentuk teguran Tuhan agar aku cepat-cepat kembali mendekat pada-Nya. Atau mungkin aku hanya butuh kehadiran seorang teman untuk berbagi. Apapun itu, mari bertahan untuk hari ini. Mari bersikap lebih sabar dan lebih lemah lembut. Mari bersikap lebih legowo untuk hal-hal yang ada di luar kendaliku. Mari jalani hari ini dengan lebih mindful. Pagiku hari ini sudah baik, semoga sisa hariku juga berjalan dengan baik.


Recent Posts

See All
Life's Update Before 2024 Ended

So, how's life recently? Setelah beberapa bulan di pertengahan tahun ini aku mencoba berlari kencang, ternyata di 3 bulan terakhir menuju...

 
 
 
Persimpangan

Kurang lebih 3 bulan berlalu setelah aku memutuskan untuk bergabung sebagai volunteer di dua komunitas yang berbeda. Bagaimana rasanya...

 
 
 
Juni Berkembang

Bisa dibilang, bulan Juni ini menjadi starting point bagiku untuk mulai berbunga. Mimpi-mimpi yang sebelumnya tampak jauh untuk dijangkau...

 
 
 

Comments


  • Facebook
  • Twitte
  • Pinteres
  • Instagram

Thanks for submitting!

© 2023 by Design for Life.
Proudly created with Wix.com

bottom of page