top of page

Loving the Wounded Soul: Mencintai Bagian Paling Lemah dalam Diri

Satu lagi buku non fiksi yang sangat kurekomendasikan untuk kalian yang ingin mengetahui lebih dalam tentang depresi dan kecemasan. Buku berjudul Loving the Wounded Soul karya Regis Machdy ini menjelaskan depresi dan istilah tentang kesehatan mental lainnya dengan bahasa yang sangat mudah dimengerti bahkan untuk orang awam sekalipun. Dilengkapi dengan daftar istilah dan dimulai dengan menjelaskan tentang stress yang sejatinya tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari manusia, Regis membahasnya dengan sangat sistematis.


Sebelum membahasnya lebih lanjut, aku ingin menuliskan diclaimer terlebih dahulu, bahwa segala sesuatu yang dituliskan dan dijelaskan dalam buku ini tidak dapat digunakan untuk self-diagnose, namun semata untuk membantu kita agar lebih memahami segala sesuatu yang terjadi dalam diri kita, baik itu secara fisik maupun mental.



Menariknya dalam buku ini, penulis sendiri merupakan seorang penyintas depresi mayor klinik, sehingga isi dari buku ini memberikan pandangan lengkap yang dilihat dari kacamata penulis sebagai seorang profesional di bidangnya sekaligus sebagai seorang penyintas. Aku sendiri tertarik untuk membacanya karena beberapa waktu yang lalu memiliki pengalaman dengan depresi dan gangguan kecemasan. Jadi kali ini aku pun akan menuliskan review dan ringkasan buku dari kacamataku sebagai seorang penyintas sebagai bahan refleksi diri.


Pertama-tama, Regis menjelaskan bahwa stress adalah hal yang sangat normal dan pasti pernah dialami oleh setiap orang. Sementara stresor adalah penyebab stress yang berasal dari peristiwa yang netral. Respon kita terhadap stresor tersebut, yang membuatnya menjadi bermakna. Dari sini kita diajak untuk mengenali sumber stress yang muncul pada diri kita, serta reaksi apa yang kemudian muncul dari adanya stresor tersebut. Jadi memang benar adanya bahwa kita sebaiknya perlu berhati-hati dan lebih peka terhadap keadaan sekitar dan orang lain, karena bisa jadi perkataan atau pembahasan yang menurut kita biasa saja, ternyata hal tersebut dapat memicu stress bagi orang lain. Hal tersebut wajar dan normal selama kita masih bisa mengelola stress dengan baik.


Bermula dari stress, Regis pun melanjutkan pembahasan mengenai depresi. Secara sederhana, depresi adalah kekacauan terkait aspek bio-psiko-sosial. Lalu apa bedanya depresi dengan sedih biasa? Perasaan sedih adalah emosi yang muncul akibat peristiwa yang baru saja terjadi dalam hidup seseorang dan memiliki penyebab yang jelas. Perasaan sedih bisa reda dan membaik seiring berjalannya waktu. Sementara depresi seringkali penyebabnya tidak jelas dan butuh waktu yang lama dalam proses penyembuhannya. Singkatnya kita dikatakan depresi jika kita tidak bisa mengendalikan pikiran dan perasaan yang muncul. Kita merasa kehilangan kendali atas diri kita, dan tidak bisa mengelola berbagai emosi yang muncul dengan baik. Mereka memiliki kecenderungan untuk merespon peristiwa sederhana dengan ledakan emosi dan mengalami rasa frustasi berlebihan terhadap hal-hal kecil. Pikiran pada orang depresi didominasi oleh kekecewaan, kesedihan, kesalahan, ketidak-percayaan diri, dan pikiran negatif lainnya yang tidak terkendali, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kesehatan fisik si penderita. Mereka menganggap keberadaan dirinya tidak berharga di dunia, sehingga pikiran dan perasaan untuk mengakhiri hidup (suicidal) seringkali muncul. Kunci dari penyembuhan depresi terletak pada penerimaan (self acceptance). Karena hanya dengan menerima, pada akhirnya kita akan sanggup melepaskan.


