top of page

Jika Tuhan Ingin Kita Berjalan dengan Santai, Mengapa Harus Memaksakan Diri untuk Berlari?

Updated: Aug 4, 2022

Halo, selamat datang bulan Mei. Selama dua bulan ini aku absen menulis dan membaca buku, rasanya mood mulai gampang berantakan lagi. Kadang yang seringkali berkhianat dan tidak bisa dipercaya adalah diri sendiri, bukan orang lain. Dan memang sesusah itu untuk konsisten melakukan sesuatu, padahal inginnya menulis dan membaca ini menjadi kebiasaan baik yang mewarnai hari-hariku yang monoton. Tapi ya, tidak apa. Namanya manusia, hanya bisa berusaha kan. Yang lalu biarlah berlalu. Bulan ini mari kita sambut kembali dengan lembaran baru.


Berbicara tentang hal-hal yang terlewat selama dua bulan kemarin, rasanya dalam waktu yang singkat tersebut ada banyak hal yang terjadi. Salah satu yang paling prioritas adalah memulai proyek untuk merenovasi rumah pertama kami. Keputusan yang sebenarnya sudah direncanakan jauh-jauh hari, namun tetap saja pada pelaksanaannya terasa agak mendesak. Kenapa mendesak? Karena di akhir tahun ini (tepatnya sebelum memasuki bulan November), kami mengagendakan untuk segera pindah dan menempati rumah pertama tersebut.


Di satu sisi ada suatu kelegaan. Akhirnya, kami bisa memulai untuk hidup settle setelah selama 4 tahun terakhir selalu berpindah domisili. Meskipun aku tidak keberatan untuk menempati rumah sewa, namun setiap kali pemilik rumah mengambil kembali haknya, rasanya energiku lumayan terkuras habis untuk mengurusi pindahan. Tiga kali pindah domisili, aku dan suami selalu mengurus semuanya sendiri, tidak pernah melibatkan jasa dari pihak ketiga. Aku harap kepindahan kami kali ini bisa lebih terencana dan terorganisir, sehingga tidak terlalu banyak energi yang terkuras.


Di sisi lain, karena ini rumah pertama kami, ide untuk merenovasi rumah impian ternyata cukup membebani. Tentu saja karena adanya gap antara keinginan dan budget yang tersedia. Lagi-lagi kami harus belajar untuk merendah, mengalahkan ego untuk membeli segala yang memang belum prioritas saat ini. Jadi, alih-alih memikirkan segala isian rumah yang sudah terbayang-bayang dalam benak, kami memprioritaskan budget yang tersedia untuk memaksimalkan renovasi bangunan. Tidak harus mewah, yang penting nyaman dan layak untuk bisa kami tinggali. Dan jangan salah, meskipun kami menggunakan jasa kontraktor, aku dan suami tetap merancang layout ruangan sendiri. Setidaknya harus ada personal touch untuk membuatnya lebih hommy. Jadi untuk proyek renovasi ini, aku sungguh excited.


Hal kedua yang lumayan menguras pikiran adalah munculnya kebutuhan untuk mulai memilah dan memilih sekolah untuk sang buah hati. Sebelumnya aku dan suami bertekad bahwa anak kami harus mulai masuk sekolah tahun ini, meskipun usianya baru cukup untuk kelas playgroup. Namun setelah dipikirkan kembali, rasanya akan lebih bijak kalau sekolahnya nanti berada di satu area yang sama (tidak terlalu jauh) dari rumah kami nanti. Meskipun demikian, aku menyempatkan diri untuk survey sekolah-sekolah terdekat di area tempat tinggalku saat ini.


Ada dua sekolah yang aku datangi, dan keduanya adalah sekolah montessori dengan basic language bahasa Inggris. Aku tahu, di awal-awal dahulu aku sempat berkoar-koar ingin menjalani home schooling. Namun justru karena itu juga datang kekhawatiran lain. Melihat bagaimana sulitnya aku untuk menjalani kebiasaan dan jadwal yang konsisten setiap harinya, aku jadi ragu dan khawatir kalau kemampuan dan potensi anakku malah tidak tergali sepenuhnya. Oleh karena itu, akhirnya aku memutuskan untuk menyekolahkannya saja.


Lalu bagaimana dengan sekolah montessori yang kusebutkan tadi? Sebenarnya dari segi fasilitas keduanya cukup baik. Namun tentunya pertimbanganku tidak hanya sebatas itu. Sekolah pertama berada di BSD dengan biaya yang cukup mahal (standar biaya sekolah internasional di area perkotaan). Terdapat 3 grade yang berbeda, yaitu playgroup (preschool), kindergaten A, dan kindergaten B. Bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa inggris dan mandarin, dengan tambahan kelas religi sesuai kepercayaan masing-masing di hari Jumat.


