top of page

It Is What It Is

Kemarin malam, akhirnya aku memutuskan untuk konsultasi ke dokter psikiatri. Walaupun sebenarnya aku lebih ingin menemui psikolog, namun sahabatku menyarankan agar aku menemui psikiatri terlebih dahulu. Alasannya, karena sikapku sudah menunjukkan indikasi menyakiti diri sendiri, orang-orang sekitar, dan lingkungan di sekelilingku. Jadi mungkin aku lebih membutuhkan terapi dengan pengobatan saat ini.


Rasanya agak menakutkan ketika berjalan di lorong psikiatri sendirian. Takut bagaimana nanti aku akan menghadapi ketakutan dan kekhawatiranku di ruang konsultasi nanti. Aku khawatir bagaimana orang-orang akan melihatku mengunjungi unit psikiatri, yang sudah pasti itu semua hanya ada dalam pikiranku. Jadi sebisa mungkin aku mengenyahkan pikiran-pikiran itu dan mengalihkan fokusku ke tayangan berita yang ada di ruang tunggu sambil bertelepon dengan sahabatku.


Saat akhirnya namaku dipanggil, aku berjalan gontai ke arah ruang konsultasi. Perasaan gugup menyelimutiku. Saat dokter akhirnya menanyakan hal apa yang bisa dia bantu, di luar ekspektasiku sendiri, ternyata emosiku langsung tumpah ruah. Aku kaget mendapati diriku ternyata bisa menumpahkan segala hal yang aku rasakan di ruang konsultasi sampai aku menangis. Aku pikir pertemuan pertama akan terasa kikuk. Namun segala hal yang kurasakan belakangan ini akhirnya tumpah juga. Kalau boleh jujur, tanggapan dari dokter psikiatri sebenarnya B saja. Aku jauh merasa lebih baik ketika bercerita kepada suami dan sahabatku. Jelas mereka bisa jauh lebih berempati daripada dokter psikiatri tersebut. Namun hal ini sudah kuprediksikan sebelumnya, jadi aku bisa menerima hal tersebut. Pilihan ini tetap opsi terbaik karena aku memang membutuhkan pengobatan saat ini. Sampai terapi dengan obat ini memberikan hasil yang efektif, baru aku akan melanjutkannya dengan konsultasi ke psikolog.


Tanggapan yang diberikan oleh dokter tersebut hanya berupa nasihat-nasihat klise seperti, "Ibu harus maklum dengan keadaan. Ibu harus bisa beradaptasi dengan kondisi ibu saat ini. Putrinya disayang-sayang ya bu, itu kan putri ibu sendiri (pernyataan terakhir ini benar adanya dan aku setuju)." Sounds familiar, right? Untung aku tidak disebut kurang beriman atau kurang bersyukur.


Bagaimana pun, ini selangkah lebih baik daripada aku tidak melakukan terapi sama sekali. Setidaknya aku tahu bahwa memang ada sesuatu yang salah dalam diriku dan perlu diperbaiki. Dokter juga tidak menyebut diagnosis lengkapku. Tapi dari apa yang disampaikannya, aku paham bahwa ya, aku memang punya anxiety dan depresi. Jadi diagnosis MADD yang kudapatkan dari dokter psikiatri lewat konsultasi online dahulu memang benar, dan karenanya aku perlu melanjutkan pengobatan.


Sesi konsultasi yang berjalan kurang lebih selama 45 menit itu akhirnya selesai juga. Perasaanku tidak menjadi lebih ringan, hanya sedikit merasa lebih lega. It's okay, semua berjalan bertahap dan memang perlu waktu. Yang jelas aku mau diriku bisa sembuh, ingin bisa menjalani hari dengan lebih bahagia, dengan pikiran dan perasan yang sehat, dan yang paling penting, aku ingin hubungan dengan diri sendiri, putri, dan orang-orang terdekatku jauh lebih sehat dan bahagia.




Recent Posts

See All
Life's Update Before 2024 Ended

So, how's life recently? Setelah beberapa bulan di pertengahan tahun ini aku mencoba berlari kencang, ternyata di 3 bulan terakhir menuju...

 
 
 
Persimpangan

Kurang lebih 3 bulan berlalu setelah aku memutuskan untuk bergabung sebagai volunteer di dua komunitas yang berbeda. Bagaimana rasanya...

 
 
 
Juni Berkembang

Bisa dibilang, bulan Juni ini menjadi starting point bagiku untuk mulai berbunga. Mimpi-mimpi yang sebelumnya tampak jauh untuk dijangkau...

 
 
 

Comments


  • Facebook
  • Twitte
  • Pinteres
  • Instagram

Thanks for submitting!

© 2023 by Design for Life.
Proudly created with Wix.com

bottom of page