Happy 5th Years Anniversary!
- Primawati Kusumaningrum
- Feb 20, 2023
- 2 min read
Dulu aku selalu berpikir bahwa hidup berdua berarti segalanya menjadi lebih mudah, karena ada dua kepala, empat tangan, dan empat kaki yang sama-sama bekerja dan bepikir. Memiliki energi ganda untuk sama-sama berkarya, sehingga berjuang pun rasanya menjadi lebih mudah.
Namun setelah dijalani kenyataannya tidak selalu seperti itu. Ada kalanya kita butuh waktu sendri-sendiri, mengambil jeda dari satu sama lain agar tidak merasa sesak. Ada kalanya juga, aku benar-benar merasa sendirian. Entahlah, mungkin karena pada dasarnya cara kami berpikir berbeda. Memiliki dua kepala tidak selalu punya satu tujuan yang sama, seringkali fokusnya berbeda.
Beberapa hari belakangan ini pikiranku juga merasa terganggu. Jelas, aku ingin kita menjadi pasangan yang saling menguatkan dan memotivasi satu sama lain, hadir satu sama lain untuk saling membantu. Namun tidak jarang aku juga merasa bahwa kehadiran dua kepala ini malah saling menghambat jalan satu sama lain.
Kamu dengan segala keinginan materi yang ingin dikejar, dan aku dengan segala angan dan citaku. Seringkali aku merasa bahwa kehadiranku hanya menjadi penghambat untuk kesuksesanmu. Bahwa uang yang kamu hasilkan dari keringat dan jerih payahmu harusnya bisa kamu gunakan maksimal untuk memenuhi segala keinginanmu. Sayangnya, aku hanya seorang istri yang tidak bekerja, tidak pula memiliki penghasilan pasif. Kadang-kadang aku merasa seperti benalu yang hidupnya hanya menyusahkanmu.
Sementara dari sisiku, aku juga memiliki kebutuhan untuk berkembang. Namun kelihatannya upayaku selalu mentok di management waktu yang kacau. Kadang-kadang aku juga merasa patah hati olehmu. Tidak lagi aku bermimpi mengejar menggenggam dunia seperti dulu, karena aku sudah berdamai dengan realita. Namun setidaknya aku ingin dukungan darimu. Rasanya meminta waktu 1-2 jam saja untuk fokus bersama anak tidak akan banyak merugikanmu. Apalagi sebenarnya aku kesal melihat tingkahmu semalam. Aku meminta tolong agar kamu bisa membantuku untuk mengkondisikan anak kita, sementara aku menyelesaikan deadline menulis. Tapi permintaan sederhana itu saja tidak kamu lakukan.
Ah, apalah aku. Hanya seorang ibu rumah tangga yang tidak memiliki penghasilan. Kadangkala saat kamu memberi titah, lebih seperti seorang bos yang memerintah karyawannya, bukan seperti pasangan yang meminta bantuan kepada partner hidupnya. Aku sadar posisiku. Tapi haruskah kamu seegois itu? Aku mafhum atas sikapmu yang memang seringkali kurang peka dan kurang empati. Namun haruskah aku pasrah saja menerimanya?
Sampai menjelang 5 tahun pernikahan kita, di satu sisi aku merasa kita makin solid. Namun di saat yang sama, aku masih menemukan kesenjangan di antara kita berdua. Fokus yang berbeda dalam menjalani kehidupan seringkali menjadi masalahnya. Entah apakah kita bisa bertahan hingga maut memisahkan atau grow old together, aku tidak tahu pasti. Tapi ya, Happy 5th years anniversary for us. The least i can do as a partner, wishing the best for our future. May Allah bless our marriage.

Comments