Bulan Agustus, Bulan Baru, Unek-unek Baru
- Primawati Kusumaningrum
- Aug 1, 2022
- 4 min read
Selamat datang bulan Agustus. Inginku menyambut bulan baru ini dengan perasaan cerah, namun sayangnya beberapa hari belakangan ini perasaanku justru tidak nyaman. Entah karena urusan rumah, entah karena rasa cemas yang tiba-tiba muncul, atau entah karena unek-unek yang mengganjal semenjak kedatangan ibu mertuaku ke rumah. Yang jelas, aku harus menguraikannya satu per satu agar perasaan-perasaan negatif ini tidak menumpuk.
Perasaan tidak nyaman pertama adalah unek-unek yang kupendam setelah kunjungan ibu mertuaku ke rumah. Menarik ya. Beliau adalah orang yang sungguh baik dan kuhormati, kuanggap seperti ibu sendiri karena memang senyaman itu untukku bersikap terbuka kepadanya. Namun tetap saja, namanya dua orang individu yang berbeda, tetap saja ada perasaan tidak nyaman yang mewarnai hubungan kami sebagai anak dan menantu.
Berawal dari nasehat yang beliau berikan untukku saat mengetahui bahwa ternyata putriku terlalu banyak dicekoki dengan pengetahuan-pengetahuan eksakta, namun justru kurang diajari agama (a.k.a mengaji). Sebenarnya aku mengerti arah concern beliau ke mana, yaitu agar sebaiknya pengajaran dan pendidikan agama lebih diutamakan sebelum yang lain. Kalau bisa menyanggah, bukan aku tak memprioritaskan hal tersebut, namun aku hanya tidak mau terlalu memaksakannya karena putriku masih kecil. Alih-alih mengajarinya cara membaca huruf Arab yang tentunya bersifat hafalan, aku lebih menekankan kepada hal-hal yang bisa menumbuhkan kesadaran dan pemahamannya sebagai seorang Muslim. Menurutku, hal-hal yang bersifat ritual bisa pelan-pelan dilatih tanpa harus dipaksakan apalagi ditargetkan harus sudah lulus IQRA di usia dini, misalnya.
Namun tentu saja aku tidak menyanggah, karena nasehat beliau ada benarnya juga. Mungkin aku terlalu asyik mengajarinya hal lain sampai lalai untuk mengajarinya hal yang paling mendasar. Yang menjadi unek-unekku adalah, beliau menyampaikan nasehatnya tersebut hanya kepadaku. Aku jadi menrasa personally attacked. Kenapa nasehat tersebut tidak disampaikan juga pada suamiku? Orang tua cucunya kan bukan hanya aku, tapi juga anaknya. Jika bisa aku protes, aku ingin mengatakan hal tersebut kepada beliau, bahwa jauh di lubuk hati aku juga ingin agar anaknya (a.k.a suamiku) bisa terlibat lebih jauh dalam hal pendidikan anak. Terus terang kadang aku iri ketika mendapati keluarga lain bahwa ayah dan ibu saling membagi tugas dengan adil dalam mendidik anak mereka. Misalnya, ibu mengajari cara membaca Al-Qur'an, sementara ayah mengajari muroja'ah hafalan di waktu-waktu khusus (setiap selesai sholat mahgrib, misalnya). Atau duduk bersama-sama mendengarkan kajian dengan perhatian fokus pada isi kajian, bukan dengan disambi kesibukan masing-masing (apa gunanya menyetel kajian tapi tidak fokus mendengarkan? apa yang bisa didiskusikan bersama kemudian jika hanya dilakukan sambil lalu?).
Jika bisa membicarakan hal ini ke depannya, tolonglah ibu, anaknya juga dinasehati, jangan hanya menantunya. Karena anaknya juga sama banyak celahnya, sama-sama butuh diingatkan juga sesekali. Sebagai istri kadang aku merasa jengah ketika harus mengingatkan suami berulang-ulang karena khawatir menyentil egonya. Justru aku berharap ibu bisa lebih sering memberi nasehat di saat-saat seperti ini (saat anaknya memiliki peran sebagai seorang suami dan ayah seperti saat ini, bukan hanya peran sebagai anak ibu), karena kesehariannya yang ibu lihat dahulu di rumah pasti berbeda dengan keseharian yang aku lihat saat ini di depan pasangannya.
