Bosan dan Sepi
- Primawati Kusumaningrum
- Nov 5, 2022
- 2 min read
Seorang Raditya Dika yang sudah lama aku gandrungi itu tiba-tiba saja datang memberiku kejutan. Sebuah kue ulang tahun yang cantik, dengan lilin yang menyala di atasnya. Angka 28 menjadi penanda bahwa aku, sang pemilik hari lahir kini telah genap berusia 28 tahun. Seorang anak kecil datang berlari ke arahku, mengecup manis pipiku. Alea nama anak itu. Dadaku membuncah saking bahagianya. Mungkinkah ini nyata? Aku hanya menatap nanar, tak percaya bahwa aku memiliki kehidupan yang semanis ini. Lidahku kelu tak bisa berucap, namun senyum kecil menyembul nakal tak bisa kusembunyikan. Teman-teman di belakang ikut menyoraki. Bergantian memberiku selamat.
Seorang Raditya Dika? Komika humoris namun romantis itu baru saja datang ke mimpiku sebagai pasanganku. Padahal mengidolakan pun tidak. Sungguh halu tingkat dewa. Aku rasa mimpiku tersebut adalah sebuah manifestasi dari ekspektasi tentang kehidupanku yang sangat membutuhkan kejutan menyenangkan sesekali.
Berbeda dengan mimpiku. Bulan lalu, pada tanggal 27 Oktober aku baru saja berulang tahun genap ke 32. Aku memesan kueku sendiri dan merayakannya hanya berdua dengan putriku. Pesan singkat ucapan selamat ulang tahun kuterima pagi-pagi sekali dari suamiku. Telepon berdatangan setelahnya, dari papa dan adikku. Ini sudah cukup, batinku. Mengingat tahun-tahun lalu bahkan keluargaku tidak pernah ada yang mengingat tanggal kelahiranku dengan benar, jadi tahun ini terasa sedikit lebih baik. Kado dari suami menyusul di hari setelahnya. Sebuah casing HP yang memang aku inginkan dari sejak lama karena yang aku beli sebelumnya pecah tanpa sengaja oleh putriku.
Aku kira kondisiku saat itu cukup baik dan bahagia. Hari ini,perasaanku kembali datar. Bosan dan sepi kembali menyapa. Dua perasaan yang paling tidak kusenangi kehadirannya, tapi tampaknya dengan terpaksa harus kurangkul karena hanya mereka yang menjadi temanku sehari-hari. Aku sadar, mungkin masa-masa keemasanku sudah berakhir. Masa-masa yang hanya terjadi saat aku masih menempuh pendidikan. Masa-masa yang hanya terjadi saat aku berusia 20-an. Menjadi spotlight di antara guru-guru, dosen, dan teman-teman. Menjadi anak manja mama papa (walaupun kenyataannya aku selalu dididik mandiri dan jauh dari kata manja). Aku sedikit merindukan kehidupanku yang dulu berwarna warni.
Dengan berat hati aku mengakui, bahwa saat ini rasanya aku tidak puas dengan apapun. Aku tidak puas dengan diriku, aku juga tidak cukup puas dengan pasanganku. Tidak ada hal menarik yang terjadi dalam hidupku. Tidak ada kejutan yang benar-benar menyenangkan (kecuali aku memintanya). Tidak ada hal baru. Setiap hari selalu sama. Setiap hari hanya itu-itu saja. Amat sangat membosankan sampai rasanya aku ingin menikam diriku sendiri.
Aku sering membayangkan diriku tenggelam dalam lautan biru. Meski nyata-nyata aku tidak bisa berenang, tapi aku selalu menemukan ketenangan di dalam riuh gemuruh suara air. Setidaknya, di dalam sana aku tidak perlu memikirkan kebosanan dan kesepian yang selalu mengelilingiku.
Aku rindu melihat dunia luas tanpa harus mengkhawatirkan hal-hal lainnya. Aku rindu bercakap-cakap dengan teman-temanku. Berbincang tentang mimpi, seolah kita bisa mengubah dunia. Atau berbincang tentang hal-hal tidak penting, lalu tertawa lepas atas kekonyolan-kekonyolan yang telah dilewati bersama. Aku juga rindu pelukan mama, yang hanya dengan sekali usap hilang sudah semua kegelisahan dan kelelahan dunia. Jika saja aku bisa berteman lebih baik dengan rasa bosan dan kesepian ini, mungkin hatiku akan sedikit lebih tenang dan aku bisa menjalani kehidupanku yang biasa-biasa saja ini dengan sedikit lebih bersemangat.

Comments