Memetik Hikmah dari Kisah Tragis Sang Anak Gubernur
- Primawati Kusumaningrum
- Jun 5, 2022
- 5 min read
Tanggal 26 Mei hingga 5 Juni hari ini, rakyat Indonesia berduka atas meninggalnya seorang anak gubernur. Emmeril Khan Mumtadz namanya. Ia adalah putra pertama dari Ridwan Kamil, satu sosok pemimpin negeri yang benar-benar kukagumi.
Semenjak dikabarkan hilang dalam perjalanannya mencari sekolah untuk melanjutkan studi S2 di Swiss, perhatian dunia tertuju padanya. Ia dinyatakan hilang saat sedang berenang di Sungai Aare, Kota Bern, setelah sebelumnya dirinya sendiri memastikan adik dan temannya berhasil menepi dengan selamat. Nahas, Eril yang saat itu juga berusaha untuk menepi, didahului oleh arus kuat Sungai Aare yang kemudian membawanya pergi sampai hari ini.
Hal yang tidak biasa dari musibah ini adalah bahwa kisah tragis tersebut ternyata membawa duka yang dalam bukan hanya bagi keluarganya, tetapi juga bagi banyak orang yang mengikuti kabar tersebut, termasuk aku sendiri. Aku hanyalah salah seorang dari sekian banyak manusia yang berduka untuknya. Namun entah kenapa duka itu bahkan terasa cukup dalam bagiku yang bahkan bukan siapa-siapa ini. Semenjak berita hilangnya Eril hingga proses pencariannya yang tak kunjung membuahkan hasil, aku terus merasa khawatir sembari harap-harap cemas agar ia bisa segera ditemukan dalam keadaan selamat. Tidurku pun rasanya tidak tenang karena terus memikirkannya.
Setiap berita yang kubaca di media sosial rasanya membuat kerongkonganku tercekat karena menahan tangis. Setiap kabar kecil dan postingan tentang keluarganya rasanya membuat lututku lemas akan berbagai kemungkinan terburuk yang terjadi. Dan tangisku pun akhirnya pecah saat keluarga secara terbuka menunjukkan kepasrahannya bahwa mereka meyakini Eril telah meninggal karena tenggelam. Aku menangis sesenggukan atas meninggalnya seseorang yang bahkan tidak pernah aku kenal sebelumnya.
Sebenarnya aku juga tidak tahu alasan khusus mengapa aku bisa begitu berduka untuknya. Mungkin karena ia anak dari seorang pemimpin negeri yang sangat kuidolakan sejak debutnya sebagai Walikota Bandung. Mungkin juga hanya sebagai keberuntungan semata, beruntung bahwa Eril adalah anak dari seorang tokoh masyarakat yang banyak diidolakan, sehingga banyak orang yang bersimpati atas kepergiannya. Namun terlepas dari itu semua, yang kuyakini adalah ketika satu orang sholeh meninggal, seisi bumi akan menangis mengiringi kepergiannya, entah ia anak ulama, entah ia anak pejabat, entah ia anak seorang rakyat jelata, atau bahkan ia anak dari seseorang yang tidak banyak disukai manusia. Eril bukan satu-satunya anak yang meninggal karena tenggelam di Sungai Aare, dan Ridwan Kamil bukan satu-satunya ayah yang pernah mengalami kehilangan. Namun mengapa seluruh kejadian tragis ini terasa begitu menyayat hati (sekaligus terasa begitu istimewa)? Karangan bunga berderet di sepanjang Gedung Pakuan, ucapan duka cita sebagai dukungan moril banyak diterima keluarga, do'a-do'a kebaikan tak henti dilantunkan, hingga himbauan untuk melaksanakan sholat ghoib pun didukung dan dilakukan serempak oleh banyak pihak, termasuk oleh para ulama.
Sampai di titik ini aku bertanya-tanya, amalan apakah yang dilakukan oleh sosok Eril, sampai kepergiannya ini menarik begitu banyak duka bahkan dari orang-orang yang tidak mengenalnya? Yang kutahu dari berita bahwa ia adalah sosok anak yang bertanggung jawab, rendah hati, dermawan, pintar, selalu mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan dirinya sendiri. Seperti halnya sosok ayahnya, di mata orang-orang yang mengenalnya secara personal, ia juga menjadi sosok yang banyak dikagumi. Tapi rasanya pertanyaanku masih belum terjawab. Bahkan di logikaku yang sempit ini, itu semua bahkan mungkin belum cukup untuk mengundang perhatian khalayak yang begitu besar atas kepergian seseorang. Namun aku kira memang bukan tugas manusia untuk bisa memahami takdir Tuhan seutuhnya. Yang bisa kita lakukan adalah menerima dengan lapang dan belajar darinya. Eril memang jarang tersorot berita, bahkan banyak dari kita yang baru mengetahui bahwa ternyata ia adalah seorang anak dari tokoh masyarakat ketika ia meninggal. Jadi aku rasa, kalaupun kita tidak tahu banyak tentang sosok Eril, tentang amalan-amalan apa saja yang dilakukannya hingga ia diantarkan pada takdir yang begitu indah di akhir usianya, mungkin kita bisa belajar dari sosok orangtuanya yang sudah lebih dahulu kita kenal.
