top of page

An Hour Life Changing, Sebuah Metode untuk Mengelola Waktu dengan Efektif dan Produktif



Sebagai seorang ibu rumah tangga, kerap kali aku dihantui perasaan overwhelmed dan tidak produktif. Overwhelmed dalam hal mengerjakan urusan domestik karena setiap hari hanya mengerjakan pekerjaan yang sama. Tidak produktif karena merasa terjebak dalam kegiatan yang sama terus menerus setiap hari. Seolah-olah waktuku selama 24 jam hanya berkisar antara mengurus rumah dan menemani anak bermain saja (ya memang apalagi sih pekerjaan utama ibu rumah tangga selain mengurusi domestik keluarga?). Padahal aku juga ingin menyisihkan waktu untuk aktualisasi diri (waktu untuk quality time dengan diri sendiri), bukan hanya me time semata.


Jujur selama ini aku memang kesulitan untuk mengelola waktu, karena dari bangun tidur hingga mata kembali memejam aku hanya fokus kepada urusan rumah tangga. Sangat jarang sekali aku memiliki waktu produktif di luar hal-hal yang menyangkut urusan domestik. Hal itu pula yang pada akhirnya sering membuatku burn out dan stress. Karena aku juga perlu memenuhi kebutuhanku untuk aktualisasi diri agar aku juga bisa bertumbuh secara personal, bukan hanya sebagai ibu dan seorang istri. Tidak harus mengikuti kelas-kelas tertentu yang sifatnya intensif, tapi sekedar meluangkan waktu untuk membaca dan journaling pun sudah cukup bagiku.


Dari munculnya kebutuhan tersebut, ada satu hal yang aku sadari yang ternyata selama ini membuatku tidak bisa membagi waktu dengan bijak. Yaitu, aku terbiasa mengelola fokus dan energiku100% terhadap satu hal saja. Jadi misalnya, aku sudah menetapkan untuk menyelesaikan tugas bersih-bersih rumah di hari itu. Maka dari pagi aku akan melakukan kegiatan bersih-bersih dengan detail. Bukan hanya menyapu dan mengepel saja, tapi juga mengelap permukan furnitur di seluruh ruangan, hingga semuanya selesai. Jika hari itu tidak selesai, maka aku akan merasa geregetan karena aku merasa tugasku tidak terselesaikan dengan baik. Bisa dibilang aku ini perfectionist, dan hal itu juga yang acapkali membuat diriku sendiri kesusahan. Mungkin kalau dulu sebelum menikah dan punya anak hal ini bisa kulakukan dengan mudah, karena aku tidak punya banyak kepentingan.


Namun sekarang setelah menikah dan memiliki anak, aku justru merasa bahwa sikap perfectionist tersebut bisa merusak kewarasanku. Tidak puas jika rumah tidak rapi dan bersih sepenuhnya, padahal kenyataannya selama ada anak kecil, rumah tidak mungkin rapi dan bersih 100%. Aku juga tidak mungkin hanya fokus pada urusan bersih-bersih rumah, sementara aku juga perlu mengerjakan hal lain seperti memasak, mencuci baju dan menjemur pakaian, serta menemani putriku bermain. Belum lagi kebutuhanku untuk aktualisasi diri.


Atau misalnya aku mengikuti suatu kelas dan tidak bisa menyimak materi secara keseluruhan dengan fokus, karena aku juga harus mengerjakan hal lainnya secara bersamaan (misalnya sambil menyuapi atau menyetrika). Biasanya hal itu juga membuatku geregetan karena aku jadi tidak bisa fokus. Aku tidak bisa membagi fokus dan energiku untuk dua hal saat bersamaan. Apa yang aku butuhkan pada akhirnya tidak terpenuhi, dan pada akhirnya aku malah merasa overwhlemed dan seringkali menyalahkan keadaan. Coba saja aku mempunyai ART, mungkin aku bisa lebih fokus mengikuti kelas. Coba saja anakku sudah sekolah, mungkin aku bisa menggunakan waktuku dengan maksimal untuk menyimak materi. Pikiran-pikiran tersebut yang justru sering membuatku kecewa, padahal memang keadaanya saat ini seperti itu. Aku tidak bisa merubah keadaan, tapi aku harus beradaptasi dengannya. Lalu langkah apa yang aku lakukan selanjutnya?


Aku mulai belajar untuk meluangkan waktu 1 jam sehari untuk hal-hal tertentu. Misalnya, aku punya target untuk membaca satu buku. Maka setiap pagi aku akan meluangkan waktu selama 1 jam untuk membaca buku tersebut dengan fokus (tanpa distraksi gadget) sebelum anakku bangun, 1 jam selanjutnya untuk merencanakan kegiatan apa saja yang hendak kulakukan di hari itu, dan 1 jam lainnya untuk beristirahat (bisa dengan kembali membaca, menulis, atau bermain game). Dan setelah kulakukan secara konsisten, ternyata cara tersebut cukup efektif untukku. Jika dalam 1 jam tersebut ternyata belum membuatku puas, maka aku akan menambah waktu 1 jam lagi untuk menyelesaikan apa yang kuperlukan. Jadi, total waktu yang kuperlukan untuk fokus mengerjakan satu hal adalah 2 jam, tanpa merasa overwhelmed. Lebih dari 2 jam biasanya pikiranku sudah tidak fokus dan banyak terdistraksi.


Metode 1 jam ini juga kupergunakan untuk mengerjakan hal-hal lain yang selama ini selalu tertunda, seperti misalnya olahraga dan bermain dengan anak. Bermain dengan anak sejatinya juga perlu fokus dan minim distraksi, jadi meluangkan waktu minimal 1 jam setiap harinya untuk fokus bermain dengan anak juga mendatangkan dampak yang baik bagi bonding antara kami berdua. Dengan demikian aku jadi bisa membagi waktuku dengan lebih efektif dan tetap fokus tanpa merasa overwhelmed setelahnya. Tantangannya tentu adalah rasa malas dari dalam diri sendiri. Jadi hal selanjutnya yang perlu kulakan adalah konsisten dengan jadwal sehingga hal tersebut bisa menjadi good habit.


Satu hal juga yang kuperhatikan adalah, kita bisa fokus 100% jika melakukan hal yang kita suka. Tahun lalu aku mencoba semua hal, dimulai dari ikut berbagai kelas parenting, mencoba membuat konten cerita anak di Instagram, mencoba berjualan produk melalui perusahaan MLM, bergabung dengan komunitas literasi, dan lain-lain. Iya, pada akhinya aku memang banyak memiliki kesibukan, namun kesibukan yang bertambah juga tidak membuat diri kita menjadi lebih produktif. Lagi-lagi aku merasa overwhelmed.


Saat ini, aku mulai bijak mengelola kebutuhanku. Tidak semua yang baik adalah apa yang kita butuhkan. Bergabung dengan komunitas, mengikuti kelas-kelas webinar, berjualan adalah hal yang baik untuk dilakukan. Namun saat ini aku tidak membutuhkannya. Apa yang aku butuhkan adalah terkoneksi dengan diri sendiri secara untuh, bisa fokus melakukan apa yang aku suka meskipun tidak produktif secara materi, tapi membuatku bahagia. Dan waktu 1 jam untuk bisa mengerjakan itu semua setiap harinya, bagiku sudah cukup.




Comments


  • Facebook
  • Twitte
  • Pinteres
  • Instagram

Thanks for submitting!

© 2023 by Design for Life.
Proudly created with Wix.com

bottom of page