Saat Anak Tantrum di Tempat Publik : I'm in Hell
- Primawati Kusumaningrum
- Dec 26, 2021
- 2 min read
Rasanya baru kali ini aku menghabiskan waktu di salon dengan perasaan tidak nyaman. Sangat tidak nyaman karena sepanjang prosesi cuci hingga potong rambut yang memakan waktu hanya kurang lebih 45 menit itu diiringi oleh tangisan panjang putriku. Baru kali ini putriku tantrum di tempat publik, hanya karena aku terlupa untuk pamit dan mengajaknya ikut serta saat berganti pakaian dengan baju salon. Padahal sebelum itu dia baik-baik saja. Hanya satu kesalahan kecil dan rusaklah semua rencanaku untuk memanjakan diri. Rencana untuk menghabiskan waktu di salon yang hanya bisa kulakukan mungkin dalam1-2 tahun sekali saja.
Aku sudah membayangkan diriku duduk manis menikmati pijatan lembut terapis di pundak. Menikmati aroma segar creambath yang diaplikasikan di rambutku. Memandang indah hasil potongan rambut baruku sambil sesekali mengabadikannya dengan swafoto untuk disimpan di galeri ponselku. Rupanya keinginan remeh temeh itu pun tampak terlalu muluk-muluk bagi ibu rumah tangga sepertiku. Alih-alih menikmati semua hal yang sudah kubayangkan tersebut, aku duduk di kursi salon dengan perasaan kesal, sambil berusaha keras menahan diri untuk memasang muka datar tanpa ekspresi agar tetap terlihat tenang. Aku berusaha keras menahan kesal dan amarah yang menggelegak naik sambil terus memangku putriku yang terus saja menangis. Semua upaya yang kulakukan untuk bisa membuatnya tenang justru semakin membuat tangisnya kencang. Rencana creambath pun terpaksa kubatalkan karena aku tidak mau mengganggu pengunjung lain.
Selepas aku membawanya serta ke kamar ganti, barulah ia berhenti menangis. Prosesi potong rambut yang paling tidak kunikmati seumur hidupku, dan aku sedikit pun tidak merasakan kesenangan maupun perasaan relax setelahnya. Jadi di sinilah aku, menumpahkan semua kekesalanku sambil menangis tersedu-sedu, sementara putriku kubiarkan menonton acara kesukaannya agar aku bisa melampiaskan emosiku dengan tenang. Sesulit ini kah untuk memanjakan diri? Aku jadi semakin ragu, sepertinya aku memang sudah tidak pantas lagi bermimpi muluk-muluk. Untuk sekedar mewujudkan keinginan sederhana saja aku harus melalui emosi yang naik turun seperti ini. Apa itu sekolah lagi? Apa itu punya apotek sendiri? Semua yang dulu rasanya mungkin untuk dilakukan, kini tampak makin jauh di depan mata. Mungkin harusnya aku menghabiskan waktuku ke psikolog saja dan berteman dengannya, untuk memastikan apakah aku masih cukup waras atau tidak menjalani peran ini, bukan malah pergi ke salon. Karena jujur saja, for me, mothering is fucking hard.

Comments