Lebih jauh, Regis menjelaskan hubungan antara depresi dengan faktor-faktor internal seperti gender, intelegensi, kepribadian, dan highly sensitive person. Perempuan dikatakan lebih rentan terhadap depresi karena memiliki fluktuasi hormon yang lebih tinggi daripada laki-laki. Pada keseluruhan waktu perempuan, sejak pubertas hingga lansia diiringi dengan perubahan hormon dalam tubuhnya. Perubahan hormon ini membuat perempuan lebih rentan terhadap hal-hal yang bersifat emosional. Maka tak heran jika seseorang yang sedang haid perasaannya bisa sangat sensitif, ibu yang baru melahirkan dan sedang menyusui bisa terkena baby blues syndrome atau bahkan post partum depresion. Hormon berpengaruh cukup besar terhadap kestabilan emosi perempuan. Sementara pada laki-laki, depresi bisa jadi disebabkan oleh adanya toxic-masculinity yang sudah berakar dalam kehidupan bermasyarakat. Laki-laki dianggap tabu untuk menangis karena akan dianggap cengeng dan tidak tangguh. Sehingga seringkali laki-laki tidak terbiasa untuk menceritakan apa yang sedang dirasakannya dan lebih memilih untuk memendam emosinya. Salah satu hal ini lah yang pada akhirnya menyebabkan laki-laki menderita depresi.


Intelegensi juga menjadi faktor pendukung terjadinya depresi. Orang pintar (gifted dan high achiever) dikatakan lebih jarang bahagia. Pada orang gifted depresi seringkali muncul karena mereka merasa tidak ada satu orang pun yang dapat memahami mereka. Karena dikaruniai otak yang cerdas, cara berpikir mereka berbeda dengan orang pada umumnya. Mereka mampu melihat apa yang tidak dapat dilihat orang lain (misalnya memprediksikan apa yang akan terjadi pada 10 tahun mendatang hanya bersadarkan suatu artikel), dll. Sementara pada orang high achiever, mereka akan merasa bersalah ketika menikmati waktu senggang, sehingga mereka konstan dalam kegelisahan. Mereka selalu bekerja untuk mendapatkan kesempurnaan dan menjadikan prestasi sebagai standar harga diri mereka. Orang-orang gifted dan high achiever juga cenderung perfeksionis. Mereka memikirkan suatu hal secara kompleks dan memiliki banyak pertimbangan sehingga disebut sebagai natural overthinker.


"Happiness in intelligent people is the rarest thing I know" (Ernest Hemmingway)

Faktor internal yang selanjutnya dibahas adalah tentang kepribadian. Pada bagian ini Regis menggunakan istilah extrover dan introver untuk pemahaman secara umum. Extrover dan introver adalah tentang bagaimana seseorang mengatur energinya melalui pertemanan. Seorang introver mungkin akan terjebak dalam labirin pikirannya sendiri, karena ia cenderung berpikir secara analitis dan mendalam. Sementara seorang extrover harus terus berpura-pura bahagia dan berbohong kepada teman-temannya bahwa ia baik-baik saja. Keduanya mengalami depresi dengan cara yang berbeda dan keduanya mendapatkan reaksi yang berbeda.


Selain faktor internal, ada pula faktor biologis dan faktor eksternal yang turut mempengaruhi keadaan depresi yang dialami oleh seseorang. Faktor bialogis disini bukan berarti diturunkan secara langsung secara genetik, namun lebih kepada faktor pengasuhan yang dilakukan oleh orangtua terhadap anaknya, dan juga perasaan dan kondisi mood saat kehamilan yang secara tidak langsung dapat mempengaruhi ekspresi gen pada janinnya. Jadi memang tidak salah ketika dikatakan bahwa menjadi ibu hamil tidak boleh stress, mood dan perasaan harus dijaga agar tetap relax dan bahagia, karena perasaan dan kondisi mood ibu hamil dapat mempengaruhi ekspresi gen pada janin. Adapun faktor eksternal yang dibahas antara lain toxic relationship, kehidupan modern (terutama pengaruh media sosial), budaya, alam, dan kehamilan.


Berdasarkan berbagai pemaparan dalam buku tersebut, sedikitnya aku jadi bisa lebih memahami apa yang saat itu terjadi dalam diriku. Entah apa penyebab depresi yang muncul, aku juga tidak tahu pasti. Apalagi aku tidak sempat menjalani proses terapi dengan psikolog, hanya mengkonsumsi obat anti depresan yang diresepkan oleh psikiater. Namun dari berbagai gejala dan ciri-ciri yang muncul saat itu, jelas aku memang sempat memiliki depresi (ini juga berdasarkan diagnosa dari dua psikiater yang kutemui). Namun aku tidak tahu pasti kapan hal itu bermula. Mungkin sejak dulu aku sudah memiliki bibit-bibit untuk mengalami depresi. Karena meskipun aku bukan yang terpintar di kampusku, aku pribadi dahulu menganggap pencapaian prestasi adalah segalanya. Dalam hal ini aku dulu termasuk high achiever. Jadi ketika menemui kegagalan aku bisa sangat merasa kecewa dan terus menyalahkan diri atas ketidakmampuan yang kumiliki. Apalagi saat setelah menikah, mau tidak mau aku harus mengatur ulang apa yang menjadi prioritasku saat ini. Mimpi untuk bersekolah lagi pun perlahan-lahan kulepaskan karena pada akhirnya aku merasa hal itu hanya akan menjadi beban pikiran jika terus memaksakan kehendak yang tidak sejalan dengan realita saat ini.


