top of page

Kesempatan yang Hanya Mampir

Bulan lalu, saat aku sedang depresi-depresinya, suamiku menyarankan untuk bekerja kembali. Aku menerima ide itu setangah hati, antara enggan tapi juga penasaran. Bagaimana ya rasanya bekerja kembali setelah sekian lama berstatus sebagai karyawan tidak bekerja? (jadi IRT tidak sama dengan menganggur ya!). Suamiku berpandangan, mungkin dengan bekerja kembali pikiranku akan lebih tertata dan aku jadi punya semangat lebih untuk menjalani hari. Setidaknya, hidupku kembali menjadi lebih dinamis dengan adanya kegiatan yang berbeda.


Akhirnya, dengan kesadaran penuh aku mulai meng-edit resume yang sudah lama tidak pernah ku-update. Bahkan file-nya saja sudah hilang karena laptop lamaku sudah rusak total. Jadi, sembari mencari lowongan kerja yang cocok, aku berusaha keras meng-update resume-ku walaupun sudah tentu hasilnya mentok. Memangnya value apa yang bisa kutambahkan ke dalam resume setelah sekian lama tidak bekerja kantoran? Sepanjang perjalananku menjadi IRT aku hanya fokus pada urusan domestik dan parenting. Kelas-kelas yang aku ikuti pun kelas-kelas yang berkaitan dengan parenting dan sejenisnya, bukan kelas-kelas yang dapat menambah skill semacam training excel, public speaking, atau kursus bahasa asing. Namun aku tetap meng-edit resume-ku dengan tampilan seadanya, hingga akhirnya kutemukan satu lowongan pekerjaan yang tampaknya cocok denganku di sebuah NGO. Aku pun melamar lowongan tersebut dengan 0% harapan.


Siapa sangka, lamaran pekerjaan iseng-isengku itu mendapat respon dari organisasi terkait. Aku menjalani wawancara pertamaku dengan bagian HR pada jam setengah 9 malam. NGO tersebut bergerak di bidang kesehatan, bekerja dengan membangun jaringan bersama tenaga-tenaga medis, fasilitas kesehatan di berbagai lini, dan juga industri farmasi. Memiliki kantor pusat di Dubai dengan baseline yang tersebar di berbagai negara, aku menjalani wawancara pertamaku dengan HR yang menghubungiku dari Irlandia. Jauh sekali ya. Dengan bahasa Inggris yang terpatah-patah karena sudah sangat jarang kugunakan, akhirnya aku dijdwalkan untuk wawancara dengan user.


Wawancara user berlangsung selama kurang lebih setengah jam. Aku berhadapan dengan Regional Operations Manager yang menghubungiku dari baseline Thailand, dan seorang program asisstant dari Jakarta (posisi yang akan kugantikan nantinya karena ia hendak resign). Meskipun komunikasiku agak tersendat karena kemampuan berbicara bahasa inggrisku tidak fasih, namun aku berhasil menjawab semua pertanyaan dengan baik. Proses wawancara pun berakhir, dan aku dijadwalkan kembali untuk mengikuti tahap selanjutnya, yaitu mengerjakan studi kasus. Jika hasil assesment-ku ini baik, maka aku akan menjalani wawancara selanjutnya dengan direktur yang berkantor pusat di Dubai.


Waktu yang diberikan untuk mengerjakan studi kasus adalah 48 jam. Itu artinya aku hanya punya waktu 2 hari untuk menjawab dan menyelesaikan assesment tersebut dengan baik. Studi kasus yang kukerjalan berupa role play untuk menangani comlplant dari client beserta strategi yang harus kurancang untuk mengatasi complaint tersebut. Selama 2 hari, aku berusaha menyelesaikan assesment tersebut. Tidak mudah, tapi aku merasa sudah memberikan usaha terbaikku dari pengalamanku yang minim ini. Aku lampirkan studi kasus beserta jawabanku, supaya aku tidak lupa akan pengalaman menarik ini. Segera setelah menyelesaikannya, aku mengirimkan jawabannya via email.