Selama masa-masa pencarian Eril hingga kepergiannya, aku sungguh-sungguh banyak belajar dari sosok Ridwan Kamil dan Ibu Atalia sebagai kedua orangtua Eril. Selama ini kita disuguhi dengan keadaan keluarganya yang selalu tampak sempurna di mata masyarakat. Kompak, selalu memprioritaskan keluarga di atas segalanya, senantiasa memperlakukan kedua ibunya dengan baik, dan berbagai pemberitaan lainnya tentang kehidupan pribadi beliau di samping sebagai seorang pemimpin, rasanya sudah cukup menjelaskan mengapa pada akhirnya Eril menjadi sosok anak yang istimewa hingga kepergiannya. Itu semua karena amalan-amalan baik yang dilakukan oleh kedua orangtuanya, hingga kebaikan tersebut juga mengalir kepada anak-anaknya. Kita melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana cara mereka mendidik dan memperlakukan anak-anaknya, hingga buah hati mereka manjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah. Menjadi anak-anak yang tidak hanya menjadi kebanggan orangtua dan keluarganya, namun juga menjadi kebanggaan banyak orang. Meski sebagian orang menganggapnya sebagai pencitraan semata untuk menarik suara kaum milenial, namun di mataku segala tindak tanduknya selalu tampak tulus. Keluarga Ridwan Kamil adalah salah satu sosok tokoh masyarakat yang menurutku memang layak dijadikan panutan, entah sebagai seorang pemimpin, maupun sebagai seorang human being.
Dan kekagumanku pada sosok keluarga tersebut semakin bertambah-tambah dengan hadirnya musibah ini. Bagaimana mungkin sebuah keluarga bisa terlihat sekuat dan setegar ini dalam menjalani takdir-Nya? Menghadapi kehilangan sosok yang dicinta dengan tabahnya. Memaksimalkan segala upaya dengan sisa-sisa tenaga dan harap yang ada dengan tenangnya. Kalaulah hatinya tidak diikat dengan keimanan yang begitu kuat, aku yakin sedikitnya pasti mereka akan merasa binasa. Namun sekali lagi, keluarga tersebut menunjukkan pribadinya yang sungguh luar biasa, kali ini bukan sebagai seorang pemimpin, namun sebagai seorang ayah, seorang ibu, seorang adik, juga sebagai ummul mukminun yang harus kehilangan bagian keluarganya dengan begitu tragis di mata manusia, namun indah di mata Tuhan. Dengan kepergiannya, Eril telah menjemput takdir-Nya untuk kembali kepada Sang Pencipta, meninggalkan semua kenangan baik tentang dirinya di mata dunia.
Aku harap, Ridwan Kamil dan keluarga memiliki waktu yang cukup untuk berduka. Karena bagiku, waktu berduka setelah 9 tahun kepergian Mama belum benar-benar cukup untuk membuat luka ini benar-benar kering. Sesekali ia masih berdarah kembali. Aku rasa hal ini jualah yang menjadi penghubung antara duka yang muncul akibat meninggalnya Eril dengan duka yang belum benar-benar sembuh akibat meninggalnya Mama dulu. Namun aku yakin keluarga Ridwan Kamil akan bisa melaluinya dengan lebih baik dan lebih kuat daripada siapapun. Andai bisa ingin aku berucap langsung di hadapannya, "Stay strong pak, bu, Zara. Duka ini mungkin tidak akan pernah sembuh, namun akan berlalu seiring waktu. Aku harap kalian bisa melaluinya dengan baik, dengan tetap menjaga kekompakan dan selalu hadir satu sama lain. Terima kasih untuk segala pembelajaran yang kalian berikan melalui musibah ini, sungguh kami banyak belajar dari kalian bagaimana seorang Mukmin harus bersikap ketika dihadapkan pada takdir Tuhan, bagaimana sebuah keluarga yang utuh harus saling mendukung satu sama lain bahkan dalam titik terendah sekalipun. Kalian adalah contoh orangtua yang telah sukses mendidik anaknya, karena mampu mengantarkan anak hingga menemui takdir teritingginya untuk bertemu kembali dengan Sang Pencipta. Kepergian Eril akan diingat oleh seisi bumi selamanya."
Dari aku yang juga pernah merasakan kehilangan.




Comments