Juni Berkembang
- Primawati Kusumaningrum
- Jun 19, 2024
- 5 min read
Bisa dibilang, bulan Juni ini menjadi starting point bagiku untuk mulai berbunga. Mimpi-mimpi yang sebelumnya tampak jauh untuk dijangkau dan rencana-rencana yang selalu berakhir menjadi wacana akhirnya dapat kurealisasikan satu per satu. Aku senang. Dalam perjalananku sebagai istri dan ibu, rasanya aku belum pernah merasa "sehidup" dan seberbinar ini. Bukan dalam memenuhi peran dan tanggungjawabku sebagai istri dan ibu, tapi sebagai aku.
Rencana-rencana baik itu tampak semakin nyata. Tabir-tabir mulai terbuka. Meski dengan langkah kecil, aku tahu sedang melaju ke arah yang kutuju. Arah tujuanku masih sangat jauh dan prosesnya berlapis-lapis, tapi aku merasakan angin perubahan. Aku rasa kali ini, aku telah memegang peta yang benar.
Biar kujabarkan satu per satu, agar segenap alam semesta turut mengamini tujuan-tujuanku ini.
Mimpi-mimpi yang ingin kuraih sebelum usiaku genap 40 tahun:
Pergi berhaji ke tanah suci
Kuliah S2 dengan mengambil jurusan Buku dan Sastra Anak (akhirnya aku tahu ke mana harus melangkah)
Melunasi hutang KPR secepatnya (kalau yang ini mungkin lebih tepat disebut sebagai tujuan finansial keluarga daripada mimpi).
Dan jika Tuhan mengizinkan, aku ingin mengupayakan untuk memiliki anak kedua (tidak wajib, tapi layak diupayakan meski belum tahu urgensinya apa untuk menambah anak ini, jadi tujuan ini masih negotiable).
Lalu punya small bussiness berbasis hobi yang bisa kukerjakan bersama suami saat pensiun nanti (it's a long journey, jadi point terakhir ini tidak termasuk dreams under 40)
Tentu saja bukan hanya 5 hal itu saja yang kutuju. Masih ada banyak hal lainnya lagi, tapi bahkan mimpi pun harus terukur, bukan?
Lagi-lagi, agar tidak lupa dan seluruh semesta mengamini, aku ingin mengulasnya satu per satu. Teringat sesi-sesi mentoring bersama Mas Gun di Career Class, katanya untuk membuat suatu tujuan itu harus tahu THE BIG WHY-nya seperti apa. Dan untuk menentukan THE BIG WHY, ada 3 pilar yang wajib dipenuhi, yaitu safety net, value, dan prioritas. Jadi aku berangkat dari 3 hal tersebut. Untuk keluarga kami, melunasi hutang sebelum memutuskan pergi berhaji adalah prioritas utama yang tidak bisa ditawar. Dan investasi di bidang pendidikan dan pengembangan diri adalah salah satu value yang menjadi kompas hidupku sejak dulu. Apalagi ketika ilmu-ilmu itu bisa diaplikasikan dan menjangkau kebermanfaatan yang lebih luas nantinya. Bukankah sebaik-baik manusia, adalah manusia yang bermanfaat?
Tapi ya, tentu saja untuk menjadi manusia yang bermanfaat tidak perlu menunggu sampai kita menjadi besar dulu. Tidak perlu lulus S2 dulu baru bisa menebar manfaat. Kita bisa memulainya sekarang, saat ini juga. Bagaimana caranya?
Safety net. Hal ini yang saat ini sedang mulai kukerjakan. Aku sudah memiliki value dan prioritas, tapi belum punya safety net yang memadai. Jadi safety net ini apa sih sebenarnya? Kalau bisa kujelaskan dengan sederhana, safety net adalah lapis-lapis rencana yang bisa membawa kita pada tujuan-tujuan besar tadi, termasuk di dalamnya upaya-upaya untuk membangun networking atau jejaring. Jadi, dari tujuan-tujuan besar tadi aku memecahnya lagi berdasarkan kebutuhanku saat ini.
Tujuan Finansial/menambah income
Tujuan eksistensi diri/fulfiment my self
Dua-duanya aku kerucutkan berdasarkan interest saat ini, agar langkahku lebih fokus dan tidak melebar ke mana-mana.
Tujuan Finansial
Karena peranku saat ini terpusat pada peran sebagai ibu dan istri, tentunya aku tidak mau sampai lalai. Bagaimanapun, keluarga adalah prioritas utama, tidak bisa diganggu gugat. Itu value yang kupegang sampai kapanpun. Jadi, meskipun aku memutuskan untuk bekerja kembali nantinya, aku tidak ingin waktu yang kumiliki untuk keluarga menjadi tergadai. Jadi pilihanku saat ini adalah menjadi freelancer. Freelancer di bidang jasa yang menarik perhatianku saat ini adalah di bidang writing, design, dan voice over.
