Evaluasi Tengah Tahun 2022: Sudah Seberapa Jauh Kaki Ini Melangkah?
- Primawati Kusumaningrum
- Jun 30, 2022
- 4 min read
Tanggal 30 Juni, akhirnya sampai juga di penghujung pertengahan tahun. Baru setengah tahun berlalu, namun rasanya aku sudah melalui begitu banyak hal sekaligus. Terkena depresi dan menjalani pengobatan dengan obat anti depresan, meliburkan diri dari paparan media sosial (yang awalnya hanya berencana untuk libur selama 2 minggu, ternyata berjalan hingga saat ini), survey sekolah montessori untuk anak (yang ini aku belum sempat cerita), memeriksakan kondisi putriku ke psikolog anak yang berlangsung selama 3 sesi, menjalani wawancara kerja dari lintas negara (sungguh pengalaman yang tidak akan terlupakan), memulai proses renovasi rumah, serta banyak hal lainnya lagi yang tidak kuceritakan satu per satu. Well, ternyata kalau dirinci seperti ini memang tidak banyak, namun tetap rasanya emosi yang keluar untuk menjalani itu semua membuat fisik, pikiran, dan perasaanku lelah.
Sedikit catatan, di awal tahun kemarin aku memang tidak menuliskan resolusi apapun. Aku hanya menargetkan diriku untuk bisa lebih bahagia dengan hidupku saat ini dan bertekad untuk sembuh dari depresi yang kualami. Namun yang tidak kuungkapkan adalah, aku juga membuat targetan kecil untuk membantu diriku tumbuh dan berkembang di tahun ini. Aku tidak menceritakannya disini karena takut hal itu malah akan menjadi beban dan membuatku frustasi ketika tidak bisa terselesaikan dengan baik. Jadi aku hanya menuliskannya di buku jurnalku. Namun setengah tahun berjalan, aku sadar pada akhirnya memang tidak semua bisa berjalan persis sesuai dengan rencana. Akan selalu ada hal-hal yang berjalan di luar rencana, dan justru karena itu aku jadi belajar untuk bersikap lebih santai dan fleksibel dalam menjalani hidup. Tidak semua harus berjalan sesuai rencana dan itu tidak apa-apa. Karena tidak semua hal bisa kita kendalikan sepenuhnya.
Setidaknya ada 5 targetan kecil yang kubuat untuk membantu diriku tumbuh dan berkembang. Pertama, membaca 25 buku dalam satu tahun. Tujuan besarnya tentu saja untuk menghidupkan kembali hobi lama yang sudah mulai tergantikan dengan binge watching Netflix. Poinnya sebenarnya bukan di angka 25 tersebut, namun aku berusaha menantang diri sendiri, apakah aku yang sekarang masih sanggup untuk fokus dan menghabiskan banyak bacaan dalam waktu singkat? Tujuan kedua aku ingin memperluas zona nyamanku sebagai pembaca setia buku fiksi dan fantasi. Tidak ada yang salah sebenarnya, namun aku juga ingin membiasakan diri untuk bisa membaca buku dari berbagai jenis genre dengan enjoy, meski harus memulainya dengan sedikit paksaan. Sebagai hasilnya di bulan Juni ini aku berhasil menyelesaikan buku ke-11, dan 6 di antaranya adalah buku non fiksi (genre sains dan self improvement). Jika aku bisa konsisten membaca setidaknya 2-3 buku per bulan, aku yakin targetku ini akan terpenuhi. Namun seiring berjalannya waktu, aku jadi sadar bahwa membaca sedikit buku namun bisa memberikan dampak nyata dalam hidup jauh lebih baik daripada membaca banyak buku sekaligus. Oleh karena itu, untuk beberapa buku yang menurutku memang menarik dan berhasil mengubah cara pandangku dalam hidup, aku menuliskan review dan sinopsisnya di blog ini sebagai catatan personal. Tahun depan mungkin aku akan membaca lebih sedikit buku, karena terus terang effort yang kukeluarkan untuk membaca 2 buku per bulan juga tidak mudah. Jadi membaca lebih sedikit buku yang benar-benar sesuai dengan kebutuhanku sepertinya akan jauh lebih efektif.
