top of page

It was Just a Book

Siang ini amarahku kembali meledak. Hari yang kupikir akan berjalan dengan mulus ternyata berujung dengan amarah juga. Sebuah kesalahan kecil yang seharusnya tidak perlu kuanggap dan cukup kutertawakan saja. Gara-gara ketika bangun tidur siang aku mendapati buku catatan dan pulpen kesayanganku dicoret-coret dan dirusak oleh putriku. Awalnya aku hanya mengomelinya saja. Namun ternyata itu tidak cukup membuatku reda. Aku meledakkan kemarahanku dengan memukul bagian kaki, mencubit lengan, dan menedorong tubuhnya agak keras. Aku juga memarahinya seperti orang dirasuki setan. Aku bilang padanya bahwa aku tidak suka jika ia menggunakan barang-barang milikku tanpa seizinku. Kulemparkan seluruh pensil warna dan spidolnya yang berserakan di lantai ke sembarang arah, menyisakan putriku yang menangis kencang karena ketakutan.


Khawatir berbuat lebih brutal, aku mengurung diriku di dalam kamar. Berusaha meredakan napasku yang memburu karena amarah. Sementara putriku menangis sesenggukan karena ingin masuk ke dalam kamar menemuiku. Rasanya aku ingin membunuh diriku saat itu juga. Lebih tepatnya, membunuh iblis yang tengah bersemayam dalam tubuhku. Ada apa dengan diriku sebenarnya? It's just a book. It's just a pen. I can buy a new one, the better one, pikirku. Namun rupanya kesadaran itu pun belum cukup untuk membawa diriku kembali tenang. Aku berusaha keras menekan segala amarah yang masih memuncak. Semakin kencang tangis putriku, semakin puas aku dibuatnya. Rasanya aku bisa berkuasa penuh atas dirinya yang kecil dan lemah itu.


Sepertinya aku benar-benar sudah gila. Seorang ibu, yang memiliki kesadaran penuh tidak mungkin berbuat untuk mengedepankan amarahnya kan? Tidak mungkin ia tega apalagi merasa puas saat putrinya menangis karena dirinya kan? Rasanya aku tidak layak hidup sebagai seorang ibu. Setelah napasku berangsur tenang, aku membiarkan putriku masuk. Ia menghambur ke dalam pelukanku dengan isak tangis yang terdengar pilu. Bahkan untuk merengkuhnya dalam pelukan pun rasanya masih berat. Aku beranjak menuju kasur dan berbaring. Lalu aku memangis sejadi-jadinya. Menangisi diriku yang seperti ini. Menangisi emosiku yang naik turun seperti roller coaster yang melaju cepat. Menangisi diriku yang akhir-akhir ini tidak lagi bisa berpikir dengan jernih. Mengapa aku jadi seperti ini? Tanpa ditanya, putriku membawakanku serbet untuk mengelap ingus. Aku menerimanya. Setelah tenang, aku pun duduk. "Mama nangis? It's okay, gapapa," katanya sambil memelukku. Lihat siapa yang lebih dewasa di sini? Lihat siapa yang hatinya lebih lembut di sini?


Aku sungguh tidak mau putriku melihat sisi burukku, sisi gelapku. Aku tidak mau ia mencontoh hal-hal yang tidak baik dariku. Rasanya seperti orang gila, saat aku mengajarinya untuk bersikap sabar tapi sikapku sendiri sama sekali tidak menunjukkan kesabaran. Memintanya untuk tidak menyakiti makhluk hidup namun aku sendiri terang-terangan menyakitinya. Sebenarnya ibu macam apa aku ini? Demi Tuhan, tt was just a book!


Sampai titik ini aku benar-benar merasa bahwa jiwaku memang sedang sakit. Aku kehilangan kontrol atas diriku sendiri. Hari-hariku dipenuhi dengan amarah. Emosiku gampang terpacu oleh kesalahan-kesalahan sepele. Aku sungguh merasa lelah. Rasanya seperti berperang melawan diri sendiri dan hasilnya, aku lebih banyak kalah. Aku kalah oleh amarahku. Aku kalah oleh sikap tidak sabarku. Aku kalah oleh perasaan-perasaan negatif yang menguasai diriku. Kurasa aku bukan lagi gagal menjadi seorang ibu, melainkan aku gagal menjadi seorang manusia. Sepertinya aku memang butuh bantuan seorang profesional. Seorang sahabat menyarankanku untuk melanjutkan terapi ke psikiater, dan aku menyetujuinya. Aku sungguh tidak ingin diriku tenggelam berlarut-larut dalam emosi-emosi negatif. Lebih penting lagi, aku tidak ingin memberikan trauma dan dampak buruk terhadap putriku. Jika tidak bisa menjadi ibu yang baik baginya, setidaknya aku bisa berusaha untuk tidak menjadi seorang ibu yang buruk.




Recent Posts

See All
Life's Update Before 2024 Ended

So, how's life recently? Setelah beberapa bulan di pertengahan tahun ini aku mencoba berlari kencang, ternyata di 3 bulan terakhir menuju...

 
 
 
Persimpangan

Kurang lebih 3 bulan berlalu setelah aku memutuskan untuk bergabung sebagai volunteer di dua komunitas yang berbeda. Bagaimana rasanya...

 
 
 
Juni Berkembang

Bisa dibilang, bulan Juni ini menjadi starting point bagiku untuk mulai berbunga. Mimpi-mimpi yang sebelumnya tampak jauh untuk dijangkau...

 
 
 

Comments


  • Facebook
  • Twitte
  • Pinteres
  • Instagram

Thanks for submitting!

© 2023 by Design for Life.
Proudly created with Wix.com

bottom of page