For the record, saat bersekolah SD-SMA aku tidak pernah keluar dari 2 besar. Kalau tidak ranking 1 ya ranking 2. Konsisten seperti itu dari SD hingga SMA. Lalu saat kuliah aku mulai menemui berbagai banyak tantangan. Dosen yang tidak kompeten, materi kuliah yang tidak bisa kukuasai dengan baik meskipun aku sudah belajar dengan keras, favoritisme dosen kepada anak didiknya yang menurutku seharusnya tidak dilakukan secara terang-terangan karena dinilai tidak etis dan tidak profesional, dan banyak hal lainnya yang pada akhirnya membuatku kecewa dan memendam banyak amarah. Padahal kalau dipikir-pikir orangtuaku juga tidak pernah secara khusus mengatur dan meminta nilai-nilai yang selalu baik, namun entah bagaimana hal itu dulu sangat mempengaruhiku. Mungkin karena aku tidak terbiasa mengalami penolakan dan kegagalan, maka pada akhirnya mentalku tidak siap saat harus mengalami penolakan berkali-kali secara sekaligus di masa kuliah. Puncaknya adalah saat Mama meninggal, tepat beberapa bulan menuju kelulusanku. Saat itu aku mati-matian mengerjalan skripsi agar bisa lulus secepatnya karena ingin Mama bisa hadir di hari kelulusanku, namun takdir Tuhan berkata lain. Aku sakit DBD dan tipus selama sebulan, skripsiku mandeg, hingga akhirnya Mama dipanggil lebih dahulu. Yang kuingat, ada masa-masa di mana aku bisa tidak keluar kamar dan benar-benar menarik diri dari teman-teman selama beberapa waktu selama proses penggarapan skripsi (yang juga masih masa-masa berduka setelah kehilangan Mama) karena aku merasa begitu rapuh dan putus asa.


Tantangan besar dalam hidupku juga terjadi setelah aku menikah dan memutuskan menjadi ibu rumah tangga. Jujur aku tidak tahu harus melabeli kepribadianku sebagai seorang introver atau extrover. Namun sebelum menikah, aku jelas lebih cenderung extrover. Easy friendly, mudah beradaptasi, dan secara rutin melakukan perjalanan bersama teman-teman saat masih bekerja dahulu. Dari seseorang yang kehidupan sosialnya penuh warna, berubah sekejap menjadi monoton. Hal itu diperparah dengan kondisi yang mengharuskanku berjarak dengan pasangan setiap beberapa waktu sekali, sehingga aku seringkali diliputi oleh perasaan kesepian dan sendirian. Meski menjadi ibu rumah tangga adalah pilihanku secara sadar, namun jujur saja sampai saat ini aku masih terus beradaptasi. Secara sadar, sisi extroverku butuh untuk dipenuhi namun keadaan memaksaku untuk beradaptasi dengan kehidupan sekarang yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Sirkel pertemanan yang semakin sempit, ditambah aku juga merasa kaku dan canggung jika harus bergaul dengan tetangga membuatku semakin menarik diri dari lingkungan.


Belum lagi faktor keluarga yang berubah drastis setelah papa menikah lagi. Rasanya dari kehidupan yang adem ayem berubah seketika menjadi kehidupan yang penuh dengan konflik internal (karena hanya aku yang mengalami konflik ini). Tidak seperti orang yang mengalami masa-masa kehilangan (grief) pada umumnya, aku tidak bisa dengan bebas mengenang dan membicarakan kenangan-kenangan manis saat Mama masih hidup, semata-mata karena kami semua berupaya untuk menghargai perasaan istri papa saat ini. Interaksiku dengan papa tidak sehangat dulu, semakin hari semakin kaku karena rasanya tidak punya topik menarik untuk dibicarakan. Bahkan karena suatu hal, pernah sekali aku berdebat hebat dengan papa sampai akhirnya aku harus melarikan diri ke rumah mertua. Sesuatu yang harusnya tidak perlu terjadi, karena seberbeda apapun pendapat kami, semua selalu bisa diselesaikan dengan berbicara baik-baik. Aku merasa ditinggalkan sendiri sementara mereka berbahagia bersama.