Hal kedua yang membuat perasaanku tidak nyaman adalah kesibukan mengurus renovasi rumah. Sebaik apapun perencanaan dilakukan, tetap saja pada saat project berjalan ada hal-hal yang berjalan tidak sesuai ekspektasi. Spesifikasi material bangunan yang tidak sesuai dengan selera, kesalahan pengerjaan karena kelalaian saat membaca rancangan gambar bangunan, hingga biaya yang membengkak di beberapa bagian. Dan semua urusan renovasi ini membawaku pada kecemasan. Bahwa lagi-lagi, aku dihantui perasaan cemas tentang kondisi finansial keluarga. Berandai-andai jika saja aku bisa ikut meringankan beban suami dari sisi finansial. Bukan aku merasa kurang. Justru karena selama ini merasa cukup dengan nafkah yang diberikan suamiku, maka aku tidak pernah ikut peran aktif untuk menambah penghasilan keluarga.
Kondisi finansial keluarga kami mungkin tidak berlebih, namun aku benar-benar merasa cukup untuk saat ini. Dana darurat ada, dana pendidikan pun sedang dikumpulkan, daftar haji Alhamdulillah sudah dilakukan, aku pun bisa sedikit-sedikit menabung untuk keperluan pribadiku (di luar uang dapur). Mungkin hanya uang pensiun yang belum sempat kami anggarkan karena memang kebutuhan kami saat ini sedang banyak. Setiap bulannya pun kami masih bisa bersedekah, kami masih bisa makan enak setiap berapa minggu sekali. Cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecil kami saat ini, meski konsekuensinya, aku harus melakukan semuanya sendiri, tanpa bantuan ART (memakai bantuan ART berarti bertambah lagi pengeluaran setiap bulannya). Dan semua itu hanya dari nafkah suami. Menurutku itu semua sudah sangat cukup. Rasanya aku menjadi istri yang kurang bersyukur saat aku memaksakan diri untuk bekerja di luar hanya demi memenuhi keinginan untuk bisa hidup hedon, sementara semua kebutuhanku pun saat ini sudah terpenuhi. Aku juga bisa fokus mendidik anak di rumah di saat ibu-ibu lain banyak kehilangan waktu berharga dengan anak mereka. Satu-satunya motivasi untuk menambah penghasilan adalah karena aku (masih) ingin sekolah lagi dan untuk itu, aku butuh biaya mandiri.
Salah satu kecemasan yang timbul adalah, bagaimana jika selama ini hanya aku yang berpikir bahwa ini cukup? Bagaimana jika suamiku selama ini merasa sangat terbebani dengan semuanya? Bagaimana jika selama ini aku hanya dianggap beban? Bagaimana jika sebenarnya suami lebih senang jika aku bisa berdaya sendiri secara finansial seperti istri-istri pada umumnya?
Kecemasan selanjutnya, bagaimana jika takdir Allah mendahului kami, suami tiba-tiba meninggal. Bagaimana aku akan bertahan hidup? Apa ke depannya aku akan mampu menghidupi diri sendiri dan putriku jika aku tidak membiasakan diri untuk mencari nafkah dari sekarang?
(walaupun sebenarnya dalam hal ini aku punya sanggahan untuk pikiranku ini, bahwa kita tidak berhak mendahului takdir Tuhan. Terlalu mencemaskan hal-hal yang belum tentu terjadi sama halnya dengan berprasangka buruk kepada takdir Tuhan dan meragukan rezeki yang telah Ia karuniakan kepada kita).
Kecemasan selanjutnya lagi, jika aku terus hidup seperti ini, bagaimana jika aku sudah sepuh nanti malah memberatkan kehidupan anakku?
Aku tahu semua kecemasanku ini tidak akan pernah membawaku ke mana-mana. Alih-alih menjadi motivasi hidup, hal ini justru pelan-pelan merusakku dari dalam. Alih-alih membuatku untuk terus bergerak, aku justru akan terdiam dalam waktu yang lama, tenggelam dalam pikiran sendiri dan kembali menarik diri dari lingkungan sosial.
Andai aku bisa mengubah semua kecemasan ini menjadi sesuatu yang positif. Sayangnya, menjalani kehidupan seringkali tidak semudah menuruti kata-kata motivator.

Comments