Hal yang konyol adalah, selama periode menunggu tahapan selanjutnya, perasaanku jadi harap-harap cemas. Yang tadinya murni nothing to lose, aku jadi setengah berharap. Membayangkan bagaimana rasanya bisa bekerja kembali dan bisa sedikit meringankan beban suami dari gaji yang kuterima nanti rasanya sungguh menyenangkan. Aku dilambungkan oleh gambaran angan-angan yang menjelma menjadi setitik harapan. Tentu akhir cerita ini sudah bisa ditebak. Hasil assesment-ku tidak berjalan sesuai dengan harapan. Di hari yang sama aku mengirimkan pesan singkat pada HR untuk memastikan apakah dia menerima emailnya, aku menerima email singkat yang berisi pemberitahuan bahwa berdasarkan hasil assesment, aku bukanlah kandidat yang mereka cari.


Kecewa? Sudah tentu. Tapi aku tidak mau kecewa berlama-lama. Selalu ada kekecewaan yang muncul ketika ada sedikit saja harapan yang tebersit. Namun aku rasa, dibandingkan kecewa terhadap hasilnya dan kenyataan bahwa pada akhirnya, saat ini pekerjaan terbaik yang bisa kulakukan adalah pekerjaan sebagai Ibu Rumah Tangga, perasaan kecewa yang muncul lebih disebabkan karena aku tahu, untuk mendapat kesempatan yang sama di usia saat ini (32 tahun, lol) dengan kondisiku yang minim pengalaman pasti akan sulit sekali. Bahkan bisa dibilang hampir nihil (hampir, karena kita tidak tahu ketika tangan Yang Kuasa sendiri yang bekerja). Sebenarnya aku juga punya sedikit bayangan, jika aku berhasil diterima bekerja kembali di tempat tersebut, aku akan bisa menjemput mimpiku yang tertunda untuk melanjutkan studi di bidang yang aku inginkan. Namun lagi-lagi realita berkata lain. Saat ini, tidak ada jalan bagiku untuk bisa mewujudkan mimpiku untuk berkuliah lagi. Untuk kuliah alih jenjang pun akan sulit, karena itu berarti akan banyak waktu yang kuinvestasikan hanya untuk mengulang hal yang sama (4 tahun belajar dengan biaya yang tidak sedikit sungguh bukan hal yang sederhana).


Aku jadi ingat sebuah quotes tentang mimpi. Tidak semua orang berkesempatan untuk menjalani hidup sesuai mimpi mereka, tumbuh dengan menjalani hidup sesuai minat dan passion mereka. Beberapa orang hanya bisa menjalani hidup yang ditawarkan pada mereka, dan menjalaninya dengan sebaik mungkin karena hanya itu yang mereka tahu. Jadi ya, aku rasa saat ini aku hanya bisa bertahan dengan kondisiku dan berusaha menjalaninya saja. Meskipun kehidupan menjadi IRT juga berdasarkan atas pilihanku sebelumnya, namun di masa mendatang aku bersedia menjalani pilihan lain jika kesempatan baik itu kembali datang.






Recent Posts

See All
Life's Update Before 2024 Ended

So, how's life recently? Setelah beberapa bulan di pertengahan tahun ini aku mencoba berlari kencang, ternyata di 3 bulan terakhir menuju...

 
 
 
Persimpangan

Kurang lebih 3 bulan berlalu setelah aku memutuskan untuk bergabung sebagai volunteer di dua komunitas yang berbeda. Bagaimana rasanya...

 
 
 
Juni Berkembang

Bisa dibilang, bulan Juni ini menjadi starting point bagiku untuk mulai berbunga. Mimpi-mimpi yang sebelumnya tampak jauh untuk dijangkau...

 
 
 

Comments


  • Facebook
  • Twitte
  • Pinteres
  • Instagram

Thanks for submitting!

© 2023 by Design for Life.
Proudly created with Wix.com

bottom of page