Lalu semua perubahan yang terjadi setelah aku melahirkan dan punya anak. Entah aku terkena baby blues syndrome atau post partum depresion (aku tidak tahu pasti karena tidak pernah menemui psikolog untuk proses validasi), namun yang kurasakan aku jadi lebih sensitif dalam memproses emosi yang terjadi. Rasanya jadi lebih gampang marah dan meledak-ledak, karena aku merasa banyak sekali hal yang terjadi di luar kendaliku. Sementara aku menyadari bahwa aku adalah seorang perfeksionis dan selalu melakukan semuanya sesuai dengan rencana, jadi hal ini juga sediikit banyak berpengaruh terhadap keadaan depresi yang kualami.


Bagaimana perasaanku sekarang? Aku tidak bisa memastikan apakah diriku sekarang sudah benar-benar sembuh atau belum, namun yang pasti berangsur-angsur, aku merasa lebih baik. Bukan karena konsumsi obat anti depresan secara kontinyu, namun karena sekarang aku berusaha untuk lebih legowo terhadap segala sesuatu yang terjadi dalam hidupku. Seperti kata Regis dalam buku ini, kunci dari penyembuhan depresi terletak pada penerimaan (self acceptance). Karena hanya dengan menerima, pada akhirnya kita akan sanggup melepaskan. Mungkin karena saat ini aku sudah ada di tahap self acceptance, dan memilih untuk menjalani apa yang taerjadi saat ini dengan bahagia dan tanpa beban, maka aku merasa lebih baik.


  • Aku memaafkan semua orang yang telah menyakitiku dahulu di masa kuliah (dosen-dosen, teman-teman, mantan pacar).

  • Aku menerima dengan ikhlas perubahan sikap papa yang tidak sehangat dulu, karena bagaimana pun aku memahami, pada akhirnya kita akan selalu memilih pasangan. Tugasku saat ini hanya terus mendo'akan Mama yang sudah tiada, menjalin hubungan baik dengan semua saudara, dengan semua orang, dan menghormati keberadaan keluarga papa saat ini.

  • Aku menjalani pilihan hidupku sebagai seorang ibu rumah tangga dengan sadar dan penuh tanggung jawab. Meski banyak adaptasi yang harus dilakukan, akhirnya aku juga sampai ke titik ini. Menjalani peranku dengan bahagia meski bagi orang lain ia hanya peran sederhana.

  • Aku juga ikhlas untuk melepas mimpiku saat ini (entah untuk sementara waktu atau untuk selamanya, tergantung takdir Tuhan akan membawanya ke mana), dan ikhlas untuk menjalani apa yang menurutku prioritas saat ini.


Sampai disini aku berpikir, mungkin apa kata para orangtua kita ada benarnya juga, bahwa jika dikaitkan dengan keimanan, harusnya depresi tidak terjadi. Beriman disini bukan berarti rutin mengerjakan hal-hal yang bersifat ritual seperti iabdah sholat, puasa, dll. Ritual keagamaan memang membuat hati menjadi lebih tenang. Namun kepasrahan diri saat menerima takdir Tuhan dan menjalaninya dengan hati yang ikhlas meski berat, tidak memaksakan apa yang ingin kita capai karena memang belum waktunya, aku rasa level keimanan untuk ikhlas menerima takdir Tuhan itu lah yang pada akhirnya mengantarkan kita pada pemaknaan hidup yang jauh lebih dalam lagi, sehingga depresi pun seharusnya bisa dihindari.


Teruntuk kamu yang mungkin sedang merasa berada di titik ini, atau pernah di titik ini, tak perlu merasa malu. Depresi bukan aib. Ia selayaknya penyakit fisik yang bisa disembuhkan. Jika pun level keimanan kita belum sampai menyentuh level tertinggi untuk ikhlas menerima takdir Tuhan atas segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita, maka berobat ke psikolog dan psikiater juga merupakan ikhtiar kecil yang bisa kita lakukan sebagai manusia untuk akhirnya bisa mencapai level tersebut.








Recent Posts

See All

Comments


  • Facebook
  • Twitte
  • Pinteres
  • Instagram

Thanks for submitting!

© 2023 by Design for Life.
Proudly created with Wix.com

bottom of page