top of page

Melepaskan Mimpi-mimpi Itu, Apakah Ini Waktunya?

Oke, tulisan kali ini sepertinya akan terasa agak sedikit emosional. Sebelum masuk ke inti tulisan, aku ingin melakukan sedikit kilas balik ke mimpi-mimpi di masa mudaku, dan bagaimana aku yang dahulu masih naif memandang masa depan dan selalu optimis dalam menaklukkan tantangan apapun.


Aku diajari untuk bermimpi oleh papah. Papah adalah orang yang paling punya andil dalam hidupku hingga punya karakter seperti ini (selain mama tentunya). Sedari kecil, aku sudah terbiasa merancang tujuan hidupku. Aku memikirkan dengan dalam dan spesifik, tujuan apa saja yang ingin kuraih dalam hidup. Apalagi semenjak kuliah, aku sudah terbiasa membuat mind map. Mimpi-mimpi tersebut kutuangkan dalam rencana-rencana yang terbagi menjadi rencana jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Tentu tidak semua mimpi dan apa yang kurencanakan terwujud menjadi nyata. Tagline the dream come true tidak semudah kelihatannya. Perlu upaya yang tidak sedikit dan bertahun-tahun untuk mewujudkannya.


Namun mungkin karena itu aku bisa persisten seperti ini terhadap pilihan-pilihan yang kubuat. Bermimpi buatku seperti bernafas. Jika oksigen itu hilang, aku menjadi megap-megap dan merasa hidupku kehilangan arah tujuannya. Sebenernya aku bukan orang yang bisa konsisten dalam satu hal. Ketimbang konsistensi, mungkin yang aku punya adalah loyalitas dan totalitas. Aku mudah merasa bosan dan burnout jika menghadapi hal yang sama terus menerus dalam jangka waktu yang lama, meskipun itu dalam konteks hal yang aku suka. Ada kalanya aku ingin berlibur panjang tanpa melakukan apa-apa. Apa itu passion? Aku tidak punya. Tapi aku tahu, begitu aku memutuskan untuk memilih satu hal dan menjalaninya dengan serius, aku akan total dan berdedikasi penuh meski sampai harus berdarah-darah, meski aku tidak menyukainya.


Waktu masih SD, aku pernah bermimpi dan bercita-cita untuk masuk ITB. Cita-cita itu konsisten hingga aku masuk SMA. Tentu saja jalan itu tidak mulus. Orang tuaku meski bisa dibilang cukup mampu, tapi tidak cukup kaya untuk bisa menyekolahkanku di kota Bandung yang biaya hidupnya terhitung mahal. Aku tidak mendapat restu mereka meski aku sampai harus bersimpuh sambil menangis sesenggukan karena tidak bisa menjalani apa yang menjadi pilihan dan tujuanku. Maka seyogyanya anak yang harus berbakti kepada orang tua, aku menuruti keinginan mereka untuk kuliah di kampus tempat papahku dulu kuliah, meski dengan sangat berat hati.


Empat tahun berselang, dan tibalah saatnya aku melanjutkan kuliah profesi apoteker. Kampus tempatku kuliah belum mempunyai program profesi, sehingga aku harus mendaftar kembali ke kampus lain untuk melanjutkan jenjang pendidikan. Kuliah di ITB? Tentu aku masih memimpikannya. Beruntung, kali ini keinginanku bersambut. Mungkin karena waktu pendidikannya lebih singkat, hanya 1 tahun, papah mengizinkanku memilih kampus sesuai keinginanku. ITB masuk dalam prioritasku, namun ternyata pendaftaran sudah ditutup, sementara aku masih berkutat dengan sidang hasil skripsi dan menunggu jadwal wisuda. Pilihan kedua adalah UI, karena waktu pendaftarannya paling dekat selepas jadwal wisudaku. Kenapa tidak UGM atau UNAIR, atau kampus lain yang program farmasi dan apotekernya sudah bagus? Tentu kedua kampus tersebut sempat menjadi alternatif pilihanku, namun saat kelulusan angkatanku, kedua kampus tersebut tidak membuka program profesi untuk program external. Alasannya? Karena kualitas lulusan dari mahasiswa external tidak memenuhi standar mereka, sehingga program hanya terbuka bagi mahasiswa internal saja. Reality is suck, I know. UNPAD jelas bukan pilihanku, karena 60% mahasiswa externalnya berasal dari kampusku. Dan aku tidak mau menghabiskan waktu satu tahunku dengan lingkungan dan orang-orang yang sama. Aku ingin bertumbuh bersama orang-orang yang sama sekali baru.