Sekolah kedua berada di area tempat tinggal saat ini. Dengan biaya yang lebih terjangkau dan tanpa sistem grade, sekolah ini juga menggunakan bahas inggris sebagai bahasa utamanya. Tentunya karena keduanya adalah sekolah umum (bukan sekolah berbasis IT), tidak ada kurikulum maupun pembelajaran yang mendalam tentang agama (akidah). Hal yang sebenarnya masih dapat kumaklumi (karena aku bisa memasukkannya ke kelas TPA sebagai kelas tambahan di luar jam sekolah). Namun menjadi suatu ganjalan tersendiri ketika staff pengajar di sekolah tersebut menjelaskan bahwa pihak sekolah ikut memperingati setiap perayaan hari besar agama, dan anak-anak wajib mengenakan kostum yang disesuaikan. Meski mungkin tujuannya adalah untuk menumbuhkan kesadaran bertoleransi sejak dini, namun bagiku hal tersebut tak ubahnya seperti mencampur-adukkan keyakinan. Jadi atas dasar alasan tersebut, akhirnya aku tidak jadi memasukkan anakku ke sekolah montessori tersebut. Agenda mencarikan sekolah yang sesuai pun dengan terpaksa ditunda kembali sampai kami selesai pindahan.


Kabar lain yang tak kalah penting di bulan ini adalah, aku sedang menunggu hasil assesment kepribadian putriku. Karena aku punya kekhawatiran berlebih tentang kematangan psikologisnya, akhirnya atas kesepakatan antara aku dan suami, aku membawa putriku ke psikolog anak. Aku rasa hal ini cukup penting, mengingat begitu banyak hal yang terjadi di keluarga kami dalam waktu belakangan ini. Dan aku khawatir, hal-hal yang terjadi tersebut tanpa sadar mempengaruhi psikologisnya. Saat ini aku masih menunggu hasil assesment dari psikolog anak tersebut. Semoga hasilnya baik.


Lalu apa kabar denganku? Kabarku tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Masih suka ingkar kepada diri sendiri (aku sempat berjanji untuk mempelajari shiroh nabi secara intensif selama Ramadhan ini, namun pada kenyataannya sampai Ramadhan berlalu, bacaan Qur'an pun masih sangat jauh dari khatam). Depresi dan anxiety-ku sesekali masih kambuh, sehingga aku belum bisa terlepas dari obat penenang sepenuhnya. Masih sulit untuk bersikap konsisten, dan masih terlalu banyak berkhayal tanpa aksi nyata.


Namun ada satu hal positif yang kurasakan dalam diriku. Aku tidak lagi marah-marah dan bisa mengontrol emosi dengan lebih baik. Hatiku juga jadi merasa lebih ringan dan tenang setelah dengan berat hati aku melepaskan diri dari mimpi-mimpi dan harapan-harapan yang membebaniku selama ini. Kekurangannya, aku jadi seperti orang yang tidak punya tujuan pencapaian dalam hidupnya *lol. Tapi tak apa. Untuk saat ini, ketenangan hati dan ketenangan pikiran adalah prioritas utamaku. Jadi aku tidak terlalu merasa terbebani meskipun hal yang kurencanakan tersebut belum tercapai di tahun ini. Karena memang begitulah mekanisme kehidupan berjalan. Aku rasa memang saat ini Tuhan menginginkanku untuk berjalan dengan santai tanpa terburu-buru. Jadi kenapa juga harus memaksakan diri untuk berlari?




Recent Posts

See All
Life's Update Before 2024 Ended

So, how's life recently? Setelah beberapa bulan di pertengahan tahun ini aku mencoba berlari kencang, ternyata di 3 bulan terakhir menuju...

 
 
 
Persimpangan

Kurang lebih 3 bulan berlalu setelah aku memutuskan untuk bergabung sebagai volunteer di dua komunitas yang berbeda. Bagaimana rasanya...

 
 
 
Juni Berkembang

Bisa dibilang, bulan Juni ini menjadi starting point bagiku untuk mulai berbunga. Mimpi-mimpi yang sebelumnya tampak jauh untuk dijangkau...

 
 
 

Comments


  • Facebook
  • Twitte
  • Pinteres
  • Instagram

Thanks for submitting!

© 2023 by Design for Life.
Proudly created with Wix.com

bottom of page