Dan sebelum menjemput bola untuk menjadi freelancer, tentunya aku perlu mempersiapkan portfolio. Untuk membuat portfolio yang baik, aku perlu mengasah skill, membangun networking, dan membangun personal branding. Tiga hal ini yang sedang berusaha konsisten kukerjakan saat ini. Rasanya aku ingin menjabarkan apa-apa saja yang kulakukan untuk membangun 3 hal ini, tapi nanti jadi terlalu panjang. Yang jelas, targetku untuk membangun personal branding ini adalah 3 bulan.
Satu lagi freelancer di bidang non jasa atau barang. Yang kulakukan saat ini? Berdagang! Di bidang ini aku benar-benar masih newbie, jadi memang belum intens. Ya, kita lihat sejauh apa usaha ini akan bertahan. Yang jelas, masih beririsan dengan tujuan-tujuan besarku ke depannya. Karena ke depannya aku ingin memiliki small bussiness sendiri, bukankah lebih baik jika aku mulai dengan belajar berdagang dari sekarang untuk mengumpulkan wawasan dan membangun jejaring?
Tujuan Eksistensi Diri
Sudah kuceritakan di awal bahwa selain ke depannya ingin turut serta menambah pundi-pundi rupiah (Alhamdulillah gaji suami mencukupi semuanya, tapi siapa yang tidak senang jika tidak punya income sendiri? Jadi kalau boleh jujur, tujuan finansial tadi pun sebetulnya demi memenuhi self fulfilment/kepuasan diri). Tapi, hal paling mendasar yang kubutuhkan saat ini adalah eksistensi diri. Sebagai seseorang yang pernah merasa tersesat dan jatuh ke lubang depresi, eksistensi diri menjadi hal yang penting bagiku. Karena, bagaimana aku akan melangkah ke depan, jika aku tidak mengenal dan memperlakukan diri sendiri dengan baik?
Dan kebutuhan ini bisa kupenuhi melalui kegiatan berkomunitas. Tentunya dengan tetap berpegangan pada tujuan-tujuan besar tadi agar tetap berjalan searah. Karena di masa depan aku ingin meneruskan jenjang pendidikan di bidang literasi anak, maka keputusan untuk aktif berkomunitas juga harus di bidang yang sama. Tujuannya tadi, membangun networking, mengasah skill, mengumpulkan pengalaman, meluaskan wawasan, dan membangun personal branding agar punya portfolio yang bagus ketika harus apply studi nanti.
Saat ini aku sedang harap-harap cemas atas upayaku apply sebagai volunteer di dua komunitas, yaitu komunitas Ibu Punya Mimpi di divisi community dan komunitas Read Aloud Yuk di divisi litbang. Semoga ada jawaban-jawaban baik atas upayaku ini. Jika berhasil, maka selama 1,5 tahun ke depan aku akan turut berkontribusi secara nyata terhadap society. Dan seolah tabir mulai terbuka satu persatu, keputusan tersebut mulai membawaku pada kesempatan-kesempatan lain yang sama baiknya. Baru-baru ini aku berkenalan dengan sebuah komunitas yang aktif bergerak di bidang literasi, yakni komunitas Patjar Merah. Dan kabar baiknya, salah satu fasilitator Career Class juga aktif di bidang ini, tak lain dan tak bukan adalah Ibu Reda Gaudiamo. Ini jadi salah satu tujuanku sebelum program Career Class berakhir. Aku harus bisa reach out beliau secara personal!
Bagaimana jika apply volunteer tidak berhasil? Masih ada rencana satu lagi. Saat ini aku sedang mulai mengumpulkan massa dari teman-teman Career Class sesama ibu, untuk sama-sama bergerak membangun komunitas yang salah satu core-nya adalah bidang literasi. Jujur agak susah memang, sepertinya aku perlu masukan dari beberapa mentor agar bisa mengajak teman-teman sesama ibu ini agar lebih proaktif. Aku perlu menggali kepentingan dan kebutuhan mereka, karena ke depannya aku ingin punya tim yang solid untuk menghidupkan komunitas ini. Tidak masalah jika hanya tim kecil yang terdiri dari 5 orang pun. Yang penting kelima orang ini bergerak satu visi denganku.
Semoga apa-apa yang sedang kuupayakan hari ini berbuah manis. Demi kebermanfaatan, demi self fulfilment, dan demi legacy sebelum pergi ke liang lahat nanti.
Comments