Singkat cerita, selepas jadwal wisudaku, ternyata pendaftaran ITB dibuka kembali, namun hanya dalam waktu 2 minggu. Aku pun mendaftar ke kedua kampus pilihanku, UI dan ITB. Jarak pendaftaran hingga tes masuk ke UI adalah satu bulan, sementara jarak pendaftaran hingga tes masuk ke ITB hanya 2 minggu. Waktu tes masuk antara kedua kampus tersebut juga hanya berselang 2 hari. Jadi strategi apa yang kulakukan? 2 minggu pertama aku fokus belajar untuk tes masuk UI, yang mana soal tes masuk hanya terdiri dari 3 macam subjek saja, yaitu tes psikologi, matematika-logika, dan bahasa inggris. Dua minggu berikutnya kupersipakan fokusku untuk tes masuk ITB, yang mana soalnya lebih kompleks, yaitu meliputi semua mata kuliah yang terangkum dari semester 1 hingga semester akhir. Aku ingat meminjam banyak buku dari perpustakaan untuk kupelajari, karena aku yakin materi kuliah yang disampaikan oleh kampusku berbeda cukup signifikan dengan materi kuliah yang ada di ITB meski sama-sama jurusan farmasi. Aku juga ingat membuat beberapa rangkuman untuk materi-materi yang sama sekali baru. Aku tidak ingat bagaimana susahnya dulu perjuanganku, namun yang aku ingat adalah aku menikmati setiap prosesnya.


Tes masuk UI dilakukan lebih dahulu, jadi aku berangkat ke Jakarta bersama satu orang sahabatku yang hendak sama-sama mendaftar ke UI. Selesai tes UI, aku langsung bertolak ke Bandung karena jarak tes masuk UI dan ITB hanya berselang 2 hari. Di sana aku melakukan daftar ulang dan menjalani tes masuk sendirian. Beruntung ada beberapa teman semasa SMA yang juga berkuliah di sana, sehingga aku banyak dibantu oleh mereka. Aku tidak ingat waktu tes dimulai jam berapa, tapi yang aku ingat aku baru selesai tes pada jam 5 sore. Sebuah pengalaman yang tidak akan kulupakan hanya untuk menjalani mimpi dan pilihan yang diinginkan.


Beberapa minggu kemudian, hasil tes masuk pun diumumkan. Meski tes masuk UI lebih dahulu daripada tes masuk ITB, namun pengumuman hasil ITB lebih dahulu daripada UI. Alhamdulillah, aku diterima di kampus impianku. Butuh waktu 4 tahun untukku sampai akhirnya aku bisa menjemput mimpiku untuk berkuliah di tempat yang aku inginkan. Aku tetap memilih ITB sebagai tempatku melanjutkan kuliah profesi, meski pada akhirnya aku juga diterima di UI.


Waktu berlalu, aku pun kembali dihadapkan pada realita. Bidang pekerjaan mana yang harus kuambil selepas lulus profesi? Apakah akan tetap di bidang farmasi klinik sesuai denga spesialisai yang kuambil atau mencari pengalaman di bidang farmasi industri? Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, aku memilih untuk bekerja di bidang farmasi industri. Tujuanku saat itu hanya ingin belajar sebanyak mungkin melalui keseluruhan proses yang terjadi di industri farmasi, mulai dari proses produksi hingga menjadi obat jadi yang siap didaftarkan ke BPOM dan dirilis ke market. Beruntung, aku mendapatkan tempat kerja yang sesuai dengan keinginanku. Perusahaan farmasi tempatku bekerja adalah perusahaan multinasional yang cukup bonafide, dengan sistem yang sudah terbangun dengan baik. Meski dari sistem manajemennya tergolong masih banyak celah, namun sistem perusahaannya sudah sangat baik, sehingga aku tinggal mengikuti dan mempelajari end to end process yang sudah terstandar, bukan merancangnya dari awal.