Target kedua tentu saja konsisten menulis. Aku menargetkan setidaknya untuk rutin menuliskan satu postingan di blog ini setiap bulannya. Tanpa paduli apakah akan ada orang yang membacanya atau tidak. Dan aku sudah berhasil melakukan ini (yeay, selamat!). Semoga aku bisa terus konsisten menulis seperti ini, sesederhana apapun bentuk tulisannya.
Target ketiga adalah menyusun digital album. Rencana yang sudah ada dalam kepala sejak putriku belum lahir. Tampak sangat receh memang, namun memilah foto yang ingin dipajang dari ribuan file yang ada di galery HP juga ternyata membutuhkan tekad yang kuat dan waktu yang tidak sedikit (sekalian membersihkan memori HP yang memang sudah penuh). Pertimbanganku, dengan menyimpannya secara digital dan menyusunnya dengan rapi akan lebih menyenangkan untuk dilihat kembali daripada terus menyimpannya dalam memori ponsel.
Target lain yang belum sempat untuk dijalankan adalah membuat foto album fisik tentang perjalanan tumbuh kembang naura dan pekerjaan ayahnya (sekalian mengerjakan tugas dari psikolog anak), serta mempelajari shiroh nabi. Sebenarnya aku malu sekali untuk mengakui hal ini, karena mendapati kenyataan bahwa ternyata selama ini aku masih belum memprioritaskan pengetahuan agama. Sesuatu yang seharusnya menjadi hal yang fundamental namun seringkali terabaikan. Aku harap aku bisa segera memulainya di tahun ini dan tidak terus menerus menundanya.
Dengan menyusun target seperti ini, aku jadi benar-benar tahu apa yang kubutuhkan dan langkah apa yang selanjutnya harus kulakukan. Aku yang dahulu mungkin akan merasa jengkel ketika tidak bisa menyelesaikan rencana yang telah disusun dengan baik dan akan terus menyalahkan diri sendiri karena terlalu malas dan merasa tidak produktif (padahal jarang juga aku bisa menyelesaikan semua ceklis target dengan baik). Aku yang sekarang menjadi lebih terbuka dengan fleksibitas dan berbagai perubahan yang terjadi di tengah perjalanan. Tidak apa-apa jika harus mengubah rencana di tengah perjalanan jika ternyata rencana yang kita buat tidak sesuai dengan kebutuhan kita saat ini. Justru itu membuktikan bahwa kita mampu bersikap adaptif.
Satu lagi yang menjadi catatan penting di tahun ini selain target-target tersebut di atas. Saat ini aku juga merasakan banyak perubahan positif dalam diriku. Emosi yang lebih terkontrol dan awareness yang tinggi untuk menyadari dan merangkul setiap emosi yang hadir menjadikanku lebih bisa menikmati hari-hariku yang terasa monoton. Meskipun tetap ada masa-masa naik-turun, setidaknya aku tidak berlarut-larut terlalu lama. Sekarang aku merasa lebih sigap jika emosi-emosi negatif mulai muncul. Dan langkah untuk berhenti secara aktif dari bermain media sosial memberikan dampak yang cukup besar. Aku belum tahu apakah ke depannya aku akan kembali menggunakan instagram atau tidak (mungkin nanti jika aku sudah bisa lebih bijak dalam bermedia sosial), namun perasaan insecure yang selama ini sering mengungkungku perlahan hilang dan digantikan dengan kepercayaan diri yang mulai tumbuh lagi. Pelan-pelan aku pun belajar untuk meninggalkan segala bentuk perdebatan yang ada di media sosial. Belajar untuk tidak cepat-cepat menanggapi berita apapun yang sedang viral dengan menggebu-gebu meskipun orang beramai-ramai memberikan komentar dan opini mereka. Kebebasan berpendapat yang tidak diiringi dengan kemampuan untuk mendengar (tabayyun) hanya akan semakin menjauhkan manusia dari kebijaksanaan. Aku ingin belajar untuk menjadi manusia yang lebih bijaksana dalam memandang hidup, bukan hanya sekedar mampu dan bebas mengekspresikan pikiran dan pendapat namun tanpa makna.
Masih ada setengah jalan lagi menuju penghujung 2022. Semoga kebaikan apapun yang sudah mulai tumbuh di tahun ini, bisa terus terpelihara dan berkembang dengan lebih baik lagi.

Comments