Meski begitu, aku masih mempunyai mimpi tinggi untuk bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di luar negeri di bidang drug safety/pharmacovigilance atau clinical research. Impianku adalah membangun sebuah fasilitas kesehatan, dimana semua tenaga kesehatan dapat saling bersinergi di dalamnya. Kalau di perusahaan multinasional mungkin mirip seperti program inklusi, dimana dalam praktek di lapangan tidak ada tenaga kesehatan yang lebih menonjol atau lebih dominan daripada yang lain. Dan bidang studi clinical research atau pharmacovigilance adalah salah satu jurusan yang bisa menjembatani mimpi besarku itu. Dimana dalam drug safety, isu fasilitas kesehatan sebagai komoditi tapi juga tetap berorientasi kepada pasien bisa tetap berimbang. Meskipun saat ini pharmacovigilance baru diterapkan untuk indutsri farmasi saja (dan pekerjaannya hanya berkisar pada laporan adimistratif saja), namun aku punya keyakinan bahwa hendaknya setiap fasilitas kesehatan seperti rumah sakit pun menerapkan pharmacovogilance sebagai bagian struktural dan fungsional mereka. Aku yakin peranan pharmacovigilance lebih dari sekedar membuat laporan administratif mengenai adanya safety issue dari suatu produk obat. Pharmcovogilance melibatkan riset dan aktiviatas sains untuk mendukung laporan terkait safety issue tersebut.


Lalu apakah mimpi besar itu sudah termasuk dalam rencana jangka panjang? Sudah, tapi aku tidak tahu kapan ini bisa terwujud. Sebenarnya mimpi ini hampir tidak mustahil untuk diraih jika saja aku lolos wawancara kerja tempo hari. Ketika menjalani proses interview dan assesment, aku mendapati deskripsi pekerjaan yang akhirnya cocok dengan latar belakang pendidikan dan sesuai dengan minatku. Dalam bayanganku, jika aku berhasil membangun karir di bidang tersebut, aku bisa manjadikannya bekal untuk kemudian melanjutkan kuliah di bidang yang sejalur dengan pekerjaanku. Namun, lagi-lagi takdir Tuhan berkata lain. Entah sedang ditunda atau diganti dengan rencana-Nya yang lebih baik, mimpi itu kembali kukubur dalam-dalam. Mimpi untuk memiliki apotek sendiri pun belum bisa kuwujudkan, karena besarnya modal yang harus dikeluarkan.


Sebagaimana yang diketahui oleh orang-orang terdekatku, saat ini aku menjalani pekerjaan sebagai Ibu Rumah Tangga. Yang tidak banyak orang tahu, aku menjalani kehidupan ini benar-benar mandiri. Sejak kuliah aku sudah terbiasa hidup mandiri, jadi itu bukan masalah besar buatku. Tapi bisa menjadi masalah jika suatu saat mengalami burnout dan tidak ada support system yang cukup untuk menyokong kewarasanmu. Kira-kira seperti itulah kondisiku sekarang. Mengapa aku memilih pure menjadi Ibu Rumah Tangga? Mengapa aku tidak menyambi berjualan atau mengikuti kelas-kelas yang bisa meningkatkan skill seperti ibu-ibu lainnya? Atau bergabung dengan suatu komunitas untuk menambah produktivitas?


Alasannya, seperti yang sudah kupaparkan di tulisan-tulisanku sebelumnya, aku sudah mencoba berbagai kegiatan tersebut, dan pada akhirnya merasa tidak ada satupun yang cocok dengan kebutuhanku saat ini. Bertambah sibuk iya, tapi tidak bertambah produktif. Dan aku merasa energiku jadi lebih cepat habis. Aku cukup bisa mengukur kapasistas diri untuk mengetahui apakah aku mampu untuk menjalani semuanya secara parallel dengan kondisi waras atau tidak.


Alasan kedua, kondisiku tidak sama dengan orang lain. Untuk membangun support system yang diperlukan, kami belum mampu. Setidaknya jika aku ingin menlajutkan kuliah atau kembali bekerja, aku perlu mempekerjakan seorang ART untuk membantu mengurusi keperluan domestik. Masalahnya, selain masih belum nyaman dengan kehadiran orang lain, kondisi finansial kami juga belum cukup mapan untuk menggaji ART. Maka aku memilih untuk mengurus semuanya sendiri. Meminta bantuan kepada orang tua dan mertua juga jelas tidak menjadi opsi. Sejak papahku menikah lagi setelah kepergian mamah, aku tidak memiliki kecocokan dan kedekatan emosional dengan ibu sambungku, dan karenanya hubunganku dengan papah juga tidak sedekat dahulu. Aku lebih banyak menjaga jarak untuk menghindari konflik (terutama konflik batin). Meminta bantuan mertuaku juga bukan hal yang mudah. Tentu ibu mertuaku lebih mudah dimintai bantuan, namun aku sangat sungkan karena beliau juga mengurus kedua mbah yang usianya sudah sangat lanjut. Dan aku paham, mengurus kedua orang tua yang sudah sepuh dan sakit-sakitan jauh lebih merepotkan daripada mengurus bayi. Karena itu, aku tidak mau menambah lagi beban beliau. Anakku adalah urusanku dan menjadi tanggung jawabku, bukan urusan dan tanggung jawab orang tua dan mertuaku.


Berkuliah lagi sambil mengurus anak pun rasanya aku tidak sanggup. Karena aku dan suamiku juga lebih sering LDR, praktis energiku banyak terkuras untuk mendampingi putriku. Aku tidak bisa membagi tugas domestik dan parenting dengan ideal sebagaimana keluarga lain. Untuk menulis santai seperti ini pun aku harus berkutas dengan situasi di dalam rumah. Ada opsi untuk alih jenjang dan mengambil jurusan lain yang lebih mudah, namun pada akhirnya opsi itu pun menemui jalan buntu. Karena opsi yang kumaksud adalah profesi menjadi psikolog anak, maka seperti sebuah profesi pada umumnya, ia memerlukan jenjang pendidikan yang linier. Selain waktu yang lama (4 tahun untuk mengulang kembali program sarjana), biaya yang diperlukan juga tidak sedikit. Sangat jarang program beasiswa yang mau membiayai sekolah S1. Pada akhirnya, aku selalu mempertanyakan kembali keinginanku untuk kuliah lagi. Apa tujuan besar yang ingin kuraih dari berkuliah lagi? Apakah sebanding dengan waktu dan biaya yang harus aku luangkan? Apakah aku mampu berkomitmen dalam jangka waktu yang panjang jika bahan bakarnya (tujuan besar tersebut) saja aku tidak punya? Untuk apa aku susah-susah berkuliah lagi jika hanya untuk memuaskan ego diri? Kita tidak bermimpi tinggi hanya untuk memuaskan hasrat dan ego semata. Kita bermimpi tinggi karena kita punya misi khusus dan harapan besar di masa depan.


Ditambah lagi, situasiku saat ini tidak memungkinkan untuk terus memelihara mimpi tersebut. Kamu tahu perasaan di mana kamu ingin segera berlari cepat namun realita mengharuskanmu berjalan perlahan atau bahkan jalan di tempat dahulu untuk waktu yang cukup lama? Rasanya terus terang sangat membebani. Itu yang kurasakan saat ini. Jadi, aku rasa ini adalah saat yang tepat untukku melepaskan mimpi-mimpi itu. Aku tahu aku pasti mampu, aku hanya tidak bisa untuk saat ini. Untuk apa kita memaksakan apa yang tidak bisa kita jalani saat ini? Bagaimana bisa kita disebut adaptif jika beradaptasi dengan kondisi saat ini saja aku kesusahan? Bukan berarti aku menyerah, tapi aku hanya ingin bisa menikmati proses dari hidup yang kujalani saat ini, bukan di masa depan nanti yang belum tentu semenyenangkan seperti yang selalu dibayangkan (well, aku tahu pasti akan sangat menyenagkan, tapi bukan berarti aku jadi tidak bisa bersenang-senang di masa kini kan?).


Mungkin nanti, jika kondisi finasial kami sudah lebih baik, dan Tuhan masih memberiku cukup umur dan semangat belajarku masih terpelihara dengan baik, akan kujemput kembali mimpi itu. Namun jika tidak memungkinkan, aku selalu yakin Tuhan punya rencana yang lebih indah dan lebih baik untukku.



Recent Posts

See All
Life's Update Before 2024 Ended

So, how's life recently? Setelah beberapa bulan di pertengahan tahun ini aku mencoba berlari kencang, ternyata di 3 bulan terakhir menuju...

 
 
 
Persimpangan

Kurang lebih 3 bulan berlalu setelah aku memutuskan untuk bergabung sebagai volunteer di dua komunitas yang berbeda. Bagaimana rasanya...

 
 
 
Juni Berkembang

Bisa dibilang, bulan Juni ini menjadi starting point bagiku untuk mulai berbunga. Mimpi-mimpi yang sebelumnya tampak jauh untuk dijangkau...

 
 
 

Comments


  • Facebook
  • Twitte
  • Pinteres
  • Instagram

Thanks for submitting!

© 2023 by Design for Life.
Proudly created with Wix.com

bottom of page